
Dua hari telah berlalu dan Naila sampai saat ini belum juga ditemukan. Kami terus berusaha mencarinya tapi nihil. Setelah makan malam bersama Naila sudah tidak ada ditempat, terakhir kali ia izin untuk ke halaman belakang dan tak kunjung kembali hingga kami membuat kesimpulan jika Naila hilang.
"Dua hari telah berlalu dan Naila sampai saat ini belum juga ditemukan." ucap Clara.
"Terakhir kali dia izin sama kita jika mau ke halaman belakangkan?" ucap Ilyas.
"Iya Yas, aku paham tapikan kita udah cari Naila di halaman belakang juga." ucap Clara.
("Aku merasa ada yang tidak beres dengan semua ini.") batin Yasya.
("Pasti ada sesuatu dibalik semua ini.") batinku menimpali batinan Yasya.
"Kita harus apa sekarang, kita harus cari Naila kemana lagi?" ucap Clara.
"Apa kita harus ke hutan belantara untuk mencari Naila, karena hanya hutan itu yang belum kita masuki?" ucapku spontan.
"An, kamu nggak lihat disana ada palang dilarang masuk?" ucap Yasya.
"Apa salahnya kita masuk Sya, kan tujuan kita baik. Kita hanya ingin mencari Naila nggak lebih Sya!" seruku.
"An, apa kamu nggak dengar ibu-ibu waktu itu bilang tidak ada yang boleh memasuki kawasan hutan itu, apapun alasannya." ucap Ilyas.
"Iya, aku tahu. Tapikan hanya hutan itu satu-satunya tempat yang belum kita masuki. Siapa tahu Naila ada disana tersesat." ucapku kembali.
__ADS_1
"Kalian nggak takut sama peringatan beberapa penduduk setempat, jika ada yang masuk dikawasan itu pasti tidak akan ada yang selamat?" ucap Ilyas menjelaskan.
"Jika benar Naila disana, kenapa nggak? Bahaya apapun nanti yang akan terjadi aku tetap akan pergi mencari Naila!" seru tiba-tiba Clara.
"Ra!!!!!" ucap Yasya.
"Kenapa Sya, kamu takut ha? Jika kalian tidak mau mencari Naila biarkan aku yang akan pergi mencarinya sendiri!" tungkas Clara.
Ketika hendak pergi tangan Clara dicekal oleh Yasya.
"Hah...!"
"Oke, kita ikuti kemauanmu. Kita nggak mau terjadi sesuatu sama kamu disana nanti, jadi kita akan tetap bersama apapun yang akan terjadi nantinya." ucap Yasya.
"Terima kasih semua, makasih sebelumnya." ucap Clara terharu.
Setelah beberapa saat kemudian kami mulai berjalan menuju kawasan hutan belantara itu, kami hanya berbekal lampu senter kesana. Kami pikir sebelum malam kita sudah keluar dari hutan itu.
Sesampainya disana kami berhenti didepan palang besar yang berada melintang dipintu masuk hutan belantara.
"Kamu yakin An, Ra mau masuk?" tanya Ilyas.
"Hm!" jawabku serentak dengan Clara.
__ADS_1
"Ya udah buka palangnya dulu!" ucap Clara.
Yasya dan Ilyas kemudian bekerja sama membuka palang yang tertempel di pohon beringin besar itu.
.
"Udah selesai." ucap Yasya.
"Ayo buruan masuk, nanti keburu gelap lagi." ucapku.
"Hm." jawab mereka serentak.
Kami mulai melangkahkan kaki memasuki kawasan hutan yang gelap. Kabut yang sedikit tebal membuat kami saling menjaga satu dengan yang lain agar tidak terpisah.
Hembusan angin tiba-tiba muncul entah dari mana, karena pohon-pohon disekitar tidak ada yang bergoyang. Kami terus memasuki kawasan hutan lebih dalam, keadaan hutan semakin dalam semakin gelap dan kabut mulai menebal. Pohon-pohon besar tumbuh disekitar.
"Nai...!!!!" seru Ilyas.
"Naila kamu dimana?" seru Clara.
"Nai...!!!!" seru kembali Ilyas.
Hutan sunyi, hening tidak ada jawaban apapun dari Naila. Kami terus berteriak memanggil nama Naila, hingga tiba-tiba.
__ADS_1
'Sreeekkk....kreekkk....'