Terjebak Hasrat Kakak Ipar (REVISI)

Terjebak Hasrat Kakak Ipar (REVISI)
BAB 1:20


__ADS_3

Jeon menatap Nyonya Rena dengan air mata yang menggenang, kemudian menggeleng pelan seolah mulutnya kelu untuk menceritakan semua jenis kesakitan yang tengah ia rasakan saat ini.


Wanita paruh baya itu menghembuskan nafas pelan, ia segera menarik Jeon kedalam pelukannya, membelai kepala pria kecil itu dengan penuh kasih sayang seperti seorang ibu yang tengah menenangkan anaknya. Hatinya sungguh bertanya-tanya, beban apa yang ditanggung anak ini hingga menyakiti dirinya sendiri.


"Jangan lakukakan hal bodoh seperti ini lagi ya nak..setiap permasalahan pasti akan selalu ada jalan keluarnya"


Jeon terdiam dengan menyandarkan dagunya pada pundak wanita paruh baya itu dengan air mata yang terus mengalir, merasakan betapa hangatnya ketika tangan halus itu membelai lembut rambutnya dengan penuh kasih sayang, seperti mendiang sang ibu..


Wanita itu melepaskan pelukannya kemudian menyeka airmata dipipi Jeon dengan ibu jarinya, ia tersenyum hangat dengan tatapan yang masih penuh dengan kekhawatiran "Biar ibu obati lukamu yah.."


Tanpa persetujuan Jeon, Nyonya Rena menarik lengan anak itu berjalan keluar toilet dan mendudukkannya ditepian ranjang. Wanita itu bergegas mengelilingi ruangan mencari kotak P3K yang tergantung didekat jendela. Ia berjalan dengan cepat mengambil kotak itu lalu mengeluarkan kain kasa, kapas dan obat antiseptik, kemudian melangkah ke arah toilet dan keluar dengan sebuah wadah berisi air serta handuk kecil didalamnya.


Wanita itu mendudukkan dirinya disisi Jeon, dalam diam ia membuka ikatan kain pada pergelangan tangannya, bersyukur darahnya sudah berhenti mengalir jadi ia bisa segera membersihkan sisa-sisa cairan merah yang masih tertinggal dengan handuk basah.


Jeon hanya diam memperhatikannya, sesekali ia meringis pelan merasakan perih pada lukanya. Ada rasa hangat yang melingkupi tubuhnya ketika ia menatap wanita paruh baya itu yang dengan telaten mengobati lukanya dengan antiseptik kemudian membalutnya dengan kain kasa.


Usai dengan semua itu Nyonya Rena kembali menatap Jeon "Sebenarnya apa yang terjadi padamu Nak?"

__ADS_1


Jeon hanya tersenyum tipis "Aku hanya sedang merindukan ibuku"


Nyonya Rena menyadari jika pria kecil dihadapannya ini berbohong hanya untuk menutupi luka yang sesungguhnya.


......................


Tuan Anggara melirik sang istri yang tengah memasuki kamar dengan wajah lelahnya, Pria itu mengernyit melihat piyama yang dikenakan istrinya tidak utuh lagi karena terdapat bekas sobekan diujungnya.


"Ada apa dengan pakaianmu?" tanyanya menutup buku yang tengah dibacanya dan menaruhnya diatas nakas. Ia memperhatikan sang istri yang kini tengah mengganti piyamanya dengan piyama yang baru didepan lemari besarnya.


"Jeon.." ujarnya seraya mengancingkan piyamanya "Sesuatu terjadi pada anak itu" ucapnya menghembuskan nafas pelan lalu berjalan menghampiri ranjang kemudian mengambil tempat disisi sang suami.


"Ada apa dengan Jeon?" tanyanya penasaran


"Anak itu menyakiti dirinya sendiri"


"Maksudmu?"

__ADS_1


"Jeon mengiris pergelangan tangannya sendiri" ujar Nyonya Rena dengan menatap sang suami serius "Sewaktu aku kekamarnya untuk memastikan apakah ia sudah tidur atau belum, aku menemukannya didalam toilet dengan keadaan tangan yang berlumuran darah dan ia menangis, jadi aku merobek piyamaku untuk mengikat pergelangan tangannya yang terluka"


Tuan Anggara menatap istrinya tak percaya "Benarkah itu?"


Sang istri mengangguk pasti "Aku hanya khawatir pada anak itu, meskipun ia terlihat ceria, namun sepertinya ia sedang menutupi luka dihatinya, tatapan matanya menyiratkan kesepian dan kesedihan yang teramat dalam"


Pria paruh baya itu mengangguk-angguk mengerti "Besok aku akan coba berbicara dengannya, aku akan menanyakan kenapa ia melakukan hal bodoh semacam ini"


Sang istri menggeleng tidak setuju "Jangan! kau harus pura-pura tidak tahu, jika kau menghujaninya dengan pertanyaan, anak itu akan semakin tertekan. Tadi aku sempat bertanya padanya, ia hanya menjawab jika ia hanya sedang merindukan ibunya"


"Lalu kita harus bagaimana?" tanyanya, sebagai kepala keluarga ia merasa ini adalah tanggung jawabnya, meskipun Jeon bukan bagian dari keluarganya, namun Ellena sudah mempercayakan keluarga ini untuk menjaga Jeon.


"Kita tidak berhak mencampuri urusan pribadinya, kita hanya perlu membuatnya bahagia dan merasa lebih baik ketika tinggal disini" tukas sang istri.


Tuan Anggara menghela nafasnya seraya mengangguk pelan "Kau benar sayang, kurasa anak itu mengalami depresi akan sesuatu, jadi kita harus berusaha untuk membuatnya melupakan masalahnya walau sejenak" Tuan Anggara membawa tubuh sang istri untuk bersandar padanya, ia sangat kagum dengan istrinya yang memiliki hati lembut dan kepedulian yang tinggi dengan semua orang, mirip sekali dengan seseorang dimasalalu nya.


"Jangan Lupa Like, Vote dan Komennya Readers :)"

__ADS_1


__ADS_2