
Tujuan pertama Jeon saat ini adalah mendatangi rumah besar milik keluarga Anggara, ia memarkirkan motor sportnya tepat didepan halaman rumah mewah itu setelah petugas keamanan membuka gerbangnya dan mengizinkannya masuk. Ia melepaskan helmnya mengabaikan rasa nyeri pada kepalanya ketika tak sengaja pelindung kepala itu mengenai luka basahnya yang terbalut perban. Tak banyak berfikir ia melangkahkan tungkainya kedepan pintu utama dan menekan bel.
Sosok wanita paruh baya itu muncul tak lama setelah salah satu pekerja disana membukakan pintunya, Wanita itu membelalakkan kedua matanya saat melihat kondisi Jeon yang terlihat tidak baik-baik saja.
"Jeon..Apa yang terjadi padamu, Nak?" tanyanya dengan nada yang khawatir
Meski Rena tahu bahwa Jeon adalah darah daging dari suaminya, jiwa keibuannya tetap menjadikannya pribadi yang menyanyangi Jeon seperti anak kandungnya sendiri, rasa sakitnya saat mengingat Anggara mengkhianatinya dahulu sama sekali tidak membuatnya membenci Jeon.
Jeon tersenyum tipis "Aku baik-baik saja bibi, tapi bisakah aku bertemu dengan, Kak Devan?"
"Untuk apa kau ingin bertemu anakku?" suara dengan nada sedingin es itu terdengar hingga membuat keduanya menoleh kearah sumber suara itu, dan mendapati Tuan Anggara berjalan menghampiri mereka
"Sayang jangan berbicara seperti itu pada Jeon" ucap sang istri mengingatkan suaminya "Dia juga darah dagingmu"
__ADS_1
Tuan Anggara hanya tersenyum miris "ternyata kau sudah menyadarinya ya?"
"Bagaimana aku bisa melupakan wajah Sandra, seorang wanita yang membuatmu berpaling dariku" ucap Rena dengan suara retak, mengingat hal itu membuat hatinya kembali berdenyut nyeri "dan dengan teganya kau mencampakkan dirinya begitu saja"
"Seharusnya kau bahagia karena aku memilih kau" balas Tuan Anggara
"Mana mungkin aku bisa bahagia diatas penderitaan orang lain Anggara! aku bersyukur kau memilihku, namun aku merasa bersalah karena kau menelantarkan Sandra dan Jeon begitu saja" jelas Renata
Tuan Anggara membuang pandangannya ke sembarang arah "Sudahlah aku tidak ingin membahas masalah ini, dan kau anak sialan--" Ia beralih pada Jeon "Sebaiknya kau tinggalkan rumah ini, jangan pernah menyentuh kehidupan keluagaku"
Tuan Anggara terdiam, sejujurnya ia terluka saat mengatakan kalimat itu namun demi harta yang sudah berhasil dalam genggamannya ia rela menyakiti perasaan anak kandungnya sendiri, ia benar-benar dubutakan oleh harta, jadi meski Nyonya Rena sudah mengakui kehadiran Jeon, bukan tidak mungkin istrinya itu akan menceraikannya karena tekanan dari Ayah kandungnya.
Ya, Ayah kandung Renata tahu semuanya, saat itu ia sudah memutuskan untuk meminta Renata membatalkan pernikahannya dengan Anggara, namun wanita itu meyakinkan Ayah kandungnya jika semua itu hanyalah sebuah kesalah pahaman, dan saat itulah Hwan benar-benar mencampakkan Sandra dan tidak akan menganggap kehadiran Jeon.
__ADS_1
Jeon mengeraskan rahangnya sementara Nyonya Renata menatap suaminya tak percaya dengan apa yang ia katakan.
"Apa yang kau bicarakan? Jeon hanya ingin bertemu dengan Devan" jawab Ranata tak terima.
"Devan belum pulang, pergilah!" Tuan Anggara menarik sang istri masuk dan menutup pintunya begitu saja.
Jeon menatap pintu itu dengan sorot kemarahan yang membuncah seiringan dengan rasa sesak pada rongga dadanya, ia tersenyum getir, air matanya terjatuh membasahi kedua pipinya.
Tuhan telah menghadirkan Roy dan Stella disisinya sebagai pengganti dari perginya sang Ibu. Ketika Mayla datang membawa sejuta rasa manisnya cinta, namun Tuhan kembali memberikan jarak yang membentang diantara mereka, dan saat ini saat Ayah kandungnya tepat berada dihadapannya Tuhan kembali bertindak, tak mengizinkannya untuk menyesap sedikit rasa kasih sayangnya.
Adilkah semua ini Tuhan?
^Happy Reading^
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan Like, Vote dan Komennya ReadDan