
"Jadi kita sepasang suami istri, om?" aku menatap lelaki yang mengaku sebagai suamiku.
Mana mungkin aku sudah menikah, jadi aku sudah tidak pe ... "
Ahhhh ... Mana mungkin ... aku mengibaskan tanganku, selama ini aku sudah menjaga marwahku sebagai seorang wanita, aku selalu membatasi hubunganku dengan Dimas. Dan karena itulah Dimas berselingkuh dariku.
"Kamu Kenapa Ra? Kenapa kamu berteriak, apa ada yang sakit." ujar lelaki itu.
"Tidak ... Aku tidak kenapa-kenapa." lalu siapa nama Om?" aku menatap kearah pria yang belum kuketahui namanya.
"Kamu benar-benar telah melupakanku?" keningku mengkerut, apa semua ingatan Amara tentangku benar-benar Hilang?
Aku hanya mengangguk, aku hanya mengingat saat wanita ini terjatuh dari lantai atas sebuah bangunan.
"Jadi nama om siapa?
"Angkasa Nagatama." aku menatap amara.
Aku melongo mendengar nama pria yang ada didepanku, apa orangtuanya dulu ngidam ingin pergi keluar angkasa lalu ada naga disana, aku tertawa sendiri membayangkan khayalanku.
"Apa yang sedang kamu tertawakan Amara?" Aku menatap tajam kearah Amara.
"Hahahaaa ... Aku memegang perutku karena tidak bisa lagi menahan ketawa.
"Kenapa nama Om aneh sekali."
"Apanya yang aneh." aku menaikkan alisku.
"Apa? Coba Om eja deh nama om, lalu om artikan artinya." Aku tetap saja tidak bisa menahan tawaku.
Berani sekali Amara menertawakan namaku, kamu lihat apa yang akan aku lakukan, apa kamu masih bisa menertawakanku Amara. Seringaiku.
Aku berjalan mendekat kearahnya.
"Om ma-mau apa? tawaku terhenti saat angkasa berjalan mendekatiku yang masih duduk diatas ranjang.
"Om ... Om jangan macam-macam ya?" Aku sedikit memundurkan tubuhku kesisi ranjang, Angkasa semakin mendekatiku, kini posisi angkasa sudah berada tepat disisi ranjang.
"Memangnya kenapa? Aku bisa melakukan apapun terhadap istriku!"
Aku mendekatkan wajahku kewajah Amara lalu menarik pinggang Amara dan menjatuhkan bobot tubuhku tepat diatasnya.
"Aaaaah ... Pekik Amara, aku mengukung Amara dibawah tubuhku.
"Le-lepas om, ih ... !" Aku berusaha mendorong tubuh kekar Angkasa tanpa berani menatap wajahnya, aku memiringkan wajahku kesamping.
"Masih berani menertawakanku? Tatap mataku jika aku sedang bicara Amara." Aku masih tetap mengerjai Amara.
"Ti-tidak mau om, sekarang om turun dari atasku." Aku semakin gerogi sekarang.
"Kalau tidak mau menatap kearahku, aku cium!" aku tersenyum tipis bisa menjahili Amara seperti ini."
Dengan perlahan Amara memalingkan wajahnya menatap kewajah angkasa yang berada tepat didepan wajahnya, Amara enggan membuka matanya.
"Buka matamu Amara." ujar Angkasa.
Perlahan Amara membuka matanya, lalu tatapan kami bertemu. Aku sengaja membuka kacamata yang Amara pakai.
__ADS_1
Ini pertama kalinya aku melihat Amara dari jarak dekat, ternyata dia memiliki bola mata yang sangat indah dengan dihiasi oleh bulumata yang lentik, tidak hanya itu ternyata Amara sangat cantik jika dilihat dari jarak dekat seperti ini.
"Minggir om." Amara mendorong tubuhku dari atasnya.
"ehem ...
Niat ingin mengerjai amara tapi aku yang ikutan yang jadi salah tingkah, akhirnya aku bangkit dari tubuh Amara dan memasangkan kembali kacamatanya.
"Mendingan om keluar deh, aku mau beristirahat!" aku menatap tajam kearah Angkasa.
"Iya-iya aku keluar, makanya lain kali jangan mebertawakanku seperti itu lagi." aku menjentik kening Amara.
"Aaww ... Om memang benar-benar pria usil ya." Aku memegang keningku.
"Sudah, sana keluar om." Aku menunjuk kearah pintu keluar.
"Iya ... Aku keluar." aku meninggalkan Amara senyuman tercetak dibibirku saat aku berbalik.
Aku memilih duduk ditaman rumah sakit, aku masih heran dengan perubahan Amara kenapa sikap Amara bisa berubah 180 derajat setelah sadar dari koma itu benar-benar bukan kpribadian Amara.
Suara dering ponselku membuyarkan lamunanku. Disana tertera nama my love.
"Halo, sayang ... Kamu kok seharian tidak menghubungiku?" ujar wanita diseberang sana.
"Maaf Bel, aku sekarang lagi dirumah sakit, Amara sudah siuman."
"A-apa ... Si-siuman?" ujar wania yang bernama bella tersebut.
"Iya ... Kok kamu kaget begitu? Aku menautkan kedua alisku.
"Sayang ... Aku pengen ketemu?" ujar bella manja.
"Tidak bisa bel, aku harus mengurus Amara dulu dirumah sakit." Sekarang perhatianku mulai teralihkan dengan Amara.
"Kamu lebih mementingkan Amara dari pada aku, Sa?" ujar bella kesal.
"Bu-bukan seperti itu sayang, kamu tahu sendirikan Amara baru siuman jika bukan aku yang mengurusnya lalu siapa lagi."
tut ...
Bella langsung mematikan sambungan telpon.
Aku menghembuskan napas kasar, lalu beranjak menuju ruangan Amara.
Saat akan sampai aku melihat Roman juga akan memasuki ruangan yang sama denganku.
"Roman." aku sedikit berlari kearahnya.
"Kita masuk sama-sama." ujarku.
"Kamu darimana?"
"Amara memintaku keluar, katanya dia ingin beristirahat." kami berjalan beriringan menuju ruangan Amara.
"Memangnya Amara berani mengusirmu? Aku sedikit bingung dengan ucapan angkasa, yang aku tahu selama ini Amara tidak pernah berani berbicara seperti itu.
"Nah ... Itu dia yang buat aku heran, kepribadian Amara berubah 180 derajat dari Amara yang aku kenal." ujar angkasa.
__ADS_1
"Amara ... "
Roman memanggil Amara yang tengah menatap keluar jendela, saat kami sampai diruangannya.
Amara menoleh kearah kami, lalu melangkahkan kakinya menuju tempat tidur.
Aku dan Roman berjalan mendekat kearahnya.
"Aku akan memeriksamu."
"Ara ... Apakah kamu tidak mengenaliku?" ujar Roman.
Aku hanya menggeleng, ingatan wanita yang bernama Amara ini benar-benar hilang.
"Aku sahabat Angkasa, sebelum kamu koma kita sangat dekat."
"Dan panggilan ara adalah panggilanku untuk namamu."
"Benarkah? Ujar Amara, aku memang sedikit nyaman saat didekat dokter ini dari pada dekat dengan Angkasa. Apakah ini perasaan wanita yang bernama Amara yang tubuhnya kumasuki, gumamku.
"Benar ..." lalu roman memeriksa kesehatan Amara.
"Sepertinya Kamu benar-benar sudah pulih, aku sudah membaca hasil CT SCAN kamu, semuanya baik-baik saja.
"Hanya saja mungkin kamu koma cukup lama, membuat kamu kehilangan ingatanmu."
"Jadi aku Amnesia?" aku menatap dokter yang sedang berbicara denganku.
"Berapa lama ingatannya bisa kembali Rom?" ujar angkasa.
"Untuk kasus Amara, aku juga belum mengetahuinya."
"Baiklah, aku keluar dulu ... Dan beberapa hari lagi kamu sudah diperbolehkan pulang." tukas roman menatap kearah Amara.
"Jika kamu membutuhkan sesuatu kamu boleh mencariku." Ujar Roman.
"Jangan berlebihan, Rom ... Aku masih suaminya Amara, jika dia membutuhkan sesuatu dia bisa meminta pertolongan dariku?" aku sedikit terganggu dengan perhatian Roman terhadap Amara.
Roman menatapku penuh tanya.
"Aku ingin berbicara denganmu, temui aku diruanganku sekarang." Roman langsung pergi meninggalkan ruangan.
"Aku keruangan dokter dulu ya, ra?"
"Iya." ujar amara.
Aku mengikuti Roman keruangannya.
"Kenapa sekarang kamu melarang Amara dekat denganku? Ujar Roman saat sampai diruangannya.
"Itu sebelum Amara koma, sekarang aku sudah merubah keputusanku."
"Kamu tidak bisa merubahnya secara sepihak, Sa!".
"Ingat ... Dulu kamu yang memintaku untuk membuat Amara melupakanmu."
By : mikhayla92
__ADS_1