
Jarum jam menunjukkan pukul 02:30 dini hari, terlihat Jeon tengah berjalan keluar kamarnya dengan piyama kebesaran yang membalut tubuhnya.
Malam ini ia tidak bisa tidur, padahal sebagian besar lampu didalam rumah sudah dimatikan tetapi ia memutuskan untuk tetap berjalan-jalan sebentar sampai merasa lelah lalu mengantuk dengan sendirinya. Ia menghentikan langkahnya tepat didepan salah satu pintu kamar, ia seperti mendengar sebuah suara yang tak asing dipendengarannya.
"Ah...sayang!"
"Hh..ahh.."
Jeon terdiam menatap datar pada pintu itu dengan mata bulatnya saat mendengar suara d*sahan Mayla yang beradu dengan suara erangan Devan. Jeon diam mematung ditempatnya, ia hanya terus menatap pintu berwarna coklat dikoridor dengan lampu yang temaram, ia terus mendengar suara d*sahan Mayla yang kini telah bercampur dengan suara rintihan.
Jeon mengernyit saat terdengar suara pecutan mulai merasuki pendengarannya, ia sontak mengepalkan kedua tangannya, rahangnya mengeras saat rasa khawatir mulai menyelimutinya, Mayla terdengar seperti sedang kesakitan didalam sana sementara ia tidak bisa berbuat apa-apa ditempatnya berdiri saat ini.
Apakah Devan memiliki kelainan dalam berhubungan **** ?
Ia sangat ingin mendobrak pintu itu untuk menyelamatkan Mayla dan melindunginya namun, apa hakmu untuk mengambil alih Mayla dari suaminya? Kau bahkan tidak tahu bahwa mungkin saja Mayla menikmati saat diperlakukan kasar seperti itu, mungkin saja kekhawatiran itu tidak berguna baginya, sadarlah Jeon!
Pada detik itu Jeon menyadari bahwa ia telah kalah karena membiarkan dirinya sendiri terjatuh dengan seorang wanita yang telah bersuami. Pertahanannya telah runtuh, ia jatuh cinta pada seseorang yang mungkin tidak akan pernah membalas cintanya. Jeon menarik sudut bibirnya, ia tersenyum getir menertawakan kemalangan dirinya sendiri.
Bodoh sekali kau Jeon!
Matahari belum naik sepenuhnya, udara dingin pun masih terasa menusuk kulit dipukul 05:15 pagi ini, namun Jeon sudah menempatkan dirinya di ambang pintu halaman belakang memperhatikan seseorang yang tengah duduk dipinggir kolam ikan.
Pria paruh baya itu melemparkan makanan ikan kedalam kolam, menebarnya hingga ikan-ikan itu muncul ke permukaan untuk meraih sarapan mereka yang mengapung dipermukaan air. Hanya suara kecipak dari ikan-ikan yang berdesakkan berebut makanan, juga suara gemericik dari air mancur buatan disana yang mengisi pendengarannya.
Jeon hanya terus menatap pria itu dari kejauhan tanpa melakukan apapun, memangnya apa yang kau harapkan? berharap ia tersenyum padamu? berharap ia memanggil namamu dan memintanya untuk melakukan aktifitas bersama? begitu?
Jangan bermimpi Jeon !
Jeon berbalik hendak pergi meninggalkan tempat itu sebelum sebuah suara terdengar dari belakang sana.
" Hei Nak, Jeon? kau kah itu? "
Eh?
__ADS_1
Jeon terdiam masih membelakangi, berusaha mencerna apa yang terjadi saat ini.
Apa ayah baru saja memanggilku?
Jeon berbalik menghadap kearah pria paruh baya itu dan mendapati sang ayah tengah tersenyum hangat padanya.
"Kemarilah Nak.."pekik Tuan Anggara
Jeon mengayunkan tungkainya melangkah menghampiri sang ayah, dengan dada yang bergemuruh lalu saat sampai ia bergegas mendudukkan dirinya di sisi pria itu.
" Sejak kapan kau berdiri disana? "
"emh..mungkin sekitar lima menit" ucapnya berbohong
"Apa kau mencari sesuatu?"
Jeon menggeleng "Tidak, aku hanya sedang berjalan-jalan saja"
Tuan Anggara menganggukan kepalanya "Kalau begitu temani aku disini ya, ikan-ikan ini harus mendapatkan jatah sarapan mereka, karena kalau tidak mereka akan bertengkar saat kelaparan"
Tidak seperti Tuan Anggara yang melemparkan makanan itu diatas permukaan air, Jeon justru memasukkan kepalan tangannya yang telah terisi makanan ikan kedalam kolam lalu membukanya, membiarkan ikan-ikan cantik itu datang dan menyerbu makanannya yang berada digenggamannya itu.
Pria bergigi kelinci itu tersenyum senang saat merasakan ikan-ikan menggelitik telapak tangannya. Tua Anggara ikut tersenyum disana melihat Jeon yang bahagia hanya dengan memberi makan ikan.
Sesederhana itu, lantas apa yang membuatnya nekat menyakiti dirinya sendiri? apa ia tidak pernah merasakan sebahagia ini? Pria itu bertanya-tanya dalam pikirannya, saat itu ia baru menyadari senyuman Jeon tampak tak asing baginya.
"Hihhi.." Jeon hanya terus tertawa kecil , ikan-ikan ini sungguh menggemaskan, hingga ia tidak menyadari jika Tuan Anggara sedang memperhatikannya saat ini.
"Apa kau sudah lama tinggal di Paris bersama orangtuamu? wajahmu seperti tidak asing bagiku?"
Pertanyaan pria paruh baya itu yang sangat tiba-tiba membuat Jeon kini melonggarkan senyumnya "Tidak"
"Aku seperti pernah melihatmu, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanyanya penasaran seraya mencoba mengingat-ngingat sesuatu
__ADS_1
Jeon menggigit pipi bagian dalamnya, terdiam sejenak sebelum menatap pria paruh baya itu dengan sorot kemarahan dan kesedihan yang terpancar. Apakah waktunya sudah tiba? Apakah ini saatnya untuk membongkar semuanya?
Ia terdiam sejenak dengan dada yang terasa sesak, mencoba menahan sesuatu yang sepertinya akan meluap, sungguh ia sangat lelah berada disekitar ayah kandungnya tanpa mendapatkan pengakuan, benar-benar membuat hatinya terluka parah, ditambah lagi ia harus melihat ayahnya sangat bahagia bersama keluarganya.
Dengan suara pelan yang terdengar ada luka didalamnya Jeon berkata dengan ragu " Apa kau tidak mengingatku Ayah? "
Tuan Anggara mengernyit "Apa kau baru saja memanggilku Ayah?" mencoba memastikan kalau telinganya masih berfungsi dengan baik.
Jeon mengeraskan rahangnya, sesuatu yang sedari tadi ia tahan akhirnya meluap juga, airmata itu mengalir membasahi pipinya "Jika kau mengingat Sandra Wijaya, seharusnya kau mengingatku juga "
Kedua mata pria paruh baya itu membelalak ketika mendengar nama yang baru saja Jeon katakan, tubuhnya menegang saat nama itu merasuk dalam indra pendengerannya.
"San..Sandra? "
Jeon tertawa perih melihat ekspresi ayah kandungnya saat ini " Akhirnya kau menyebut nama ibuku "
Tuan Anggara menggeleng tidak percaya, Sandra wijaya sebuah nama yang sudah bertahun-tahun lamanya tak ia sebutkan dihadapan semua orang, sebuah nama yang mulai memudar dalam ingatannya kini kembali ia dengar.
"Di..dimana dia sekarang?"
"Ibuku?" Jeon tersenyum getir, berusaha sekuat tenaga menahan airmatnya yang semakin mendesak untuk keluar.
"Ia sudah meninggal tiga tahun yang lalu"
Kedua mata Tuan Anggara memanas, lubang dihatinya kembali menganga, luka yang selama ini ia simpan jauh didalam lubuk hatinya kini kembali terbuka, namun ia memasang senyum miris dan bangkit dari posisinya.
"Tapi kau bukan anakku! jadi jangan pernah kau memanggilku dengan sebutan ayah! "
Pria paruh baya itu melangkah berjalan meninggalkan Jeon seorang diri, ia memasuki ruangan rahasia yang hanya diketahui oleh dirinya, ia berdiri dihadapan sebuah figura besar yang terpasang di dinding.
Air matanya jatuh membasahi kedua pipinya saat melihat foto itu.
"Sandra" Lirihnya perih "Jadi kau benar-benar meninggalkanku selamanya hm ?"
__ADS_1