Ternyata Suamiku Mendua

Ternyata Suamiku Mendua
rindu


__ADS_3

Hari weekend tiba, waktunya Mutiara untuk menghabiskan waktu dengan sang ibu di pagi hari sebelum di siang hari Mutiara akan berkunjung ke cafe JONES bersama sahabat cecurutnya, karena mereka berempat memang sepakat setiap ada waktu terutama saat weekend maka mereka akan berkunjung ke cafe JONES untuk mengecek kondisi cafe sekaligus membantu pegawai cafe karena setiap weekend cafe JONES selalu ramai pengunjung.


Pagi ini Mutiara telah selesai menyiapkan sarapan untuk dirinya dan sang ibunda tercinta, tak lupa Mutiara juga sudah selesai merapihkan rumahnya, agar ibunya tak perlu lagi merapihkan rumah, karena bagi Mutiara cukup ibunya selama lima hari sibuk bekerja untuk biaya kehidupan mereka sehari-hari jadi untuk urusan memasak dan merapihkan rumah biarlah menjadi tugas Mutiara.


Ibu Tia sudah menghampiri Mutiara yang sedang menyiapkan makanan di meja makan sambil terus bersenandung. Ibu Tia terus saja memperhatikan anaknya sambil tersenyum namun tersirat dalam hatinya betapa sedih dan rindunya ibu Tia kepada ayah kandung dari Tia, lelaki yang menjadi cinta pertama dan cinta terakhir untuk ibu Tia, karena semenjak usia Mutiara tiga tahun saat ibu Tia meninggalkan suaminya atas permintaan sang ibu mertua yang tidak merestui hubungannya dengan suaminya itu dan hingga sampai Mutiara sudah tumbuh menjadi gadis dewasa seperti ini, ibu Tia terus saja masih mencintai ayah kandung Mutiara itu.


Ibu Tia hanya mampu mencintai dalam do'a saja, karena bagi ibu Tia mungkin saat ini ayahnya Mutiara sudah bahagia dengan keluarga barunya yang disukai dan direstui oleh mertuanya itu. Setetes air mata jatuh di ujung kelopak matanya namun buru-buru ibu Tia menghapusnya agar Mutiara tak melihat kesedihannya, karena cukuplah ibu Tia saja yang harus sedih menahan semua ini sendiri tanpa harus anaknya ikut sedih juga.


Sudah cukup Mutiara sedih dan terus dibully oleh temannya karena tidak tinggal dengan ayah kandungnya, bahkan tak segan Mutiara dikatai bahwa Mutiara adalah anak haram atau anak yang tidak dianggap oleh ayahnya. Padahal ayahnya Mutiara dulu sangat menyayangi Mutiara bahkan selalu melimpahkan kasih sayang dan perhatiannya kepada Mutiara kecil, namun takdirlah yang membuat ibu Tia memutuskan untuk meninggalkan ayah Ramadhan untuk kebahagian ayah Ramadhan.


"mas Ramadhan aku rindu sama mas, mas pasti sudah memiliki keluarga baru lagi ya, aku akan terus mendo'akan mu mas agar terus bahagia, biarlah aku yang berkorban untuk kebahagian kamu, dan biarlah aku dan Mutiara disini berjuang untuk mencari kebahagian walau terasa kurang karena tanpa mu, mas anakmu sudah tumbuh menjadi anak yang cantik dan pintar".batin ibu Tia sambil merindukan ayah Ramadhan


Dengan berusaha tersenyum manis ibu Tia berjalan menghampiri Mutiara yang masih saja bersenandung dengan suara merdunya.


"pagi anak ibu". sapa ibu Tia sambil memberi kecupan di kening Mutiara


"pagi juga ibuku yang cantik". jawab Mutiara sambil mencium pipi ibunya


"masak apa sayang? wangi sekali masakan anak ibu, tambah pinter nih masaknya". puji ibu Tia


"ah ibu bisa aja, aku masak ayam rica-rica , tumis kangkung dan bakwan jagung nih semoga ibu suka ya".terang Mutiara sambil tersenyum

__ADS_1


"wah tentu ibu selalu suka dong dengan masakan anak ibu yang paling cantik ini, masakan ibu saja sepertinya kalah enak dengan masakan kamu, apalagi semenjak kamu sudah SMA, ibu sudah tidak kamu ijinin memasak lagi, bikin ibu nggak yakin apa ibu masih inget cara buat masak, bisa jadi ibu juga sudah lupa dengan nama-nama bumbu dapur". gurau ibu Tia


"ish ibu bisa saja masa sampai segitunya sih, mentang-mentang sudah lama tidak masak bisa lupa dengan nama-nama bumbu dapur". ucap Mutiara


"iya udah ah kita makan yuk bu, ibu pasti laperkan". sambung Mutiara sambil mulai menyendoki makanan ke piring ibu Tia


"makasih nak". ucap ibu Tia sambil menerima piring nasinya dan diangguki oleh Mutiara


Mereka makan dengan tenang, selesai makan ibu Tia membersihkan piring kotornya, walau Mutiara melarangnya tapi ibu Tia tetap memaksa.


Selesai mencuci piring ibu Tia mengajak Mutiara untuk berbincang-bincang terlebih dahulu sebelum nanti Mutiara berangkat ke cafe JONES.


"kamu nanti ke cafe jam berapa nak? ibu boleh numpang ikut?".tanya ibu Tia


"ibu tidak cape nak, malah ibu bosan kalo di rumah sendiri terus, lagian hari ini ibu mau ngadain arisan di cafe bareng sama ibunya Irfan, Pipit dan Nila".terang ibu Tia


"wah, tumben sekali biasanya mengadakan arisannya di rumah, kok sekarang jadi di cafe". heran Mutiara


"ya nak, kami memutuskan untuk mengganti suasana bosan juga kalo acaranya di rumah terus". terang ibu Tia


"oh gitu, ya udah nanti kita bareng aja bu, tapi nanti ibu pulangnya gimana?". tanya Mutiara

__ADS_1


"udah pulangnya mah gampang nak bisa nebeng dengan yang lain atau naik taksi". ucap ibu Tia


"tumben nak, si Fajar tidak kesini?". tanya ibu Tia


"nggak tau bu, aku belum buka handphone, jadi belum tanya Fajar". ucap Mutiara


"oh gitu, ibu kangen nih sama si kembar, sudah lama tidak nginap disini". ucap ibu Tia merindukan Dea dan Gea


"iya, mereka katanya sedang banyak tugas jadi belum sempat kemari bu, nanti aku sampaikan deh kalo ibu rindu mereka". ucap Mutiara


"nak, orang tua Fajar merestuikan hubungan kalian?". tanya ibu Tia


"kalo kata Fajar sih mereka merestui bu, tapi memang aku saja yang tidak berani untuk bertemu dulu, karena merasa minder, mungkin nanti kalo sudah berani aku baru mau diajak berkunjung ke rumah Fajar". ucap Mutiara sambil tersenyum


"alhamdulillah nak kalo mereka merestui, ingat restu orang tua itu penting nak, lebih baik kita merasakan patah hati dari pada berhubungan tanpa restu orang tua, ibu nggak mau kamu seperti ibu, yang tetap menuruti kemauan ayah kamu, hidup berumah tangga tanpa restu karena tidak akan baik kedepannya". nasihat ibu Tia sambil mengelus kepala Mutiara yang sedang tiduran di atas pangkuan ibu Tia


"iya ibu, aku juga ingin seperti itu, hanya akan menikah dengan restu orang tua". ucap Mutiara


"maafkan ibu ya sayang karena ibu kamu jadi harus kehilangan kasih sayang dari ayah kamu, tapi kamu tau kan kalo sebenarnya ibu tak ingin seperti ini dan ayah kamu juga sebenarnya sangat menyayangi kamu, tapi apa daya nak, kondisi yang membuat ibu harus membawa kamu jauh dari ayah kamu". sesal ibu Tia


"nggak apa-apa ibu, Muti paham kok, jadi jangan sedih lagi ya bu". ucap Mutiara sambil menggenggam tangan ibu yang rela membesarkannya sendirian

__ADS_1


"udah ah jangan bahas itu lagi ya, kita harus tetap semangat ya, kita bisa kok hanya berdua saja, apalagi dengan semua kasih sayang yang ibu kasih ke aku, itu sudah lebih dari cukup buat aku bu". ucap Mutiara kembali


Dan mereka memutuskan untuk membahas yang lain, Mutiara menceritakan tentang kuliahnya kepada sang ibu tercinta


__ADS_2