
"Morning, mama?" Kinara mendudukkan bokongnya tepat disamping mama Dilla.
Semalam aku baru ingat menanyakan nama mama mertua tercintaku, tatapan tajam mama layangkan kearahku.
"Mata mama kenapa begitu? ntar nggak bisa balik normal lagi loh?"
"Bik ... Bikinin aku nasi goreng?" ucapku sedikit berteriak, sepertinya bermain-main dengan mama mertuaku dipagi hari bisa bikin semangat pagiku bangkit.
"Ta-tapi, non? jawab bibik terbata, sambil melirik mama Dilla.
"Bibik buatkan saja? mama biar jadi urusanku!" aku menampilkan senyum termanisku kearah mama.
"ba-baik, non!" bibik menuju kulkas untuk mengambil beberapa bahan.
Gebrakan dimeja makan mengagetkan kami.
"Berhenti bertindak sesuka hatimu, Amara!" bentak mama.
"Kamu fikir kami menggaji pembantu hanya untuk melayani, kamu?
"Oh ... Jelas dong, ma! Mas Angkasa yang menggaji bibikkan? Mama lupa aku ini istrinya siapa?" ucapku santai.
"Biarkan dia membuatkan sarapan untuk dirinya sendiri, bik?" lirik tajam mama Dilla layangkan kearah bibik.
"Ba-baik nyonya." bibik menghentikan aktivitas memasaknya.
"Bik, lanjutkan saja! Aku aduin mas Angkasa loh nanti." Aku meminta bibik kembali membuatkan sarapan untukku.
"Ta-tapi, non?" bibik tertunduk
"Lanjutkan saja, bik?" kami semua megalihkan tatapan kearah suara yang melangkah kearah meja makan.
"I-iya den! Bibik kembali melanjutkan memasaknya.
"Morning, sayang?" ucap Angkasa mencium pucuk kepalaku, aku tersenyum mengejek kearah mama Dilla, bisa kutebak bagaimana mendidihnya darah itu saat melihat kemesraan yang ditunjukkan putra kesayangannya.
"Morning, Om!" Angkasa memanyunkan bibirnya, lalu duduk disampingku.
"Kok panggilannya masih om, sih?" ujar Angkasa.
"Morning, mas!" ucapku manja.
"Sok mesra! Jika kamu tahu bagaimana Angkasa memperlakukan kamu dulu, mungkin kamu akan menangis darah." sindir mama Dilla.
"Ma ..." tegur Angkasa.
Aku mengusap bahu Angkasa, lalu beralih menatap mama Dilla.
"Dulukan, ma? Yang terpenting sekarang mas Angkasa mau berubah." balasku.
"Jangan tergoda dengan wajah cantiknya Angkasa, selama ini saja dia bisa membohongi kita dengan tampang culunnya."
"Dan ternyata sikap buruknya baru terkuak sekarang." aku hanya cuek menanggapi.
"Bik, antarkan sarapanku kekamar! Tidak sudi makan satu meja dengan wanita ular ini."
Aku hanya mencibir kearah mama Dilla.
__ADS_1
"Ular teriak ular." ejekku. Mama berlalu sambil menghentakkan kakinya.
"Jangan didengarkan ucapan mama, ya?" ucap Angkasa lembut, entah kesambet setan apa laki-laki yang ada disampingku saat ini.
"Apa dia merencanakan sesuatu?" gumamku.
"Hemm ... tidak apa-apa!" ucapku singkat.
Bibik meletakkan dua piring nasi goreng dihadapan kami, reflek tangan ini langsung mengambilkan sendok dan meletakkan dipiring Angkasa.
"Kamu tidak pernah melupakan kebiasaan ketika kita sedang sarapan bersama, Walaupun kamu koma cukup lama." ujar Angkasa.
Astaga ... Aku benar-benar tidak mengerti
Bagaimana bisa kamu tetap melayani suami kamu Amara, sedangkan dia tidak pernah menganggapmu ada, bahin Amara, lalu aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Angkasa.
Setelah menghabiskan sarapan kami, Angkasa pamit kekantor.
"Kamu tidak kebutik?" tanya Angkasa.
"Butik?" alisku bertaut.
"Apa kamu tidak ingat, bukan hanya satu kamu memiliki beberapa butik peninggalan almarhummah ibu kamu." Angkasa menjelaskan, walaupun sebenarnya dia tidak terlalu mengetahui perkembangan butik Amara karena selama ini dia memang tidak ingin tahu.
"Aku tidak ingat! Kalau begitu nanti aku akan kesana."
"Ya sudah ... Mas kekantor dulu ya?" Angkasa mengulurkan tangannya.
Aku memcium punggung tangannya, hal yang belum pernah aku lakukan kecuali dengnan mama papaku, nasib menjadi seorang istri.
"Wa'alaikumsalam."
"Daahh istriku!" aku bergidik melihat tingkah sok romantis pria ini, pasti setelah ini dia akan bermesraan dengan gundiknya dikantor.
Aku kembali kekamar, aku melewati mama Dilla yang tengah duduk dikursi ruang tamu.
"Enak banget ya yang baru ngerasain jadi nyonya! puas-puaskan saja, sebentar lagi palingan akan ditendang oleh putraku." sindirnya saat aku ingin melangkahkan kakiku menapaki anak tangga.
Langkahku terhenti lalu membalikkan tubuh ini menghadap kearah mama Dilla.
"Seharusnya memang aku nyonya dirumah ini! Aku sangat menyesal kenapa tidak melakukannya sedari dulu."
Aku menatap kearah kaki mama Dilla yang masih terlihat lebam akibat injakanku kemarin, spontan mama menarik kakinya
Aku tersenyum licik, "Ternyata mama sudah melupakan kejadian yang kemarin ya?"
"Bagaimana kalau aku ingatkan kembali." aku menaik turunkan Alisku.
"Ka-kamu! Lancang kamu ya Amara, mantu tidak tahu diri." yang hanya dibalas dengan cekikikan olehku, mama langsung meninggalkan ruang tamu sambil menghentakan kakinya.
"Mau bermain-main dengan Kinanti rupanya si nenek lampir." ujarku seraya menyibakkan rambutku kebelakang.
Aku kembali melanjutkan langkahku kekamar yang sempat tertunda oleh mama mertuaku.
Setelah mengganti pakaian dan memasukkan ponselku kedalam tasku, Lalu meraih kunci mobil dari gantungannya, tujuan pertamaku adalah kebutik yang Angkasa katakan tadi, dia sudah mengirimkan alamat butikku melalui pesan singkat.
Saat sampai ditempat aku membekap mulutku, sebuah butik mewah terpampang didepan mata, apa Amara terlahir dari wanita kaya, kenapa selama ini dia mau ditindas oleh Angkasa dan keluarganya.
__ADS_1
Aku membuka pintu butik seseorang menyambutku dengan wajah terkejut.
"A-amara! Kamu beneran Amara?" ujarnya sambil membolak-balikan tubuhku, sampai kepalaku pusing dibuatnya.
"Kamu membuatku pangling, Ra! Kenapa kamu tidak berpenampilan seperti ini sejak dulu." wanita ini tidak berhenti-hentinya mengoceh.
"Stop! Aku mengangkat telapak tanganku.
"Kepalaku pusing?" aku memijik kepalaku yang berdenyut ulah wanita ini.
Wanita itu nyengir kearahku menampilkan gigi kelincinya.
"Jadi boleh aku tahu kamu siapa?" aku menatap kearah wanita itu, senyum dari bibirnya langsung hilang.
"Kamu melupakan sahabatmu, Ra?" ujarnya dengan nada sedih.
"Sahabat?" wanita itu menganggukan kepalanya.
"Jadi kita bersahabat?" aku langsung tertawa dan membuat wanita dihadapanku kebingungan.
"Akhirnya aku menemukan sahabatku! Setelah beberapa hari sendirian."
"Kamu masih waras,Ra? Apa Angkasa menyakiti kamu lagi?" wanita ini terlihat khawatir.
"Lebih baik kita bicarakan diruangnku! Kamu tahukan ruanganku ada dimana?" Amara celingukan menatapa sekeliling butik.
"Ruangan kamu ada dilantai tiga, bestie! Wanita ini menarikku menuju lift.
"Jadi apa yang membuat kamu lupa dengan sahabat kamu ini." wanita ini bersedekap dada dihadapanku, setelah kami sampai diruangan yang bernuansa sage, kami memilih duduk disofa yang berada disudut ruangan
"Aku kehilangan ingatanku pasca sadar dari koma!" ucap Amara.
"Astaghfirullah! Wanita ini membekap mulutnya.
"Maaf ya, Ra? Butik tidak bisa ditinggalkan, pengunjung sangat ramai." sesal wanita itu.
"Tidak masalah, yang penting kita bisa bertemu lagi." aku bisa melihat ketulusan dari tatapan wanita ini.
"Jadi siapa nama kamu?" aku menatap kearah wanita ini.
"Kamu biasa memanggilku, Vio! Namaku Viona." ujarnya memperkenalkan diri.
"Selamat datang kembali Amara!" Viona memeluk tubuh sahabat yang sangat dirindukannya."
"Aku harap kita bisa merajut persahabatan kita dari awal lagi!" Bisa kurasakan kedekatan Amara dengan wanita yang bernama Viona ini.
"Tentu ... Kita berteman sudah cukup lama!" Vio mengeratkan pelukannya.
Saat kami tengah berbincang seseorang mengetuk pintu ruangan, aku mempersilahkan orang tersebut masuk.
"Maaf buk, dibawah ada ibu Dilla dan mbak bella membuat kekacauan lagi." ujar karyawan dibutik tersebut.
By : mikhayla92
Note : Ini karya keduaku ya kak, semoga bisa menghibur pembaca semuanya, jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and komenš¤
Happy readingā¤šš
__ADS_1