
Aku menceritakan semua kejadian-kejadian yang aku alami sejak mata batin ku dibuka kepada Clara, Ilyas, Naila, juga Yasya. Aku juga telah membuktikan bahwa mereka memang ada disekitar kita dan mereka hidup berdampingan dengan kita selama ini.
Aku menyesal sekarang karena pernah menganggap mereka tak ada dan menganggap jika mereka adalah tahayul selama ini.
"Terus mau kamu sekarang bagaimana An?" tanya Ilyas.
"Kamu juga sih An pakai acara gak percayaan, sekarang nyesel sendirikan!" cetus Naila kepada ku.
"Iya...iya..., aku emang salah maafin aku karena tidak percaya sama kalian semua dan sekarang aku nyesel udah buka mata batin ku." jawabku dengan rasa bersalah dan sesal.
"Jadi gimana sekarang An?" tanya Ilyas kembali.
"Aku mau sekarang juga mata batinku ditutup titik!!! Aku ingin hidup normal seperti kalian lagi, aku takut...aku takut setiap hari harus hidup dengan rasa gelisah dan dikelilingi rasa ketakutan!" jawabku dengan rasa takut.
"Tapi..., menurut situs internet dan buku yang telah aku baca, menutup mata batin itu tidak semudah saat awal membuka mata batin. 'Pada umumnya orang yang memiliki mata batin dan ingin menutupnya tidak menutupi kemungkinan kecil untuk berhasil, karena sebagian orang yang telah berusaha menutup mata batinnya gagal, mata batin mereka hanya tertutup untuk sementara saja tidak bisa tertutup secara permanen', tapi apa salahnya kita coba dulu siapa tau berhasil iyakan? " sahut Clara dengan panjang lebar.
"Wihhh, tumben otak kamu konek biasanyakan nggak Ra, habis makan jaringan dimana Ra?" ejek Ilyas kepada Clara.
"Enak aja kamu kalau ngomong, dari dulu juga aku udah pinter kali, kalian aja yang gak tau and tadi kamu bilang apa? Aku makan jaringan dimana? Aku makan tower dilapangan, puas kamu!!" jawab Clara dengan nada tinggi.
"Wow...you is a amazing Ra!! Bisa-bisanya tower dimakan, gak keselekkan kamu? Tapi kamu tu sebenernya manusia apa robot sih, makannya besi? Cantik-cantik kok makannya tower, eittt tapi meskipun kamu kayak gitu aku bakal tetep sayang sama kamu kok Ra, hehe!!!" goda Ilyas kembali.
" Dihhh, paan sih kamu Yas gak jelas banget deh! Dahlah pusing kalau ngomong sama setan kayak kamu tuh, lagian aku juga gak mau sama kamu mendingan sama Yasya atau nggak yang lain aja masih banyak. Huuu...dasar kadal, anak aneh kamu!!!" seru Clara kepada Ilyas.
"Halah, bilang aja kamu suka sama Yasya iyakan Ra? kamu bakal nyesel Ra kalau gak mau sama aku! lagian aku juga masih ada Naila yakan Nai?" cetus Ilyas dengan PD-nya.
__ADS_1
"Bodoamat, lagian gak akan nyesel aku. Kadal kayak kamu tuh gak ada yang disesali yang ada aku malah bersyukur!!" jawab Clara
"Paan sih Yas? aku juga ogah sama kamu kali PD banget kamu huh!!" cetus Naila dengan jutek.
"Wow...santay dong jangan kroyokan nona-nona, iya babang ganteng udah paham kok sama kalian, karena babang ganteng banyak yang suka jadi maklumlah banyak kaum hawa yang takut untuk mengakuinya tapi babang ganteng 'no problem' kok, dan babang ganteng akan tetap stay sama kalian aja kok jadi 'don't worry' oke baby!! oceh Ilyas dengan nada santay dan cool.
" Huwekkkk, kata-kata paan tuh gak berfaedah sama sekali!" cetus Naila dengan risih.
"Iyah bener banget tuh Nai, lebih baik sama kuda nil aja sana kalau gak sama ikan buntal aja!" cetus Clara dengan jengkel.
"Hey udahlah jangan pada ribut, kalian ini kalau ketemu pasti ribut gak pernah akur." leraiku sontak.
"Ini nih Ilyas duluan yang mancing kita huh!" jawab Naila serentak.
Yasya yang berada ditempat itu juga hanya menggelengkan kepala karena tingkah mereka yang memusingkan.
"Oke fiks, kita ke rumah Yasya sekarang untuk menutup mata batin kamu An!" oceh Clara.
"Hmm..., tapi ayahku sedang tidak di rumah. Ia sedang ada panggilan tugas di luar kota untuk menangani sosok arwah perempuan yang tidak tenang dan meresahkan warga sekitar karena sering menganggu." jelas Yasya.
"Lah...kenapa baru bilang sih Sya? Terus ini gimana Sya?" tanya Ilyas kepada Yasya.
"Mmm...kita ke tempat teman ayahku saja, kebetulan juga ia seorang paranormal yang juga terkenal, namun untuk pergi kesana butuh waktu yang banyak karena jarak tempuh rumahnya cukup jauh dari sini dan juga perjalanan kesana harus melewati jurang, lereng, dan juga tanjakan-tanjakan yang tak tentu selain itu disana juga masih jarang ada penerangan, yah namanya juga masih pedesaan dan jauh dari kota, kira-kira ya masih mending jalan ke rumah Clara." jelas Yasya.
"Seremm...juga jalannya Sya!" cetuk Ilyas yang merasa ngeri.
__ADS_1
"Halah bilang aja kamu takutkan, ngaku aja deh!" ejek Clara.
"Enak aja, aku gak takut akukan cuman bilang gitu kan bukan berarti takut, lagian juga gak mungkinlah seorang 'Aditya Ilyas Pramudza' takut sama kayak gitu yang ada kalian yang takut dan aku yang harus ribet jaga kalian tapi aku rela kok jangan cuman jalan kayak gitu kalau perlu sundel bolong sampai hantu muka rata sekalian bakal aku jabanin." cetus Ilyas dengan nada sombong.
"Hmm...nanti kalau ketemu beneran palingan juga lari duluan, udahlah jangan sok deh Yas!" ejek Naila kepada Ilyas.
"Udah kalian diem kenapa jadi ribut lagi sih!" grutu ku.
"Sya...?" panggil Clara.
"Hmm...?" jawab Yasya dengan dingin.
"Mmm..., kapan kita mau kesananya?" tanya Clara
"SEKARANG!!!" setakku membuat mereka terkejut.
"Ann..., paan sih bikin kaget aja, lagian jugakan aku nanyanya ke Yasya kenapa kamu yang jawab?" grutu Clara.
"Lah..., kalian kesanakan juga karena aku yang mau menutup mata batin aku bukan Yasya!" jawabku sedikithe kesal dengan Clara yang terus-menerus protes.
Yasya yang mendengar aku dan Clara adu mulut hanya menggelengkan kembali kepalanya dan tersenyum tipis tapi jika dilihat dari dekat ternyata manis juga.
"Ya udah, yuk kita berangkat sekarang mau nunggu apalagi ha? Kita masih punya waktu 3 jam sebelum mulai gelap, supaya nanti masih terlihat jalannya dan tidak akan tersesat nanti!" cetus Yasya dengan sedikit cuek.
"Ya udah iya, tapi Sya aku duduk disamping kamu yah?" pinta Clara dengan senyum yang memperlihatkan gigi rapinya kepada Yasya.
__ADS_1
"What?? Nggak boleh kamu duduk sama kita dibelakang biar Ilyas yang didepan sama Yasya, enak aja kamu!" potong Naila.
Aku dan Ilyas tertawa melihat tingkah mereka sedangkan Yasya dia hanya tersenyum tipis dengan bibir yang terlihat melebar pelan.