
Mayla POV
Pada malam itu Devan diamankan kepolisian, sementara Aku dan Ellena hanya berstatus saksi.
Sejak saat itu persahabatan kami hancur, hatiku terasa tercabik-cabik mengetahui perselingkuhan Devan dan Ellena, namun aku rasa, aku pantas mendapatkannya karena aku dan Jeon pun melakukan hal yang hampir sama dengan mereka. Mungkin perbedaannya hanya terletak pada hati, karena saat itu aku mencari Jeon hanya untuk melampiaskan hasratku.
Sebulan setelahnya Devan dihukum lima belas tahun kurungan penjara atas percobaan pembunuhan dan penganiayaan, bertepatan dengan itu Ellena datang menemuiku dengan mata yang sembab seraya menyodorkan sebuah amplop coklat
"Aku hamil..anak Devan" katanya dengaan suara yang serak.
Aku benar-benar membutuhkan oksigen tambahan pada saat itu, aku ingin memukul wanita itu jika saja ia tidak tengah hamil, lalu aku mengembalikkan amplop coklat yang ternyata hasil tes DNA itu
" Ya, aku sudah menceraikan Devan, tinggal menunggu sidang terakhir, setelah itu kau bisa mengambilnya dariku"
"Maafkan aku Mayla" ucapnya dengan isak tangis
Ellena sangat merasa bersalah padaku, bahkan penyesalannya berkali lipat dari yang aku ketahui, biar bagaimanapun kami sudah berteman bertahun-tahun, lalu aku menariknya ke dalam pelukanku bersamaan dengannya menangis pilu membalas pelukanku.
"Aku memafkanku Ellena"
......................
Aku mengagumi Jeon lebih dari apapun, ia rela mengorbankan nyawanya demi ku hingga harus mengalami koma selama lima bulan.
Selama itulah, setiap hari aku menemaninya dirumah sakit, menceritakan hal-hal lucu seperti orang gila yang sedang berbicara sendiri pada seseorang yang tengah tertidur panjang, membersihkan tubuhnya dengan handuk basah serta mengganti pakaiannya. Aku benar-benar menjaganya dengan baik, berdo'a setiap saat agar Tuhan memberikannya kesembuhan.
Terkadang keputusasaan kerap kali menyerangku saat melihat tidak ada perkembangan pada tubuh Jeon. Rasa takut kehilangannya benar-benar mengendap dalam hatiku, aku hanya mencoba terus berbicara dengan Jeon yang hanya terbaring tak berdaya.
"Bertahanlah Jeon...kumohon-" itu adalah sebuah kalimat yang selalu aku lontarkan setiap harinya.
Walaupun airmata ini kerap kali mengalir namun aku harus bisa menahannya semampuku, tak ingin Jeon tahu jika saat ini aku sedang dirundung kesedihan dan kerinduan akan dirinya.
Jeon pria yang baik, entah sudah keberapa kali aku mengatakan itu namun sungguh ia adalah pria yang sangat baik. Ia memperlakukanku dengan lembut, penuh perasaan. Aku bisa merasakan ketulusannya setiap kali ia tersenyum padaku. Pelukannya begitu menenangkan, membuatku semakin merindukannya.
Aku tahu, ia hanya terpaksa melakukan pekerjaan kotor itu untuk bertahan hidup, namun aku bersyukur karena pekerjaan itulah aku dipertemukan dengannya.
__ADS_1
Hingga pada bulan ke empat sebuah kabar duka datang,
Ayah Jeon--Anggara, memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan cara meminum racun. Aku tidak tahu apa penyebab pastinya namun dari gumpalan-gumpalan kertas yang berada ditempat sampah kamarnya, ditemukan beberapa coretan tangan yang menggambarkan perasaannya.
Jeon maafkan ayah nak, ayah sudah banyak membuat ibumu dan kamu menderita. Aku auah yang tidak tahu terimakasih, maafkan ayah yang sudah banyak membuatmu menangis, membuat kamu dan ibumu terluka. Maafkan ayah yang sudah menelantarkanmu dan ibumu, maafkan ayah yang membuat luka mendalam dihatimu, jika kamu membenci ayah, jika kamu tidak bisa memaafkan ayah, aah menerima semuanya nak, semua kesalahn ayah dimasalalu tidak bisa termaafkan. Namu disurat terkahir yang ayah tulis, ayah setulus hati meminta maaf padamu Jeon.
Renata, maafkan aku yang membohongimu, maafkan semua kesalahanku, tolong jaga Jeon dan Devan untukku. Selamat tinggal, Ayah menyayangi kalian.
Itulah sepenggal coretan tangan yang Ayah tinggalkan dari banyaknya coretan-coretan yang ditemukan.
Ayah depresi, ia dihantui rasa bersalah pada keluarganya, terutama dengan Jeon yang pada saat itu memang belum sadarkan diri. Ia menyalahkan dirinya sendiri, berfikir Jeon tidak akan mengalami semua ini jika saja ia menerima kehadirannya hingga ia menyerah pada keadaan itu.
Nyonya Renata sangat terpukul dengan kejadian bertubi-tubi yang menimpa keluarganya, ia sempat mendapatkan perawatan medis karena kondisinya yang lemah, namun bersyukur saat ini keadaannya sudah membaik.
Dan tepat dibulan kelima Tuhan benar-benar memberikan keajaiban pada Jeon. Aku terkesiap saat mendapati jari-jarinya mulai bergerak dan kelopak matanya perlahan terbuka.
Aku tersenyum haru memeluk Jeon sebelum memanggil dokter untuk datang dan memeriksa keadaannya. Saat itu aku tersadar bahwa aku benar-benar tidak bisa hidup tanpanya.
......................
Dia orang yang sangat baik bagiku, tidak seharusnya dia mengakhiri hidupnya, aku hanya tidak percaya mengapa Tuhan memberikan jalan yang berliku untukknya hingga membuatnya menyerah untuk bertahan hidup karena tak bisa membendung penyesalannya.
Mengetahui fakta itu sangat membuatku ragu, kenyataan memang lebih pahit, tapi aku yakin, apapun yang dilakukannya adalah jalan yang terbaik, dia mempunyai cara tersendiri untuk mengekspresikan perasaannya.
"Sedang apa, hm?" Aku terkesiap saat tiba-tiba sepasang lengan kekar milik Jeon melingkar dengan halus diperutku.
"Sedang melihat bintang" jawabku
Ia mengusak pucuk hidungnya dicekuk leherku seperti seekor kucing manis hingga membuatku terkekeh,
"Geli tahu"
"Kalau seperti ini geli tidak?" lanjutnya seraya lidahnya menjilat leherku lalu menghisapnya dengan lembut
Aishh anak ini!
__ADS_1
Aku melenguh "Hey jangan tinggalakan jejak disana"
Jeon terkekeh lalu mengecup bekas hisapannya "Habisnya kau membuatku candu, pokonya aku ingin menikah denganmu Mayla"
Aku menahan senyumku kemudian berbalik menatapnya, berusaha membuat wajah galak "Kau harus menyelesaikan kuliahmu dulu, belajar dengan benar baru bisa melamarku"
Jeon memajukan bibirnya yang sungguh membuatku ingin menggigitnya, namun aku menahannya.
"Tapi aku sudah punya banyak uang, ayah sudah mewariskan semuanya padaku" ujarnya
"Tetap saja kau harus punya ilmu untuk mengelola semua itu"
Jeon menghela nafasnya menyerah "Baiklah aku akan cepat menyelesaikan kuliahku, aku akan rajin belajar tapi setiap aku mendapatkan nilai bagus kau harus memberiku hadiah"
"Hadiah apa?"
"Buat aku mendes*h"
"Hisss dasar mesum!" Aku memukul tangannya hingga membuatnya meringis "Sudah, beri salam dulu pada Ayah"
Jeon menatap gundukan tanah itu lalu berjongkok disisinya "Ayah semoga kau tenang disana yah, jaga ibu disana untukku"
Beberapa saat kemudian Jeon bangkit lalu sesaat menatap kembali batu nisan itu sebelum meraih tanganku dan meninggalkan tempat itu.
Aku dan Jeon berjalan beriringan dengan tangannya yang tak terlepas dari genggamanku, aku ingin selalu seperti ini Jeon, saling menjaga, saling mencintai dan menyayangi.
Aku ingin selalu bersamamu selamanya.
-End-
^Happy Reading^
Jangan lupa tinggalkan Like, Vote dan Komennya
__ADS_1