
"Ouh namaku KASELA CRISTIAN DHANU PRAMUDZA, panggil aja Dhanu atau apapunlah yang penting kamu nyaman." ucap Dhanu sembari berjabat tangan.
"Oh ok, nama kamu bagus hehe." ucapku sembari tersenyum.
"Hehe nama kamu juga bagus kok An." ucap Dhanu sembari melemparkan senyum kearahku.
Suasana sesaat menjadi hening kembali tanpa ada suara yang keluar dari masing-masing kami.
"Mmm...Dhan?" tanyaku memecah keheningan.
"Iyah kenapa An?" balas Dhanu.
"Mmm...itu aku anu mmm...!" jawabku sedikit gugup.
"Anu apa An bilang aja nggak papa?, lagian gak usah gugup kali!" ucap Dhanu yang menyadari aku gugup.
"Eh iya maaf hehe." jawabku sembari cengengesan.
"Oh ya tadi mau bilang apa An?" tanya Dhanu kembali.
"Oh itu anu mmm..., aku boleh gak panggil kamu Pramudza aja?" tanyaku ragu.
"Iya boleh, mmm...dan kamu kenapa pilih panggil aku dengan nama Pramudza? Kenapa nggak Kasela, Christian, atau nggak Dhanu aja?" tanya Dhanu.
"Mmm...nggak papa sih aku cuman suka aja dengan panggilan Pramudza kalau kamu nggak nyaman nggak papa kok aku bisa panggil kamu dengan sebutan yang lain." ucapku dengan nada bersalah.
"Eh nggak kok, nggak papa apapun panggilannya aku tetap nyaman kok yang penting itu dari kamu hehe." ucap Dhanu dengan senyum yang manis.
"Dih bisa aja kamu Za, itu modus apa gombal hehe?" tanyaku sambil terkekeh.
"Bukan modus juga bukan gombal Ani, cuman sedikit kata-kata manis hehe." balas Dhanu dengan terkekeh.
"Sama aja kali Za hadeh." ucapku dengan terkekeh.
Kami terus mengobrol sesekali tertawa sampai tidak ada rasa canggung lagi seperti sebelumnya, malam ini hanya dihabiskan untuk canda, tawa lepas sembari menyaksikan pemandangan disekitar danau hitam olehku dan Pramudza.
"Za?" panggilku kepada Dhanu.
"Hm?" balas Dhanu singkat.
"Zaa?" panggilku kembali.
"Hm?" balas Dhanu masih sama.
"Ck." gumamku yang mendengar jawaban singkat Dhanu.
"Pramudza!!!" panggilku sedikit kesal.
"Hm apa?" balas Dhanu masih sama.
"Huh!" gumamku yang kesal.
__ADS_1
"Yakkk KASELA CRISTIAN DHANU PRAMUDZA!!!" panggilku sedikit teriak ke Dhanu.
"Iya ada apa, kenapa, bagaimana, siapa, dimana, kapan, Ani Safitri?" balas Dhanu dengan tersenyum.
"Huh!" gumamku kembali dengan kesal.
"Why An?" ucap Dhanu yang menyadariku sedang kesal.
"Kamu kenapa dari tadi aku panggil cuman jawab singkat:(." ucapku dengan ketus.
"Emang kenapa An?, terus itu kenapa tuh muka dilipat kayak gitu?" tanya Dhanu yang melihatku kesal.
"Taulah-_-." jawabku ketus.
"Ulululu anak ciapa ini marah yah?" ucap Dhanu menirukan suara anak kecil.
"Utututut iya deh Pramudza minta maaf yah Ani yang cantik, udah dong jangan marah lagi oke?" ucap Dhanu membujuk.
"Mmm..." jawabku.
"Lah kok gitu jawabnya, masih marah yah?" ucap Dhanu dengan wajah cemberut.
"Dih kenapa jadi Za si yang marah." batinku.
"Huh." ucapku sembari menarik napas.
"Iya deh aku maafin kamu." sambungku.
"Beneran!!" ucap Dhanu memastikan.
"Hehe suka banget kamu panggil nama lengkapku hm?" ucap Dhanu terkekeh.
"Kenapa nggak boleh ha?" tanyaku ngegas.
"Lah kok ngegas?, emang tadi ada kalimat aku yang bilang kamu nggak boleh hm?" tanya Dhanu sembari tersenyum.
"Yah nggak sih hehe." jawabku dengan tercengir memperlihatkan gigi yang rapi.
"Za kamu tinggal sama siapa?" tanyaku.
"Aku sendirian An." ucap Dhanu.
"Orang tua kamu kemana Za kok nggak tinggal bareng sama kamu?" tanyaku kembali.
Saat pertanyaan berakhir tiba-tiba Dhanu menunduk setelah mendengar pertanyaan dariku.
"Za?" tanyaku yang melihat Dhanu menunduk setelah kalimat tanya dariku berakhir.
"Za?, kamu nggak papakan?" tanyaku kembali.
"Pramudza kenapa yah, apa pertanyaanku ada yang salah?" batinku.
__ADS_1
"Mmm...orang tuaku sudah meninggal An!" ucap Dhanu dengan meneteskan air mata yang sendari tadi ia tahan dan akhirnya jatuh.
"Eh, Za maaf aku nggak sengaja, maaf Za aku nggak tau itu maafin aku yah!" ucapku yang merasa bersalah.
"Maaf." gumamku dan langsung menundukkan kepala karena merasa bersalah.
Dhanu yang melihatku menunduk karena merasa bersalah segera tersadar dan terhenti dari tangisannya dan segera menghapus air matanya.
"An?" panggil Dhanu.
"Ani?, are you okay?" panggil Dhanu kembali.
Segera aku mendongakkan kepala dan menghadap Dhanu.
"Maaf." ucapku kembali lirih.
"An, apa yang kamu katakan hm?" tanya Dhanu.
"Dengerin aku yah!, kamu nggak salah kenapa kamu minta maaf hm?, dan lagian aku juga udah nggak papa kok aku cuman keinget sama mereka aja, jadi udah yah jangan nangis lagi dong jelek tau." ucap Dhanu terkekeh sembari menghapus sisa air matanya.
"Tapi aku minta maaf Za aku nggak tau itu." ucapku lirih.
"Iya udah aku maafin kok jangan sedih lagi yah senyum dong, lagian sekarangkan ada kamu jadi aku nggak akan kesepian lagi." ucap Dhanu sembari tersenyum.
"Makasih Za, aku janji nggak akan buat kamu kesepian lagi:)" ucapku dengan senyum tipis.
"Nah gitukan cantik kalau senyum, makasih ya udah mau jadi tempat sedihku saat ini." ucap Dhanu sembari tersenyum tipis juga.
"Hehe, iya sama-sama kapanpun kamu butuh aku akan berusaha selalu ada untuk kamu Za." ucapku dengan memeluk Dhanu.
"Makasih." balas Dhanu lirih dengan membalas pelukanku.
Beberapa saat kemudian kembali hening lagi.
"Za udah malam aku masuk dulu yah takut dicariin nanti?" ucapku.
"Iya, lagian disini dingin nanti sakit. Ya udah masuk gih terus istirahat!" ucap Dhanu.
"Iya, ya udah aku masuk dulu yah Za kamu juga pulang istirahat yah!" ucapku sembari berjalan masuk.
"Iya hati-hati An sampai bertemu lagi." ucap Dhanu sembari melambaikan tangan kearahku.
"Eh." ucapku sembari berhenti melangkah dan membalikkan badan kearah Dhanu kembali.
"Why?" tanya Dhanu yang heran.
"Good night Za!" ucapku tersenyum manis dan melanjutkan langkah kakiku masuk kedalam rumah.
"Nice An!" balas Dhanu dengan tersenyum manis juga.
Setelah aku masuk kedalam rumah dan meninggalkan tempat itu dan Dhanu, disisi lain.
__ADS_1
"Andai kamu tau An jika kita berbeda alam, dan orang tuaku meninggal karena dibantai. Salah satu korban kejadian itu salah satunya aku An." gumam Dhanu.
"Semoga kamu tetap bersamaku seperti saat ini walaupun nantinya kamu tau kebenaran menuju ku." ucap Dhanu lirih dan perlahan tubuhnya mulai memudar dan hilang.