
Sean mengeratkan genggaman kerah devan, tangannya akan melayangkan tinju ke wajah Devan.
" stop " teriak suara yang tak asing oleh mereka bertiga.
Mereka melirik ke arah sumber suara tersebut, mata mereka menatap tak percaya, Bella terbangun.
Sean melepaskan genggamannya, ia menghampiri Bella.
" Bella sayang, kau bangun " seru Sean tak percaya.
" Bella " sapa Devan.
" bell kau bangun " seru Ramon.
Bella mengangguk, ia menatap ketiga pria itu. Memandangi sekeliling ruangan yang bernuansa putih.
" aku dimana " tanya Bella
" kau dirumah sakit " jawab Sean
"Sean sebaiknya kau panggil dokter " ujar Ramon
Sean mengangguk,ia pun memanggil dokter.
Devan menghampiri Bella, " bell , bagaimana perasaan mu " tanya Devan.
" aku... " Bella memegang kepalanya, " sedikit pusing "
" tenang lah,, sebentar lagi dokter tiba"
Ramon hanya melihat interaksi antara Bella dan pria yang baru ditemuinya.
Tak lama Sean membawa dokter. Memeriksa keadaan Bella.
" kondisi nona Bella cukup baik, sebaiknya dia istirahat dulu untuk memulihkan kondisinya " ujar dokter.
" baik dok " jawab Sean.
Sean menghampiri Bella. " sayang aku keluar ya, kamu istirahat dulu saja " Sean mengelus rambut Bella.
Bella mengangguk.
cih... sok perhatian , batin Devan
Ketiga pria tersebut keluar, membiarkan dokter menangani Bella.
Sean duduk dibangku depan kamar Bella, begitupun Ramon. Devan memandang Bella dibalik kaca pintu kamar Bella, tatapannya begitu sendu.
" sebaiknya kau pergi, Bella sedang istirahat " ucap Sean sinis.
" baiklah aku pergi, besok aku akan kembali lagi " ucap Devan, berlalu pergi.
" tak usah kau kembali, sialan " umpat Sean.
," Sean tenang lah,, ini rumah sakit " tahan Ramon.
"gue kesal liat tuh cowok " kesal Sean.
" udahlah,, lagian loe kenapa sih takut banget Bella kecantol sama pria lain "
" dia istri gue Mon " Sean nyolot.
Ramon mendesah, " ya udah, gue balik dulu nanti gue kesini lagi "
"lagian siapa yang nyuruh loe kesini " ketus Sean
" arghh sialan kau ini " umpat Ramon.
Ramon berpamitan lalu pergi meninggalkan Sean di koridor rumah sakit.
Pukul 11 siang Ryan tiba dirumah sakit. Ia membawa sekantung makanan untuk Sean. Ia terus melangkah hingga koridor menuju kamar Bella. Ryan melihat Sean yang masih duduk diluar sedang memainkan handphonenya.
" hei, kau tidak di dalam " tanya Ryan
Sean mendongakkan kepalanya. " Bella sedang istirahat " ucap Sean datar.
Ryan melangkah masuk, seketika Sean menahannya.
" kenapa kau " Ryan memicingkan matanya
" sudah ku bilang, Bella sedang istirahat "
" apa salahnya, biasanya juga di dalam "
__ADS_1
" diluar saja, nanti Bella terganggu tidurnya "
Ryan pun menurut, ia duduk di samping Sean, memberikan sekantung makanan yang dibelinya.
" makanlah , kau belum makan kan "
Sean menyaut kantung makanan yang diberikan Ryan. Ia langsung membuka dan melahapnya.
" bagaimana keadaan Bella " tanya Ryan
" dia sudah sadar " ucap Sean enteng
" apa.... Bella sudah sadar " Ryan terkejut tak percaya.
" iya " jawab Sean santai.
Ryan beranjak dari duduknya melangkah masuk kedalam kamar Bella. Ia menghampiri Bella, benar apa yang dikatakan Sean Bella sudah membaik, alat-alat yang melekat pada tubuhnya telah dilepaskan.
" kau apa-apaan, Bella sedang istirahat, keluar kau " ucap Sean penuh penekanan.
Ryan tak bergeming, ia masih menatap Bella. ia ingin melihat Bella terbangun.
Sean menarik tangan Ryan, menyuruhnya keluar. Namun perlahan mata Bella terbuka, melihat dua pria berada di hadapannya.
" Bella " seru Ryan
Sean menengok ke arah Bella. dan benar saja Bella membuka matanya.
" sayang " panggil Sean lembut.
Kedua pria itu menghampiri Bella bersamaan.
"kau sudah bangun sayang " sapa Sean
" iya, hmm bolehkah aku minta minum " pinta Bella.
Sean langsung menyendokan air dengan sendok makan, menyuapi perlahan.
"cepat panggil dokter " perintah Sean kepada Ryan.
Ryan mengangguk keluar dari kamar Bella.
" sayang , bagaimana perasaanmu ?? tanya Sean.
" sekitar sebulan "
" hah lama sekali, dimana Zyan ,? aku ingin bertemu dengan Zyan " pinta Bella.
" baiklah, nanti aku akan membawa Zyan kemari, oke "
Ryan datang dengan dokter, kemudian memeriksa kondisi Bella.
" apa yang anda rasakan nona ? tanya dokter
" aku hanya pusing dok, "
" baiklah, istirahat yang cukup ya " perintah dokter
Bella mengangguk mengiyakan ucapan dokter. Lalu dokter pamit meninggalkan kamar Bella.
" Ian " sapa Bella
" ya sayang " balas ryan lembut.
" Zyan " guman Bella.
" aku akan menjemputnya sekarang "
"tak perlu biar gue aja yang jemput Zyan " sambar Sean.
" sayang aku jemput zyan dulu yah, istirahat lah" Sean mengecup kening Bella.
Ryan melotot tajam kearah Sean.
Seminggu berlalu kesehatan Bella mulai membaik, ia sudah mulai berkomunikasi dengan siapa saja. Sean dan Ryan bergantian menemani Bella begitupun dengan Zyan, ia selalu menemani Bella.
" lusa sudah boleh pulang ya " ucap dokter saat memeriksa Bella.
" ah akhirnya aku pulang " desah Bella.
Dokter pun berlalu pergi, kini diruangan ada Ryan ,Sean ,dan mbak Tuti menemani zyan
" akhirnya kau pulang sayang " ucap Sean lembut.
__ADS_1
" iya Sean, terima kasih sudah menemani ku disini "
" tak apa, kau kan istriku "
Ryan melotot tajam kearah Sean, ia menghampiri Bella disisi ranjang yang bersebrangan dengan Sean.
" Bella , jangan pikirkan apa-apa, aku akan selalu disisimu " ujar Ryan
" Bella akan ikut denganku " tukas Sean.
" tidak bella akan tetap di kota ini " kukuh Ryan
" kau tak punya hak " Sean ngotot
" kau juga bukan siapa-siapa nya " balas Ryan.
Bella melihat pertengkaran mereka, kepalanya seakan ingin meledak mendengar pertikaian kedua pria tersebut.
" kalian bisa berhenti tidak, kepala ku seakan ingin pecah " Bella memegang pelipisnya.
Kedua pria tersebut langsung panik memegang tangan Bella.
" Bella kau tak apa " tanya Ryan panik
" sayang maafkan aku '? ucap Sean khawatir.
'' iya iya,, berhenti lah berdebat, bisa kah kalian diam, kalau tidak kalian keluar saja." dengus Bella sebal
" iya baiklah " ucap dua pria tersebut serempak.
" Zyan kemari lah "
Zyan menghampiri Bella. " iya mom "
" sini sayang tidur dengan mommy, " pinta Bella.
" iya mom " Zyan naik ke atas ranjang Bella, berbaring di sebelah Bella. Merekapun terpejam.
Kedua pria itu hanya menatap kedua orang yang mereka sayangi terlelap.
Lusanya Bella sudah diperbolehkan untuk pulang, Sean dan Ryan menemani bella membereskan barang-barang Bella.
" kau sudah siap bell " tanya Ryan.
Bella mengangguk, Bella duduk di kursi ronda, Sean mendorong kursi roda Bella, sedangkan Ryan membawa barang-barang Bella.
Sampai pelataran parkir rumah sakit, Ryan membuka pintu mobilnya. Sean menggendong Bella masuk kedalam. Bella sudah menolak namun Sean memaksa untuk menggendongnya.
cih cari kesempatan saja , batin Ryan .
Ryan menjalankan mobilnya, sedangkan Sean dan Bella di kursi belakang. Disepanjang jalan Ryan menggerutu terus, ia tak terima duduk didepan, sedangkan Sean dan Bella dibelakang, secara menjadi supir mereka.
Tiba dirumah Bella mbak Tuti membantu membawa barang-barang Bella. Sean kembali menggendong Bella ala bride style ke dalam rumah Bella.
Merebahkan tubuh Bella di kamarnya.
" istirahat lah sayang " ucap Sean.
Bella mengangguk, Zyan menghampiri Bella duduk ditepi ranjang Bella.
" mom , Zyan senang akhirnya mommy pulang" ucap Zyan.
" iya sayang, " Bella membelai lembut pipi Bella.
Ryan masuk kedalam kamar Bella.
" sebaiknya kau keluar , " bisik Ryan kepada Sean.
" kau juga keluar, sialan " balas Sean
" bell, kami keluar dulu ya " pamit Ryan, menarik tangan Sean menyuruhnya keluar dari kamar Bella.
Bella mengangguk.
____________________________________________
Thor ko sedikit ??
Author lagi sibuk, ini juga bab dari pagi sampai malam gak kelar-kelar, butuh dukungan dari kalian para reader 🥲🥲
Jangan lupa like comment and vote
biar author semangat up nya 🥰 🥰
__ADS_1
happy reading 💐💐💐