
Jeon berbalik setelah menatap pintu besar itu beberapa saat, ia menyeka air matanya dengan punggung tangan. Tak ada gunanya terus meratapi nasib, tujuan utama ia saat ini adalah menolong Mayla.
Firasat Jeon berkata sepertinya Devan membawa Mayla ke suatu tempat, tungkai kakinya perlahan melangkah lalu sebuah mobil berwarna hitam keluar dari garasi melintas begitu saja menuju gerbang, samar-samar Jeon melihat salah satu bodyguard Devan ada didalamnya, Jeon yakin mobil itu akan menuju lokasi dimana Devan membawa Mayla.
Tanpa banyak berfikir Jeon berlari kearah motornya lalu melesatkan motornya membuntuti mobil berwarna hitam itu dari belakang.
Tiga puluh menit berlalu mobil itupun memasuki sebuah rumah yang terlihat cukup besar, yang terletak dipinggiran kota yang sepi, ada beberapa rumah disekitar sini namun rumah satu dengan rumah yang lainnya berjarak sekitar limapuluh meter, Jeon tidak tau daerah ini karena ia baru pertama kalinya kesana.
Pandangan Jeon tertuju pada sebuah papan yang tergantung di dinding disamping gerbang rumah itu,
Devan Anggara
Beverlly hills
No.232
Jeon mengeluarkan ponselnya mencari nama Roy disana,
Massage Roy/
Jika dalam satu jam aku belum menghubungimu, tolong kirimkan petugas kepolisian dan ambulance ke alamat ini Beverlly Hills No.232
Setalah menekan tombol send, Jeon memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana, ia menatap rumah besar itu selama beberapa detik kemudian menarik nafas sejenak.
Semoga aku tidak terlambat Nonna..
Jeon beranjak dari motornya yang ia parkirkan beberapa meter dari rumah itu, kemudian melangkahkan kakinya dengan mengendap-endap ke arah bangunan itu. Dua orang penjaga berbadan besar dengan rambut hitam dan berambut merah menoleh ke arah Jeon ketika ia hampir sampai.
"Hey bocah!!" teriak si rambut merah yang sudah dipastikan itu tertuju pada Jeon
Degup jantung Jeon seketika berpacu hebat, ia menarik nafas pelan, beruntung dulu ibunya pernah menyekolahkannya teakwondo, ternyata pelajaran itu berguna untuk menolong seorang wanita yang ia cintai.
"Hey Bro.." Jeon membalas sapaan itu dengan ramah
Kedua penjaga itu saling bertatapan satu sama lain dengan mimik wajah yang bingung
"Siapa kau? "
__ADS_1
"Aku Jeon Arion"
"Mau apa kau kemari ? lebih baik pulanglah kau bocah, kerjakan PRmu dan jangan lupa minum susumu hahaha "
Jeon tersenyum smirk seolah meremehkan, tak mau mengulur waktu lama, ia mengangkat tangan kanannya lalu menggerakkan jari telunjuknya sebagai isyarat untuk kedua pria bertubuh besar itu mendekat padanya.
Bak manusia bodoh kedua pria itu pun perlahan berjalan menghampiri Jeon, berfikir bahwa Jeon akan membisikkan sesuatu pada mereka. Namun,
BUGGHH!!
Jeon membenturkan kedua kepala mereka satu sama lain dengan sangat keras, hingga tubuh kedua penjaga itu roboh ke tanah dan kehilangan kesadaran.
Jeon segera menyingkirkan tubuh keduanya dengan kaki lalu berjalan memasuki gerbang, ia berlari kecil sampai langkahnya terhenti tepat dihalaman rumah yang terdapat tiga mobil terparkir, satu mobil bodyguard yang ia buntuti tadi, satu mobil Devan dan satu lagi...
Ellena?
Ya, wanita yang pernah ia pergoki tengah bersama Devan di sebuah hotel, sudah beberapa minggu yang lalu Jeon mencari tau hubungan Devan dan Ellena, dia terkejut ketika mengetahui mantan pelanggan tetapnya itu ternyata berselingkuh dengan suami dari pelanggannya saat ini. Entah alasan apa saat itu Ellena berhenti menyewa jasanya sampai Mayla datang dalam hidupnya.
Jeon memang tak memberi tahu kebenaran itu pada Mayla, karena Jeon hanya ingin Mayla mengetahui sendiri kebenarannya.
Pandangannya mengedar disekeliling penjuru ruangan, terdapat ruang tamu, beberapa pintu dilantai dua yang bisa ia lihat dari ruang tamu, karpet yang membentang disepanjang anak tangga, sampai pandangannya terhenti saat melihat dua bodyguard Devan keluar dari salah satu pintu di lantai dua.
Dua pria bertubuh besar dengan wajah lelahnya berjalan beriringan menuruni anak tangga,sesekali mereka membuat gerakan patah dileher, Jeon segara merapatkan tubuhnya pada dinding disebelah lemari besar yang terdapat disisi ruang tamu.
"Wanita itu susah sekali diatur" ujar salah satu bodyguard itu
"Aku sampai kewalahan memberinya makan, ia selalu melemparkan nampang yang ku bawa" ucap yang lainnya
"Kalau saja Tuan Devan tidak menyuruh kita memperlakukannya dengan baik, mungkin aku sudah menembak kepala wanita itu sedari tadi"
Sudah bisa dipastikan, ruangan yang tadi dua bodyguard itu keluar adalah ruangan yang digunakan untuk menyekap Mayla.
Jeon menahan nafasnya sejenak, kalau sampai mereka melakukan sesuatu pada Mayla, Jeon tidak akan segan untuk mematahkan tulang-tulang mereka.
Perlahan tangan Jeon bergerak dipermukaan lemari tak berpintu disisinya, ia meraih sebuah guci berukuran sedang yang diletakkan disana, dan--
__ADS_1
PRANGG!!
Jeon memukulkan guci itu dikepala salah satu bodyguard itu ketika mereka berada tepat dihadapannya, tubuh pria bertubuh besar itu terkulai lemas ke lantai tak berdaya, seseorang yang lainnya menatap Jeon dengan tatapan nyalang, ia menggeram marah lalu melayangkan tinjunya pada Jeon,
BUGGH!!
Kepalan tangan itu mengenai pipi Jeon yang membuat tubuhnya terhuyung namun tak sampai jatuh, sudut bibirnya sobek dan mengeluarkan cairan merah segar disana.
Jeon menyeringai seraya meludahkan salivanya yang tercampur darah ke lantai, ia membenarkan posisi berdirinya "Kemarilah"
Pria bertubuh besar itu menghampiri Jeon yang langsung Jeon sambut dengan tendangan di perut pria itu, Bodyguard itu refleks memundurkan dirinya, membungkuk seraya memegangi perutnya yang terasa sangat nyeri. Jeon mempersiapkan awalannya sebelum berlari kecil lalu melompat dan--
BUGGHH!!
Mendaratkan sikunya dengan keras tepat dipunggung pria berbadan besar itu, bahkan sampai terdengar bunyi crack disana, sepertinya pukulan itu mengenai tulangnya yang mungkin sudah patah saat ini. Bodyguard itu mejerit kesakitan seraya menjatuhkan tubuhnya ke lantai.
Jeon meringis melihat itu "Ugh..pasti sakit sekali ya?"
Tak lagi memperdulikan dua bodyguard yang sudah lemah tak berdaya itu, Jeon segera berlari menaiki anak tangga itu secepat yang ia bisa. Sesampainya didepan pintu ia segera mengetuk pintu itu dengan hati-hati,
"Nonna apa kau didalam?" ucapnya dengan berbisik namun penuh penekanan
Tak mendapat jawaban Jeon kembali berujar "Nonna?!"
"Y..ya aku didalam" terdengar lirihan suara serak dari dalam sana
Jeon tersenyum kecil "Menjauhlah dari pintu, aku akan mendobrak pintu ini!"
Jeon memundurkan langkahnya dan membenturkan tubuhnya pada pintu itu beberapa kali hingga terbuka pada dobrakan ketiga. Mayla langsung berhambur dalam pelukan Jeon, tubuhnya bergetar, menangis dengan pilu.
Jeon mengelus lembut pundak wanita itu "Sshhh..tenanglah Nonna, ada aku disini"
Mayla masih saja terisak lalu mengeratkan pelukannya pada Jeon, beberapa saat setelahnya Jeon melepaskan pelukan itu, menangkup pipi Mayla lalu mengecup bibirnya sekilas.
^Happy Reading^
Jangan lupa tinggalkan Like, Vote dan Komennya Readers :)
__ADS_1