Terjebak Ditubuh Istri Yang Terabaikan

Terjebak Ditubuh Istri Yang Terabaikan
Angkasa kepergok


__ADS_3

"Bukankah itu selera kamu, Ra?" balas Angkasa dari seberang sana.


"Aku tidak tahu apa itu seleraku atau tidak, yang aku tahu sekarang aku tidak menyukai penampilanku seperti itu." Jelas Amara.


"Kamu lupa? Bukankah kamu tidak ingin menggunakan uangku sepeserpun?"


"Bilang saja om pelit! Dengan istri sendiri perhitungan." gerutu Amara.


"Ya sudah, kamu jemput kekantor sekarang." Angkasa bingung dengan tingkah Amara, bukankah dulu aku sudah memberikan kartu ATM untuk keperluannya, tapi dia mengembalikannya kembali.


"Om ... Pekik Amara, sontak saja saja Angkasa langsung menutup telinganya, kenapa istrinya yang pendiam menjadi bar-bar setelah sadar dari koma.


"Amara, kamu kenapa berteriak sekeras itu?" Angkasa menjauhkan ponselnya dari telinganya.


"Habis om sih, dipanggilin dari tadi malah diam." sahut Amara.


"Kirim alamat kantornya, om?" Kamu yakin mau kemari, kening Angkasa mengkerut.


"Iya yakinlah, om! kalau aku tidak kesana bagaimana aku akan membeli pakaianku nantinya, pakaianku yang lama sudah kukasih kebibik."


Setelah Angkasa memberikan alamat kantornya, Amara memutuskan panggilan telpon.


"Mang ... Ini motor siapa?" Amara tengah berada disamping motor matik yang terparkir digarasi.


"Ini motor mamang, neng Amara!" Ujar mang Ujang.


"Amara boleh pinjam, mang?" Mang Ujang mengerutkan keningnya.


"Memangnya neng Amara bisa bawa motor?"


"Iya bisa dong mang, cuma bawa motor doang mah ... Kecil." sahut Amara.


"Kenapa tidak pakai mobil saja, Neng? cuacanya panas nanti non Amara kepanasan."


Amara tersenyum kearah mang Ujang.


"Tidak apa-apa mang! Malahan lebih seru pakai motor, kita bisa bebas menatap keindahan alam."


"Ya sudah kalau memang neng Amara ingin membawanya, nih kuncinya." mang Ujang mengulurkan kunci motornya.


"Pinjam dulu ya mang?" Amara mengendarai motor matiknya menuju kantor Angkasa.


Saat memasuki lobby kantor, apa hanya perasaanku saja atau memang mereka sedang memperhatikanku.


"Bu-buk Amara." ujar Seorang wanita yang berada didepan ruangan Angkasa.


Kenapa wanita ini terlihat gugup, bathin Amara.


"Bapaknya, ada?" Amara tersenyum ramah kearah wanita tersebut.


"A-ada buk, ta-tapi?" Kelamaan, pasti ada sesuatu didalam sana.


"Biarkan aku masuk!"Wanita ini berusaha menahanku, aku semakin yakin jika didalam ada sesuatu.


"Bapak sedang kedatangan tamu buk."


"Aku tidak percaya." kamu berani menghalangiku?" lirik tajam Amara.


"Ma-maaf buk, tapi ini perintah dari pak angkasa." wanita itu tertunduk didepan Amara.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu khawatir, biar aku yang menjelaskan."


"Ta-tapi buk, pak Angkasa akan memecatku nanti." wanita itu menatap Amara dengan tatapan memohon.


"Aku yang akan bertanggung jawab, aku pastikan dia tidak akan memecatmu." Amara meyakinkan wanita itu, Amara langsung membuka pintu ruangan kerja Angkasa.


Ada yang terluka tapi tidak berdarah dihati ini, apa ini perasaan Amara? Apa dia terluka melihat suaminya bersama wanita lain, bathin Kinanti.


"A-amara! Angkasa langsung berdiri dari duduknya membuat wanita yang sedang duduk diatas pangkuannya terjengkang kelantai.


"Masss ... Teriak wanita itu sambil mengusap bokongnya, pasti itu sangat sakit, aku menertawakan wanita itu.


"Apa yang kamu tertawakan, hah!" bentak wanita tersebut.


"Ya ... tante lah! Pasti sakitkan?" Amara kembali menertawakannya.


"Ka-kamu, berani sekali kamu menertawakanku. Memangnya aku tantemu, hah!" kesal wanita tersebut. Amara mencekal tangan wanita itu yang ingin menamparnya lalu menghempaskannya, membuat tubuh siwanita terhuyung kebelakang.


"Aaahh ... Berani sekali kamu! geram wanita itu.


"Sayang? Kamu kok diam saja sih!" rengek siwanita.


"Terus aku harus ngapain, Bella?" Ujar Angkasa, dia kaget dengan sikap Amara kali ini.


Biasanya Amara akan menangis tanpa melakukan perlawanan, ini sangat menarik, gumam Angkasa.


"Kamu tidak membelaku?" Ujar wanita yang bernama bella tersebut.


Angkasa hanya menaikkan bahunya, dan sikapnya membuat bella semakin kesal.


"Ih ... Mas!" bella langsung meninggalkan ruangan Angkasa, dia menabrakan bahunya kelengan Amara, untung saja tangan kekar Angkasa menahannya kalau tidak Amara aku terjatuh kelantai.


"Maaaasss ..." Perhatian kami teralihkan kearah bella yang berteriak nyaring.


"Kamu membelanya?" Bella berlari meninggalkan ruangan Angkasa sambil menangis.


"Ra, ini tidak seperti yang kamu fikirkan!" Jelas Angkasa. Tapi kenapa juga aku harus menjelaskannya, bukankah selama ini sudah seperti ini.


"Memangnya apa yang aku fikirkan, om?" Amara menautkan alisnya.


Wanita ini benar-benar tidak bisa ditebak, Angkasa masih tidak percaya dengan perubahan Amara.


"Maaf mengganggu waktu bersenang-senangmu, Om! Nanti om bisa lanjutkan lagi." ucap Amara santai.


"Mana uangnya, om?" Amara menengadahkan tangannya kearah Angkasa.


Angkasa membuka dompetnya lalu mengeluarkan satu buah kartu ATM, paswoardnya tanggal pernikahan kita.


"Mana aku tahu tanggalnya, Om! Sungut Amara.


"Oh, iya ... maaf, mas lupa." Amara bergidik mendengar Angkasa menyebut dirinya dengan sebutan, mas.


Setelah mendapatkan pasword ATM nya Amara pamit.


"Terimakasih, Om! Sekarang Om boleh memanggil pacarbom tadi untuk melanjutkan aktivitas kalian yang sempat tertunda tadi." Amara menghentikan langkahnya.


"Satu lagi, om! Jangan pecat wanita yang ada diluar sana, karena aku yang memaksa masuk."


"Oke ..." Amara memberikan isyarat dengan jarinya, lalu berlari kecil keluar ruangan Angkasa.

__ADS_1


Angkasa tersenyum melihat tingkah Amara yang pecicilan seperti itu.


Sebaiknya setelah ini aku menyusul Amara saja ke mall, aku masih penasaran tingkah apa saja yang akan Amara perbuat.


****


Saat ini Amara tengah berada disalah satu pusat perbelanjaan terbesar dikota ini. Amara membeli semua yang menarik dimatanya, aku yakin uang Angkasa tidak akan habis jika aku belanja sebanyak ini! daripada dihabiskan oleh selingkuhannya, mendingan aku yang sebagai istri sahnya yang menghabiskan.


Mengingat kejadian dikantor tadi, membuat Amara kesal, jadi dia benar-benar memiliki selingkuhan? Bahkan dikantor mereka berani melakukan tindakan senonoh seperti itu, geram Amara.


aaahhh ... Capek! bagaimana caraku membawa belanjaan sebanyak ini, aku kan pakek motor, aku bergumam sendiri.


Aku terlonjak saat seseorang menepuk pundakku dari belakang.


"Ara! Kamu sendirian?" ujar pria tersebut.


Aku mengingat-ingat siapa pria ini, wajahnya tidak asing.


"Aku Roman, Dokter yang merawatmu saat dirumah sakit, dan aku juga teman dekatmu."


Mungkin Roman melihat aku kebingungan, jadi dia memberitahukan langsung siapa dirinya.


"Ah ... Iya! Dokter Roman, apa kabar, dok?"


"Jangan memanggilku formal seperti itu, Ra! Biasanya kamu memanggilku dengan nama saja."


"Biar aku bantu!" Roman langsung mengambil beberapa paperbag dihadapanku.


"Mobilmu dimana, Ra?" tanya Roman.


"Aku bawa motor, Rom!" Kening Roman mengkerut.


"Sejak kapan kamu bisa bawa motor?"


pertanyaan yang sama dengan mang Ujang, memangnya Amara tidak bisa bawa motor? Bathin kinan.


"Entahlah, yang aku tahu aku bisa membawanya." jawab Amara enteng.


"Lebih baik barang-barangnya dimasukin kedalam mobilku saja." Amara terpesona dengan kelembutan Roman, pria yang tampan dan perhatian, gumam Amara.


Amara mengikuti Roman dari belakang menuju mobilnya yang berada diparkiran.


"Kita cari makan dulu." ujar Roman, setelah kami meyusun semua barang belanjaanku dibagasi.


"Terimakasih ya rom, sudah diberi tumpangan? Tadi aku sempat kebingungan bagaimana cara membawanya.


"iya ...sama-sama! Kamu seperti dengan orang lain saja." Roman mengusap pucuk kepala Amara, dan sukses membuat Amara semakin mengamgumi pria itu.


Jika saja aku tidak terjebak ditubuh Amara, mungkin aku sudah jatuh cinta dengan pria tampan ini, bathin Amara.


"Sebagai ucapan termakasihku, biar aku yang traktir." Amara tersenyum kearah Roman.


"Boleh juga!"


Mereka duduk disebuah cafe yang berada didalam mall, mungkin memang Amara sangat dekat dengan pria ini, buktinya kami cepat sekali mengakrabkan diri.


Tidak jauh dari tempat mereka duduk, Angkasa yang baru saja menyusul melihat pemandangan yang mengganggu penglihatannya.


By : mikhayla92

__ADS_1


__ADS_2