
pekikan mama mertuaku sangat merdu ditelingaku, kamu salah pilih lawan nenek lampir, bahkan sampai saat ini saja aku tidak tahu siapa nama mama mertuaku. gumam Amara.
"Ah ... Maaf ya ma? Pasti sakit?" aku ngilu sendiri menatap kakinya yang membiru, aku masih berbaik hati tidak menginjakkan tumit sepatuku yang lancip kekakinya.
"Kamu lihat wanita yang kamu bela sedari tadi Angkasa, dia menyakiti ibu?" Ujar mama dengan tampang sedihnya, dan pasti sebentar lagi drama akan dimulai, bathin Amara, wanita tua didepannya saat ini sepertinya sangat pandai memanipulasi kata.
Bukankah dia yang ingin mencelakaiku? Tapi sekarang dialah orang yang paling disakiti disini, bathin Amara.
"Mama benar mas, Amara sudah keterlaluan! Kamu lihat kaki mama sampai memar seperti ini?" tunjuk bella kearah kaki mama mertuaku.
"Mas ... Apakah kamu melihat aku melakukannya?" ucap Amara dengan suara selembut mungkin.
"Seharusnya mama yang meminta maaf? Aku melihatnya apa yang barusan mama lakukan." Angkasa menimpali.
Menarik sekali, Angkasa membelaku dihadapan mama terutama dihadapan Bella, senyuman mengejek kulayangkan.
Bella naik pitam, sebelum tangannya akan menjambak rambutku, tangan kekar Angkasa langsung menahannya.
"Aku tidak menyukai kekerasan ya, Bel!" Angkasa menghempaskan tangan Bella dengan kasar, wanita itu terisak, pastinya tidak menyangka jika kekasih yang membelanya selama ini berpaling.
"Cukup Angkasa!" bentak mama menghentikan.
"Minta maaf sama, Bella?" mama melirik tajam kearah Angkasa.
"Kamu jangan sok menjadi pahlawan untuk Amara sekarang? Selama ini kamu diam saja jika kami memperlakukan hal buruk walaupun kamu mengetahuinya." balas mama.
Tepuk tanganku mengalihkan atensi mereka, drama yang sangat menarik untuk ditonton, Kinanti jadi sedikit mengetahui jika Amara benar-benar ditindas dikeluarga ini bahkan suaminya sendiripun ikut andil.
"Ternyata sebelum aku koma kamu juga memperlakukanku dengan buruk, om?" aku menatap tidak suka kearah Angkasa. Panggilan mas yang Amara buat-buat tadi untuk memanasi Bella kini sudah dia rubah kembali dengan sebutan om
Bella tertawa, " bahkan Angkasa ikut serta dalam melukai hati kamu, Amara!"
"Dan bahkan Angkasa juga meminta laki-laki lain untuk mendekati kamu!" ejek Bella.
"Cukup Bella! Bentak Angkasa.
Bella melangkah mendekat kearah Amara, "jika kamu tahu diri lebih baik kamu minta cerai saja! Bukan aku yang merebut Angkasa dari kamu, tapi kamu yang telah merebutnya."
"Angkasa tidak pernah mencintai kamu, bahkan hubungan kami sudah terjalin jauh sebelum kalian menikah." ujar bella dengan percaya diri.
"Itu dulu, Ra? mulai sekarang mas akan memprioritaskan kamu! Mas akan mengikuti semua keinginan kamu." timpal Angkasa.
"Benarkah ..." Aku kembali menatap kearah bella yang tingginya hanya sebahuku.
__ADS_1
"Putuskan wanita ini sekarang juga!" tantangku.
"Kamu fikir Angkasa akan memutuskan hubungan kami hanya karena dirimu?"
Hahahaaa ... "Amara ... Amara! percaya diri sekali kamu." Bella menertawakan Amara.
"Bagaimana, Om?" aku melirik kearah Angkasa yang masih bungkam.
"Baiklah ... Aku anggap diamnya kamu membenarkan ucapan bella."
Saat aku hendak melangkahkan kaki, Angkasa menahan pergelangan tanganku.
"Aku akan melakukannya!" Netra kami bertemu.
"Maaass ...!" Bella terkejut dengan ucapan Angkasa.
"Maaf, Bel! Mulai saat ini jangan pernah mengganggu rumah tangga kami lagi."
"Dan kita ... Putus! Ucap Angkasa tegas.
Senyum puas kulayangkan kearah bella dan mamanya Angkasa.
Plak ...
"Kamu gila, hah!" bentak mamanya Angkasa.
"kalian akan menikah, dan sekarang dengan mudahnya kamu memutuskan Bella." terlihat urat-urat leher mamanya Angkasa menahan Amarahnya.
Tubuh Bella merosot kelantai, rasa percaya dirinya sedari tadi sirna, pastinya harga dirinya dihadapan Amara terkoyak.
"Aku tidak akan menikahi Bella, ma? Dan mulai sekarang aku akan mempertahankan rumah tanggaku." tukas Angkasa.
"Oh ... Silahkan! Jika wanita itu tahu apa yang telah kita rencanakan, apa dia masih mau memaafkan kamu?" mama Angkasa mendekati Bella, membantu calon menantu kesayangannya untuk berdiri.
"Kalian akan tetap menikah! Ujar mama sambil memeluk Bella.
"Puas kamu, hah! Membuat Angkasa durhaka dengan ibu kandungnya." tunjuk mama kearah wajah Amara.
"Memangnya apa yang sudah aku lakukan, ma?" Aku hanya meminta suamiku memutuskan kekasihnya?"
"Coba mama tanya dengan semua orang, bahkan seluruh orang di duniapun akan mendukung permintaanku." ucapku tenang sambil menatap mama mertua tercintaku.
"Seharusnya aku sudah melakukannya sejak lama! Kenapa aku bisa membebaskan suamiku menjalin hubungan terlarang dengan wanita lain."
__ADS_1
Aku menahan tangannya mama Angkasa saat akan menamparku, ternyata tangan wanita tua ini ringan sekali.
Aku melirik tajam kearahnya, "Jangan mama fikir aku akan diam saja saat ada yang ingin menyakitiku."
"Ingat baik-baik!" Aku menatap mereka satu-persatu.
"Amara yang sering kalian sakiti dan yang sering kalian hina sudah mati." Aku menghempaskan tangan mama mertuaku.
Jika tidak memandang usianya yang jauh lebih tua dariku, sudah kurobek-robek mulut jahat wanita ini, geram Amara.
Jika berlama-lama berhadapan dengan manusia-manusia keji ini aku tidak yakin bisa menahan emosiku, kupastikan mereka semua akan berakhir dirumah sakit.
Akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan ruangan ini, Angkasa mengekoriku dari belakang, bisa kudengar teriakan mama, memanggil nama putra kesayangannya.
Kinanti semakin penasaran dengan kehidupan Amara, berkali-kali dia mencerna ucapan mamanya Angkasa dan Bella tapi dia belum bisa menemukan kebenarannya, sepertinya banyak rahasia yang mereka sembunyikan.
Aku menghirup bebas udara malam dibalkon kamar lalu memejamkan mata ini, perlahan mataku terbuka saat sebuah tangan kekar melingkar dipinggangku.
Apa ini perasaan Amara, tubuh ini bergetar saat Angkasa memeluknya. Kinanti berusaha untuk menolak pelukan itu tapi tubuh ini berkata lain.
Angkasa melepaskan pelukannya, lalu membalikkan tubuh Amara berhadapan dengannya.
"Jujur ... apa yang diucapkan mereka memang benar! Dulu, Mas Tidak pernah peduli tentang hidupmu." Angkasa menjeda kalimatnya.
"Tapi setelah kamu sadar dari koma, mas mulai menyadarinya jika kamu sangat berarti untuk Mas, Amara!" aku menatap kemanik Angkasa, terlihat sebuah penyesalan yang sangat besar disana.
"Izinkan mas untuk menebus kesalahan mas dimasa lalu?" Angkasa menggenggam jemariku.
"Mas janji akan memperjuangkan rumah tangga kita walaupun mama menentangnya."
Manis sekali, apakah ini sebuah pengakuan penyesalan Angkasa?
Aku yakin jika Angkasa berkata seperti ini dihadapan Amara dia pasti akan memaafkan suaminya, tapi tidak dengan Kinanti, aku paling tidak suka ditindas dan dihina seperti ini.
Aku aknan membongkar rencana busuk kalian satu persatu, dan akan aku pastikan kalian akan menerima pembalasanku, terutama kamu Angkasa.
"Jangan hanya sebatas ucapan, Om? Aku butuh pembuktian."
"Bagaimana jika dibelakangku Om masih menjalin hubungan dengan si tante Bella itu!" ujarku pura-pura kesal.
Tujuan awalku memang ingin membuat lelaki dihadapanku ini bertekuk lutut mencintai Amara.
Bisa kurasakan besarnya cinta Amara untuk suaminya, bathin Kinanti.
__ADS_1
By : mikhayla92