Terjebak Hasrat Kakak Ipar (REVISI)

Terjebak Hasrat Kakak Ipar (REVISI)
BAB 1:23


__ADS_3

Pagi itu sekitar pukul 07:00 Mayla menemukan Jeon tengah duduk ditepi kolam seorang diri, gadis itu meregangkan tubuhnya sebelum memutuskan untuk melangkah menghampiri Jeon yang saat ini masih menatap kosong pada kolam dimana didalamnya terdapat ikan-ikan kecil yang dengan tenang berenang kesana kemari.


Mayla berjinjit melangkah dengan mengendap-endap bermaksud untuk membuat Jeon terkejut, dan--


"Boo!!" teriak Mayla tiba-tiba seraya menghentakkan kakinya.


Berhasil!


karena Jeom cukup terkesiap dan hampir saja membuatnya tercebur ke dalam kolam, pria itu memegangi dadanya berusaha menetralkan degub jantungnya yang berdetak dengan cepat karena terkejut, ia berdecak kesal seraya memajukan sedikit bibirnya


"Nonna tidak ada kerjaan yah? sampai harus mengagetkanku seperti ini?"


Mayla tertawa terbahak memegangi perutnya sendiri, padahal Jeon saja tidak tau dibagian mana yang terlihat lucu. Melihat ekspresi Jeon membuat Mayla meredakan tawanya, ia mengusap setitik air disudut matanya kemudian mendudukkan dirinya disisi Jeon.


"Makanya jangan melamun" Ujarnya diiringi kekehan


Jeon hanya diam tak merespon sama sekali, ia hanya terus memandangi ikan-ikan dihadapannya, jika saja ikan-ikan itu adalah seorang wanita, mungkin saja mereka akan pingsan karena terus menerus ditatap oleh pria setampan Jeon.


Mayla memirngkan kepalanya lalu menatap pria itu "Ada apa?"


"Ayah membenciku" jawabnya tanpa menoleh sedikitpun


Jawaban itu membuat Mayla mengernyitkan dahinya "Benci? kurasa tidak mungkin, ayah adalah sosok yang penyayang dimataku"


Jeon menoleh, Mayla terkesiap saat mendapati dengan jelas bagaimana pria itu menatapnya dengan sorot mata yang terluka.


"Dia tidak mengakuiku! Dia-" Jeon menjeda kalimatnya lalu menarik nafas sejenak "Dia telah membuangku"


Mayla tersenyum tipis "Tidak Jeon, ayah hanya-"


"Tidak Nonna! Ayah hanya menjadi sosok yang penyayang pada kalian karena kalian adalah anak-anaknya, sementara aku? aku hanya sampah baginya" ucapnya dengan tersenyum miris diakhir kalimat


Mayla menatap sendu pada pria malang itu, ia dapat merasakan betapa dalamnya luka yang selama ini ia simpan.

__ADS_1


"Jadi apa kau sudah berkata jujur dengan Ayah?"


Jeon mengangguk "Ya, dan dia tidak menginginkan kehadiranku"


Gadis itu ingin sekali menarik dan memeluk Jeon ke dalam pelukannya agar bisa menenangkannya sebisa mungkin, namun hal itu tidak mungkin karena mereka berada didalam area rumah suaminya, Mayla tidak ingin ada seseorang yang melihat kedekatannya dengan Jeon, maka yang bisa ia lakukan hanya menggenggam tangan Jeon berharap itu dapat sedikit menenangkannya.


"Mungkin ayah hanya terkejut, aku yakin dia juga pasti menyayangimu"


Jeon menundukkan kepalanya, ia memang tidak berharap banyak pada Ayahnya, tidak bermaksud meminta harta, tidak juga bermaksud untuk mengambil perhatian Ayah sepenuhnya, ia hanya berharap setidaknya ayahnya mau memandangnya seperti anak kandungnya sendiri.


Jeon tidak tau harus berbuat apa, tujuannya datang kerumah ini adalah untuk sandiwara konyol agar dapat bertemu ayahnya, namun nyatanya sedikitpun ayahnya tak pernah menganggapnya ada.


Mayla terus menggenggam tangan Jeon sampai pada titik Jeon menyadari ada sebuah lebam yang mengintip dari balik kaus lengan panjang yang Mayla kenakan.


Tanpa bertanya lagi ia lantas menyibakkan kain dibagian lengan Mayla, menariknya keatas hingga terpampang jelas beberapa bagian dipermukaan kulit lengan Mayla yang membiru.


Gadis itu terkesiap berusaha menurunkan kembali ujung kausnya, namun Jeon malah menarik tangannya untuk memperhatikannya lebih dekat, Mayla sedikit meringis saat Jeon menarik lengannya sedikit kuat.


"Apa yang terjadi padamu Nonna?" tanya Jeon dengan wajah yang serius, menandakan kekhawatirannya pada gadis itu


Jeon tersenyum miring "Aku memang masih berumur dibawahmu tapi aku tidak bodoh Nonna, katakan sejujurnya padaku apa yang terjadi padamu? apa karna suamimu yang bermain kas--"


Jeon menghentikan kalimatnya saat menatap sorot mata Mayla yang menatapnya dengan tatapan penuh selidik.


"Apa maksudmu?" tanya Mayla


Pria itu menelan kasar salivanya, ia malu jika harus berkata jujur bahwa semalam ia menatapi pintu kamar Mayla dan mendengarkan d*sahan d*sahannya semalam.


Mayla memicingkan matanya melihat ekspresi Jeon yang seolah sedang tertangkap basah "Kau mengintip ya?"


"Ah tidak..Aku..semalam aku hanya tidak sengaja lewat depan kamarmu lalu mendengar suara d*sahanmu bercampur rintihan, hanya itu saja sungguh, aku tidak mengintip walau sebenarnya ingin"


Wajah Mayla memerah mendengar kalimat terakhir yang Jeon katakan.

__ADS_1


"Yaishh! dasar anak nakal!" Mayla memukul kepala bagian belakang milik Jeon.


"Aw..Nonna"


Jeon mengusap-usap kepalanya bekas pukulan Mayla seraya sedikit memajukan bibirnya.


"Kau itu sedang berbicara dengan orang dewasa, perhatikan kalimatmu" ucap Mayla sarkas


"Aku hanya khawatir mendengar rintihanmu semalam, aku tahu kau kesakitan jadi aku duduk didepan pintu kamarmu semalaman, menunggu kalian selesai melakukan itu dan berharap kau tidur dengan nyenyak setelahnya. Aku bisa saja mendobrak pintu kamarmu jika aku mau, tapi tidak aku lakukan karena aku takut kau membenciku! Maaf jika aku terlalu ingin tahu urusan pribadi kalian, aku janji tidak akan melakukannya lagi" Jelasnya seraya menundukkan kepalanya sedih, entah apa yang membuatnya mengatakan semuanya begitu saja.


Mayla terdiam lalu menghela nafas pelan "Kau tak perlu khawatirkan aku, aku baik-baik saja" ucapnya seraya tersenyum kecil


Sejujurnya ada setitik kebahagiaan dihatinya saat Jeon mengkhawatirkannya, selama ini ia berfikir Jeon tidak memperdulikannya selain saat mereka melakukan hal itu. Namun kini terlihat kalau Jeon benar-benar mengkhawatirkannya.


"Lalu bagaimana dengan luka lebam itu?" tanya Jeon


"Devan memang bermain kasar, tapi aku masih bisa menghadapinya"


Jeon menarik nafas pelan lalu mengangguk, memastikan Mayla benar merasa baik-baik saja itu sudah lebih dari cukup untuknya. Ia tak perlu mengkhawatirkan lagi karena mungkin saja Mayla menyukai permainan suaminya.


"Baiklah Nonna, aku ingin pulang saja" ucap Jeon


"Kenapa? bukankah Ayah--"


Jeon menggelengkan kepalanya membuat Mayla menghentikan kalimatnya.


"Tidak, Ayah tidak menginginkanku jadi untuk apa aku masih disini?" Jeon tersenyum miring


Mayla sangat mengerti bagaimana prasaan Jeon dan sedalam apa kesedihan yang ia rasakan, maka ia tidak ingin memaksa jika itu memang pilihannya.


"Baiklah, nanti siang aku akan mengantarmu pulang" Mayla medekatkan wajahnya lalu berbisik tepat didaun telinga Jeon "Jika kau pulang bukan berarti kau berhenti melayaniku oke"


Jeon menatap Mayla yang kini sudah beranjak pergi meninggalkannya sendiri, rasanya tak masuk akal baginya, kenapa gadis itu masih membutuhkan jasanya sementara ia sudah mendapatkannya dari suaminya.

__ADS_1


^Happy Reading^


Jangan lupa Like, Vote dan Komennya Readers :)


__ADS_2