Terbelenggu Cinta

Terbelenggu Cinta
Meminta vitamin


__ADS_3

" Selena hentikan," seru Ryan menahan gejolaknya. Selena terus mengelus lembut dadanya.


" Ada apa Mr Ryan?"


" Berhentilah bermain-main," sentak Ryan.


" Aku tak main-main," sahut Selena polos.


Ryan menghela nafasnya. " Hentikan permainan tanganmu," pinta Ryan. Lalu ia pun membalikkan tubuhnya menatap Selena.


" Kau menggodaku hm?"


" Apa ? menggoda ?" Selena balik tanya.


" Apa maksudmu dengan memainkan tanganmu di tubuhku?" Ryan menaikkan sebelah alisnya.


" Aku hanya iseng saja," jawab Selena.


" Tapi kau seolah menggodaku," ucap Ryan sambil terus mendekatkan wajahnya.


" Aku.. tidak..," Selena terdiam saat bibir Ryan **********.


Ahh apa ini ? batin Selena terpaku


Ryan terus ******* bibir Selena semakin dalam. Membubuhkan rasa gairah yang memanas.


" Ahh," ******* lolos dari bibir Selena.


Ryan benar-benar bisa membuat Selena terbuai oleh ciuman panas penuh gairahnya.


" Kau sangat manis," Ryan melepaskan bibirnya, mengusap bibir Selena.


" Ah Mr Ryan," ucap Selena pelan.


" Jangan menyebutku dengan embel-embel Mr ! panggil aku Ryan saja," perintah Ryan.


Selena mengangguk patuh.


" Sekarang tidur lah," Ryan memeluk tubuh Selena.


Selena hanya mengangguk dalam pelukan Ryan.


Aku kira akan lanjut ,batin Selena masih berharap.


Kini Bella tengah berada di depan kantor suaminya, Sean. Ia terus melangkah menuju lantai atas dimana suaminya bekerja.


Tiba di lantai atas, Bella langsung menuju ruangan Sean.


" Nyonya," sapa Tio asisten Sean.


Bella hanya mengangguk membalas sapaan Tio.


" Sean," panggil Bella tiba didalam ruangan Sean.


" Hai sayang," Sean bangkit dari duduknya menghampiri Bella.


" Kau sudah tiba," tanya Sean menggiring istrinya ke sofa.


" Seperti yang kau lihat," balas Bella.


" Kau masak apa ?" Sean membuka kotak bekal yang dibawa Bella.


" Lihat lah sendiri."


Tampak Bella membawa chicken katsu dan salad. Menu sehat Sean.


" Kau tak makan sayang,"tanya Sean.


" Aku sudah makan bareng Zyan dirumah," jawab Bella.


Sean mengangguk lalu menyuapkan makanannya. Bella berdiri melangkah menuju kaca dinding yang menampakkan kota Jakarta yang padat.

__ADS_1


" Sean. Apa kau pernah membawa wanita kesini?" tanya Bella.


Sean menelan makanannya kasar. Pertanyaan Bella membuat makanan yang ia makan terasa susah untuk ditelan. " Kenapa kau menanyakan hal itu?"


" Aku hanya bertanya Sean."


" Sebenarnya,"


" Kau sering kan membawa wanita kesini sebelum aku menikah denganmu," telak Bella.


" Iya," jawab Sean menelan ludahnya kasar.


" Apa saja yang kau lakukan diruangan ini?" tanya Bella menatap Sean.


" Hanya menemani ku saja," Sean beralasan.


" Oh."


" Ada apa bell?"


" Tak apa. Lanjutkan saja makannya Sean." Bella kembali duduk disamping Sean.


Sean kembali menghabiskan sisa makanannya.


Usai makan Bella membereskan kotak bekal makanannya. " Aku pulang ya Sean," pamit Bella.


" Kenapa buru-buru?"


" Urusan ku sudah selesai jadi ya aku pulang."


" Temani lah aku disini sebentar," pinta Sean.


" Aku tak mau," ketus Bella.


" Ayolah sayang," rengek Sean.


" Aku mau pulang Sean. Zyan menunggu ku," tolak Bella.


" Sean lepaskan," ronta Bella.


" Aku benci celana jeans dan kaos mu sayang."


" Apa hubungannya denganmu Sean," Bella melotot tajam.


" Karena aku tak bisa menjamahmu dengan leluasa."


" Dasar otak mesum. Minggir !" berontak Bella mencoba menyingkirkan tubuh Sean.


" Sebentar sayang aku perlu vitamin untuk melanjutkan pekerjaanku," tahan Sean.


" Vitamin apa?"


Sean mendekatkan wajahnya ke telinga Bella. "dadamu," seringai Sean.


" Dasar pria mesum," Bella memukul-mukul dada Sean.


" Aku sudah bilang tak boleh menyentuh ku selama sebulan." bentak Bella.


" Ayolah sayang , ini aku suamimu,"Sean terus menahan tubuh Bella.


" Aku tak peduli . Kau pria mesum Sean," teriak Bella.


Sean menahan kedua tangan Bella diatas dengan satu tangannya. Tangan satunya menyingkap kaos Bella sampai bra yang menutupi buah kenyal Bella.


" Sean lepas . Ini kantor kau tak tahu malau hah," bentak Bella.


" Ini kantorku aku tak peduli," jawab Sean terus membuka pengait bra Bella.


" Sean lepas," berontak Bella.


Sean akan menarik bra Bella namun terhenti saat suara lantang memanggil Sean.

__ADS_1


" Sean." Teriak seseorang masuk ke ruangannya.


Sontak Bella dan Sean menoleh kearah suara tersebut.


" Kau," Sean melotot tajam.


Buru-buru Bella merapikan bajunya yang berantakan. Sean membuatnya kacau.


" Oppss ternyata kalian sedang sibuk," seru Ramon. Ya yang datang tiba-tiba keruangan Sean ialah Ramon.


" Ramon kau kemari," Bella bangkit dari duduknya. Berpura-pura menyapa Ramon untuk menutupi rasa malunya.


" Iya bell," sahut Ramon.


" Kau pasti akan bicara dengan Sean kan," tanya Bella. Ia ingin kabur dari Sean.


" Iya sih , tapi kalian sedang.."


" Tidak ! silahkan kalau kau ingin bicara dengan Sean," Bella langsung bergegas pergi.


Mata Sean membulat saat Bella pergi dari sisinya. " Bella kau mau kemana?"


" Pulang sayang. Sampai jumpa," Bella terbirit-birit meninggalkan ruangan Sean.


Kini Sean menatap tajam kawannya Ramon. Sedangkan yang ditatap malah cengar-cengir.


" Kenapa kau kemari?" ketus Sean.


" Aku hanya mengunjungi kawanku yang sudah lama tak bertemu," kilah Ramon.


" Bajingan kau," sarkas Sean.


" kau selalu kasar Sean. Untung Bella mau padamu Sean," Ramon menggelengkan kepalanya. Heran dengan tingkah sahabatnya yang tak berubah dari sifat kasarnya.


" Jangan banyak omong. Sekarang kau mau apa kemari?"


" Sudah kukatakan padamu Sean aku hanya ingin bertemu denganmu. Kemarin aku menghadiri acara pernikahan Ryan," jelas Ramon.


" Alasan saja," sergah Sean.


" Suer Sean aku kangen padamu," ucap Sean.


" Menjijikkan."


Kini Sean menegakkan tubuhnya disofa menatap tak suka dengan sahabatnya itu yang duduk dihadapannya.


" Kalau kau hanya ingin bertemu dengan ku tanpa ada hal penting mending kau pergi," sarkas Sean kesal.


" Aow aow aow tuan Sean ternyata sedang tidak mood karena gagal membobol gawang," ledek Ramon tertawa.


" Sialan," umpat Sean membuang wajahnya.


Ramon masih tertawa kecil melihat tingkah Sean.


" Sean kau tak datang ke acara pernikahan Ryan?"


" Aku datang dengan Bella dan juga Zyan," sahut Sean.


" Tapi ko aku tak melihat mu disana."


" Kita cuma sebentar lalu pulang," ketus Sean.


" Apa kau masih cemburu dengan istrimu itu?" selidik Ramon.


" Cih untuk apa aku cemburu dengan pria seperti dia," decih Sean.


" Ya kali aja . Kau kan selalu cemburu buta dengan Ryan."


" Dia bukan pria penting di kehidupan kami,"sergah Sean.


" Ya ya ya terserah padamu Sean.

__ADS_1


__ADS_2