Terjebak Ditubuh Istri Yang Terabaikan

Terjebak Ditubuh Istri Yang Terabaikan
Kinanti mulai mengetahui


__ADS_3

"Ma, aku mau gaun yang ini?" pinta Bella menunjuk gaun yang tetpajang didekat pintu masuk butik.


"Ambilkan?" ucap mama Dilla memerintahkan seorang pegawai yang bekerja dibutik tersebut.


"Maaf buk, aku tidak berani!" ujar si pegawai.


"Eh ... Kamu tahu siapa aku, kan? Mau dipecat kamu dari sini?" Ancam wanita paruh baya tersebut.


"Cepat Ambilkan!" bentak Dilla.


"Tadi buk Vio sudah berpesan buk, baju itu sudah ada pemiliknya." pegawai itu tertunduk.


"Memangnya siapa Vio? Dia juga hanya pekerja disini, ambilkan sekarang juga." ujar Dilla yang sudah mulai emosi.


"Sekalian baju yang itu?" tunjuk Dilla kearah baju yang disebelahnya.


"Aku tidak berani, buk? Nanti buk Vio marah." pegawai itu tidak berani menatap kearah Dilla.


Ya ... tadi Vio berpesan jika mama mertuanya Amara datang, dia meminta jangan dilayani lagi, bisa bangkrut butik Amara jika hampir setiap minggu Dilla dan Bella mengambil pakaian disini, itu akan membuat butik rugi mencapai harga puluhan hingga ratusan juta.


"Pegawai kurang ajar! Aku akan minta Angkasa memecat kamu." gerutu Dilla.


"Kita ambil sendiri saja, ma." ajak Bella.


"Ambil sayang! Pilih yang mana kamu suka." jawab Bella.


Bunyi hells yang beradu dengan lantai mengalihkan atensi mereka.


"Kamu mau beli gaun yang itu?" tanya Amara saat sampai dihadapan Dilla dan Bella.


"Harganya 35 juta! Untuk kamu aku beri diskon 34.999 juta saja." Amara melirik kearah Bella yang sedang memegang sebuah gaun ditangannya.


"Apa-apaan kamu Amara! Kami tidak akan bayar." ujar Dilla.


"Tidak bisa gitu dong! Mulai hari ini kalian harus bayar."


"Atau kalian tidak sanggup? mendingan belanja dikaki lima saja, harganya lebih terjangkau." ejek Amara.


"Tidak punya uang tapi mainnya kebutik." Amara mencibir.


"Heh ... Kalau baju harga segini, sepuluhpun aku mampu beli." Jawab Bella, dia tidak terima harga dirinya diinjak oleh Amara.


"Tapi aku tidak sudi membelanjakan uangku dibutik ini." Bella meletakkan pakaian yang baru saja Dia ambil disembarang tempat.


"Bilang saja tidak sanggup! Sudah biasakan minta yang gratisan." ucap Amara santai.


"Ma ..." Bella meminta bantuan kearah Dilla.

__ADS_1


"Oh ... Kamu sudah perhitungan ya sekarang, mama aduin ya sama Angkasa, biar kamu tau rasa."


Amara tertawa mengejek, sepertinya senjata andalan mama mertuaku ini adalah Suamiku, dia pikir aku takut.


"Silahkan, hubungi sekarang juga! atau mama juga tidak sanggup membelinya?"


"Sewa pembantu saja tidak sanggup! Apalagi belanja dengan harga segitu." celoteh Amara.


Amara mencekal tangan Dilla yang hendak melayangkan tamparan kewajahnya.


"Jangan sekali-sekali tangan keriput ini menyentuh wajahku." Amara menghempaskan tangan Dilla.


Vio dan beberapa orang pegawai ternganga melihat perubahan sikap Amara yang dengan berani menantang mama mertuanys.


"Buk Vio, apakah itu ibu Amara?" tanya salah satu pegawai.


Vio hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan mulut yang masih ternganga.


"Lancang kamu Amara! Ratih menatap tajam kearah menantunya.


"Cukup! Jika kalian tidak sanggup membayar silahkan keluar, pintunya sudah didepan mata kalian." ucap Amara, telunjuknya terarah kepintu butik.


"Nih!" kamu fikir aku tidak mampu belanja disini, butiknya sekalipun bisa kubeli." Bella melemparkan kartu atm nya kearah Amara, dengan sigap Amara langsung menangkap bemda pipih itu.


"Gitu dong! Jangan mau yang gratisan saja."


"Din, tolong kamu layani pelanggan kita ya?" ujar Amara dengan salah satu pegawainya.


"Baik buk."


"Aku hanya ingin kamu yang melayani kami, bukan pegawai kamu ya." ujar Bella tersenyum licik.


"Oh ... Maaf ya mbak Bella, itu bukan tugasku jika aku yang turun tangan langsung untuk apa aku memperkejakan pegawai dibutikku." Amara bersedekap dada.


"Pelayananku hanya untuk tamu vip, untuk itu baru aku sendiri yang melayaninya." ucapku tersenyum remeh.


"Sombong sekali kamu, Amara! Sudah beruntung kami mau belanja dibutik kamu ini, ngakunya butik ternama tapi pelayanannya sangat jelek." timpal Ratih.


"Baru tahu jika menantu mama ini sombong! Makanya mama harus lebih sering sharing denganku biar mama bisa mengenalku lebih dekat." aku tersenyum manis kearah mama Ratih.


"Yuk Vio, kita keluar!" ajakku lalu memasangkan kacamata hitamku tepat dihadapan Bella dan mama mertuaku.


"Jika tidak ingin dilayani oleh pegawaiku, mendingan kalian angkat kaki dari butikku." ujarku berlalu sambil melambaikan tangan kearah mereka yang menatap sinis kearahku.


AMARAAA ... teriak Ratih, dadanya naik turun karena kemarahannya tidak tersalurkan.


"Ra, kok kamu berani banget sama mereka? Kamu tidak takut jika mereka beneran ngadu sama Angkasa?" tanya Vio seperti mengkhawatirkanku.

__ADS_1


"Memangnya kenapa? Aku tidak takut sama sekali." balas Amara sambil menghidupkan mesin mobilnya.


"Aku suka kamu yang seperti ini, tidak gampang ditindas! Tidak seperti Amara yang dulu." ujar Vio sendu.


"Memangnya dulu aku seperti apa?" aku melirik sekilas kearah Vio.


"Dulu kamu sering ditindas oleh mereka, hampir setiap minggu mereka datang kebutik untuk mengambil pakaian disana tanpa membayar."


"Dan jika kamu membantah sedikit saja, mertua kamu akan mengeluarkan sumpah serapahnya tanpa mempedulikan orang-orang disekitar." jelas Vio.


"What? Jadi aku diam saja gitu diperlakukan seperti itu?" yang dibalas dengan anggukan oleh Vio.


"Semenjak kejadian seperti itu kamu memilih diam, dan membiarkan mereka mengambil apa saja yang mereka mau."


"Lalu Angkasa tahu?" tanyaku penasaran.


"Sepertinya tahu, dan kamu tahu Angkasa sangat memanjakan wanita itu." Vio menatap sedih kearahku.


Kenapa aku bisa bertahan dengan pria itu?" Kinanti mencari tahu tentang Amara melalui Vio, sepertinya wanita ini tahu banyak hal tentang Amara.


"Kamu bilang demi menjaga amanah kakeknya Angkasa, dia memintamu untuk membimbing Angkasa agar lebih dewasa dan bisa mempertahankan rumah tangga kalian apapun yang terjadi."


"Dan kakeknya Angkasa juga sudah banyak berjasa dalam merawatmu setelah kejadian naas menimpah kedua orangtuamu, kakeknya Angkasa memboyongmu tinggal bersama mereka, dan saat itu Angkasa masih kuliah diluar negri."


"Lalu kami dijodohkan saat lelaki itu kembali ketanah air?" timpalku.


"Benar ... Angkasa tidak bisa menolak karena kakeknya mengancam akan mengeluarkannya dari daftar warisan."


"Jadi dia menerima perjodohan itu, dan tetap menjalani hubungan dengan kekasihnya tanpa sepengetahuan kakeknya." jawab Vio.


"Dan semenjak kakeknya meninggal, Angkasa dan Bella mulai terbuka tentang hubungan mereka bahkan tanpa memikirkan perasaan kamu." Vio meneteskan airmatanya saat menceritakan kisahku.


"Tapi Vio, apa aku mencintai Angkasa?" tanyaku.


"Kamu jatuh cinta pada pandangan pertama, mendengar kalian akan dijodohkan kamu sangat bahagia, tanpa peduli apa yang akan terjadi dikemudian hari."


"Dan sepertinya kamu harus hati-hati mulai sekarang?" pinta Viona.


"Kenapa?" alisku bertaut.


"Sebelum kakeknya meninggal, beliau meninggalkan wasiat, jika Angkasa menceraikan kamu semua harta akan jatuh ketanganmu, tapi kalau sebaliknya kamu yang meminta cerai semua harta akan tetap utuh menjadi milik Angkasa."


Aku mengerti sekarang, mungkin karena itu mama Ratih terus menyiksaku, agar aku menggugat cerai putranya.


Seringaian tercetak dibibir Amara.


By : mikhayla92

__ADS_1


__ADS_2