Terabaikan

Terabaikan
Bagian 7


__ADS_3

Sakti POV


Suara adzhan subuh terdengar begitu nyaring ditelingaku. Ku lihat jam dinakas sebelah ranjangku, menunjukkan jam 04:30 pagi.


"Baru tidur 2 jam tumben dah bangun" batinku kemudian menyibakkan selimut yang menutupi sebagian tubuhku.


Zea...


Ingatan pertamaku saat bangun tidur pagi ini langsung tertuju padanya. Entah apa yang terjadi pada diriku, yang ku tau hanyalah bayangnya tidak berhenti berputar-putar didalam pikiranku setelah pertama kali aku melihatnya tadi malam. Pertama kali setelah sembilan bulan aku tidak pernah bertemu dengannya sekalipun kami tinggal didalam rumah dengan atap yang sama. Ku pukul kepalaku berusaha menyadarkan diriku dan membuang bayangan Zea dari pikiranku.


"Gilaa!!! Asli ini gila!!! Ya kali aku mikirin dia sampai gak bisa tidur, bangun jam segini balik mikirin dia lagi. Ada yang konslet kayaknya ni syaraf otakku." gumamku kesal.


Namun semakin aku berusaha membuang bayangannya semakin lekat dia didalam pikiranku. Terbayang bagaimana angin tadi malam membelai wajahnya yang tampak cantik dan lembut berbalut jilbab, meskipun dia berusaha menyembunyikan wajahnya namun dibawah cahaya lampu justru tampak semakin membuat hatiku penasaran untuk semakin mengamatinya, dan cara jalannya itu sejak kapan terlihat indah dan memiliki aura keanggunan yang menawan.


"Ouuuhh Shiiittt!!! Gue kenapa sih???" gerutuku semakin kesal, kemudian kucoba menenangkan diriku dengan bangkit dari ranjang dan melompat-lompat kecil, kemudian mengatur nafas panjang berharap bayangan Zea yang mengikutiku bisa pergi.


Gagal!!!


Semua caraku gagal justru aku semakin ingin melihatnya segera. Ya! Pagi ini juga aku harus melihatnya lagi, bagaimanapun caranya! Tapi bagaimana jika dia curiga? Persetan dengan hasilnya nanti dia akan berpikir aku seperti apa, yang penting aku bertemu dengannya!!! Harus!!!


Aku segera mandi dan memakai pakaian terbaikku, dan merapikan penamipanku agar terlihat semenarik mungkin dengan cara kilat. Aku berdiri didepan cermin, mengamati pantulan bayangan diriku dibalik yang tampak sudah maksimal.


"Kenapa aku jadi seperti anak SMP yang baru mengenal cinta? Betapa menggelikannya aku sekarang!" batinku kemudian namun tidak mengurangi niat dan semangatku untuk bertemu dengan Zea. Aku yakin selama ini dia pasti berangkat kerja sangat pagi karena kami tidak pernah bertemu sekalipun. Kemudian jam 05:30 aku bergegas turun.


"Selamat pagi pak." Sapa mbok Nah dari bawah tangga mengagetkanku.


"Eh mbok Nah kagetin aja. Pagi juga mbok." jawabku sembari kuberikan padanya senyuman manis pertamaku hari ini.


Namun bukanbsenyuman hangat pernuh hormat seperyi biasanya yang mbok Nah berikan, justru yang tampak adalah mimik yang terheran dari wajah yang tampak sudah mulai keriput itu. Aku paham kebinggungannya dengan perubahan sikapku, mungkin mbok Nah merasa aneh karena sudah lama aku acuh dengan semua orang dan semua hal yang ada didalam rumah ini semenjak kematian mama. Yang terpenting bagiku adalah rumahku bersih, dan semua keperluanku tersedia, lagipula semua urusan rumah kuserahkan pada sekretarisku Dian dan Adam untuk menhandle semua.


"Em, tumben bapak berangkat pagi? Apa bapak mau keluar kota?"


"Ngga mbok, aku tadi bangun pagi dan gak bisa tidur lagi jadi aku siap-siap kerja sekalian aja."


"Bapak mau saya siapkan sarapan sekarang?"


"Boleh,tapi,-"


"Tapi apa?"


"Itu belum bangun ya mbok?" tanyaku sambil melirik pintu kamar Zea.


"Bu Zea?"


Aku mengangguk tanda mengiyakan.


"Udah dari sebelum subuh tadi pak. Tapi sekarang sedang keluar."


"Hah? Sepagi ini sudah pergi?" reflek aku bertanya hampir teriak.


"Iyaa, kan tiap pagi bu Zea pergi pagi-pagi."


"Ya masa sepagi ini mbok?" tanyaku kecewa karena gagal untuk bertemu dengannya.


"Iyaa dari setelah sholat subuh."


"Emang kerja apa berangkat sepagi ini?" gerutuku karena kecewa dan kesal sudah bangun sepagi inipun masih tidak berhasil menemuinya.


"Eh, bu Zea bukan pergi kerja pak, tapi jalan-jalan disekitar taman komplek dekat rumah."


"Jalan-jalan ditaman?" tanyaku dengan semangat karena mendapatkan secercah harapan dari penjelasan mbok Nah.


"Iya pak, joging."


"Sama siapa?"


"Sendiri."


"Kok sendiri sih? Kan masih gelap mbok gimana kalau ada yang jahat sama dia?" aku tidak tau kenapa, tapi hatiku sangat cemas karena dikepalaku terlintas bagaimana jika ada yang iseng atau jahat pada Zea.


"Hah.." mbok Nah binggung menjawab cecaran pertanyaanku yang pasti aku yakin tampak sangat panik dimatanya.


Aku tidak lagi memperdulikan mbok Nah yang masih tampak bengog, dengan cepat aku berjalan keluar meninggalkannya untuk menyusul Zea. Tiba-tiba saja aku merasa sangat khawatir padanya, bayangan-bayanga zea dalam bahaya berputar-putar dikepalaku.


"Pak Dadang cepat buka gerbang!" teriakku pada pak Dadang saat jarakku dengan gerbang masih beberapa meter.


Pak Dadang tampak gugup dengan cepat membuka pintu gerbang.


Aku berlari secepat yang kubisa menuju taman yang berada ditengah komplek perumahan yang berjarak beberapa ratus meter dari rumahku.


Ada beberapa orang sedang berjalan santai dan meregangkan otot tubuhnya ditaman ini beberapa diantaranya berpasangan dan juga tampak membawa anak kecil yang asyik bermain ayunan dan berlarian.


Aku membuang pandanganku kesegala arah mencari Zea, dan akhirnya kulihat sosok sedang melakukan peregangan sederhana dengan pakaian olah raga tidak lupa hijab berwarna senada membungkus tubuh ramping.


Aku yakin bibirku sedang tersenyum saat ini, aku tidak bisa menyembunyikan rasa lega dan senang didalam hatiku akhirnya bisa menemukan dan memandanginya.

__ADS_1


Baru aku hendak berjalan menemuinya tapi kulihat ada seorang pria yang berlari mendekatinya. Aku memutuskan untuk menahan langkahku, kuamati interaksi mereka dari jarak yang cukup dekat.


Rasa senang yang baru saja kurasakan menguap begitu saja berganti dengan rasa tidak suka atau bahkan marah melihat Zea ternyata bisa sedekat itu dengan pria lain padahal dia masih menjadi istriku. Mungkin aku sedang cemburu.


Hah! Cemburu? Yang benar saja! Aku hanya ingin dia memastikan bahwa dia akan menjaga kehormatannya dan kehormatanku selama dia masih berstatus istriku.


"Siapa pria itu? Mungkinkah itu pacar Zea? Jadi dibelakangku dia sudah memiliki pacar? Pantas saja selama ini dia tidak pernah menampakkan dirinya sama sekali padaku, rupanya karena dia sudah memiliki pria lain. Berarti dia berbohong! Dia janji akan menjaga dirinya dari fitnah selama menjadi istriku, tapi apa-apaan ini?" pikiranku berkecamuk bertanya-tanya siapa pria itu.


Tak lama pria itu tampak meninggalkan Zea, tak mau membuang waktu yang ada dengan cepat ku langkahkan kakiku menemuinya.


"Zee.." Sapaku dari arah sampingnya.


Zea terlihat terkejut dengan kehadiranku yang tiba-tiba, tampak matanya membola dan bibirnya terngangga kecil.


"Masya Allah, indah sekali ciptaan-Mu yaa Allah. Kenapa aku tidak pernah menyadarinya selama ini."


"Mas Sakti,-" Zea menyebut namaku sembari matanya celingak celinguk kearah sekitar.


"Cari apa?"


"Mas Sakti sama siapa?"


"Sendiri."


"Oh,.. Ngapain?"


"Ya sama sepetimu, joging, olah raga." jawabku memberikan alasan sembari menggerakkan kedua tanganku dengan gerakan peregangan.


"Mas Sakti yakin kesini untuk joging?" tanya Zea dengan wajah seakan penuh tanda tanya.


"Iya. Memangnya kenapa? Aneh?"


Zea menganggukkan wajahnya,


"Apanya yang aneh?" tanyaku penasaran.


"Pakaian mas Sakti yang aneh. Kenapa olah raga pakai kemeja seperti mau kerja?"


"Hah?" hanya itu yang bisa lolos dari mulutku. Hilang muka, mati kutu, dan mati gaya seketika saat aku menyadari ketauan berbohong dengan alasan bodohku.


"Emm... Aku... tadi..." aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal sembari mencari alasan baru.


Melihat kegugupanku yang mati gaya Zea terkekeh kecil sembari menutup mulutnya, namun justru terlihat menarik dan menggemaskan dimataku. Mestinya aku lari kencang karena malu tapi melihat tawa Zea yang tampak mannis dan menggemaskan justru dengan sadarnya aku ikut tersenyum dan menikmati ekspresinya yang tampak malu-malu.


"Maaf mas aku nggak bermaksud menertawakan mas Sakti." ucapnya setelah berhenti tertawa.


"Nggak papa. Aku juga nggak sadar pakai pakaian seperti ini buat joging." jawabku masa bodoh.


Lagi-lagi tampak Zea tersenyum mendengar jawabanku. Aku tidak perduli lagi ketauan berbohong dihadapan wanita ini. Toh senyumnya terlalu indah untuk diabaikan.


"Emm... Ya sudah mas Sakti mau lanjut joging atau bagaimana? Aku mau pulang mas."


"Aku juga mau pulanglah. Nanti semakin ditertawakan banyak orang karena salah kostum."


"Mas bisa aja."


"Em... Kita pulang bareng?" ajakku semangat.


"Mas Sakti yakin?"


Aku mengendikkan kedua bahuku.


"Apa kamu malu karena aku salah kostum, atau.."


"Nggak mas bukan itu,tapi..."


"Sudahlah, tidak ada tapi, ayo pulang!" ajakku dengan semangat.


Kami berjalan santai menuju rumah, aku sengaja berjalan perlahan untuk mengulur waktu agar lebih bisa lama berada didekatnya. Katakan aku saat gila atau apalah, nyatanya aku sangat ingin dan bahagia melakukannya.


"Mas aku permisi mau mandi." pamit Zea ketika kami sama-sama sudah sampai didalam rumah.


"Iya, aku juga mau ganti baju lagi."


Zea kembali tertawa kecil melihat aku yang seperti sengaja mempermalukan diriku dengan mengingatkannya bahwa aku salah berpakaian untuk olahraga.


Zea berjalan meninggalkanku yang masih berdiri dibawah dekat tangga mengamatinya.


"Zee.." panggilku membuatnya kembali membalikkan badan.


"Iya, kenapa?"


"Selesai mandi kita sarapan bareng ya. Byee..." selesai mengucapkannya aku langsung berlari kecil naik menuju kamarku. Aku sengaja melakukannya karena aku tidak mau mendengar alasan apalagi penolakan dari Zea. Aku sangat egois? Ya memang aku sangat ingin memaksanya untuk terus berdekatan denganku mulai sekarang!.


Aku merasa semangatku dipagi ini sangat tinggi. Meskipun tadi malam kurang tidur tapi sama sekali tidak merasa lemas ataupun ngantuk. Aku dengan cepat mengganti pakaianku dan kembali turun, aku duduk dimeja makan dan mbok Nah juga pembantu lainnya yang sudah datang mempersiapkan hidangan sarapan diatas meja. Aku sadar aku terlalu bersemangat sampai entah berapa kali aku melihat kearah pintu kamar Zea yang masih saja tertutup rapat. Huuh rasanya lama sekali menunggunya.

__ADS_1


"Mbok Nah panggilkan Zea aku udah nunggu buat sarapan bareng." pintaku pada mbok Nah yang sedang menuangkan air putih digelasku.


"Iya pak."


"Eh tapi gak usah deh, biar aku tunggu aja."


Mbok Nah mengangguk.


Ceklekk...


Suara pintu kamar Zea dibuka.


"Masya Allah..." gumamku terpana.


Tampak Zea keluar dari kamar dengan penampilan yang luar biasa. Pakaian muslimah berwarna biru langit berpadu warna putih bersih, dengan riasan yang natural tampak menambah kadar kecantikannya meningkat drastis.


Dengan penampilan yang elegan dan berjalan dengan anggunnya mendekat kearahku.


"Mas..."sapanya menyadarkanku dari rasa takjup melihatnya.


"Maaf lama nunggu. Mestinya mas Sakti nggak perlu nunggu kalau aku kelamaan." ucapnya terburu-buru tampak wajahnya merasa bersalah telah membuatku menunggunya.


"Nggak papa. Ayo sarapan, dah disiapin mbok Nah."


"Kamu mau makan apa?" tanyaku sembari melihat-lihat menu makanan yang tersedia diatas meja.


"Ehh..."


"Iyaa kamu mau makan apa? Mau aku ambilkan?" tanyaku ulang memperjelas maksudku.


"Nggak, nggak usah mas aku ambil sendiri aja. Mestinya aku yang ambilkan untuk mas Sakti." jawab Zea.


"Boleh. Telur dan salad sayur."


Kulihat Zea tersenyum sangat manis dan segera berdiri dan menyiapkan permintaanku.


"Makasih."


Zea membalasnya dengan kembali memberikan senyum manisnya dan anggukan kecil.


"Yaa Allah semua ini terasa seperti sebuah keluarga yang normal dan terasa sangat indah. Jika boleh aku ingin terus seperti ini, ijinkan aku memperbaiki semuanya." do'aku dalam diam.


"Oh ya Zee kamu sebenarnya sekarang kerja dimana?"


"Aku dikafe mas."


"Kafe mana?"


"D'Generation Cafe"


"Oh iyaa iyaa aku tau, itu tempat yang katanya lagi hitz buat anak muda itu ya?"


Zea tampak hanya tersenyum mengiyakan.


"Mas tau dari mana itu lagi nghitz?"


"Sempat lihat diberita online dan,-" aku tidak melanjutkan ucapanku. Aku bersyukur tidak merusak suasana menyenangkan pagi ini dengan menyebut nama wanita lain. Vivian, iya dia pernah mengajakku ke kafe itu. Dia mengatakan banyak artis dan selebgram mendatangi kafe itu dan membuat konten disana yang akhirnya menjadi trending.


"Dan apa?" tanya Zea tampak penasaran.


"Dan diberita itu disebutkan ada banyak artis dan selebgram yang membuat vlog dikafe itu. Katanya juga sih pemiliknya cakep, mungkin itu juga jadi point plus kenapa kafe itu ramai."


"Uhuuukkk..." Zea tersedak makanan, cepat aku mengambil air putih untuk dia minum


"Hati-hati kalau makan. Minum dulu!"


Beberapa saat setelah Zea batuknya mereda aku melanjutkan perbincangan dengan tema kafe tempatnya bekerja. Setidaknya obrolan dengan tema itu menjadi obrolan yang tidak canggung.


"Emang pemiliknya ganteng ya?"


"Em... Ku rasa tidak."


"Apa kamu nggak tertarik sama ownernya seperti para pelanggan yang diberita itu?"


Zea menggelengkan kepalanya.


"Syukur deh." jawabku lega.


"Maksudnya?"


"Em... maksudku kamu nggak ikut-ikutan alay seperti pelanggan yang diberitakan itu."


"Memangnya mas Sakti waktu baca beritanya nggak lihat foto ownernya?"


Aku menggelengkan kepalaku, karena kenyataannya diberita itu tidak ada wajah pemiliknya yang dipost hanya tampak foto-foto suasana kafe itu saja.

__ADS_1


__ADS_2