
Bel pulang sekolah telah berbunyi kami berlima segera bergegas untuk pulang ke rumah masing-masing berganti pakaian setelah itu kami akan berkumpul dititik dimana kami akan berkumpul yaitu di pintu gerbang sekolah.
"Duhhh...mana sih Ilyas lama banget deh, kebiasaan huh... dasar karet emang!" grutu Naila karena menunggu Ilyas yang belum datang sedangkan yang lain sudah berada dititik kumpul mereka.
"Iya nih mana tu bocah yah? Apa jangan-jangan dia lupa lagi terus malah molor enak di rumah, gak tau apa aku bisa jamuran kalau kelamaan kena panas gara-gara nunggu dia huhh!" grutu Clara yang memang tidak sabaran dan lebay kayak hewan yang menyengat dan suka madu.
"Hey...sabar dikit kenapa sih Ra, lagian kamu lebay banget sampai bilang mau jamuran lagi, paling bentar lagi tuh anak dateng." oceh Yasya kepada Clara yang menurutnya itu lebay.
"Whatsapp guys..., wuihhh... udah pada kumpul ya hehe maaf ya bikin kalian nunggu lama, tapi menunggu itu lebih baik lohhh... daripada menganggu hehe!"
"Nah baru dateng nih bocah, kemana aja kamu lama banget dasar karet, liat tuh nyonya Clara ngegrutu mulu karena nungguin kamu lama banget, dia takut kalau dia jamuran gara-gara kamu huh!" oceh Naila yang sedikit kesal dengan Ilyas.
"Tau tuh lama banget kemana aja sih?" grutu Clara kembali kepada Ilyas.
"Yoo...., kenapa emangnya rindu yah, gak bisa jauh-jauh dari babang ganteng ini yah udahlah ngaku aja kali babang ganteng gak masalah kok kalau diperebutin hehe!" tutur Ilyas dengan PDnya seperti orang yang tidak memiliki salah.
"What..., apa kamu bilang 'rindu'? hey ngaca dong kayak gak ada yang lain aja, masa seorang CLARA PRAMESTY ANGGARA suka sama kadal abal-abal kayak kamu, huft dunia bisa pecah nanti!!" sambar Clara dengan kesal.
"Ehemm..., udah ributnya kalian? jadi gak nih berangkat? ngehabisin waktu aja kalian!!" tutur ku dengan dingin.
"Nah tu bu bos marahkan! yaudah yuk berangkat, nunggu apalagi?nungguin kalian selesai ribut gak bakalan berfaedah yang ada malah pusing 190°C!" oceh Yasya yang sudah bosan dengan perdebatan mereka.
"Wait...wait..., sejak kapan pusing jadi 190°C bukannya cuman 7 keliling yah?" tanya Clara yang bingung.
Yasya, Naila, dan Ilyas pun secara bersamaan menepuk jidat mereka masing-masing.
__ADS_1
"Aduhhh...., Ra kamu cantik tapi kok dodol banget sih, dahlah yuk berangkat bikin pusing aja!" jawab Yasya sambil melangkahkan kakinya untuk segera berangkat.
"Eh...Sya maksudnya gimana aku gak ngerti sama sekali? Sya....!!! teriak Clara pada Yasya yang sudah berjalan.
Setelah menempuh perjalanan kira-kira selama 15 menit, kami akhirnya sampai juga di rumah Yasya dan tanpa menunggu lama lagi kamipun segera bergegas untuk masuk.
Suasana rumah Yasya memang sunyi, sepi dan tenang ditambah lagi dengan bau bunga melati serta kemenyan yang menusuk menambah kesan horror, ya maklum namanya juga rumah paranormal pasti tak lepas dari benda-benda dan bau-bau seperti itu.
" Bentar ya, aku akan coba bicara dulu sama ayah, ayah mau gak bantu kita untuk membuka mata batin Ani!" kata Yasya sembari melangkah menuju ruangan ayahnya.
"Ok, Sya." jawab Naila.
"Siap komandan!" kata Clara dengan penuh semangat.
Selang beberapa menit kemudian Yasya pun muncul bersama dengan seorang laki-laki paruh baya, berkumis tipis dan memakai ikat kepala serta pakaian yang dikenakan bernuansa jawa.
"Itu ayah Yasya yang diceritakan tadi pagi di sekolah!" seru Clara dengan suara yang lirih.
"Apakah kamu sudah yakin dengan pilihanmu ini?, ingat jika mata batin ingin dibuka kamu harus bersiap untuk segala sesuatu yang nantinya akan terjadi. Satu lagi kamu harus selalu berfikir positif dan kamu juga harus bisa melawan atau mengkondisikan rasa takut kamu nanti jika bertemu dengan mereka yang tak terlihat oleh manusia biasa." jelas ayah Yasya dengan sangat jelas dan detail.
Aku mulai berfikir sejenak tentang apa yang telah ayah Yasya jelaskan dan yang dikatakan oleh Yasya sendiri tadi pagi saat di sekolah.
Aku mulai menarik napas agar aku bisa sedikit lebih tenang dan apa yang nantinya akan aku ucapkan dan aku jalani tidak akan membuat diriku sendiri menyesal ataupun kecewa.
"Saya siap apapun resikonya dan akan menanggung semua yang nantinya akan terjadi." jawabku serentak.
__ADS_1
"Baiklah, sekarang mari ikuti saya!" perintah ayah Yasya.
Dengan tekad yang ku miliki, aku pun dengan semangat mengikuti langkah ayah Yasya masuk kedalam ruangan yang tadi ditunjukan oleh ayah Yasya dan kemudian diikuti oleh Clara, Ilyas, Naila dan Yasya.
Ketika akan memasuki ruangan tersebut bau kemenyan dan dupa serasa menyambut dengan baik kedatangan kami, baunya menusuk kehidung perlahan-lahan setelah beberapa kali melangkah kami kembali mencium bau yang juga sangat menusuk bukan hanya kemenyan dan dupa tetapi juga bunga mawar putih, mawar merah, melati, kantil serta kenanga yang seakan memenuhi seisi ruangan ini, menambah kesan mistisnya dengan alat dan persiapan yang telah disediakan ritual untuk membuka mata batin ku pun dimulai.
Ketika ritual dimulai tidak satupun diantara kami yang berani berbicara karena tidak diizinkan, kami hanya menantap ayah Yasya yang sejak tadi mulutnya berkomat-kamit seperti sedang melantunkan doa-doa. Saat pelaksanaan ritual mata ku ditutup dengan kain dan duduk dengan cara bersila. Setelah selesai membacakan doa kemudian ayah Yasya membawa baskom yang didalamnya berisi air bunga yang telah diberi doa, dengan menggunakan tangan air bunga tersebut dipercikan ke arahku dan ayah Yasya mengitari aku yang sedang duduk bersila dan dengan mata tertutup sebuah kain yang diikatkan oleh Yasya tadi. Terakhir ayah Yasya mengelus kedua alisku dengan arah saling menjauh.
Selang beberapa menit kemudian ritualnya akhirnya selesai dilakukan dan Yasya kembali melepaskan penutup mataku.
"Gimana rasanya An?" tanya Clara yang penasaran kepada ku dengan lirih.
"Gak gimana-gimana tuh, biasa aja malah!" cetus ku seakan tidak begitu peduli dengan pertanyaan yang dilontarkan Clara.
"Sekarang ini mata batin kamu sudah dibuka, jadi kamu harus lebih berhati-hati dan tetap waspada. Ingat pesan saya yang terpenting adalah iman yang kuat dari kamu." Nasehat ayah Yasya kembali.
"Baik, saya akan selalu mengingat pesan om." jawab ku dengan suara dan nada yang sedikit merendah.
Sejujurnya aku agak ragu saat ingin membuka mata batin ku antara siap dan tidak siap, tapi semua sudah terjadi mau gimana lagi?. Selain itu juga, sebenarnya aku juga sedikit tidak begitu bisa dalam hal yang berhubungan dengan agama karena aku sangat tidak suka mata pelajaran agama selain membosankan, aku juga tidak suka dengan gurunya karena kebanyakan dari mereka tidak menjelaskan tentang materi melainkan hanya ada ceramah, ceramah, dan ceramah bukankah itu membosankan?.
Setelah itu aku dan teman-temanku Clara, Ilyas, Naila pun berpamitan untuk pulang.
"Yahhh..., aku antar mereka sampai didepan pintu dulu ya yah?" pintanya kepada ayahnya sembari melangkah menuju depan pintu.
"Hati-hati dijalan ya kalian!" pesan Yasya kepada teman-temannya sebelum mereka hilang dari pandangannya seperti sudah jauh.
__ADS_1