
Kini Alessya sedang berada di kamar Alex
"Abang, kak Andin gak akan ke sinikan".
"Gak akan lah dek, pastinya juga dia gak akan berani datang ke sini".
"Abang, gimana aku ada pr tapi belum selesai karena tadi keburu ada Kak Andin".
"Ya udah gak usah dikerjain, atau abang yang ngambil bukunya hmm".
"Gak usah bang, biar Alessya aja, eh tapi aku ngantuk bang".
"Ya udah tidur aja sayang".
"Terus pr nya gimana nanti Mrs Angel menghukum aku".
"Gak ada yang berani menghukum kamu Alessya ,ya udah ayo tidur nih abang udah tiduran".
"Ya udah deh, tapi abang jangan kemana mana ya".
"Ya adek".
"Hihihi aku sayang abang".
Alex hanya memberikan senyum manisnya, yang hanya di tunjukan oleh sang adik tersayangnya sambil mengelus rambut Alessya dengan lembut hingga Alessya tertidur
"Adikku yang manis semoga mimpi yang indah ya".
Cup
Alex mencium kening Alessya, setelah itu Alex bukannya berbaring tapi ia turun dari kasurnya dan ia segera ganti baju dengan pakaian serba hitamnya
"Aku akan menyiksa anak itu". Dingin Alex dengan tatapan bunuhnya
Kemudian ia beralih pada Alessya yang tertidur pules lalu ia pun mendekat dan kembali mengelus pipi Alessya
"Maaf abang gak bisa nemenin adek tidur, abang akan membalas dendam yang bikin adek nangis, abang gak mau kalau adek kesayangan ini kesakitan apalagi abang lihat wajah adek berdarah abang gak mau hal ini terjadi pada kamu dek, abang akan balas dia dan akan memotong tangannya yang sudah berani mendorong adek, abang berangkat dulu ya".
cup
"Abang pergi dulu ya".
Alex pun segera pergi dari kamarnya, sebelum itu ia memanggil Axel untuk menemani Alessya.
"Ada apaan sih lu bang, lagi enak enaknya gua makan hasil buruan gua".Axel dengan wajah kesalnya
"Temenin adek bentar gua ada urusan".dingin Alex
"Cih biarinlah si Andin mah bang". Axel
"Axel, gua sebagai abang gak akan diam aja, lu sih gak liat secara langsung".dingin Alex sambil menatap tajam pada Axel
"Ya sih kalau gua liat langsung gua juga ngelakuin hal yang sama, tapi.... Ah ya udah deh sebagai gantinya gua mau jasad si Andin".
"Gua gak akan matiin dia langsung hari ini".
"Yahh bang". Dengan nada kecewa Axel
"Udah gua cabut dulu, udah di tungguin ama dady momy di markas".
"Ya udah sono sono". Axel sambil tangannya mengisyaratkan pada Alex untuk pergi dari tempat
Keesokan harinya
Alessya pergi ke dapur karena ia merindukan Mbak Sinta
"Mbak Sinta". Teriak Alessya
"Eh nona kecil, ya ampun nona kenapa kesini".
"Alessya kangen sama mbak Sinta".
"Ya ampunnn huhuhu mbak terharuu pada Alessya".
Mereka berdua saling berpelukan hingga terdengar suara
Ekhem
Saat mereka menoleh ternyata ada Alex yang saat ini menatap keduanya. Respon mereka berdua berbeda ada yang senang dan juga ada yang panik
"Abang Alex".
Alex hanya diam membisu tanpa berkata apa pun
"Bang Alex mau apa ke sini".
"Abang cuma nyari kamu dek, ayo pergi dari sini ngapain juga kamu disini".
"Alessya kesini karena kangen sama Mbak Sinta aja bang kan selama ini yang ngerawat aku bayi sampai sekarang kan cuma Bi Minah sama Mbak Sinta".
Mendengar itu Axel seketika tercekat tak berani lagi mengatakan apa pun, seperti ada gumpalan di tenggorokannya seolah ia kesulitan bernafas
__ADS_1
Memang benar apa yang di katakan oleh Alessya karena saat Alessya bayi, ia tak pernah ada sedikit pun menghampirinya
Alex merasa bersalah pada dirinya kenapa dia tak menemui Alessya saat kecil, padahal dia tau jika mempunyai adik lagi, namun karena hatinya sudah di tutupi oleh rasa benci terhadap yang bernama adik perempuan.
Memang sedari kecil sangat benci pada perempuan kecuali pada ibunya.
Alex pada saat itu tak menyangka memiliki adik apalagi itu berjenis kelamin perempuan dengan sikapnya yang sangat memalukan sehingga mencoreng nama baik Robert yaitu dengan banyaknya kasus jika saudara perempuan Alex itu seorang pembunuh orang yang tak bersalah, merapok bank dll sampai ia dipenjara namun bukan di penjara polisi melainkan dipenjara tahanan keluarga besar Robert.
Memang benar jika dirinya juga beserta keluarga Robert memang terkenal kejam namun mereka hanya pada orang orang tertentu saja yang mengusik pada kehidupan Robert. Sementara saudara perempuan Alex itu mereka sangat menyukai aksi kebrutalannnya terhadap orang yang tak bersalah, contohnya menembak pada siapa pun yang dia temui atau pun menembak ke sembarangan tempat dan tentu saja hal itu membuat masyarakat ketakutan dan juga merasa terancam nyawanya meski mereka tak membuat kesalahan apa pun
Itulah yang di benci oleh Alex pada adik perempuannya hingga saat dia bertemu dengan Alessya dia adik perempuannya yang sangat berbeda. Dalam hati maupun pikiran dan kelakuannya sangat bertolak belakang dengan sifat Robert yang terkenal dengan angkuh, bengis, kejam dan sangat biadab, tanpa ada kata maaf dan terimakasih.
Alessya berbeda dengan yang lainnya, saat dia mengetahui Alessya itu seorang reinkernasi ia sangat terkejut tapi ia juga sangat senang jika Alessya tidak memiliki sifat yang buruk.
Namun baginya ruh Alessya memang memiliki Alessya sendiri dan sangat jelas jika ruh Alessya dulu mau pun sekarang dalam dirinya terdapat jiwa iblis yang sudah tertanam namun anehnya Alessya tak menyukai darah, itulah keanehan dari Alessya yang sebagai iblis tapi tak menyukai darah.
Tak hanya sampai disitu saja keanehan terjadi pada kehidupan lamanya yang ternyata Alessya sudah terlahir sebagai iblis saat kehidupan pertamanya. Padahal saat kehidupannya yanh dulu orang tua Alessya atau saat itu masih bernama ica mereka normal saja, tapi anehnya kenapa ruh Alessya saat itu sudah tertanam iblis pada dirinya itulah di pikir Axel dan Alex dengan kebingungannya.
Alex pun dapat menyimpulkan bisa jadi dipastikan jika Alessya ini adalah memamg keturunan asli dari keluarga Robert.
Alex tak menyangka jika Alessya adalah sosok dari keluarga Robet memiliki kepribadian yang berbeda dan hal itu Alex menyayanginya bahkan sangat posesif padanya
Kini Alex langsung meninggalkan Alessya dengan Mbak Sinta. Hal itu membuat Mbak Sinta tak enak hati lalu ia langsung berkata pada Alessya
"Nona".
"Ya mbak". Jawab Alessya namun ia masih melihat punggung Alex yang kini kian menjauh
"Nona tak harus berbicara begitu pada tuan Alex,".
"Ha memangnya tadi aku ngomong apa pada Bang Alex".
"Coba nona ingat ingat lagi perkataannya".
Alessya pun langsung terdiam dan mencoba mengingat perkataan yang tadi ia ucap pada Alex takut ada yang salah, tak lama ia pun sadar
"Ya ampun kenapa mulutku tak bisa diam sih, pasti abang malu sama aku pasti abang gak mau lagi sama aku kaya kak Alvina"
"Hmm abang mana apa dia udah di kamarnya ya, akhh tidak aku gak bisa naik tangganya hmm akhh itu ada penjaga, ta tapi mereka menyeramkan sekali wajahnya, akhh aku gak peduli toh mereka tidak akan berani menyakitiku kan".
"Oy, itu bukannya nona Alessya".
"Widih kenapa nona Alessya disini sendirian lagi".
"Eh eh lihat Nona menuju ke sini, aduduh tak disangka tuk pertama kalinya aku bisa melihat nona sedekat ini".
"Ya biasanya dia selalu tunduk dan gak pernah menunjukan wajahnya, dan ini pertama kali melihat wajahnya sedekat ini yang sangat imut sekali".
"Iya nona kecil".
"Pa paman hmmm paman me melihat a abang Alex ti tidak".
"Oh tuan muda, beliau ada di kamarnya".
"Hah dikamar?".
Mereka berdua mengangguk
"Ta tapi kalian berdua bisa kan antarkan saya kesana karena a aku tidak berani naik tangga nya".
"Boleh nona dengan senang hati, apa perlu saya menggendong tubuh nona"
Alessya pun mengangguk, tentunya dengan senang hati pengawal itu langsung mengangkat tubuh Alessya sementara pengawal satu itu memandanga iri
"Cih bisa bisanya lo ngambil kesempatan".
"Ahay bilang aje lu iri".
Kini mereka bertiga pun sudah berada di depan kamar Alex
Alessya pun turun tak lupa mengucapkan terimakasih kepada dua pengawal tersebut namun sebelum ia mengetuk pintu kamar Alex. Kedua pengawal tersebut memanggil kembali
"Nona".
"Ya ada apa paman".
"Boleh kami ingin mencium nona".
"Hah cium, paman mau di cium sama Alessya".
"Bukan kami ingin mencium pipi nona".
"Mau di cium pipi Alessya?". Tanya lagi Alessya
Mereka pun mengangguk dengan sangat antusiasnya, Alessya pun tersenyum
"Ya boleh". Ucap Alessya
Tentu mereka pun antusias tak akan menyiakan nyiakan kesempatan ini, siapa lagi yang ingin menciumin seorang anak kecil yang menggemaskan ini, mereka pun saling bereputan
"Awas gua dulu".
__ADS_1
"Apaan sih lu kan udah gendong nona jadi biar gua dulu yang cium, ah elah dasar tengik lu maen banyak udah sono ciumnya giliran gua, sini nona cantik".
"Sudah ya ". Ucap Alessya yang sudah memberikan pipi gembulnya pada mereka untuk diciumi. Alessya ingin
Tok tok tok
"Siapa".
"Tuan, nona kecil ingin bertemu anda tuan muda".
Tak lama pintu pun dibuka oleh Alex, kemudian ia menatap Alessya.
"Ada apa dek".
"Mm i itu a a..."
"Di dalam aja, kalian berdua pergi lah".
"Paman paman makasih ya udah nganterin Alessya".
"Ya sama sama nona cantik".
Mendengar itu Alex langsung menatap tajam pada mereka berdua, hal itu membuat mereka berdua langsung menundukan kepalanya
"Ayo dek masuk".
"Ya bang".
"Kalian berdua pergi sana".
"Baik tuan muda".
Mereka berdua pergi kini Alex pun masuk, didalam kamarnya terlihat Alessya hanya duduk di sofa yang memang sudah di sediakan di sana, kamar yang luas dan megah Alessya pun sempat terperangah melihatnya saat pertama kali masuk.
Alex menghampiri Alessya tanpa di duga ia menarik Alessya tentu saja Alessya terkejut
"Eh abang Alessya mau dibawa kemana?".
Alex tak menjawab ia langsung membawa Alessya ke kamar mandi. Alessya langsung panik seketika ia berfikir jika Alex akan menyiram tubuhnya namun ternyata malah Alex membasuh kedua pipi Alessya dan tentu saja Alessya terheran heran.
"Loh abang kenapa muka Alessya di basuh kan aku gak kotor".
"Tadi kamu dicium sama mereka kan".
"Maksudnya paman paman tadi bang".
"Hemmm, udah beres yuk keluar".
Alessya pun mengangguk, saat sudah di luar Alex mengambil tisu lalu ia usap wajah Alessa menggunakan tisu. Setelah Alex pun bertanya pada Alessya
"Ada apa kamu nyari abang"
Alessya langsung tersadar kemudian ia menunduk masih tidak berani melihat kedua mata Alex.
"A a aku aku minta maaf sa sama a a abang".
"Soal apa". Lembut Alex sambil mengelus kepala Alessya dan itu membuat Alessya kian menangis, yang tadinya ia tahan akhirnya terjatuh
"Hiks.. ta tadi A alessya kan nyeritain du dulu hikss waktu Alessya kecil hikss,,, srottt". isak Alessya air matanya sudah membanjir wajahnya yang gembul sementara Alex ia terus mengusap air mata Alessya bahkan ingus pun di bersihkan tanpa rasa jijik. Lalu ia cium kening pipi keduanya kemudian ia mengatakan
"Adek kenapa kamu nangis sih coba ceritanya yang lengkap jangan setengah setengah abang kan gak ngerti".
"Ta tadi abang marah kan sama Alessya".
"Marah? marah kenapa sayang, abang gak marah koq".
"Tapi ta ta tadi abang ninggalin Alessya hikss hiks kata Kak Sinta, abang tersinggung pas tadi aku ngomongin Alessya waktu kecil yang di asuh sama kak sinta, terus kak Sinta bilang jangan begitu kasian abang pasti sakit hati gitu katanya bang, abang pasti sakit hati ya maaf ya aku aku gak tau kalau cerita aku itu bikin abang sakit hati".
"Oh karena tadi ya, harusnya gua gak usah nunjukin kesedihan gua bodoh lo Alex, udah bikin Alessya salah paham gini padahal Alessya gak pernah salah gua yang salah". Bathin Alex dengan memenjamkan matanya lalu ia membuka matanya terus menghembuskan nafasnya secara kasar
"Alessya sayang abang gak marah koq sama adek justru abang yang ngerasa bersalah sama adek, abang gak pernah nengokin kamu saat masih bayi maafin abang sama momy dady ya dan semua keluarga besar kita perwakilan dari abang maaf sama adek ".
Alessya mendengar itu langsung memeluk erat, Sungguh ia merasa bersyukur telah dilahirkan kembali dan ternyata kehidupan keduanya tidak seburuk yang di kehidupan lamanya. Ternyata ini jauh berbanding terbalik, malah ia sangat senang karena kali ini ia mempunyai keluarga yang lengkap dan tak lupa banyak yang menyayanginya hal itu Alessya tak akan menyia nyiakan kehidupan keduanya ini.
"Tuhan terimakasih sudah memberikan aku hidup kembali ke dunia ini bertemu orang terkasih yang selama ini aku belum pernah merasakan sama sekali yang berada di hidupku dulu, dan terima kasih hadiah yang kau berikan aku sangat bersyukur setelah kematian dan aku dilahirkan kembali dengan keluarga yang lengkap". Bathin Alessya yang memeluk tubuh Alex, Alex pun memeluknya dengan tangan satu mengusap punggung Alessya yang bergetar tentunya Alex bisa mendengar pikiran Alessya ia pun tersenyum lalu ia memberikan kecupan pada pada rambut dengan sayang
Alex sekarang sudah merasa tenang sebelum itu hati Alex bener bener terluka karena ucapan Alessya tapi itu bukan sakit hati atau marah atau pun kesal namun ia menyesal
Alex semakin sayang adik bungsunya, dan dia sangat bangga padanya karena Alessya anak yang memang sangat baik penurut namun sayangnya ia itu cengeng
"Sudah dek jangan nangis, Alessya jangan cengeng dong".
"Hiks hiks hiks harus gimana bang aku orangnya gini bang hiks hiks".
Alex hanya menghela nafas, namun tiba tiba datang aura hitam dan tentunya Alex mengetahui siapa yang datang
...****************...
Bersambung
__ADS_1