Terjebak Ditubuh Istri Yang Terabaikan

Terjebak Ditubuh Istri Yang Terabaikan
Angkasa cemburu


__ADS_3

Dalam kehilangan ingatannya, Amara juga bisa sedekat itu dengan Roman, kali ini aku tidak akan membiarkan kamu mendekati istriku Rom, gumam Angkasa.


"Sayang ..." Angkasa mencium pucuk kepala Amara didepan Roman.


"Ihh ... Om apa-apaan sih! Amara sangat risih dengan perlakuan Angkasa.


"Aku suami kamu loh! Memangnya salah jika aku bersikap manis seperti itu?" Kenand duduk tepat disamping Amara.


"Tidak usah sok berlagak manis, Sa!" ujar Roman.


"Kamu tidak usah ikut campur, Rom! Memangnya kenapa kalau aku bersikap manis terhadap istriku sendiri."


Amara memutar mata malas, baru beberapa jam yang lalu dia memergoki Angkasa dengan selingkuhannya, tapi sekarang dia biasa-biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa.


"Sepertinya aku harus memperjelaskan lagi hubungan kami denganmu, Rom! Kamu harus mengingatnya kami itu sepasang suami istri."


"Om kok nyolot! Kenapa? Cemburu?" tantang Amara.


"Jelas dong mas cemburu! Istri sendiri jalan bareng laki-laki lain masak suaminya diam saja." balas Angkasa.


ciiiih ... Biasanya juga tidak peduli jika istrinya bertemu dengan laki-laki lain." timpal Roman.


"Apa benar seperti itu, rom?" Amara menaikkan sebelah alisnya, lalu kembali menatap Angkasa.


"Om lupa! Atau pura-pura lupa, bukankah Om sendiri yang bermesraan dengan wanita lain. dikantor lagi."


" Sekarang malah menyalahkan orang, aku tidak jalan dengan laki-laki lain ya, om! kami kebetulan saja bertemu disini."


"Sudah ah ... Mood aku jadi hilang, Om mengganggu kesenanganku saja."


"Rom, kita balik yuk?" ajak Amara.


"Eh ... Eh ... Tunggu dulu, kamu tidak boleh pulang bareng Roman, kan ada mas?" Angkasa menarik tangan Amara.


"Semua barang belanjaanku ada dimobil Roman Om, aku juga bawa motor pak ujang."


"Astaga, Amara ... Kamu bawa motor? Sejak kapan kamu bisa menggunakannya?"


Kenapa orang-orang ini pada menanyakan hal yang sama, apa Amara tidak bisa bawa motor? Gumam Kinanti.


"Tidak perlu dibahas, Om! aku akan tetap pulang bareng Roman." Amara memberikan kunci motor pak ujang ketangan Angkasa.


"Tolong bawa motor pak ujang kembali ya, om?"


"Tapi, ra ..."


Ssssttt ... Amara meletakkan telunjuknya dibibir Angkasa.


"Bicaranya nanti saja dirumah."


"Sudah ya Om, aku pulang dulu! Bye." Amara melambaikan tangannya kearah Angkasa dan meminta Roman mengantarnya.


"Sepertinya kamu harus memceritakan tentangku, rom? Aku benar-benar tidak ingat apapun."


"Kenapa aku bisa menikah dengan Angkasa? Dan siapa bella? Kenapa mama mertuaku merestui hubungan mereka."


"Kamu sudah bertemu bella?" Roman mengkerutkan keningnya


"Kamu kenal?"

__ADS_1


"Bukan kenal lagi, tapi sangat-sangat kenal, aku tidak terlalu suka dengan wanita itu."


"Jadi dia beneran kekasih Angkasa?" Roman menganggukan kepalanya.


"Jadi dimana kamu bertemu dengannya?" tanya Roman.


"Dikantor Angkasa, dan mereka lagi bermesraan disana."


"Jadi apa yang kamu lakukan saat memergoki mereka?"


Amara menceritakan apa yang telah dia lakukan dengan wanita yang bernama Bella itu.


"Benarkah ... Jadi angkasa tidak membantunya?"


"Tidak sama sekali! Dia membiarkan wanitanya merajuk."


"Aku sangat mendukung kepribadian kamu yang sekarang, Ra! Tidak gampang ditindas."


"Kamu tahu, dulu kamu sering menangis saat menceritakan perselingkuhan mereka."


"Jadi aku mengetahui perselingkuhan mereka? Dan mereka terang-terangan berselingkuh dihadapanku?"


"Seperti itulah, Ra." Nanti aku akan menceritakan semuanya, Ra!" kita cari waktu yang tepat."


"Baiklah ..."


Sedangkan Angkasa hanya bisa pasrah, lalu mengikuti mobil Roman sampai kerumah.


Angkasa berlari kearah mereka membantu memgeluarkan barang belanjaan Amara.


"Kamu mau buka tokoh pakaian, Ra?" Angkasa menatap barang belanjaan Amara.


"Pak ujang! Panggil Angkasa.


"Tolong bawakan barang non Amara Kekamar?" Lalu Angkasa melemparkan kunci motor miliknya.


"Setelah itu bapak jemput motor bapak dimall." Angkasa menenteng beberapa barang belanjaan Amara.


"Kamu tidak ingin pulang, Rom?" tanya angkasa.


"Baiklah, Ra! Aku pulang dulu." kalau bukan karena Amara disini sudah kulayangkan pukulan kearah Angkasa, bathin Roman.


"Ayo sayang, kita masuk!" Angkasa merangkum pundak Amara, Roman menatap dari spion mobil.


Kamu fikir aku akan berhenti untuk mendapatkan Amara, itu tidak akan Angkasa, malahan aku semakin tertantang untuk merebutnya dari kamu.


Sudah cukup kamu mengabaikannya selama ini, menyakiti hatinya dengan berselingkuh dengan bella.


Roman melajukan mobilnya meninggalkan perkarangan rumah Angkasa.


Saat kami memasuki rumah, mama berdiri berkacak pinggang menghadap kearah kami.


"Dari mana kamu?" mama menatap tajam Amara.


"Pekerjaan dirumah satupun tidak kamu kerjakan! Sudah untung kami menampungmu tinggal dirumah ini." bentak mamanya Angkasa.


"Dan kamu Angkasa, apa yang kamu lakukan terhadap bella?" mama juga membentakku.


Sepertinya sinenek lampir sudah lupa dengan kejadian tadi pagi, sebaiknya aku ingatkan lagi gumam Amara.

__ADS_1


"Om ... Tolong beri sedikit uang ke mama kamu untuk membayar jasa pembantu."


"Jika ingin memakai tenagaku, mama Om harus membayarku, oke?" Aku menatap Angkasa yang bengong menatapku.


"Ngakunya kaya, sewa pembantu saja tidak sanggup." gumamku, Dan aku yakin sinenek lampir mendengarkannya."


"Kamu lihat istri kamu, dia sudah berani melawan mama!" Mamanya Angkasa menunjuk-nunjuk tepat diwajahku.


"Ma, Amara benar! Jangan memintanya mengerjakan semua pekerjaan rumah."


"Kan disini sudah ada bibik." Angkasa membelaku dihadapan mamanya.


Senyum mengejek kulayangkan kearah mama mertuaku.


"Jadi benar yang dikatakan bella, kamu membela wanita ini?"


"Tidak usah dibahas ma, Aku capek!"


Angkasa menarik tangan Amara lalu membawanya kekamar, Amara tersenyum licik kearah mertuanya.


"Angkasa! Teriak sinenek lampir, aku semakin menampilkan wajah mengejekku, melihat Angkasa tidak memghiraukannya sama sekali, bisa kulihat kemarahan tercetak diwajahnya.


"Dasar menantu kurang ajar kamu Amara, menantu tidak tahu diri." mamanya Angkasa masih meneriaki namaku, tapi anaknya seperti tuli, tidak mendengarkan teriakannya.


Aku akan membalas kejahatan mereka satu persatu Amara, apa kamu suka? Bathin Kinanti.


Dan untuk suami kamu, aku akan membuatnya bertekuk lutut mencintaimu dan mencampakan selingkuhannya itu, dan setelah itu aku yang akan mencampakkannya.


"Maafkan atas perbuatan mama ya, Ra?" ujar Angkasa saat mereka telah berada dikamar.


"Pasti mama Om selalu menyikasaku, kan?" tanya Amara.


Angkasa bungkam, bukan mamanya saja yang bersikap buruk terhadapnya, dia juga. Saat mamanya menyakiti Amara dia hanya diam, tidak pernah membelanya sedikitpun.


"Diamnya Om, sudah bisa menjawab pertanyaanku."


"Aku penasaran kenapa aku bisa menikah dengan laki-laki seperti, Om? Tidak bertanggung jawab dengan istrinya sendiri."


Amara meninggalkan Angkasa yang masih terdiam ditempatnya berdiri saat ini, menuju kekamar mandi.


Lelah sekali menjadi kamu Amara, apa kamu tidak ingin kembali? Kinanti merendam tubuhnya kedalam bathub, dia benar-benar pusing menjalani kehidupan Amara.


Diusianya yang masih muda dia sudah dihadapi permasalahan serumit ini, seharusnya aku masih menempuh pendidikanku, bukan berhadapan dengan orang-orang dewasa seperti mereka. Kinanti merutuki nasibnya saat ini.


****


"Dimas! Kamu menghindariku lagi?" Nisa menarik tangan dimas.


"Cukup ya, Nis! Jangan pernah ganggu aku lagi." Dimas menyentak tangannya.


"Karena kamu aku kehilangan impianku, kuliah diuniversitas kedokteran itu adalah impianku."


"Kok kamu nyalahin aku, dimas?"


"Lalu siapa lagi yang akan aku salahkan, jika kamu tidak menggodaku hubunganku dengan Kinanti akan baik-baik saja."


"Kinanti lagi ... seharusnya kamu menyalahkan diri kamu, kenapa gampang tergoda."


"Terserah kamu mau ngomong apa." Dimas meninggalkan Nissa.

__ADS_1


"Iihhh ... Sekaratpun kamu masih merusak kebahagiaanku, Kinanti!" kesal Nissa.


__ADS_2