Terjebak Hasrat Kakak Ipar (REVISI)

Terjebak Hasrat Kakak Ipar (REVISI)
BAB 1:25


__ADS_3

Pagi itu Jeon mengantarkan Mayla sampai depan pintu apartemennya, Mayla sudah berjanji akan pulang pagi setelah berbohong pada Devan untuk menginap dirumah Ellena karena gadis itu tengah putus cinta.


Mayla tidak tau sampai kapan akan terus berbohong pada Devan, karena sejujurnya Mayla juga sangat menginginkan Jeon. Ia memeriksa kembali tasnya memastikan tidak ada apapun yang tertinggal, untuk masalah kemeja yang sobek ia tidak perlu khawatir karena ia menyimpan beberapa pakaian di apartemen Jeon.


"Nonna akan pulang sekarang?" Tanya Jeon setelah Mayla berdiri didepan pintu apartemennya


Mayla mengangguk "Suamiku sudah menunggu dirumah"


Jeon menarik nafas pelan, ia tak berhak menahan Mayla untuk terus berada didekatnya "Kalau begitu hati-hati" ia mengusap pipi Mayla lalu mel*mat bibirnya


Mayla membalas lum*tan itu, menikmati ciuman lembut dalam udara yang dingin pagi itu. Namun mereka tidak menyadari ada tiga orang yang berdiri cukup jauh dari mereka, salah satunya manatap nyalang penuh dengan amarah.


MAYLA!!


Mayla dan Jeon refleks menjauh menoleh ke arah sumber suara yang berteriak marah, pada jarak yang tidak begitu jauh Devan berdiri dengan tatapan yang penuh dengan amarah, kedua tangannya terkepal kuat, wajahnya merah padam menahan emosi yang sudah memuncak.


Pria berusia tiga puluh tahunan itu melangkahkan tungkainya dengan cepat diiringi dengan dua bodyguard nya.


PLAKK!!


Devan mendaratkan telapak tangannya pada pipi Mayla sekuat tenaga, sangat keras hingga membuat gadis itu terhempas dengan kepala yang menghantam kedinding.


Jeon membelalak seketika melihat Mayla yang sudah jatuh tersungkur ke lantai sembari meringis kesakitan memegangi pipi dan bagian kepalanya.


Devan bahkan tak membiarkannya mengeluarkan sepatah katapun sebagai bentuk penjelasan. Jeon tahu semarah dan sesakit apa perasaan Devan namun, bagaimana pun juga Devan tetaplah bersalah karena memukul seorang gadis dengan tidak berprasaan.


Devan mendekat pada Mayla yang sampai saat ini masih merasakan sakit dikepalanya, ia menunduk mencengkram kuat rahang sang istri.

__ADS_1


"Ternyata istriku ini sudah berani macam-macam ya" ucap Devan dengan penuh penekanan disetiap kalimatnya


Mayla berusaha menyanggahnya, menggeleng dengan susah payah dengan airmata yang mulai jatuh membasahi pipinya.


"Jauhkan tanganmu darinya!" pekik Jeon berusaha menghentikan Devan, namun kedua bodyguardnya menghalanginya "Devan!!"


Devan menoleh tersenyum miring pada Jeon "Oh adik kecil, kau tidak sopan sekali, kau harus memanggilku dengan sebutan kakak, mengerti?"


"Cih aku tidak sudi memanggilmu dengan sebutan itu!" Jeon memberontak berusaha melepaskan diri dari dua pria bertubuh besar itu.


Devan menggeleng pelan, seringai iblisnya masih terpatri jelas di bibirnya "Kita bersaudara loh" Devan mendekatkan wajahnya ke telinga Jeon "Satu Ayah"


Jeon mengeraskan rahangnya, menatap tajam pada pria dihadapannya itu.


"Kau sangat mirip dengan seorang ****** yang disewa ayahku, yang dengan bodohnya berhasil mengalihkan separuh dunia ayahku" Ucap Devan dengan wajah yang seketika berubah datar. Sementara dibelakang sana Mayla terduduk lemas bersandar pada dinding.


"Ya adikku, aku dan ibuku mengetahui kebusukan ayah beberapa hari setelah kau lahir karena ibumu yang hina itu membawamu kehadapan kami, tetapi ibuku terlalu bodoh hingga memaafkannya begitu saja"


Jeon mengepalkan kedua tangannya kuat, bola matanya memerah, merasa marah dan terluka mendengar hinaan yang Devan lontarkan begitu saja.


"Jadi.." Devan menjeda kalimatnya lalu mendekat dan menepuk puncak kepala Jeon yang segera ditepis oleh Pria berumur dua puluh tahunan itu, Devan terkekeh lalu melanjutkan kalimatnya "Kau harus menjadi adik yang baik dengan tidak merebut mainan milik kakakmu" ucapnya seraya berbalik membelakangi Jeon.


Jeon tertawa remeh mendengar kalimat itu, yang membuat Devan kembali menoleh ke arahnya,


"Ayah dan anak sama saja ternyata"


Devan membelalakkan kedua matanya mendengar ucapan sarkas yang Jeon lontarkan "Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Kau berlagak suci sama seperti ayahmu! Apa kau fikir aku tidak tau apa yang kau lakukan dibelakang Mayla hm?"


Devan mengeraskan rahangnya lalu berjalan mendekat ke arah Jeon, Jeon menatap Devan dengan senyum miring.


"Ellena! bukankah selama ini kau bermain dengan Ellena dbelakang istrimu? "


BUGGH!!


Satu pukulan mentah mendarat dipipi Jeon hingga cairan merah itu mengalir disudut bibirnya, Devan terdiam lalu bergegas berbalik menarik kasar pergelangan tangan Mayla, membawanya pergi menjauh dari sana.


"Lepaskan aku Devan!" gadis itu memberontak berusaha melepaskan diri dari cengkraman Devan yang kini tengah menyeretnya. Mayla menoleh kearah Jeon berharap pria itu dapat menyelamatkannya dari Devan.


Jeon memberontak saat mendapati sorot mata Mayla yang penuh dengan ketakutan dan kesedihan, itu membuat dadanya terasa sesak. Jeon sontak menendang betis pria disebelah kanannya dengan kencang, membuat pria itu terjatuh tersungkur kelantai, lalu ia mendaratkan bogem mentah pada wajah pria diisebalh kirinya hingga membuat pria itu juga tersungkur ke lantai. Namun belum sempat Jeon pergi,


Prangg!!


Sebuah pot bunga berbahan dasar keramik berukuran sedang menghantam bagian belakang kepalanya yang diayunkan pria yang lebih dulu ia berikan tendangan. Pandangannya mulai mengabur, tubuhnya seketika lemas dan suara jeritan Mayla yang memanggil namanya kini kian melenyap, ia merasakan beberapa bulir cairan merah mengalir disekitar tengkuk dan lehernya.


"M..Mayla.."


BRUKK!!


Salah satu pria itu menendang tubuh Jeon hingga ia kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur lalu kehilangan kesadarannya.


^Happy Reading^


Jangan lupa tinggalkan Vote, Like dan Komennya Readers :)

__ADS_1


__ADS_2