
"Aaahhhh... Nikmaaatttnyaaa... Perutku kenyang sekali... Lama sekali tidak merasakan nikmat mulut selaras dengan nikmat perut..." Pie Jiru berbicara dengan memegang perutnya."
Husgar Vize dan Jendral Mozi ternganga melihat hidangan di meja yang d santap begitu cepat oleh Pie Jiru dan setelah Pie Jiru selesai makan, hidangan di meja sudah hampir habis d makan oleh Pie Jiru.
"Pie, lalu kami makan apa jika kamu hanya menyisakan sedikit untuk kami..." Husgar Vize protes karena hidangan di meja seperti sepenuhnya hampir terlihat kosong di masing masing piring.
Pie Jiru yang menyandarkam tubuhnya karena terlalu kenyang. "Husgar, bukankah kalian baru saja juga makan bersama... Kita menghabiskan semua bersama sama... Bukankah sangat nikmat?"
"...."
"Eeeeerrrrrhhhhh..." Dengan mengepalkan tangannya seperti akan memukul kepala Pie Jiru seperti biasa pie Jiru lakukan padanya.
"Meskipun kamu Pieku tapi kamu tetap kakakku..." Husgar Vize berbicara dalam hatinya dengan wajah dongkol.
"Pelayan..."
"Hamba Jendral..."
"Ambilkan lagi kami makanannya..." Jendral Mozi meminta dan merasa sebagai tuan rumah, Jendral Mozi tidak mau membuat tamunya tidak nyaman, apalagi hanya karena makanan.
"Jendral, perutku sudah tidak muat lagi... Siapa yang akan makan hidangan itu lagi...?" Pie Jiru berbicara seolah tanpa beban.
"Pie... Bahkan kami belum memakan tiga kali suapan... Kamu yang menghabiskan ini sendiri dengan sangat cepat..." Husgar Vize berbicara dengan wajah kesal.
"Benarkah...?" Dengan rasa tidak percaya bertanya kepada Jendral Mozi.
"Benar Pie..." Jendal Mozi menjawab dengan senyum yang nampak bersalah karena menyiapkan makanan kurang banyak.
"Dengan tubuh asli Planet Tin-go... kamu masih tidak percaya...? Kamu makan tetap dengan kekuatan istimewamu, bagaimana mungkin kami bisa mengimbangi kecepatanmu..." Dengan kesal Husgar Vize menjelaskan.
"Aku tidak menggunakan kekuatan istimewaku... Aku makan dengan biasa saja..." Pie Jiru tidak menyadari bahwa dirinya telah menggunakan kekuatan istimewanya saat menyantap makanan dan bingung harus menanggapi seperti apa.
"Permisi Jendral..." Seorang pelayan memberi salam.
"Masuklah... Letakkan saja di meja," ucap Jendral Mozi.
Dengan segera pelayan tersebut mengarahkan pelayan yang lain untuk membersihkan sisa makanan dan mengganti dengan makanan yang baru.
"Apakah, Pie benar benar tidak merasa menggunakan kekuatan istimewa saat tadi kita makan...?"
'Tidak Jendral..." Dengan singkat Pie Jiru menjawab tapi tetap dengan keheranan.
"Pie, kau memang terlihat lebih bodoh setelah tidak menjadi Jendral lagi." Husgar Vize berucap dengan kalimat mengejek.
Tthaaakk..!!!!
"Aaduuh...!! Sakit...!! Husgar Vize merintih dengan memegang kepalanya.
" Itu akibatnya kau mengejekku." Pie Jiru berbicara dengan memalingkan muka.
"Sudah... sudah..." Kalian jangan berdebat terus... Ini adalah masalah serius..
__ADS_1
"Hmmm...!! masalah serius..!!" Husgar Vize berucap hampir bersama dengan Pie Jiru.
Husgar Vize dan Pie Jiru terkejut saat mendengar perkataan Jendral Mozi, yang mengatakan kekuatan istimewa Pie Jiru adalah masalah serius karena Pie Jiru tidak menyadari jika dia menggunakan kekuatan istimewanya dalam setiap Pie Jiru bergerak.
"Husgar, sebaiknya kita makan dulu..." Jendral Mozi berkata dengan langsung menyantap makanan yang sudah berada di meja.
"Masalah serius..? Apakah aku tidak akan bisa bergerak dengan normal lagi...? Apakah itu hal buruk..?" Pie Jiru melamun dan berbicara sendiri di dalam hatinya.
"Tapi, aku rasa bergerak selalu dengan kecepatan itu bukanlah hal buruk..." Membatin dengan senyum lebar.
**Beberapa saat kemudian**
"Akhirnya, aku juga bisa merasakan apa yang kamu rasakan tadi Pie..." Husgar Vize berbicara dengan senyum lebar.
"Mulut dan perutku benar benar puas setelah lama tidak makan mkanan lezat..." Husgar Vize berbicara dengan memegang perutnya.
"Jendral... Jadi permasalahan serius apa yang terjadi padku...?" Tanya Pie Jiru yang sudah tidak merasa khawatir lagi.
"Hhhuuuff..." Jendral Mozi mengeluh dengan menarik nafas, seolah tidak bisa santai setelah makan.
"Tentu saja itu hal serius, jika kamu tidak bisa mengendalikan kekuatanmu dan selalu menggunakan kekuatanmu dalam berbagai hal..." Jendral Mozi berucap.
"Aku sudah memikirkannya dari tadi, menurutku... Itu hal bagus jika aku selalu bergerak cepat, karena bisa selalu beberapa langkah di depan..." Jawab Pie Jiru kepada Jendral Mozi dengan bangga.
"Tentu itu hal bagus jika dalam beberapa hal... Tapi apakah kau juga akan menggunakan kecepatan seperti kilat itu jika akan berhubungan dengan wanita...? Tidak bisa berjalan beriringan bersama dan efek dari larimu yang cepat akan menimbulkan angin kencang, kamu akan selalu buat kekacauan di mana mana... Apakah itu juga bagus..?" Jendral Mozi memberikan pandangannya.
Raut wajah Pie Jiru langsung berubah kecut.
"Lalu apa yang harus aku lakukan...?" Kembali dengan rasa khawatir.
"Permisi Jendral..." Seorang Prajurit memasuki ruangan.
"Ada apa Prajurit...?"
"Komandan Jordi dan puluhan Prajurit sudah berada di halaman depan Jendral..." Prajurit tersebut menjawab atas pertanyaan Jendral Mozi.
"Suruh mereka masuk ke ruang pertemuan..."
"Siap Jendral..." Prajurit tersebut langsung pergi setelah menjawab perintah Jendral Mozi dan menyampaikan pesan Kepada Komandan Jordi.
"Mari Husgar, kita ke ruangan sebelah..." Jendral Mozi beranjak dari duduknya dan menuju ruangan sebelah, ruang pertemuan yang di ikuti langsung oleh Husgar Vize, tapi Pie Jiru masih nampak tetap duduk dan menunggu Jendral Mozi sampai di pintu baru dia bergerak.
**Di tempat lain**
"Komandan, anda dan lainnya sudah di tunggu oleh Jendral Mozi di ruang pertemuan..." Prajurit yang melaporkan kedatangan Komandan Jordi sebelumnua kepada Jendral Mozi berucap kepada Komandan Jordi.
"Baik... terimakasih..." Komandan Jordi langsung menuju ruang pertemuan yang di ikuti puluhan Prajurit setelah menjawab pernyataan seorang prajurit.
Tok... Tok... (suara pintu di ketuk)
"Masuk...!!" Ucap Jendral Mozi.
__ADS_1
Seketika setelah jawaban Jendral Mozi, Komandan Jordi dan puluhan Prajurit memasuki ruangan dan duduk di kursi yang memang sudah tersedia di ruangan tersebut.
Komandan Jordi dan puluhan Prajurit nampak menundukkan kepada dan duduk dengan tidak nyaman karena takut akan konsekuensi atas kesalahan mereka, terlebih lagi Prajurit salwi dan Prajurit Robert.
"Siapa di antara kalian yang datang ketika pengejaran terhadap Pie Jiru terjadi...?" Ucap Jendral Mozi.
Sembilan Prajurit mengangkat tangannya.
"Kalian pergilah dan bertugas kembali..." Kata kata Jendral Mozi di sambut dengan senyuman oleh sembilan Prajurit yang di minta keluar ruangan.
"Siapa di antara kalian yang datang setelah terjadi penyerangan pertama terhadap Pie Jiru...?" Jendral Mozi bertanya kembali.
Tujuh Prajurit mengangkat tangannya.
"Kalian saling tampar seratus kali lalu pergi dan lanjutkan tugas kalian..." Tanpa berani membantah, mereka langsung menjalankan perintah Jendral Mozi.
Plak... Plak... Suara tamparan menggema di ruangan tersebut.
"Tampar dengan keras... Jika tidak, yang menampar akan ku tembak..." Kata-kata Jendral Mozi, menambah ciut nyali Prajurit yang belum di panggil...
"Mereka saja dapat seratus tamparan, bagaimana dengan aku..." Prajurit salwi membatin cemas.
**Setelah beberapa saat**
Tujuh Prajurit telah selesai saling tampar lalu meninggalkan ruangan tersebut dengan darah bercecer di baju mereka.
Tersisa sembilan belas Prajurit yang masih diam dengan gemetar di kursi mereka masing masing.
"Siapa di antara kalian yang sebelumnya berjaga di depan kamar Pie Jiru...?" Jendral Mozi melanjutkan pertanyaannya.
"Ka-kami jen-Jndral..." Prajurit salwi menjawab dengan terbata yang di ikuti acungan Prajurit robert yang tidak ikut menjawab karena mulutnya sudah kaku ketakutan.
"Kalian berdua, berdiri di sana...!!" Jendral Mozi berbicara dengan menunjuk salah satu sisi ruangan.
"Prajurit yang tersisa akan mendapat hukuman lima puluh cambukan..." Setelah Jendral Mozi berkata tentang hukuman tujuh belas Prajurit yang mendapat hukuman cambuk lima puluh kali, datanglah lima orang Prajurit dengan tubuh sangat besar ke dalam ruangan.
"Yang mendapat hukuman cambuk, ikuti kami..." Salah satunPrajurit yang akan memberi hukuman cambuk berucap.
"Jika ada yang mati karena hukuman cambuk yang belum mencapai lima puluh, maka sisanya akan di lanjutkan oleh salah satu kluarganya...!" cap Jendral Mozi dengan wajah serius.
"Hah... Hukuman cambuk seperti apa sampai harus ada yang tidak bisa menahan cambukan ke lima puluh..." Batin Husgar Vize.
Lima Prajurit yang bertugas untuk mencambuk para tahanan berlalu meninggalkan ruangan setelah tujuh belas Prajurit yang mendapat hukuman keluar ruangan dan menuju tempat hukuman.
"Mari Husgar, Pie... Kita ke tempat hukuman... Sedangkan kalian berdua, ikuti ke tujuh belas Prajurit itu, dan kamu Komandan, juga ikuti mereka... Jendral Mozi memberikan Perintahnya.
**Di lapangan hukuman**
Lima Prajurit yang bertugas memberi hukuman cambuk telah siap dengan cambuk di tangan yang terbuat dari rantai berduri...
"Bersiap... Maju lima orang..." Teriak salah satu Prajurit yang bertugas. Sedangkan Jendral Mozi, Husgar Vize dan Pie Jiru, duduk di sebuah kursi.
__ADS_1
"Jendral, apakah hukuman ini tidak terlalu berlebihan, bagaimanapun mereka adalah Prajurit kita..." Husgar Vize berbisik pada Jendral Mozi dan di iyakan oleh Pie Jiru.
ππ mohon dukungannya ya, dengan cara LIKE, COMMENT, BERI HADIAH dan VOTE jangan lupa jadikan Favoritππ ππ