Terjebak Akibat MATA BATIN

Terjebak Akibat MATA BATIN
Teka-teki #3


__ADS_3

"Mungkin ini adalah petunjuk untuk memilih jalan yang akan kita lalu." sambung Ilyas kembali.


"Tapi maksud dari kata hati ini apa?" tanya Yasya kembali.


"Ya itu mungkin petunjuk yang aku katakan tadi." ucap Ilyas tidak mau mengulang kalimatnya.


"Hih..., yang aku maksudkan itu apa hubungannya sama tiga jalan dengan batu yang bertuliskan hati!" ucap Yasya sedikit greget.


"Oh kalau itu maaf aku tidak mengerti, hehe!" ucap Ilyas menyengir.


"Ah sudahlah, bikin orang darah tinggi ck!" ucap Yasya kesal.


"Eh, dia ngambek atau marah An?" tanya Ilyas.


Aku hanya memutar bola mata malas tanpa mengucapkan apapun dan bergegas menyusul Yasya yang sudah pergi sejak tadi.


"Salahku dimana?" ucap Ilyas berbicara dengan dirinya sendiri.


"Ya sudahlah, mungkin Yasya kecapean jadi ya gitu. Maybe!" ucap Ilyas kembali kepada dirinya sendiri.


Kami berjalan menuju tempat awal dimana kami menemukan empat batu yang diatasnya terdapat sebuah kalimat teka-teki.


"Jadi apa sekarang?" ucap Yasya.


"Hati!!" ucapku mengingat tulisan diatas batu tadi.


"Mungkin ada benarnya juga dengan apa yang Ilyas katakan tadi." ucapku membenarkan ucapan Ilyas.


"Jika dipikir-pikir lagi, kita disini sulit untuk menentukan jalan mana yang harus kita pilih dan ditulisan tadi berkata hati jadi....." ucapku terpotong.


"Jawabannya adalah ikuti kata hati!" ucap Yasya serentak dengan Ilyas.


"Yah itu maksud aku." ucapku kembali.


"Jadi menurut kata hati kalian memilih jalan yang mana?" ucapku bertanya.


"Kanan." ucap Yasya serentak dengan Ilyas.


"Kiri." ucap Ilyas serentak dengan Yasya.


Aku yang mendengar jawaban dari merekapun bingung sekaligus terkejut.

__ADS_1


"Heh ayolah fokus, kenapa kalian ada yang bilang kiri dan ada yang bilang kanan? Kan pilihannya cuman satu dan itu hanya satu kali." ucapku mengingatkan.


"Baiklah kami akan fokus." ucap mereka serentak.


Setelah beberapa menit mereka berfokus, aku kembali bertanya kepada mereka.


"Oke, jadi apa?" ucapku.


"Kiri." ucap Yasya serentak dengan Ilyas.


"Kanan." ucap Ilyas serentak dengan Yasya.


"Huhhh...." ucapku menghela napas panjang karena tingkah mereka.


"Oke, untuk yang terakhir kalinya kita bertiga menjawab bersamaan. UNDERSTAND!!!" ucapku dengan tegas.


"YA." ucap mereka kompak.


"Dalam hitungan ketiga yah?" ucapku kembali.


"Satu..."


"Dua..."


"Ga...!!!" ucapku berseru.


"LURUS!!!" ucap kami serentak.


"Baiklah arah kita sekarang lurus, tunggu apa lagi?" ucap Ilyas.


("Huhh, semoga ini adalah jalan yang benar.") batin kami serentak.


Kami mulai berjalan meninggalkan tempat itu menuju jalan yang telah kami sepakati menurut kata hati kami.


Kami terus berjalan hingga dipertengahan perjalanan, kami melihat jika jalan didepan adalah jalan buntu.


"Jalannya buntu?" ucap Yasya.


"Sepertinya kita salah mengambil jalan!" ucap Ilyas.


"Itu tidak mungkin, tulisan itu memberi kita arah dengan mengatakan hati. Dan itu artinya kita sudah benar mengambil jalan, sesuai dengan kata hati kita." ucapku mengelak.

__ADS_1


"Tapi bagaimana mungkin jika jalan ini benar tetapi buntu?" ucap Ilyas.


"Yas, ayolah jangan pesimis kayak gini. Ayo berpikirlah positif, jangan membuat masalah menjadi keruh." ucapku.


"Aku tidak pernah memperkeruh masalah, jangan kamu pikir kamu bisa dan kamu lebih pintar dari kami kamu menuduh kami." ....


"Oh iya, aku lupa jika sekarang kau juga menjadi manusia yang spesial yh. Hahaahahhh!!!" ucap Ilyas dengan tawa.


Aku terdiam mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulut Ilyas.


("Apa aku terlalu egois? Apa aku terlalu memaksa?") batinku.


"Hah, sudahlah jangan bertengkar diwaktu yang tidak tepat." ucap Yasya menenangkan.


"Sekarang waktunya kita untuk berpikir agar kita menemukan jalan keluar. Tidak mungkin jika kita harus kembali karena pilihannya hanya satu kali bukan dua kali." ucap Yasya kembali.


"Huhh iya." ucap Ilyas.


"An, aku minta maaf karena hal tadi." ucap Ilyas.


"Iya, nggak papa." ucapku membalas.


Tiba-tiba angin yang entah dari mana datangnya berhembus dengan kencang menerobos jalan buntu didepan. Dan secara tiba-tiba juga jalan buntu didepan berubah menjadi sebuah portal menuju alam lain. Portal terbuka dengan luas dengan warna bergradasi hitam dan merah tua. Kami hanya terdiam tanpa bergerak sekalipun, karena kami masih terkejut dengan adanya portal ditengah hutan belantara ini dan juga kami tidak tahu harus melakukan apa. Apa harus masuk kedalam portal itu atau berjalan kembali ke tempat dimana kami menentukan jalan.


...'masuklah kedalam portal jika kalian ingin menyelamatkan teman kalian!!!'...


Dengan tiba-tiba muncul tulisan diatas portal yang menyuruh kami untuk masuk kedalam portal itu.


Belum sempat kami berpikir tiba-tiba sebuah energi menarik tubuh kami untuk masuk kedalam portal itu. Kami yang terkejut berusaha melepaskan diri dari tarikan energi yang berasal dari portal, namun energi portal itu terlalu besar dan kuat yang akhirnya membuat kami terseret masuk kedalam portal.


"SYA!!!!!" teriakku.


"YAS!!!!" teriakku memanggil mereka.


"ANIIII!!!!!" teriak mereka memanggilku.


"Aaaaaa......aaaaaa....." teriak kami serentak.


'Brukkkk....'


Dan semua......

__ADS_1


...GELAP...


__ADS_2