Ternyata Suamiku Mendua

Ternyata Suamiku Mendua
saran papa Rahardian


__ADS_3

Setelah sebulan tidak menemui Mutiara kini Fajar akhirnya memutuskan untuk menemui Mutiara, namun sebelum menemui Mutiara, Fajar akan mampir ke kantor terlebih dahulu untuk menemui papa Rahardian meminta solusi dari permasalahan yang Fajar hadapi saat ini.


Kini Fajar telah sampai di lobby perusahaan milik papa Rahardian, para karyawan menyapa anak bos mereka sekaligus penerus perusahaan Rahardian kelak.


Dengan ramah Fajar membalas sapaan para pegawai dengan senyum ramahnya, karena papa Rahardian selalu mengajarkan agar tak pernah sombong dengan para karyawan karena tanpa bantuan dan dedikasi mereka tak mungkin perusahaan Rahardian dapat berkembang seperti saat ini.


Di depan ruangan papa Rahardian, Fajar mengetuk terlebih dahulu pintu ruangan papa Rahardian.


tok


tok


tok


"ya, silakan masuk". ujar papa Rahardian dari dalam ruangan.


"maaf pa, aku ganggu nggak?". ujar Fajar sambil berjalan menghampiri papa Rahardian lalu menyalimi tangan papa Rahardian

__ADS_1


"nggak kok, tumben kamu kesini jam segini, emang kamu nggak kuliah?". tanya papa Rahardian lalu menyuruh Fajar untuk duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu.


"dosennya lagi nggak ada pa, aku kesini mau minta pendapat papa, aku ada masalah". seru Fajar lalu menceritakan permasalahannya yang mana mama Ina ingin Fajar menikahi wanita yang katanya telah menolong mama Ina dari pencopetan waktu itu.


"iya, papa sudah tau hal itu, mama kamu sudah cerita sama papa, papa juga sebenarnya tidak setuju dengan keputusan mama kamu, karena papa mau kamu menjalani rumah tangga itu sesuai dengan pilihan kamu sendiri karena yang menjalani rumah tangga ini adalah kamu bukan mama atau papa, dan entah kenapa papa ngerasa aneh dengan wanita yang menolong mama, kenapa kalau dia ikhlas menolong mama harus minta kamu nikahin wanita itu, itu sama saja kalo dia tidak ikhlas menolongnya, dan sekarang papa serahkan semua keputusan sama kamu, karena papa hanya ingin kebahagian kamu, kalau kamu memang sudah serius dengan Ara ya coba kamu lamar dia". ucap papa Rahardian memberikan pendapatnya.


"aku serius dengan Mutiara karena cuma dia yang benar-benar liat aku sebagai diri aku sendiri bukan sebagai anak dari Rahardian. Mutiara juga tak pernah meminta sesuatu hal yang aneh-aneh sama aku dan dia mampu menjadi teman sekaligus pendamping aku yang tak pernah protes dengan segala kesibukan aku yang entah dengan sahabat aku atau dengan perkuliahan dan pekerjaan. Mutiara selalu sabar dan tak pernah berfikir negatif itu yang aku suka dari Mutiara. Makanya aku ijin sama papa ya aku mau ngelamar Mutiara saat ke Jogya nanti, tapi soal mama gimana pa?". ucap Fajar kembali lesu setelah mengingat permintaan mamanya


"ya sudah kamu lamar saja Ara, nanti untuk lamaran resmi dan nikahan biar papa saja yang datang nanti mama akan papa ungsikan dulu kemana saja lah nanti, dan kalau mama mu tau kamu menikah dengan Ara tanpa sepengetahuan mama biar papa yang menjelaskannya, kamu tenang saja ya, papa ada untuk kamu dan adik-adik kamu, papa akan mendukung kalian selama itu baik dan bisa membuat kalian bahagia". ucap papa Rahardian sambil menepuk pundak Fajar sebagai tanda memberikan dukungannya.


Lalu papa Rahardian berjalan ke arah meja kerjanya dan mengambil sesuatu dari dalam laci meja kerjanya.


"apaan ini, pa?". tanya Fajar sambil membuka kotak itu


"itu satu set perhiasan dari almarhum nenek kamu, dulu saat papa akan menikah dengan mama kamu, nenek memberikan papa dua kotak, yang satu untuk mama kamu dan satu lagi untuk istri dari cucunya kelak, sebagai bentuk nenek kamu ikhlas cucunya bersanding dengan siapa saja tanpa harus melihat status sosial yang penting bagi nenek calon cucu mantunya nanti hari memiliki sikap dan sifat yang berbudi pekerti mulia. Awalnya nenek kamu bilang kalau nenek kamu masih hidup maka nenek kamu sendiri yang akan memberikan perhiasan ini untuk cucu mantunya, tapi nenek minta tetap papa yang menyimpan kotak ini karena takut kalau nenek kamu telah tiada sebelum kamu nanti menikah, nah karena kamu akan menikah dan papa yakin bahwa Ara adalah wanita yang terbaik buat kamu maka papa serahkan kotak ini ke kamu untuk kamu berikan ke Ara nanti". jelas papa Rahardian


"Aku jadi rindu dengan nenek, nggak kerasa udah lima tahun ya, pah. nenek ninggalin kita semua, nenek itu wanita yang baik dan tangguh tak pernah mengeluh makanya saat nenek meninggal kakek sangat sedih sekali sampai mutusin tinggal sama paman Rusdian di Bogor setelah empat puluh hari kepergian almarhum nenek". kenang Fajar atas neneknya yang telah meninggal.

__ADS_1


Puas telah bercerita dengan papa Rahardian dan mendapatkan restu untuk menikahi Mutiara, kini Fajar berniat untuk menemui Mutiara di kampusnya sekaligus memberikan kejutan untuk kekasih yang telah Fajar rindukan karena selama sebulan tak Fajar temui.


Mobil Fajar sudah terparkir rapih di area parkir kampus Mutiara. Dengan semangat Fajar berjalan menuju kelas Mutiara untuk memberikan kejutan kepada Mutiara saat keluar kelas nanti.


Menunggu kurang lebih lima belas menit akhirnya kelas Mutiara telah berakhir, dosen serta teman-teman Mutiara sudah mulai keluar dari dalam kelas. Namun, Mutiara dan genk cecurutnya belum keluar kelas.


"haduh gile bener dah ah nih tugas banyak banget buat mengisi liburan kita kata tuh dosen". dumel Nila dari dalam kelas yang masih terdengar oleh Fajar


"iya ni, padahal kan liburan mau jalan-jalan ya, mana di kasih tugas bejibun lagi". Irfan ikutan protes


"emang kita jadi liburan ya? soalnya Pipit udah lama nggak liat Fajar lagi". ucap polos Pipit yang membuat Mutiara agak sendu namun kembali tersenyum ke arah sahabat-sahabatnya.


"jadi dong, ya mungkin Fajar sibuk sekarang supaya nanti saat jalan-jalan nggak diganggu sama pekerjaan kantor". ucap Mutiara yang masih saja berfikir positif kepada Fajar yang memang susah untuk dihubungi.


"iya marmut, pasti Fajar sibuk kuliah dan kerja makanya dia belum sempet nemuin marmut, udah yuk kita kantin or cafe, mumpung jadwal kuliah udah kelas selesai". ujar Irfan lalu merangkul pundak Mutiara sedangkan di belakangnya ada Pipit dan Nila dan mereka berempat berjalan menuju pintu.


Saat sampai di depan pintu kelasnya Mutiara dibuat mematung karena melihat ada sosok lelaki yang selama sebulan ini tidak Mutiara temui karena kesibukan sang kekasih hati.

__ADS_1


Dengan mata yang berkaca-kaca karena dapat melihat wajah kekasihnya secara langsung saat ini, Mutiara terus berjalan kearah Fajar sambil mencoba menahan tangis kerinduan yang selama ini dia pendam.


__ADS_2