
Perjalanan kami tidak terasa sudah dua jam setengah perjalanan. Hari sudah mulai gelap karena tampak disepanjang jalan yang kami lalui tidak ada satu pun orang atau pengendara yang lalu lalang, semua terlihat sunyi hanya ada suara hewan-hewan malam yang mengisi kesunyian disepanjang perjalanan kami.
"Ini udah sampai mana Sya, masih jauh tempatnya?" tanya Ilyas yang mulai membuka pembicaraan untuk mencairkan suasana.
"Kita sudah sampai dibagian dalam hutan dan letak tempat tinggal teman ayahku masih jauh dari sini." jelas Yasya yang terus fokus mengemudi mobil melihat jalan didepan yang sedikit berkabut.
"Sya...!!!, mmm... emang kamu waktu kesini sama ayah kamu juga digangguin sama makhluk-makhluk gitu ya Sya?" tanya Clara yang juga mulai membuka pembicaraan kembali.
"Mmm...., saat aku sama ayah aku kesini kami tidak merasa ada gangguan apapun dan ini kali pertamanya diganggu dengan makhluk gaib. Meskipun ayah aku seorang paranormal tapi aku tidak pernah sedikitpun melihat mereka, aku tau semua hal tentang mereka karena ayahku selalu menceritakan kejadian-kejadian yang pernah dialami baik dari diri pribadi ayahku sendiri maupun orang lain." tutur Yasya yang menjelaskan.
"Lalu kenapa kamu tidak pernah bisa melihat mereka padahalkan menurut buku yang pernah aku baca setiap paranormal pasti memiliki penjaga atau abdi sendiri, dan biasanya mereka juga ikut tinggal bersama tuannya." tutur Naila yang seketika ikut membuka bicara.
"Yahh..., kamu sedikit benar. Ayah juga pernah memberitahu aku jika ayah memiliki penjaga sendiri dan itu memang benar, mereka tinggal bersama kami meskipun aku tak diperbolehkan melihat langsung wujud asli mereka tetapi ayah selalu menceritakan semua tentang mereka kepada ku. Ayah bilang kalau mereka itu baik dan mereka ingin mejaga kami, karena ayah tau jika mereka memang benar-benar baik jadi ayah mau menerima tawaran mereka dan ayah juga memperbolehkan mereka tinggal bersama kami." ucap Yasya yang berusaha menjelaskan.
"Apa mereka menganggu kamu Sya?" tanya Naila.
"Tidak, mereka tidak pernah menganggu aku ataupun ayahku." jelas Yasya.
Ditengah-tengah obrolan Yasya, Naila, Clara, dan Ilyas, aku menelisik sepertinya diujung jalan ada seseorang yang sedang berdiri dipinggir jurang.
"Siapa perempuan itu, kenapa malam-malam begini keluar sendirian inikan tengah hutan?" batinku dengan terus melihat kearah perempuan itu.
"Apa Clara, Ilyas, Naila, dan Yasya tidak melihat perempuan itu? kenapa mereka terus berbicara seperti tidak ada apapun yang merasa aneh?" batinku kembali.
Ditengah-tengah itu juga ternyata Yasya yang sendari tadi mengamati tingkahku merasa aneh, karena sejak tadi aku terus diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Ann...! Kamu kenapa kok aneh banget?" sontak Yasya yang membuat aku tersadar dari lamunan.
Disisi itu juga Clara, Ilyas, dan Naila ikut menoleh kearahku dengan tatapan mata menyelidik.
__ADS_1
"Aaa...akuu..., aku tidak apa-apa kok!" cetusku dengan sedikit terkejut dan gugup.
"Nggak usah bohong An, aku tau kamu itu orangnya gak mudah berbohong jadi kalau kamu bohong pasti langsung ketahuan. Udah jujur aja deh ada apa?" selidik Clara.
"Mmm..., diujung jalan sana seperti ada sosok perempuan yang sedang berdiri dipinggir jurang. Kalian melihat jugakan guys?" tanyaku dengan nada lirih.
Seketika mereka berempat mengarahkan kepala mereka kedepan dan menelisik mencari apa yang aku katakan tadi.
"Tidak ada!" cetus Naila.
"Iya aku juga tidak melihat apapun, aku hanya melihat pohon besar diujung sana." lanjut Clara.
"Iya, sepertinya kamu salah lihat An! Mungkin kamu kelelahan An jadi itu hanya halusinasi kamu aja!" sambung Yasya.
"Iya An, mending kamu istirahat gih nanti kalau udah sampai kita bangunin kamu kok!" suruh Ilyas kepadaku.
"Kalian benar-benar tidak melihatnya?" tanyaku kembali.
"Tapi..., perempuan itu masih disana dia seperti menggunakan pakaian kebayak hitam dan rambut yang terurai namun rambutnya tertutup oleh jubahnya yang berwarna hijau tua." tuturku.
"Dia masih berdiri disana tepat di samping pohon besar itu." sambungku.
"Kamu beneran An masih melihatnya?" tanya Ilyas memastikan.
Dan hanya aku balas dengan anggukan kepala.
"Waitt...wait..., berarti kalau kita tidak bisa melihat tapi kamu bisa melihatnya." sahut Clara.
"berarti dia bukan manusia An!" bisik Clara kepada teman-temannya.
__ADS_1
"Kalaupun dia bukan manusia, jadii... dia setan dongg!!!" ucap Ilyas.
"Sssttt...ttttt...!!!" seru Naila dan Clara.
"Kamu tuh jangan kenceng-kenceng ngomongnya kalau dia denger gimana!" seru Naila.
"Berarti dia penghuni pohon besar itu." cetus Yasya.
"Apa??? Penghuni pohon besar itu??" seru Naila, Clara, dan Ilyas serentak.
"Sssttt...ssttt..., jangan keras-keras biasa aja kali." cetus Yasya.
"Iya, dulu ayahku sempat bilang kalau pohon besar itu memang ada penghuninya, dan dia juga sering menampakkan diri kepada orang lain tapi tidak semua orang." sambung Yasya.
Ketika melalui pohon besar dan sosok perempuan itu, aku melihat dengan jelas wajah sosok itu 'CANTIK' yah itu yang tergambar pada dirinya saat ini. Meskipun wajahnya pucat pasif tetapi masih terlihat jika dia memang benar-benar cantik. Belum beberapa menit aku memuji parasnya tiba-tiba keanehan mulai terjadi.
Wajah yang semula cantik tiba-tiba perlahan berubah menjadi hancur, mata yang tadinya sangat menawan tiba-tiba berubah menjadi warna merah darah, seketika bola matanya terlepas dan menggelinding kebawah dan satunya masih menggantung diwajah, terlihat dengan jelas urat mata yang keluar dan menggantung dipipi sebelah kanan. kebayak yang tadinya indah sekarang dipenuhi dengan darah yang mengalir serta darah yang sudah mengering menjadi hitam pekat, seketika bau amis darah dan bau busuk menusuk kedalam hidungku. Jubahnya menjadi berlubang-lubang dan dipenuhi dengan lumpur seketika sosok itu membuka jubahnya. Aku terkejut bukan kepalang ternyata rambut yang hitam terurai panjang seketika berubah menjadi ular-ular berbisa yang sekarang menghiasi kepala sosok itu.
Aku yang secara langsung melihatnya bergidik ngeri sekaligus ketakutan keringat dingin mengucur deras ditubuhku. Aku baru menyadari ternyata sosok itu hanya setengah badan saja, sejak awal aku memang tidak melihat bagian bawah sosok itu dan aku baru sadar ketika sudah dekat dengan sosok itu, sosok itu menyengir ngeri dengan gigi-gigi tajamnya ke arahku. Aku yang semakin ketakutan tidak dapat menggerakkan tubuhku, tubuhku kaku.
Teman-temanku yang melihat tingkahku langsung panik karena mereka tidak bisa melakukan apapun selain terus berjalan. Bahkan aku tak bisa mengeluarkan suara sepatah katapun, suaraku seperti hanya terkubur didalam tenggorokan.
"Syaa!!! Ani gimana ini Sya dia bahkan tidak bisa mengeluarkan suranya, aduhhh gimana nih apa yang harus kita lakukan?" cetus Clara yang panik melihat keadaanku.
"Aduhhh gimana nih aku juga panik nih Sya!" cetus Ilyas sambil mengusap kasar wajahnya.
"Oke...oke..., sekarang kita berdoa bersama sebisa kalian untuk membantu Ani!" perintah Yasya dengan tenang namun tegas.
Mereka berempat pun kemudian mulai memanjatkan doa sebisa mereka, aku juga ikut berdoa dalam hati sebisa mungkin. Kami terus berdoa dengan khusyuk, dan beberapa menit kemudian akhirnya aku mulai tenang, keringat yang tadinya mengguyur tubuhku telah berhenti seketika, suaraku yang hilang mulai perlahan kembali lagi. Kami terus berdoa hingga kami tanpa sadar telah jauh dari tempat itu.
__ADS_1
Akhirnya keadaan mulai kembali normal lagi. Kami mulai bernafas dengan lega kembali dan Clara, Naila juga tersenyum melihat aku yang sudah kembali normal.
Aku berharap ini adalah yang terakhir kalinya, namun ternyata 'TIDAK '.