Terjebak Ditubuh Istri Yang Terabaikan

Terjebak Ditubuh Istri Yang Terabaikan
perubahan Amara


__ADS_3

Aku akan memulai rencanaku hari ini, kita lihat bagaimana reaksi mereka, terutama kamu Angkasa!


Aku akan merubah hidup kamu Amara dan semoga saja jika kamu kembali lagi kamu bisa menemukan kebahagiaan kamu, itupun kalau kamu kembali, ucap Kinanti menyendu.


Aku merindukan duniaku, merindukan mama papaku, merindukan sahabat-sahabatku, tangis Kinanti pecah.


Angkasa yang tengah berada dikamar mandi gegas keluar mendengar tangisan Amara yang nyaring.


"Ra ... Kamu kenapa?" Angkasa jongkok disisi Amara.


Amara mengalihkan pandangannya kearah Angkasa.


Aaahhhhh ... Teriak Amara, Angkasa juga ikut teriak akibat teriakan Amara.


"Kok om ikutan teriak?" ujar Amara.


"Kamu mengagetkanku!" balas Angkasa.


"Ihhh ... Sana pakek baju om?" gerutu Amara sambil menutup wajahnya.


Angkasa menatap tubuhnya, yang hanya dibalut handuk. lalu senyuman licik tercetak dibibir Angkasa.


"Kamu tidak ingin menatapny, Ra? Mumpung mas tidak berpakaian nih." Angkasa menarik tangan Amara meletakkannya tubuh kekarnya.


"Ka-kamu apa-apaan sih om! Angkasa menahan tangan Amara saat dia ingin menariknya.


Amara melotot kearah Angkasa, tapi tidak kupungkiri Angkasa memiliki bentuk tubuh yang sempuran ditambah roti sobek yang tercetak diperutnya, itu benar-benar menodai mataku, gumam Amara.


"Kamu boleh menatap sepuasnya!" goda Angkasa.


Apa aku ketahuan sedang menatapnya, aku menyentak paksa tanganku untuk menghilangkan rasa grogiku, lalu langsung berlari kearah kamar mandi.


Angkasa hanya tersenyum melihat Amara salah tingkah seperti itu. Aku benar-benar menyukai kepribadian Amara yang sekarang.


Sedangkan Amara mengumpat kesalahannya sendiri. Malu-maluin kamu Kinanti? kenapa menatap Angkasa seintens itu, aku menatap pantulan burikku dikaca.


Aisssh ... aku masih saja menyayangkan penampilan Amara, bagaimana lelaki yang kamu cintai balik mencintai kamu, jika penampilan kamu saja seperti ini.


Aku segera menyelesaikan mandiku, lalu gegas keluar kamar mandi, aku mengedarkan pandangan sekeliling kamar, syukurlah kalau Angkasa sudah pergi.


Aku berganti pakaian dengan baju yang aku beli tadi siang, dress selutut menjadi pilihanku, aku memoles sedikit make up kewajah Amara, dan tidak lupa kacamata itu aku singkirkan, rambut panjang hitam sepinggangnya ku biarkan terurai, lalu terakhir aku memoleskan lipstik kebibir kecilnya.


Sempurna ... Ujarku menatap wanita yang sangat berbeda didalam cermin, selamat datang didunia kamu yang baru Amara.


Waaahhh ... Aku sebagai wanita saja sangat kagum dengan kecantikan kamu, apalagi laki-laki, senyuman merekah diwajah Amara.


Mari kita turun, kita lihat bagaimana reaksi mereka saat melihatmu.


Aku melangkahkan kaki menuruni anak tangga, saat sampai dilantai dasar rumah, aku mendengar suara dari arah ruangan makan, apa mereka kedatangan tamu ya? Kenapa bising sekali? Gumam Amara.


Aku melangkah kearah sana, dan ternyata tamu yang berkunjung tidak lain gundiknya suamiku, kebetulan sekali.

__ADS_1


Ekhm ... Dehemanku mengalihkan atensi mereka.


"Apa seseru itu ceritanya? Sampai kalian tidak menyadari kehadiranku?" tanyaku menatap mereka satu persatu.


Uhuk ... Uhuk ...


Angkasa tersedak saat matanya menatap kearahku, dia tidak berkedip sama sekali.


A-amara?"


"Mas ... " beberapa kali bella memanggilnya tapi Angkasa tidak mengalihkan pandangannya bareng sekalipun.


"Ma ... Lihat mas Angkasa? Lalu kenapa Amara berpenampilan seperti itu?" ujar bella.


Mama melemparkan sendok ditangannya kearah Angkasa, membuat pria itu terkejut.


"eh ... A-ada apa ya, ma?" ucap Angkasa terbata.


"Ada apa, ada apa! Kamu lihat apa? Disini sudah ada bella, kenapa menatap Amara sepetyi itu." mama berkata ketus.


"Kamu tidak pantas berpenampilan seperti itu Amara! Pasti kamu sudah menghabiskan uang putraku, kan?" ujar mamanya angkasa menggebu-gebu.


Angkas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu melirik kembali kearah Amara.


Aku berjalan kearah meja makan, lalu berdiri tepat disamping Angkasa.


"Sudah sepantasnya aku menghabiskan uang suamiku, itu adalah hak seorang istri, memang ada yang salah?"


"Yang salah itu, menghabiskan uang suami wanita lain." sindirku


"Kamu tidak ingin memintanya pindah dari sana?" Amara memeluk Angkasa dari belakang.


"Ka-kamu! Jaga ucapan kamu Amara, kamu yang merebut Angkasa dariku." Bella sepertinya sangat geram dengan sikapku, terlihat dari rautnya yang merah padam.


"Bella akan tetap disana, kenapa tidak kamu saja yang duduk dikursi lain." timpal mamanya Angkasa.


"Mama sadar tidak? Dimana-mana istri sah yang berhak duduk disamping suaminya, bukan seorang selir." ucapku lantang.


"Kamu tahu dimana posisi selirkan?" aku melirik kearah bella.


"Selir hanya akan menjadi bayang-bayang sang permaisuri." jawabku mengejek.


"Jadi selir ajah bangga!" lalu aku kembali menatap Angkasa.


"Kamu tidak ingin memintanya pindah, mas?" aku menatap intens kemanik Angkasa.


"Sudah cukup Amara? Masalah kursi saja kenapa kamu permasalahkan?" mama menepuk meja dengan keras.


"Uhhh ... Takut!" setelah itu itu tawaku pecah.


"Mama fikir aku takut dengan gertakan mama? yang memperpanjang masalah itu kalian."

__ADS_1


"Kenapa mama tidak meminta wanita itu saja untuk pindah, jadi kita bisa menikmati makan Malam dengan tenang." aku menatap tajam kearah mama.


Angkasa mengusap pelan tanganku, apa dia sedang menenanngkanku? Bathin Amara.


"Bella, sebaiknya kamu pindah saja!" pinta Angkasa, senyuman mengejek kulayangkan kearah mama dan bella.


"Mas belain wanita itu? Mama lihatkan sekarang mas Angkasa sudah tidak peduli lagi terhadapku?" Bella menampilkan wajah sedihnya.


"Apa yang kamu katakan Angkasa, kenapa kamu memperlakukan bella seperti ini dihadapan Amara!" bentak mama.


"Dan kamu ... Jangan besar kepala jika Angkasa membela kamu sekarang." mama menunjuk kearahku.


"Apa yang sudah kamu berikan kepada putraku, hah!"


"Mas, apa aku salah? Aku hanya meminta hakku?" ujar Amara menundukkan kepalanya.


"Sudah ... Sudah! Bel, tolong pindah." Angkasa menatap tajam kearah Bella, lalu menarik tanganku untuk duduk disisinya.


Bella menghentakkan kakinya, lalu berpindah duduk disebelah mama.


"Angkasa!" mama meneriaki Angkasa.


"Cukup ma, dan mulai sekarang jangan pernah berlaku buruk terhadap Amara lagi."


Bella mengusap punggung mama mertuaku, entah apa yang mereka berdua bicarakan tapi itu cukup membuat sinenek lampir diam.


Kalian mau bermain-main denganku, aku bukan Amara yang gampang kalian tindas, dan berani-beraninya kalian membawa pelakor ini kemari? Akan aku pastikan kamu kebakaran jenggot Bella.


Aku memasukan makanan kepiring Angkasa, sekali-sekali aku menyuapinya, aku melirik kearah bella.


Bella menggenggam kuat sendok dan garpu, terlihat jelas urat-urat muncul dibuku tangannya.


Hanya aku dan angkasa yang menikmati makan malam ini, pastinya mama dan bella sangat kesal dengan kemesraan yang aku ciptakan.


Sekarang kami tengah berada diruang keluarga, sebenarnya malas berlama-lama berada didekat mereka, tapi jika aku pergi rencanaku untuk membuat bella marah jadi sia-sia.


"Kamu bukankah sudah janji akan menemani bella berbelanja perhiasan?" mama melirik kearahku.


Apa sinenek lampir ini ingin membuatku iri? yang benar saja, sigundik bukan sainganku, lalu aku menatap kearah Angkasa.


"Maaf, ma! Sepertinya aku tidak bisa."


"Dan minta mang Ujang yang mengantarnya pulang." pinta angkasa.


"Mas, tapi kamu sudah janji?" rengek bella.


Aku memutar mata malas, "Aku kekamar ya, mas?"


Saat akan melangkahkan kakiku, mamanya Angkasa menselunjurkan kakinya, aku tahu pasti dia ingin mencelakaiku.


Dengan sepatu hak tinggi yang aku pakai aku menginjak kakinya.

__ADS_1


Teriakan wanita tua itu menggema dipenjuru ruangan.


By : mikhayla92


__ADS_2