
Makan siang yang penuh canda tawa dari keempat cecurut itu tanpa peduli dengan orang-orang yang memperhatikan kehebohan mereka berempat.
Tak berselang lama datang lah Fajar dengan membawakan sebuket bunga mawar putih kesukaan Mutiara. Dengan gagahnya Fajar berjalan menuju meja tempat sang kekasih sedang makan siang bersama sahabatnya.
Banyak mata yang melihat Fajar terutama para gadis karena Fajar yang memiliki tubuh yang proposional dan wajah yang tampan, membuat para wanita langsung terpana. Tapi Fajar tak menghiraukan tatapan para wanita itu, Fajar hanya Fokus ke arah Mutiara yang masih asyik bersenda gurau dengan sahabatnya dan tak menyadari kedatangan Fajar yang kini sudah berada di belakang Mutiara.
Fajar pun memberi kode ke Nila dan Irfan untuk tidak memberitahu Muti kalau Fajar telah sampai.
"Marmut, kok Fajar lama banget sih". ucap Irfan pura-pura menanyakan Fajar.
" iya, mungkin macet kali, tapi aku kaya nyium bau parfum punya Fajar deh". ucap Muti sambil mengendus-ngendus mencari aroma parfum itu.
"sok tau kamu Mut, emang Fajar doang yang punya parfum itu". timpal Nila
"iya sih, tapi jarang loh yang pake parfum kaya Fajar, karena selama ini aku baru nemu satu doang yang parfumnya kaya Fajar". ucap Muti sambil masih mengendus dan menengok kanan dan kiri padahal Fajar saat ini sedang berjongkok di belakang kursi Mutiara.
"udah lah Mut, jangan ngendus mulu udah kaya guk guk tau ". ucap Pipit
"ya Mut, mungkin Fajar nggak jadi kesini kali, atau jangan-jangan Fajar punya cewek laen lagi". ledek Irfan
"ya nggak mungkin dong Ipan, Fajar tuh tipe setia". bela Mut
"Misalnya nih ya, kalo Fajar ngedua gimana?". tanya Nila
Mutiara langsung terdiam, dan berfikir untuk menjawab pertanyaan Nila.
"iya, jika memang Fajar mendua ya aku akan mundur dan pergi jauh dari Fajar, karena aku nggak akan pertahanin sesuatu yang memang nggak layak buat aku pertahanin". jawab Muti
Tak lama kemudian ada buket bunga didepan wajah Mutiara, dan membuat Mutiara terkejut dan menengok ternyata sudah ada Fajar dibelakangnya.
__ADS_1
"kamu nggak akan pernah ninggalin aku, karena aku nggak akan ngeduain kamu,aku janji sama kamu". ucap Fajar dengan serius.
"jangan janji tapi bukti kan". jawab Mutiara dan semua setuju dengan ucapan Muti.
"aku akan buktikan sayang". ucap Fajar sambil mengelus kepala Muti
"udah ah jadi serius gini, lu udah makan Jar?" tanya Irfan mencairkan suasana
"belum nih, ini mau ikutan pesen makanan kalian nggak apa-apa nunggu gue makan".ucap Fajar dan diangguki semuanya.
Setelah Fajar menyelesaikan makannya, Muti langsung memberikan kue hasil karyanya hari ini.
"sayang, nih buat kamu ini aku bikin sendiri". ucap Muti sambil memberikan kotak kue itu
"wah maksih sayang, tadi kamu jadi ya lomba praktek bikin kuenya?". tanya Fajar
"iya jadi, makanya sekalian aja aku buatin buat kamu, semoga kamu suka ya". ucap Muti
"boleh-boleh, semoga mereka suka ya". ucap Mutiara
"sekali lagi makasih sayang". ucap Fajar sambil mengusap kepala Muti dan Muti membalas dengan tersenyum manis.
" duh, romantis banget sih". ucap Pipit sambil menopang dagunya dengan telapak tangan
"woy, kasihanilah kami yang Jones ini". celetuk Nila
" ya si marmut sama Fajar mah kalo udah deket kaya dunia milik berdua doank, yang lain cuma kaya bayangan aja". ledek Irfan
" lah para jomblo pada ngiri sayang". ucap Fajar kepada Muti
__ADS_1
" ya, kasian banget sih tiga cecurut ini padahal Muti sama Fajar nggak ngapa-ngapin tapi kalian udah ngenes, apalagi kalo Muti sama Fajar pegangan tangan kalian yang ada bisa nangis darah kali". ledek Muti
"nggak gitu juga kali marmut". serempak tiga cecurut itu dan membuat Mutiara dan Fajar tertawa
Tiga Jones dan sepasang kekasih itu memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Mutiara yang bersama dengan Fajar menggunakan mobil Fajar, sedangkan ketiga cecurut itu menggunakan mobil Irfan.
Disepanjang jalan Fajar dan Mutiara saling bertukar cerita dan Fajar terus menggenggam tangan Mutiara. Fajar sangat mencintai Mutiara karena selain Fajar dan Mutiara sama-sama first love, mereka juga sudah saling paham satu sama lain. Bahkan selama tiga tahun berpacaran mereka tak pernah terjadi pertengkaran yang besar. Karena mereka selalu meminta maaf jika melakukan kesalahan dan selalu terbuka satu sama lain.
Beberapa menit menempuh hiruk pikuk kemacetan di jalan raya, akhirnya, mereka sampai di kediaman Mutiara.Mutiara menawarkan untuk Fajar mampir dan mengistirahatkan tubuhnya sejenak sebelum Fajar pulang ke rumahnya.
Di rumah Muti memang sepi karena ibu Tia sedang bekerja, di rumah itu Muti hanya tinggal berdua dengan ibunya.
" nih tehnya, maaf ya nggak bisa nyediain apa-apa karena belum belanja". ucap Muti
"ya nggak apa-apa sayang, lagian kamu pake repot segala sih". ucap Fajar
"sayang aku boleh tanya?". sambung Fajar setelah meminum sedikit tehnya
"nanya apa? tanya aja". ucap Muti
" em maaf ya kalo bakal nyakitin kamu, aku mau tanya kamu siap nikah tidak sama aku? kalo siap kamu tau tidak alamat ayah kamu? aku mau minta restu". terang Fajar secara perlahan
"aku siap aja nikah sama kamu, apalagi kita sudah lama berhubungan, aku sudah nyaman sama kamu, dan untuk alamat ayah aku nggak ingat sama sekali, yang aku ingat dan miliki dari ayah ya cuma kalung ini, bertuliskan Muti dan tanda titik di atas huruf i itu adalah sebuah Mutiara, yang artinya kalung ini melambangkan nama aku, dan di belakang tulisan M ada ukiran nama Mutiara". jelas Mutiara.
"jadi, coba kamu tanya langsung sama ibu aku, kali aja ibu masih hapal alamat rumah ayah, karena memang selama kami menjauh dari ayah saat usia aku tiga tahun, ya sejak saat itu sampai saat ini aku belum pernah bertemu sama ayah aku". ucap Mutiara dengan sedikit menyunggingkan senyum berusaha untuk selalu ikhlas dengan nasibnya
"jangan sedih sayang, aku minta maaf, dan nanti biar aku tanya sama ibu kamu aja y". ucap Fajar sambil mengelus tangan Muti yang berada digenggamannya
"aku beneran mau nikah sama kamu, jadi aku akan berusaha nyari ayah kamu dulu, baru kalo tidak ketemu aku akan meminta kamu menggunakan wali hakim, karena aku sayang sama kamu, jadi aku mau kamu bisa merasakan menikah di walikan sama ayah kandung kamu sendiri". jelas Fajar.
__ADS_1
" iya aku ngerti kok, makasih ya, kamu udah tulus sayang sama aku yang nggak ada apa-apanya dibanding kamu dan keluarga kamu. Aku harap keluarga kamu bisa menerima aku yang penuh kekurangan ini ya". ucap Muti
Mereka berdua mulai mengalihkan obrolan agar tidak membahas tentang ayahnya Muti yang selalu Muti rindukan hingga saat ini. Canda tawa menghiasi sesi kencan mereka berdua.