Terjebak Ditubuh Istri Yang Terabaikan

Terjebak Ditubuh Istri Yang Terabaikan
Aku bukan Amara


__ADS_3

Byurrr ...


Kinanti langsung terduduk merasakan air mengenai wajahnya.


"Dasar mantu tidak berguna! Kamu lihat sudah jam berapa sekarang." ujar mamanya angkasa berkacak pinggang dihadapanku.


Aku masih bengong, kesadaranku belum sepenuhnya terkumpul.


"Tan ... Eh, mama! Aku kan baru kembali dari rumah sakit? Dan tubuhku belum terlalu pulih." Kinanti menatap wanita yang bergelar mertua itu.


"Oh ... kamu mau jadikan itu alasanmu untuk bermalas-malasan hah!" Bentak si nenek lampir.


"Kerjakan sana apa yang sudah menjadi kewajiban kamu sebelum koma."


"Sepertinya waktu satu tahun koma sudah cukup untukmu beristirahat."


Wah ... wah, ternyata seperti ini bentukan mertua jahat yang sering aku tonton difilm-film.


Enak saja main perintah, dia belum tahu sedang bermain-main dengan siapa. Gumam Kinanti.


"Dibilangin malah bengong!" Si nenek lampir menjambak rambutku.


"Aawhh ... Kinanti memegang tangan mertuanya yang menarik kuat rambutnya.


"Kamu jangan senang dulu, Angkasa membelamu kemarin hanya merasa kasihan saja terhadapmu karena kamu baru saja siuman."


"Kamu harus mengingat kembali bagaimana angkasa memperlakukanmu dulu."


Kesabaranku benar-benar sudah habis, dia fikir aku Amara bisa ditindas seperti ini, akan aku rubah sikapku seperti nama wanita yang aku tempati tubuhnya ini yaitu A-M-A-RA-H.


Aku melintir tangan sinenek lampir kebelakang, lalu melototkan mataku kearahnya.


"Eh ... Nenek lampir, anda fikir aku pembantumu! ternyata anda sangat miskin ya, menyewa pembantu saja tidak sanggup."


"Ka-kamu ... Apa yang kamu lakukan, lepaskan." ujar sinenek lampir gugup.


"Percuma rumah sebesar ini, tapi menyewa pembantu saja tidak mampu."


"Malah mengandalkan tenaga menantu sendiri! Jika ada kategori mertua terjahat sejagat raya, aku pastikan tante yang akan jadi pemenangnya." omel Kinanti.


"Ka-kamu sudah berani melawanku ya? Aku akan aduin kamu ke angkasa." ujar sinenek lampir.


wuaahhaaahh ...


Tawaku pecah seketika, pergi saja sana ke A-N-G-K-A-S-A semoga tante jadi alien disana." kinanti memegang perutnya yang keram akibat tertawa.


Aku melepaskan tangan sinenek lampir dengan sedikit mendorongnya, dia terlihat kehilangan keseimbangannya akhirnya terjatuh.


Enak saja ingin menyakitiku, mama papaku saja tidak pernah membiarkan satu ekor semutpun menggigitku, dia fikir aku wanita yang gampang ditindas.


"Kamu lihat saja Amara, akan aku bilang apa yang kamu lakukan terhadapku saat Angkasa pulang nanti." akhirnya sinenek lampir keluar juga dari kamarku.


Aku menatap kearah tubuhku yang basah akibat ulah sinenek lampir tadi, aku memutuskan membersihkan tubuhku.


Aku ternganga menatap pakaian-pakaian Amara. ini bukan seleraku! aku mengambil satu baju lalu memakainya.

__ADS_1


Pantas saja suamimu tidak tergoda dengan kamu Amara, penampilan kamu saja seperti ini. Kinanti menatap pantulan wajahnya dicermin.


Padahal kamu memiliki wajah yang cantik, dan gigi ginsulmu menambah kecantikanmu saat tersenyum.


Lalu ini apa? Kinanti meraih kacamata yang bertengger diatas meja rias, padahal kamu tidak membutuhkan ini, mata kamu normal-normal saja dan itu sangat terlihat indah jika kamu tidak memakai ini.


Sepertinya banyak PR untukku pelajari tentang kehidupanmu Amara.


Setelah memakai pakaian Amara, dan memakai kacamatanya, Kinanti melangkah keluar dari kamar menuju kearah dapur.


"Bibik, bisa bantu aku sebentar?" Kinanti menghampiri bibik yang bekerja dirumah ini.


"Iya non Amara, apa yang bisa bibik bantu?" jawab si bibik.


"Mari ikut aku bik." Kinanti mengajak bibik kekamarnya.


Saat akan menuju kekamarku yang berada dilantai dua aku berpas-pasan dengan ibu mertuaku.


Dia melirik sinis kearahku, dan langsung mengalihkan tatapannya kedepan lalu turun menuruni tangga. aku hanya mengedikkan bahuku.


"Tumben, nyonya tidak marah-marah sama non Amara?" bisik bibik disamping telingaku.


"Hah ..." aku terlonjak saat tiba-tiba bibik berbisik ditelingaku.


"Biasanya dia seperti apa bik?" tanya kinanti menatap sibibik.


"Non lupa? Setiap hari pasti non Amara dimarahin nyonya dan semua pekerjaan diserahkan ke non Amara untuk mengerjakannya." ujar sibibik.


"Lalu tugas bibik disini apa?" kening kinanti mengkerut.


"Memangnya non Amara tidak ingat?"


"Maaf bik, setelah sadar dari koma aku kehilangan ingatanku."


"Ya allah, non ... Non yang kuat ya non, bibik yakin suatu saat ingatan non pasti kembali." bibik mengusap lengan Kinanti.


"iya bik, terimakasih." Kinanti tersenyum kearah bibik.


"Jadi yang baik dirumah ini denganku hanya bibik?" kami berbincang sambil berjalan kekamarku.


"Semua pekerja dirumah ini baik kok sama non, cuma nyonya yang sering jahat sama non Amara."


"Kalau den angkasa dia akan diam saja saat melihat nyonya memperlakukan non Amara dengan jahat." aku sedikit tahu tentang Amara, miris sekali hidupmu Amara, aku memegang dadaku yang terasa nyeri.


"Benarkah bik? Jadi dia tidak membela istrinya." benar-benar keterlaluan ya suami seperti itu, gumam Kinanti.


"Oh iya bik, aku belum melihat papanya angkasa?" Kinanti baru menyadari papanya Angkasa tidak terlihat dari kemarin.


"Tuan jarang pulang non, dia sering kembali kerumah istri keduanya?" bibik berbisik saat mengatakannya."


Aku melongo mendengar ucapan si bibik, jadi mamanya Angkasa dimadu." kasihan sekali nasibmu nenek lampir.


"Jadi non, apa yang harus bibik bantu? Bibik menanyakan saat kami sampai dikamarku.


"Bantu aku mengeluarkan baju-baju yang ada dilemari itu bik." Kinanti menunjuk kearah lemari yang berada dipojok ruangan.

__ADS_1


"Semuanya non?" ujar bibik berjalan kearah lemari.


"Iya semuanya bik." Kinanti juga membantu bibik mengeluarkan pakaiannya.


"Kenapa dikeluarkan, non?"


"Aku ingin ganti semuanya bik, sepertinya pakaian ini sudah terlalu kuno."


"Bibik bisa mengambilnya jika bibik mau! Terus nanti bibik bagi-bagiin ya, biar tidak mubazir." Kinanti nyengir kearah bibik.


"Iya non, alhamdulillah bibik dapat rezeki banyak untuk anak-anak bibik."


"Nanti pasti bibik bagikan dengn orang-orang yang membutuhkan." Kinanti sangat tersentuh dengan ucapan bibik.


"Bentar ya non, bibik cari tempatny dulu?" bibik berlari kecil keluar dari kamar setelah kami mengeluarkan semua isi pakaianku dari lemari.


Kinanti mencari ponsel milik Amara, dia menemukannya dilaci disamping tempat tidur.


Sepertinya baterainya habis, lebih baik aku mengisi dayanya terlebih dahulu.


Setelah dirasa cukup terisi, Kinanti menghidupkan ponsel tersebut, menunggu beberapa saat dan dilayar ponsel terpampang wajah tampan suaminya.


Secinta itukah kamu dengan lelaki ini Amara, sampai-sampai kamu membuat profil ponselmu menggunakan fotonya.


Aku membuka galeri, semoga saja aku menemukan petunjuk disini.


Ternyata Amara memiliki banyak teman, terdapat foto-fotonya bersama teman-temannya. Aku menatap wanita yang berada disalah satu foto Amara, sepertinya mereka sangat dekat, terlihat Amara sering berfoto dengan wanita tersebut.


Aku bisa memulai kehidupan Amara melalui wanita ini, aku butuh teman tidak mugkin aku sendirian seperti ini terus.


Aku masih melihat foto-foto yang ada digaleri ponsel milik Amara, tanganku terhenti saat melihat foto Amara bersama seorang pria, sepertinya aku pernah melihat pria ini?


Ah iya ... Dokter itu! Inikan dokter yang merawatku saat dirumah sakit, jadi mereka memang saling mengenal.


Saat aku tengh sibuk dengan ponsel Amara, bibik masuk dengan membawa beberapa karung.


"Non, bibik masukin kedalam sini saja ya?"


"Oh ... Boleh bik! bibik tolong masukin dulu ya? Aku ingin menghubungi seseorang."


"Baik non."


Kinanti membuka aplikasi berwarna hijau lalu mencari nama Angkasa, tapi tidak kutemukan.


Aku melihat nama Suamiku disana, ada tanda hati dibelakang tulisannya, Amara benar-benar bucin dengan suaminya, bathin Kinanti.


Kinanti mencoba menghubungi nomor tersebut ternyata profil yang angkasa pakai fotonya bersama seorang wanita cantik.


Kurang ajar sekali pria ini, dia berani menunjukkan selingkuhannya didepan semua orang, Kinanti benar-benar geram dengan lelaki yang bernama angkasa ini.


"Halo Amara." ujar Angkasa diseberang sana.


"Halo ... Om, aku minta duit dong! Aku ingin mengganti pakaianku yang ada dilemari, modelnya sangat kuno, om?" ujar Kinanti.


"Apa ...?" Angkasa terkejut dengan ucapan Kinanti.

__ADS_1


By : mikhayla92


__ADS_2