
"Dulu aku memang memintamu untuk mendekati Amara, tapi sekarang aku berubah fikiran."
"Aku akan menjadikannya istriku untuk selamanya, jadi ... aku minta kamu berhenti saja, rom." ujar Angkasa.
"Kamu jangan egois, Sa! Kamu tidak pernah mencintainya." Emosiku mulai terpancing dengan perubahan Angkasa hari ini.
"Itu dulu, sebelum Amara koma. Mulai hari ini aku akan belajar mencintainya." ucapku dengan nada yang sedikit percaya diri.
"Jangan terlalu percaya diri kamu, apa Amara akan tetap mencintaimu jika ingatannya kembali? Kamu sudah terlalu banyak menyakitinya." ujar Roman.
"Kenapa tidak, aku tahu dia sangat mencintaiku, selagi ingatannya belum kembali aku akan membuatnya jatuh cinta lagi padaku."
"Kamu tahu aku mencintai Amara kan, Sa?"
"Kenapa sekarang kamu merubah keputusanmu." Aku tidak habis fikir dengan jalan fikiran Angkasa sekarang.
"Maaf, Rom ... Sebaiknya kamu mundur, aku tidak akan menyerahkan Amara kali ini." Aku beranjak keluar dari ruangan Roman.
"Kamu dengarkan aku baik-baik angkasa, aku tidak akan mundur." teriak Roman.
Aku kembali keruangan Amara, ternyata dia sedang tertidur.
Aku memilih duduk disofa menatap Amara yang tengah tertidur.
***
Hari ini Amara diizinkan pulang, sejak kejadian diruangan Roman Kemarin hubungam kami sedikit merenggang.
Aku membawa Amara kembali kerumah, saat sampai langkahku terhenti mendengar ucapan mama.
Mama menghampiri kami, lalu menatap sinis kearah Amara.
"Akhirnya kamu pulih juga, merepotkan saja!" ujar mama.
"Om, dia siapa? Amara berbisik ditelingaku.
"Dia mamaku, mama mertuamu." ucapku sedikit berbisik ditelinga Amara.
Saat aku ingin menyalami tangan wanita paruh baya yang katanya si om mama mertuaku, dia mengibaskan tangannya.
"Tidak perlu!" ucapnya ketus.
Aku melongoh, menatap tanganku yang ditepiskan olehya. sepertinya ada bau-bau mertua jahat disini, aku tidak akan tinggal diam jika aku akan ditindas olehnya nanti.
"Ma, Jangan seperti itu?" ujar angkasa.
"Oh ... Jadi kamu sudah mulai membelanya sekarang!" mama menatap tajam kearahku.
"Bukan seperti itu ma, Amara kehilangan ingatannya, dia tidak mengingat siapa kita." aku berusaha menjelaskan situasinya sama mama.
"Mama tidak peduli, mau dia hilang ingatan atau tidak bagi mama dia tetap menantu yang tidak diinginkan."
__ADS_1
Astaga ... Aku juga tidak sudi memiliki mertua jahat seperti anda, bathinku.
"Ma ... Mama membuat Amara bingung!" Angkasa menatapku yang memang sedang kebingungan dengan situasi yang tengah aku hadapi saat ini.
"Jangan didengarkan, mari aku antar kekamar kita." Angkasa menggenggam jemariku.
"eh ... I-iya." aku sedikit kaget saat Angkasa meyentuh jemariku.
"Angkasa ... jika bella tau kamu membela wanita itu dia tidak akan memaafkanmu!" mama berteriak saat kami menaiki anak tangga.
"Bella! Siapa bella om?" aku menatap kearah angkasa.
"Jangan didengarkan omongan mama!" kenapa aku jadi takut sekarang, bukankah amarah sudah mengetahui hubunganku dengan bella.
"Ya sudah ... kepalaku pusing sepertinya aku butuh istirahat, om!"
"Mari kita kekamar." Aku meninggalkan mama yang terus saja mengomel dibawah sana.
Angkasa membawaku kekamar, pusat perhatianku tertuju pada satu bingkai foto besar yang terletak tepat diatas kepala ranjang.
"Apa itu foto pernikahan kita?" Aku melihat kearah angkasa yang menjatuhkan bobot tubuhnya disofa.
"Benar ... Dan kamu yang memasangnya disana." ujar angkasa.
"Kenapa cuma aku yang terlihat bahagia disana, sedangkan Om tidak?" wajah angkasa seperti terpaksa disana, tidak ada senyum sedikitpun.
"A-aku memang seperti itu, sangat sulit untukku memperlihatkan kebahgiaanku." ucapku terbata.
Sepertinya tidak gampang kehidupan yang wanita ini jalani, berdampingan dengan mertua yang jahat, dan sepertinya suaminya juga berselingkuh.
Mulai sekarang aku akan mencari tahu tentang tubuh ini, apa saja langkah
yang perlu aku ambil selanjutnya.
Aku membaringkan tubuhku ditempat tidur, sebenarnya aku ingin meminta pisah kamar dari pria ini tapi atas dasar apa aku memintanya.
Benar-benar rumit, kenapa aku harus terjebak ditubuh wanita dewasa yang sudah bersuami pula. Aku memegang pelipisku yang sedikit pusing karena memikirkan bagaimana nasibku kedepannya. Tidak butuh waktu lama akhirnya aku tertidur.
Aku melangkah kearah Amara yang sedang tertidur, lalu duduk disisi ranjang.
Dalam waktu beberapa hari kamu mampu menyita perhatianku, kamu seperti bukan Amara yang aku kenal, kepribadianmu memang benar-benar berubah.
Aku mengelus pucuk kepala Amara, lalu mencium keningnya, setelah itu aku meninggalkan kamar membiarkan Amara mengistirahatkan tubuhnya.
****
Disebuah rumah sakit terbesar dikota ini terbaring wanita muda yang sampai saat ini masih betah menutup matanya, sepertinya tidak ada keinginan untuknya membuka mata.
"Papa, akan memberi mereka pelajaran, Ki?"
"Papa sudah menyelidikinya ternyata Dimas lah yang menjadi penyebab kamu kecelakaan."
__ADS_1
"Kamu sadarlah Kinan, apa kamu tidak kasihan sama papa, terutama mama kamu. Dia sering mengurung diri dikamar, tidak adalagi keceriaan diwajahnya, tersenyum saja sulit."
"Nisa benar-benar keterlaluan, apa tidak adalagi pria lain selain kekasih saudaranya sendiri." ujar hendrawan dengan penuh Amarah.
Saat keluar dari ruangan putriku, aku melihat Dimas masih berani menampakan wajahnya dihadapanku.
"Masih berani kamu menampakan dirimu dihadapanku Dimas?"
"Om, aku mohon om beri aku kesempatan untuk menebus semua kesalahanku."
"Apa kamu pantas mendapatkan kesempatan itu?" ujar om hendrawan papanya Kinan.
"Jangan pernah kamu tunjukan wajahmu lagi disini." tunjuk hendrawan.
"Kamu ingin pergi sendiri, atau aku sendiri yang akan meyeretmu keluar."
"Aku akan pergi om, tapi aku tidak akan berhenti sebelum mendapatkan maaf dari kalian." Dimas melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan amarah.
"Terserah, dan jangan pernah berharap kami akan memaafkanmu."
Akhirnya aku memutuskan pergi,ampai dilobby rumah sakit Nisa menghampiriku, ternyata dia mengikutiku sampai kemari.
"Sudahlah Dim, sebaiknya kamu lupakan Kinan?"
"Aku juga mencintaimu?" ujar Nisa.
Aku melirik tajam kearah Nisa, apa dia fikir aku juga mencintainya.
"Aku tidak pernah mencintaimu, Nis!"
"Jadi ... Berhenti ikut camour urusanku." aku membentak Nisa.
"Lalu selama ini apa yang kita lakukan apa Dim?" Kenapa Dimas bicara seperti itu.
"Kamu lupa ... Kamu yang terlebih dahulu merayuku dengan tubuhmu."
"Kurangajar kamu ya Dim, aku tidak terima diperlakukan seperti ini."
"Kamu harus bertanggung jawab."
"Tanggung jawab apa? Kita tidak pernah melakukannya."
"Jadi berhenti menggangguku nis."
lalu aku pergi meninggalkan Nisa yang masih meneriaki namaku.
Dimas meninggalkanku disini, melajukan motor matik miliknya keluar dari perkarangan rumah sakit.
Dasar laki-laki bodoh, sudah tahu papanya Kinan tidak mau memaafkannya, dimas masih saja mengharapkan anaknya. Aku mengumpat kebodohan Dimas.
Semoga saja kamu tidak sadar untuk selamanya Kinan, sejak dulu kamu selalu lebih unggul dariku, dan kamu juga mendapatka cinta dari pria yang terlebih dahulu aku sukai, aku benar-benar membencimu Kinanti.
__ADS_1
By : mikhayla92