
Aku merasakan tubuhku terjatuh kedasar lautan yang sangat dalam, aku kesulitan untuk bernafas, semakin aku menggapaikan tanganku keatas, tapi seperti ada yang menarikku lagi kebawah, dan terus kebawah.
Aku semakin sulit untuk bernafas hingga seseorang menarikku kembali kepermukaan.
huffft ... Aku langsung terduduk, nafasku memburu, apakah tadi hanya mimpi, aku memegang dadaku yang berdetak tidak karuan.
Aku menutup mataku lalu membukanya kembali untuk menyesuaikan pencahayaan yang masuk kemataku. kepalaku sangat pusing aku melihat setiap sisi ruangan dan menatap kearah tubuh kenapa banyak selang-selang yang terpasang ditubuhku.
Sekelebat bayangan saat aku kecelakaan berputar-putar seperti kaset rusak dikepalaku, dan saat adegan seorang wanita terjatuh dari lantai teratas sebuah bangunan ikut hadir di ingatanku.
Aku memegang kepalaku yang teramat sakit,
Aaahhhhhrgh ... Sakit, kepalaku sakit, aku mengerang menahan sakit yang tak tertandingi.
"Su-suara siapa ini, dan aku, aku dimana?" aku masih berteriak memegang kepalaku, hingga aku mendengar seseorang membuka pintu ruangan lalu pergi lagi setelahnya.
"Dok ... dokter, pasien koma yang berada diruangan vip, siuman?" ujar suster yang berlari kearahku.
"Apa? Benarkah sus?" dokter itu berlari bersama suster yang mengabarinya tadi lalu dia meraih ponsel yang berada disaku celana yang berbahan katun twill lalu menghubungi seseorang.
"Dia siuman!"
Saat sampai diruangan tersebut, sang dokter langsung melihat keadaan pasien yang seperti orang binggung dengan memegang kepalanya.
"Sepertinya pasien masih syok, lebih baik kita suntikan obat penenang dahulu sus, jika kita biarkan seperti ini akan berakibat buruk dengan syaraf-syaraf ditubuh pasien."
"Mara .. Kamu harus tenang, kamu jangan panik." dokter berbicara untuk menenangkan pasien.
Sepertinya obatnya sudah mulai bekerja, hingga pasien kembali tertidur.
Seseorang dengan langkah tergesa langsung masuk keruangan.
"Benarkah dia sudah siuman, om?" ujar lelaki tersebut.
"Iya, benar." ucap sang dokter yang bernama roman.
"Lalu kenapa dengannya sekarang?"
"Dia hanya tertidur, sepertinya dia masih syok, jadi kami menyuntikan obat penenang terlebih dahulu."
"Kita akan menunggu dia bangun kembali, setelah itu kita akan melakukan serangkaian pemeriksaan." ujar sang dokter.
Setelah sang dokter berpamitan keluar, aku duduk disisi ranjang pasien. Aku menatap wajah wanita yang sudah menemaniku satu tahun belakangan ini.
Lama aku menunggu, aku melihat jemari lentik itu bergerak, lalu dia perlahan membuka matanya.
Aku masih menatap pergerakan Amara.
"Ha-haus ..." ucapnya pelan, aku melangkah mengambil air dinakas lalu memberikannya minum melalui sedotan.
"A-aku dimana? Dan suara siapa ini?"
Aku tidak mengerti ucapan amara, aku berlari keluar memanggil dokter yang tak lain sahabatku sendiri.
Saat sampai roman langsung memeriksa keadaan amara, dia meminta beberapa suster membuka selang-selang yang melekat ditubuhnya.
"Kita akan membawanya keruangan CT scan untuk melakukan serangkaian pemeriksaan dikepala pasien.
Aku mengikuti mereka mendorong berangkar Amara, dia tidak merespon apa-apa dan seperti orang kebingungan.
__ADS_1
Dan setelah dokter melakukan pemeriksaan Amara dipindahkan keruangan inap pasien.
***
"Apakah masih pusing?" ujar lelaki yang berpakaian jas putih tersebut.
"Aku mengucek mataku." Lalu seseorang memasangkan kacamata dimataku, ternyata dokter yang melakukannya.
Aku menatap kearah dokter tersebut lalu menggeleng. Lalu menatap seluruh ruangan mencari keberadaan keluargaku, tapi kenapa tidak kutemukan mereka.
Disini hanya ada seorang dokter, dan pandanganku tertuju pada seorang lelaki yang hanya diam saja sedari tadi.
Aku masih penasaran kenapa suaraku berubah, lalu aku meminta izin ketoilet.
"Dokter ... Aku ingin ketoilet." lelaki yang sedari diam tadi membantu memapahku sampai kepintu toilet diruangan ini.
Saat tengah berada didalam toilet aku membasuh wajah ini, kenapa fostur tubuhku berbeda dan suara ... Suaraku juga berubah.
Aku menatap pantulanku dicermin, seketika aku langsung berteriak histeris.
Aku mendengar seseorang mendobrak pintu, lalu ...
Braaakkk ...
"Amara ... Ujar pria yang bersama dokter tersebut.
Kamu tenanglah." aku melihat amara berjongkok disudut kamar mandi dengan menutup kedua telinganya dengan telapak tangan.
Aku menggendong tubuh amara dan membawanya kembali ketempat tidur.
Amara menatapku, "Ka-kamu siapa om?" Aku sangat terkejut dengan ucapannya.
"Mungkin setelah hampir setahun koma, kamu sudah terlihat tua dimatanya." setelah aku menaikan kedua bahuku, artinya aku juga tidak mengetahui alasannya
"Kamu benar-benar ya." disaat genting seperti ini roman masih saja menjahiliku.
Lalu roman berjalan kesisi brangkar, "Amara apakah kamu tidak mengenali kami?"
Aku menatap mereka satu persatu lalu menggeleng.
"Kamu tahu siapa dia?" dokter menunjuk pria yang berada disebelahnya. Aku tetap menggeleng.
"Apakah kamu mengingat sesuatu?"
Aku coba mengingat-ingat, tapi aku tetap tidak bisa mengingat apapun.
"A-aku tidak ingat apa-apa."
"Angkasa ... diagnosa awal, sepertinya Amara amnesia karena saat terjatuh kemarin benturan dikepalanya cukup keras."
"Nanti kita akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut, biarkan dia beristirahat dahulu." aku permisi dulu, ujar roman.
"Baiklah amara ... Kamu beristirahatlah." Aku dan roman melangkah keluar ruangan.
Setelah kepergian mereka, aku kembali meraba wajahku.
"Tenang ... Kami harus tenang Ki, sepertinya arwahmu lagi kesasar ditubuh wanita lain."
Aku brmonolog sendiri, kejadian ini seperti yang pernah aku lihat difilm-film. Apa ini beneran nyata?
__ADS_1
"Jadi apa yang harus aku lakukan selanjutnya, apa aku harus menjadi wanita ini sekarang?"
Lalu dimana keluargaku, dan diamana tubuhku saat ini dirawat, aku masih ingat kecelakaan yang telah membuatku seperti saat ini.
Sepertinya aku akan seperti ini saja dahulu, sebenarnya aku berada ditubuh siapa? Dan siapa laki-laki tadi.
Saat aku tengah berkecamuk dengan fikiranku.
Ceklek ...
Seseorang membuka pintu.
"Apa kamu sudah tenang Amara?"
"Amara?" aku menautkan kedua alisku.
"Nama sendiripun lupa juga." aku menghembuskan nafas berat.
"Sebentar lagi kita akan melakukan pemeriksaan lanjutan, jika tidak terjadi apa-apa, kita akan pulang."
"Pu-pulang om?"
"Iya, pulang! Berhenti memanggilku om Amara." Aku kesal dengan panggilan itu.
"Ka-kamu memang pantas dipanggil om, lihat saja muka om itu dicermin." Kenapa lelaki ini tidak mengakui usianya yang memang berselisih jauh dari usiaku.
Aku melotot kearah Amara, kenapa bicaranya tidak seperti biasa yang lembut dan penurut.
"Kamu berbicara seperti anak berusia 18 belas tahun saja." ingat umur kita hanya berselisih beberapa tahun saja.
"Bukan delapan belas tahun, usiaku setingkat diatasnya sembilan belas tahun om."
hahahaa ...
"Kamu mimpi balik muda lagi Amara, ternyata bukan hanya ingatan kamu saja yang hilang, otak kamupun ikut tergeser."
Pria itu berjalan kearah Nakas disisi ranjangku, lalu mengambil sesuatu dari laci dan melemparkannya padaku.
"Baca dengan teliti, tahun berapa tertera disana."
Mataku seperti akan meloncat keluar saat melihat tahun kelahiran yang tertera dikartu identitas tersebut.
Mana mungkin aku terjebak ditubuh wanita dewasa seperti ini.
"Sudah tahu berapa usiamu?"
"Hmmm ... aku tidak tahu harus menjawab apa.
"Tadi om bilang kita akan pulang, pulang kemana om?"
Kerumah kita, lalu kemana lagi. kamu jangan membuatku pusing Amara."
"Ru-rumah kita? Jadi kita tinggal serumah om." Mana mungkin aku tinggal dengan pria asing seperti dia.
"Kamu juga lupa jika aku ini adalah suamimu."
"Apa! suami?"
By : mikhayla92
__ADS_1