
Kami akhirnya terpaksa berhenti melakukan pencarian dan kembali ke rumah untuk sementara sembari menunggu kabut hilang.
Sudah tiga hari ini kabut tebal menutupi kawasan hutan belantara hingga tak terlihat lagi jika dari kejauhan. Kami berdoa semoga kabutnya segera menghilang dan kami dapat melanjutkan pencarian Naila dan Clara di hutan belantara.
Empat hari berlalu dengan sangat cepat, dan itu membuahkan hasil. Kabut sudah mulai menghilang sedikit demi sedikit dan menampakkan beberapa pohon besar yang sudah mulai terlihat di hutan belantara. Kami memutuskan untuk melanjutkan pencarian kembali, jika terus-menerus mengulur waktu itu akan membahayakan Naila dan juga yang paling utama adalah Clara karena di hutan itulah ia menghilang.
"Yas..., ayo cepat sedikit!" seruku memanggil Ilyas.
"Iya, tunggu sebentar!" teriaknya dari dalam rumah.
Setelah beberapa menit menunggu, Ilyas akhirnya datang.
"Udah, ayo!" ajaknya.
"Hmm..." ucapku singkat.
Kami mulai berjalan ke arah hutan belantara dengan membawa beberapa bekal yang kami punya. Memasuki hutan terlarang untuk kedua kali, suasana dan hawa ketika memasuki kawasan hutan ini tidak sama seperti yang pertama kali kami masuki. Seperti ada hawa yang janggal disekitar hutan belantara ini.
"An!, ayo masuk kenapa malah melamun?" ucap Ilyas yang menyadari aku tidak mengikuti mereka dibelakang.
"Ah, iya maaf." ucapku yang tersadar dari lamunan.
__ADS_1
Kami mulai mencari keberadaan Naila dan Clara. Kami terus menyusuri sepanjang jalan di hutan dengan teliti, namun nihil tidak ada tanda-tanda mereka sedikitpun.
"Kenapa tidak ada tanda-tanda keberadaan mereka. Kita sudah menyusuri hutan ini." ucap Ilyas.
"Apa mungkin mereka berada didalam hutan sana?" ucapku.
"Itu nggak mungkin An, itu terlalu berbahaya untuk mereka. Lagipula semakin kita memasuki hutan terlalu dalam maka akan semakin gelap dan kita bisa tersesat." ucap Yasya.
"Benar kata Yasya, jangan mempersulit diri sendiri An. Kita akan tetap mencari mereka disekitar hutan ini tetapi tidak untuk memasuki hutan terlalu dalam." ucap Ilyas.
"Tapi apa salahnya kita mencari disana, mungkin Naila dan Clara tidak ada disekitar hutan ini, melainkan berada didalam hutan." ucapku kekeh.
"Itu tidak akan mungkin mereka disana, kalaupun mereka masuk kedalam sana pasti mereka melewati jalan ini. Tapi apa ha?, tidak ada tanda-tanda jejak ataupun apapun yang bisa kita jadikan bukti jika mereka memang masuk kedalam hutan." ucap Ilyas yang mulai emosi.
"ANI!!! Dengerin aku yah, disini tidak ada jalan lagi menuju kedalam hutan selain jalan ini. Jadi tolong jangan memaksa untuk masuk kedalam hutan itu." ucap Ilyas yang sudah tidak dapat mengontrol emosi.
"ALAH, bilang aja kamu nggak mau masuk kedalam hutankan ha? Udah bilang aja kalau kamu takut, biar aku sendiri yang masuk kedalam hutan!" ucapku yang tak kalah emosi.
"ARRRGGHHHH....., S*AL*N. YA UDAH MASUK AJA SANA TERSERAH DASAR KEPALA BATU!!!" ucap Ilyas dengan nada yang meninggi.
"Cih, o...." ucapku terpotong.
__ADS_1
"UDAH STOP!!!" ucap Yasya yang emosi mendengarkan pertengkaran kami.
"KALIAN NGGAK AKAN MENEMUKAN CLARA DAN NAILA JIKA KALIAN TERUS BERTENGKAR!!!"
"KALIAN ITU SEHARUSNYA SALING MEMOTIVASI SATU SAMA LAIN, BUKANNYA MALAH MEMENTINGKAN EGO KALIAN SENDIRI. PAHAMM!!!!" ucap Yasya emosi, namun terkesan tegas.
"Udah sekarang kalian mau apa hm? Mau tetap mencari disekitar hutan atau mau masuk kedalam hutan itu?" tanya Yasya dengan nada yang rendah kembali.
"Huhh...."
"Oke kita akan masuk kesini, tapi kita tidak boleh sampai berpencar. Jika datang lengkap, maka pulang juga harus lengkap." ujar Ilyas yang mulai mengontrol emosinya kembali.
"Oke, kita masuk kedalam hutan itu. Tetapi ingat kita harus kembali kesini lagi sebelum gelap paham!!" ucap Yasya tegas.
"Dan untuk Ani, jangan berjalan sendiri atau memisahkan diri dari kami. Tetaplah bersama kami apapun kondisinya, karena kamu satu-satunya perioritas kami saat ini dan kami akan menjaga kamu meski dalam keadaan bahaya sekalipun." ucap Yasya dengan tegas.
Setelah beberapa lama kami saling mengingatkan untuk saling menjaga satu sama lain, akhirnya kami mulai masuk kedalam hutan dengan tetap saling menjaga dan memperhatikan satu sama lain.
Ketika memasuki kawasan hutan yang dalam, benar saja yang dikatakan oleh Ilyas tadi jika hutan ini gelap. Kami mulai menyalakan senter masing-masing untuk kami gunakan sebagai penerangan jalan menyusuri hutan ini.
Semakin dalam kami memasuki hutan, maka semakin gelap gulita juga. Pepohonan tumbuh dengan rimbun dan memiliki batang yang sangat besar-besar. Banyak pohon berakar gantung yang tumbuh secara liar di hutan ini yang membuat kesan menyeramkan hutan ini.
__ADS_1
Angin sepoi-sepoi tiba-tiba berhembus disekitar kami. Kami sempat berpikir jika ada sesuatu yang aneh atau janggal didalam hutan ini, namun kami berusaha untuk menghilangkan pikiran-pikiran negatif kami. Ketika pikiran kami tentang hal yang negatif mulai hilang, maka disitulah firasat kami yang buruk muncul.
'Wuuusssshhhhhh......'