Terjebak Hasrat Kakak Ipar (REVISI)

Terjebak Hasrat Kakak Ipar (REVISI)
BAB 1:30


__ADS_3

"JEONNN...!!"Mayla berteriak diiringi isak tangisnya.


Devan tersenyum melihat keadaan Jeon yang lemah hilang kesadaran.


"Kau bajingan Devan! dan kau Ellena! kau sengaja memberiku nomer Jeon, menjebakku agar kau bisa merebut Devan dariku kan? agar kau bisa tidur dengan suamiku!!" Pekik Mayla


"Tutup mulutmu Jal*ng!" Teriak Ellena seraya berjalan kearah Mayla yang masih dengan posisinya, saat Ellena hendak menampar pipi Mayla--


"Berhenti ELLENA!" teriak Devan.


Angkat tangan dan jangan bergerak!


Beberapa orang kepolisian berteriak dari bawah, membuat Devan dan Ellena diam membeku. Mereka mengadahkan pistolnya pada Devan dan Ellena lalu berjalan menaiki tangga dan mengamankan kedua bajingan itu.


"JEON!!" Pekik Roy dengan wajah yang panik, ia berlari menghampiri Jeon yang tergeletak diatas pangkuan Mayla.


Beruntung Roy menghubungi Polisi dan Ambulance setelah mendapatkan pesan dari Jeon sebelumnya. Petugas ambulance segera mengangkat Jeon dan membawanya kerumah sakit. Mayla dan Roy menemani Jeon dalam mobil Ambulance, tangan Mayla tak lepas dari genggaman tangan Jeon sepanjang jalan menuju rumah sakit.


"Maafkan aku Jeon.." Lirih Mayla ditengah isak tangisnya



Mayla dan Roy tengah duduk didepan ruang tunggu operasi dengan wajah yang penuh kekhawatiran, Mayla tidak akan pernah bisa memafkan dirinya sendiri jika sampai terjadi apa-apa dengan Jeon.


Tak ada satupun yang berbicara diantara keduanya hingga pintu itu akhirnya terbuka dan memunculkan seorang dokter dari balik pintu itu, Mayla dan Roy langsung bangkit dari duduknya,

__ADS_1


"Siapa perwakilan keluarganya disini?" tanya dokter itu.


"Saya dok, saya tantenya" jawab Mayla


"Timah panas itu mengenai salah satu organ penting dalam dalam tubuhnya, kemungkinan ia akan koma, kita berdoa saja semoga ia akan pulih secepatnya, kalau begitu saya permisi"


DEGG!!


Bak tertancap besi panas, hati Mayla bergemuruh seketika, airmata itu kembali menetes membasahi pipinya, kedua kakinya melemas tak kuasa menahan beban tubuhnya saat mendengar apa yang baru saja Dokter katakan. Jimin yang melihat tubuh Mayla hampir terjatuh segera menahannya lalu mendudukkan tubuhnya di kursi.


"Tante, baik-baik saja?" tanya Roy khawatir


Mayla hanya terdiam menyandarkan tubuhnya, airmata itu tak hentinya menetes "Maafkan aku Jeon.."


...----------------...


"Tante pulanglah, biar aku yang menjaga Jeon" ucap Roy pelan


"Tidak, aku tidak akan pulang sebelum Jeon membuka matanya"


"T..tapi nanti Tante sakit"


"Aku baik-baik saja" gumam Mayla dalam isaknya


Roy yang melihat keadaan itu berusaha menahan tangisnya, disatu sisi ia bersyukur karena akhirnya Jeon bisa mendapatkan kasih sayang dari orang yang ia sayangi setelah mendiang ibunya.

__ADS_1


Drrtt..


Drrtt..


/Incoming call Ibu


Mayla merogoh ponselnya dalam saku celana jeans yang ia kenakan lalu menekan tombol hijau


Kau dimana nak? Kau bersama Devan?


"Mayla dirumah sakit bu" Suara Mayla terdengar parau


Kau kenapa? kau baik-baik saja?


Pertanyaan itu justru membuatnya menangis terisak


"Je...jeon bu.."


Jeon? Ada apa denga Jeon? pulanglah dulu, ceritakan semuanya pda ibu ya?


"Iya bu" jawabnya dengan isak tangis lalu memutuskan panggilan itu


Mayla kembali menatap Jeon sesaat lalu menundukkan kepalanya pada tepian ranjang tempat Jeon terbaring dengan tangan yang tak lepas dari genggamannya, tubuhnya yang terpasang berbagai alat penunjang kehidupan membuatnya menangis setiap saat melihat keadaan pria itu. Ia sungguh tak tega melihatnya.


Roy menepuk pundak Mayla "Pulanglah Tante, selesaikan dulu yang harus diselesaikan, aku akan menjaga Jeon disini" ucap Roy pelan.

__ADS_1


Lalu Mayla bangkit dari duduknya mengusap airmatanya yang sedari tadi tak berhenti mengalir, ia sesaat memandangi wajah Jeon sebelum akhirnya berbalik meninggalkan ruangan itu.


__ADS_2