
Wangi sedapnya bumbu-bumbu dapur yang bercampur menjadi satu, menjadikan bahan utama untuk membuat sebuah olahan daging sapi menjadi nikmat, aroma nikmat itu berasal dari dapur di kediaman gadis cantik yang bernama Mutiara.
Setiap pagi Mutiara yang bertugas memasak untuk Mutiara dan ibunya makan sehari-hari. Karena Mutiara tidak tega melihat ibunya yang sudah lelah bekerja di kantor dan harus lelah juga dengan memasak , jadi Mutiara setelah bisa memasak dia lah yang bertugas memasak menggantikan ibunya. Walaupun ibunya tak pernah keberatan untuk memasak tapi Mutiara tetap melarangnya. Mutiara hanya mengijinkan ibunya hanya masak saat libur kerja saja.
Daging sapi diolah menjadi daging rendang, dan ada pula tumis kangkung serta tempe dan tahu goreng sudah tersedia di meja makan dan siap untuk di santap oleh Mutiara dan ibunya sebelum mereka memulai aktifitas mereka masing-masing.
"pagi sayangnya ibu, wangi sekali masakannya pasti enak nih seperti biasanya". sapa ibu Tia ibunya Mutiara
"pagi ibu, wah ibu selalu cantik nih, pantesan Muti bisa cantik ternyata cantiknya turun dari ibu, Muti udah masakin semua ini buat ibu, ayo kita sarapan". ajak Muti sambil menggandeng ibunya untuk duduk di bangku.
"anak ibu sudah pintar merayu ibu ya, bilang ibu cantik segala padahal sudah tua, sudah mau kepala empat loh umur ibu". timpal ibu Tia
"ah, masa sih ibu udah mau kepala empat?orang wajah ibu saja seperti gadis usia dua puluh lima tahun, masih segar tidak ada keriputnya, bahkan kalo kita jalan berdua orang lain mengira kita itu adik dan kakak". ucap Muti dengan cengiran
" bisa saja kamu nak, kaya ibu harus memberikan kamu hadiah nih, karena sudah memuji ibu". ucap ibu Tia dengan menarik pelan pipi Muti.
" aku nggak butuh hadiah kok, cukup ibu selalu nemenin aku dan ibu sehat selalu itu udah jadi hadiah terbesar dalam hidup aku". ucap Muti sambil memeluk ibu Tia dari samping.
"do'a kan ibu ya, semoga selalu sehat dan bisa selalu ada buat kamu, kamu itu peri kecil ibu yang selalu mewarnai hidup ibu". ucap ibu Tia sambil mengelus kepala Muti yang berada dibahu sang ibu
"selalu, aku selalu berdo'a untuk ibu dan ayah, walaupun ayah nggak tau keberadaan kita, tapi aku juga selalu do'ain, karena aku tau tanpa kalian aku tak mungkin lahir ke dunia ini, dan aku juga tau semua ini bukan keinginan ayah dan ibu untuk berpisah. Muti harap kalian selalu bahagia walau tak bersama". ucap Muti dengan mencoba senyum karena Muti rindu sosok ayahnya.
"iya sayang, maafkan ibu ya karena keadaan yang membuat ibu harus membawa kamu jauh dari ayah mu". ucap ibu sambil menghapus air mata yang menetes agar Muti tidak melihatnya menangis.
"udah ah jadi sedih kan, kita nggak boleh sedih harus tetap semangat biar tetap cantik, kalo sedih nanti cepet tua". gurau Muti dan ibu hanya tersenyum
__ADS_1
Muti mulai menyendokan makanan untuk sang ibu tercinta. Setelahnya Muti menyendok makanan untuk dirinya sendiri.
"Mas Ramadhan, anak kita sudah besar dan cantik, apa kamu disana sehat? apa kamu sudah menikah lagi?semoga kamu selalu bahagia ya mas, makasih sudah memberikan ku anak yang cantik dan baik seperti Muti". batin ibu Tia
Saat Muti dan ibu Tia sedang asyik menyantap sarapannya, terdengar dari luar suara rusuh dari ketiga cecurut kesayangan Mutiara.
"assalammualaikum Mutmut orang cantik datang" ucap Pipit dan Nila bersamaan
"woy berisik banget dah ah, nih kaya gua kalo bertamu, assalammualaikum marmut abang ipan datang nih" ucap Irfan dengan suara yang dibuat sok cool
" ya elah gegayaan banget dah ah si pan tat enye pake suaranya dibikin sok cool". ledek Pipit
"iya nih, suaranya biasanya juga kaya suara panci punya ema gue sember dan cempreng kalo pas dipukul. eh ini gegayaan pake suara sok cool". timpal Nila
" wah si burung pipit sama kuda Nil rese nih ngeledekin gue, awas ya lu, nggak gue ajak bareng ngampusnya biar gue pergi bareng sama marmut aja". ancam Irfan
"iya Ipan udah ya ngambeknya nggak asyik kalo ngambek mending kita masuk ke dalam kali aja ada makan yang bisa di makan, gue laper lagi nih". ajak Nila sambil menarik tangan Irfan
"emang kamu belum sarapan Nil?". tanya Pipit
"udah tadi di rumah tapi cuma pake lontong sayur, belum kena nasi jadi masih laper nih". terang Nila
"etdah nih bocah satu, beneran deh udah kaya kuda Nil makan makan mulu kerjaannya, tapi anehnya badannya nggak gendut-gendut". timpal Irfan
"kamu tau sendiri Pan, nih si Nila kan badannya cacingan makannya nggak gampang gemuk walau makan banyak". ucap Pipit
__ADS_1
Setelah mereka bertiga sampai di meja makan, mereka langsung menyalimi ibu Tia, Mutiara dan ibu Tia tidak memang sengaja tidak membukakan pintu untuk mereka bertiga, karena sudah biasa mereka bertiga akan masuk ke rumah Mutiara dengan sendirinya tanpa adanya penyambutan.
"wah, ada daging rendang, tumis kangkung dan tempe goreng, itu semua makanan kesukaan Nila, Nila boleh ikut makan bu?". tanya Nila dengan mata berbinar kepada ibu Tia.
"boleh dong Nila, sini makan bareng, Pipit sama Irfan juga ayo makan bareng, nggak usah malu-malu". ucap ibu Tia
Dengan semangat Nila langsung menyendok nasi, sedangkan yang lain hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Nila yang nggak bisa anggun kalau sudah bertemu makanan.
"kamu emang belum sarapan Nil?" tanya Mutiara tapi yang ditanya sedang asyik dengan makanannya
"kamu kaya nggak tau Nila aja Mut". timpal Pipit
"iya marmut nih kamu kan tau dari dulu kalo si kuda Nil ini nggak bisa liat makanan dikit itu bawaan laper aja kaya orang belum makan setahun". ledek Irfan
" iya kan gue emang belum makan nasi, gue baru makan pake lontong sayur doang tadi, kan gue orang indonesia, kalo makan belum pake nasi ya itu namanya belum makan dan belum kenyang pula". terang Nila setelah berhasil menelan makanannya
"kamu lucu Nil, ibu suka liat kamu makan, bikin ibu berasa kenyang". timpal ibu Tia
"wah, ibu ini muji apa ngeledek Nila ya? tapi tenang aja kalo ibu ngeledek Nila juga Nila nggak akan marah kok karena nila sayang sama ibu kaya Nila sayang sama bundanya Nila". ucap Nila
"iyalah kamu nggak marah sama ibu, orang kalo kamu marah takut nggak bakal dikasih makan gratis lagi kan di rumah ibu". ledek Irfan
"wah pinter banget emang nih pan tat panci, tau banget dah ah maksud gue yang sebenarnya". ucap Nila sambil memukul pelan bahu Irfan
Dan semuanya akhirnya tertawa bersama, mereka memang berempat selalu kompak dan tak pernah bertengkar karena mereka sama-sama tau jika semua itu hanya sebuah candaan saja, dan mereka tau bahwa mereka berempat itu saling menyayangi satu sama lain.
__ADS_1
Bahkan orang tua mereka juga sangat dekat dan mereka mempunyai grup wa bernama "biang cecurut"