
"pah, mama mau cerita dong ke papa". ucap mama Ina yang duduk di sebelah suaminya yang sedang fokus dengan laptopnya.
"yaudah cerita aja mah". ujar papa Rahardian
"papa ingatkan waktu itu mama pernah hampir dicopet sama orang tapi berhasil lolos gara-gara ada gadis yang nolongin mama".ucap mama Ina
"iya, terus kenapa mah? mama ketemu lagi sama itu gadis yang nolongin mama?". tanya papa Rahardian sambil menengok ke arah istrinya dan istrinya menganggukan kepalanya
flashback
Saat sedang bertemu dengan temannya mama Ina, di salah satu cafe tiba-tiba ada gadis dan wanita paruh baya yang akan duduk di kursi tidak jauh dari mama Ina duduk.
Dan mama Ina yang tadinya biasa saja tiba-tiba memperhatikan gadis itu, karena gadis itu memakai kalung yang sama persis dengan kalung yang waktu itu gadis penolong mama Ina.
Mama Ina yakin bahwa itu memang kalung yang sama dengan si gadis penolongnya, akhirnya setelah yakin bahwa gadis itu adalah gadis yang menolong mama Ina. Maka, setelah temannya berpamitan pulang terlebih dahulu kepada mama Ina, lalu mama Ina menghampiri gadis itu, walau muka dari gadis penolongnya waktu mama Ina tidak tau karena memakai masker namun mama Ina sangat hapal dengan dengan kalung itu.
Dengan tersenyum mama Ina menghampiri gadis itu dan menyapanya.
"permisi, kamu Muti ya?". sapa mama Ina kepada gadis itu
"iya saya Muti, tante siapa ya? kok kenal saya". heran gadis itu.
"saya Ina Rahardian, kamu lupa ya sama tante? waktu itu kamu pernah nolongin tante dari copet". jelas mama Ina
"tunggu, tunggu dulu, ini ibu Ina Rahardian istri dari pak Rahardian yang punya perusahaan ya? soalnya suami saya bekerja di perusahaan Rahardian". sela wanita paruh baya itu yang tak lain adalah ibu dari gadis itu
__ADS_1
"iya ibu benar, nama ibu siapa ya?". tanya mama Ina
"Nama saya Dewi, maminya dari gadis yang nolong ibu". perkenalan maminya Ayu
"wah, hebat kamu sayang bisa menolong istri dari pak Rahardian bos papi kamu". puji mami sang gadis
"apa sih mami, biasa aja Ayu nggak sehebat yang mami bayangkan kali, kan kalo tolong menolong mah itu sudah kewajiban sesama manusia". ucap gadis itu
"kok nama kamu Ayu sih? kan tadi kata kamu bener nama kamu Muti". heran mama Ina.
"iya tante nama saya Muti Ayu Prameswari, biasa dipanggil Ayu sama orang-orang terdekat aku". jelas gadis yang bernama Ayu itu
"oya saya mau ngasih sesuatu nih buat kamu, karena udah nolongin saya waktu itu".ujar mama Ina
"eh nggak usah tante". tolak Ayu
"ibu Rahardian mau balas budi kebaikan anak saya? wah bagus tuh, gimana kalo jadikan Ayu sebagai mantu ibu Rahardian, kalo nggak ada anak saya yang nolong ibu waktu itu, pasti ibu udah di celakain juga loh sama penjahat itu". selak mami Dewi maminya Muti Ayu membuat mama Ina terkejut karena permintaan maminya dari gadis yang menolongnya.
"tapi bu, maaf anak saya sudah punya kekasihz bisa dengan cara lain nggak? bisa dengan uang atau perhiasan saja?". saran mama Ina
"wah nggak bisa bu, saya cuma mau anak saya jadi mantu ibu aja udah cukup kok, anak ibu juga nggak bakal nyesel deh kenalan sama Ayu, toh liat anak saya cantik dan modis jadi cocok lah buat jadi mantu keluarga Rahardian". ucap mami Dewi.
"tapi anak saya pasti menolak bu, soalnya dua sudah punya kekasih". jelas mama Ina
"ya, bu Rahardian bujuk lah sampai mau". kekeh mami Dewi
__ADS_1
"mami, udah lah kenapa maksa gitu sih, maafin mami saya ya tante". ujar Ayu
"ya nggak apa-apa kok Ayu, yaudah nanti saya tanya kan dulu ya ke anak saya". ucap mama Ina
"pokoknya harus mau nikahin Ayu, paling lama saya kasih kesempatan satu tahun untuk anak bu Rahardian dengan anak saya Ayu untuk saling kenal, habis satu tahun itu anak bu Rahardian harus nikahin Ayu anak saya sebagai balas budi karena anak saya sudah nolongin bu Rahardian". putus mami Dewi
"iya sudah saya pamit dulu ya kalo begitu nggak enak sama pak supir sudah nungguin di depan".pamit mama Ina lalu meninggalkan Ayu dan maminya dengan perasaan gundah, karena harus memisahkan anaknya dengan kekasihnya namun mama Ina juga mau membalas budi kepada gadis yang ia anggap sebagai penolongnya karena kalung yang di gunakan gadis itu.
Setelah mama Ina pergi dari cafe itu, Ayu segera protes kepada sang mami.
"mami apa-apaan sih main jodohin aku aja sama anak tante Ina, dan padahal aku sama sekali nggak kenal tante Ina dan nggak pernah nolong tante Ina dan ini mami mau jodohin aja aku sama anaknya". gerutu Ayu
"lah kamu, nggak pernah nolongin bu Rahardian?". dan pertanyaan mami Dewi di angguki oleh Ayu
"ya udah nggak apa-apa anggap aja rejeki kamu, bisa jadi mantu orang kaya kapan lagi coba kamu bisa jadi istri dari pengusaha, soalnya kan nanti itu perusahaan bakal jatuh ke anaknya jadi kamu bakal hidup bahagia dan banyak uang kalo nikah sama anaknya bu Rahardian, udah ikutin aja kemauan mami jangan nolak". putus mami Dewi tak mau di bantah dan Ayu hanya pasrah
flashback off
"gitu pah jadi maminya Ayu minta anaknya nikah sama Fajar anak kita". ujar mama Ina setelah selesai menceritakan kejadian di cafe tadi
"tapi papa tetap nggak setuju, mah. Kasian Fajar dan Ara kalo mereka harus putus karena permintaan konyol mereka cuma gara-gara balas budi harus sampe ngorbanin kebahagian anak kita.
"tapi pah, Ayu anaknya cantik kok, nanti setahun ini mereka pendekatan dulu aja biar saling kenal dan selama setahun biar Fajar belajar ngelupain Ara, mama juga sebenarnya nggak mau jodohin Fajar tapi gimana dong pah, mama kan punya hutang budi sama Ayu kalo nggak ada Ayu saat itu yang berani nolongin mama pasti mama bisa kenapa-kenapa lagi". jelas mama Ina
"terserah mama lah, yang jelas papa nggak pernah setuju dengan keputusan mama yang ini ya, yang mau nikahin Fajar dengan gadis yang nggak Fajar cinta, dan kalo sampai mereka nikah dan Fajar nggak bahagia itu berarti salah mama, soalnya papa udah bilangin ke mama kalo papa nggak setuju buat jodohin Fajar dengan gadis yang namanya Muti Ayu itu".putus papa Rahardian lalu mematikan laptopnya dan beranjak ke kasur untuk tidur lebih dulu
__ADS_1
"Fajar pasti bisa bahagia kok lama-lama kalo udah kenal sama Ayu dan mama yakin itu". ucap mama Ina lalu ikut berbaring di samping papa Rahardian yang sudah memejamkan matanya tak ingin mendengar kemauan sang istri dengan mengorbankan kebahagiaan anaknya.