
"Hae Ra!" Gumam Nyonya Rena menatap putrinya dengan tatapan sendu, wanita paruh baya itu sama sekali tak menyangka akan bertemu putri kandungnya itu di sebuah gang sempit perumahan. Dengan langkah berat Nyonya Rena menyeret kakinya untuk melangkah mendekati Hae Ra.
Disisi lain, Hae Ra yang sangat terkejut karena tak sengaja bertemu dengan sang ibu membuat tubuhnya membeku ditempat, selama ini, Hae Ra selalu menanamkan pada dirinya sendiri bahwa ia akan menumpahkan semua kebenciannya pada sang ibu yang selama ini telah meninggalkannya jika bertemu suatu saat nanti, namun sekarang yang terjadi justru kebalikannya kata-kata kebencian yang hendak di lontarkan Hae Ra tiba-tiba menghilang dari pikirannya, mulut gadis cantik itu klu tak dapat berkata apapun.
air mata tanpa terkontrol mulai mengalir membasahi pipinya, rupanya rasa rindu lebih mendominan dalam hatinya dari pada rasa bencinya.
Hae Ra tersenyum getir melihat penampakan sang ibu yang sangat elegan dan berkelas, tubuh ramping wanita paruh baya itu dibalut dress putih tulang pengeluaran terbaru Chanel di bulan february lalu, tangan kanan wanita paruh baya itu dengan nyaman menjinjing tas biru tua pengeluaran Dior, sementara kaki jenjangnya dibalut heels cantik dari Chanel, bahkan perhiasan yang menempel pada tubuh wanita paruh baya itu berkisaran milyaran rupiah, penampilannya sangat kontras dengan penampilan Hae Ra, yang hanya memngenakan jeans dan kaos oblong produksi pabrik lokal.
"Bagaimana kabar mu, Nak?" Tanya Nyonya Rena terbatah.
"Kabar ku sangat baik" Hae Ra menyahut hanya untuk menjaga tata krama yang diajarkan ayahnya saja.
Hae Ra membungku "Kalau begitu, permisi Nyonya" Ucap Hae Ra, namun sebelum melangkah pergi tangan Nyonya Rena dengan cepat mencekal pergelangan tangan Hae Ra, dengan tatapan bingung Hae Ra hanya diam memperhatikan gerak gerik dari sang ibu.
Nyonya Rena dengan cepat membuka tasnya, mengeluarkan dompet berwarna coklat, lalu mengambil beberapa lembar uang sebelum kemudian menyerahkannya kearah Hae Ra.
Hae Ra menyeringai, nampaknya niat baik sang ibu telah menyinggung perasaanya.
"Ambilah Nak" Ucap Nyonya Rena dengan wajah penuh senyuman.
Hae Ra dengan dingin menepis tangan sang ibu, mendapati itu Nyonya Rena langsung terkejut.
"Maaf, tapi saya bukan pengemis, Nyonya" Ucap Hae Ra, nada suaranya terdengar goya dan gemetar.
"Apa maksud mu, sayang?" Balas Nyonya Rena "Siapa yang mengatakan bahwa kau seorang pengemis, apakah apabila seorang ibu memberikan uang kepada anaknya, apakan anak itu langsung menjadi seorang pengemis?" Sambungnya "Aku ini ibu mu, Hae Ra kenapa kau memanggil ku Nyonya?"
"Maaf sebelumnya, tapi ibuku telah lama pergi" Ucapan dingin milik Hae Ra langsung menghujam jantung nyonya Rena.
"Seorang ibu tidak dapat disebut dengan panggilan ibu hanya karena dia melahirkan seorang anak, kodrat seorang ibu adalah wanita yang melahirkan seorang anak, membesarkan dan mendidik anaknya dengan penuh kasih sayang, lalu apakah pantas seorang wanita yang meninggalkan anaknya di saat anak itu masih membutuhkan kasih sayang layak di sebut dengan panggilan ibu?"
perkataan Hae Ra membuat Nyonya Rena langsung bungkam.
"Mama!" Panggilan seorang gadis mencuri perhatian Nyonya Rena dan juga Hae Ra.
Gadis cantik dengan rambut ikal terlihat berlari pelan menghampiri mereka, setibanya gadis itu di sana, dengan manja gadis berambut ikal itu langsung memeluk lengan Nyonya Rena, membuat Hae Ra langsung spontan menggumpalkan tanganya.
"Ada apa, Ma?" Tanya gadis itu sembari melihat keara Har Ra dan Nyonya Rena secara bergantian.
"Dia_"
"Kalau begitu terimakasih Nyonya atas bantuanya, permisi" Ucap Hae Ra sebelum kemudian beranjak pergi meninggalkan Nyonya Rena dan gadis berambut ikal itu.
"Siapa dia, Ma?" Tanya gadis berambut ikal itu setelah kepergian Hae Ra.
"Ah!, gadis itu tadi menanyakan alamat pada Mama" Jawab Nyonya Rena "Urusan mu sudah selsai?" Lanjutnya dengan sebuah pertanyaan.
Gadis berambut ikal itupun mengangguk "Ayo!, kita pulang" Ajaknya.
*********
Hae Ra mendudukan tubuhnya dengan lemas diatas tempat tidurnya, tanganya dengan cepat meraih bingkai foto lelaki paruh baya dengan wajah bersahaja tersemyum kearah kamera.
Hae Ra kembali membayangkan bagaiman gadis ikal yang di temuinya tadi dengan manja memeluk lengan sang ibu, hingga tanpa sadar air matanya jatuh begitu deras.
__ADS_1
"Aku merindukan mu, Ayah" Gumam Hae Ra lirih sembari memeluk bingkai foto sang ayah.
* 10 Tahun Yang Lalu *
Hae Ra yang kala itu berusia 15 tahun mendapati orang tuanya sedang bertengkar hebat. Beberapa bulan ini, Ayah dan Ibu Hae Ra selalu saja bertengkar padahal sebelumnya keluarga mereka adalah keluarga yang sangat harmonis, namun semua berubah sejak Ayah Hae Ra di PHK.
Sejak Ayah Hae Ra di PHK, Nyonya Rena menjadi rentan marah, hal itu yang mengakibatkan mereka selalu bertengkar.
"Aku sudah bilang pada mu, berusahalah cari kerja yang lain, jangan hanya diam di rumah tanpa adanya usaha" Teriak Nyonya Rena.
"Aku sudah berusaha, Rena. Aku sudah masukan lamaran pekerjaan ke beberapa perusahaan tapi belum ada panggilan" Balas Tuan Ramon.
"Lalu hanya karena belum ada panggilan bukan berarti kau bisa malas-malasan dirumah, coba pergilah keluar dan cari uang. Kau pikir kita makan tidak membutuhkan uang, lalu bagaiman dengan uang SPP Hae Ra bulan ini, bagaimana kau akan membayarnya" lagi-lagi Nyonya Rena berteriak meluapkan kekesalanya.
Karena tak tahan melihat pertengkaran orang tuanya Hae Ra pun berlari keluar rumah, meninggalkan rumah yang kini telah berubah menjadi neraka itu.
Hingga suatu malam, Hae Ra di kejutkan oleh kabar bahwa orang tuanya memilih untuk bercerai.
Pada saat itu Nyonya Rena telah berdiri dihadapan Hae Ra sembari memegang sebuah koper berwarna biru.
"Maafkan Mama, Hae Ra. Tapi Mama tidak sanggup lagi hidup bersama Ayah mu. Mama tak sanggup hidup serba kekurangan" Ucap Nyonya Rena.
Nyonya Rena meraih pergelangan tangan Hae Ra "Ayo!, ikut dengan Mama" Ajak Nyonya Rena.
Hae Ra terdiam sejenak, lalu tiba-tiba perhatianya di curi oleh sosok sang Ayah yang terduduk di kursi dengan kepala tertunduk dan air mata yang mengalir deras.
"Hae Ra, ingin bersama Ayah, Ma. Jika Mama dan Hae Ra pergi lalu bagaimana dengan Ayah?"
"Selama ini Ayah selalu melakukan yg terbaik untuk memenuhi kebutuhan kita, Ma. Hanya karena sekarang Ayah pengangguran bukan berarti kita berhak meninggalkan Ayah. Bukankah arti sebuah keluarga itu adalah kebersamaan disaat susah dan senang"
Nyonya Rena dengan spontan melepas pergelangan tangan milik Hae Ra "Baiklah kalau begitu, hiduplah dalam kesusahan bersama Ayah mu" Ucapnya kemudian berlalu pergi tanpa menoleh sedikitpun.
setelah kepergian sang ibu, Hae Ra menghampiri sang Ayah lalu memeluknya erat.
"Maafkan Ayah, Nak" Gumam Tuan Ramon lirih "Seharusnya kau ikut dengan Mama, Mu" Lanjutnya.
"Jika Aku pergi, Lalu bagaimana dengan Ayah" Balas Hae Ra.
Tuan Remon melepas pelukanya, kemudian menggenggam erat tangan sang anak "Ayah berjanji akan berusaha keras mencari pekerjaan dan membawa Mama mu kembali" Ucap Tuan Ramon yg langsung disambut dengan anggukan kepala antusias milik Hae Ra.
3 bulan lamanya Tuan Remon berusaha keras mencari pekerjaan, bahkan ia tak perna beristirahat, jika waktu pagi digunakanya untuk mencari pekerjaan yang lebih layak maka waktu siang hingga malamnya digunakan lelaki paruh baya itu untuk bekerja serabutan dipasar.
Hingga satu malam, Tuan Ramon mendapatkan sebuah pesan singkat dari perusahaan tempatnya mengirim lamaran bahwa ia diterima bekerja, membuat Tuan Remon dan Hae Ra bersorak bahagia.
Hae Ra dan Tuan Remon saling berpelukan melepaskan rasa kebahagian mereka.
"Apakah kita bisa menjemput Mama, sekarang?" Ucap Hae Ra yang langsung disambut dengan anggukan kepala percaya diri milik sang Ayah.
Satu minggu setelah mencari keberadaan sang ibu, akhirnya Hae Ra menemukan alamat tempat tinggal sang ibu yang baru.
langkah Hae Ra mencari alamat ibunya yang baru, membawa gadis cantik itu menuju sebuah rumah mega dan mewah.
Hae Ra membelalakan matanya tajam, begitu mengamati keadaan rumah bergaya Eropa classic itu. Dengan sedikit memberanikan diri Hae Ra memencet bel pintu rumah, lalu tiba-tiba ada suara wanita tua terdengar dari monitor yang tertempel di dinding.
__ADS_1
"Ada yang bisa saya bantu?" Ucap suara dari balik monitor itu.
"Aaanuh, hhhmmm.. Saya mencari ibu Rena, Apakah ada?" Jawab Hae Ra ragu.
"Nyonya ada di rumah. Namun apakah anda sudah buat janji?"
"Saya belum buat janji, tapi jika bisa tolong sampaikan pada Nyonya Rena bahwa putrinya Hae Ra ingin bertemu" Ucap Hae Ra.
Selang beberapa menit menunggu di depan pintu gerbang tiba-tiba Nyonya Rena muncul dari balik pintu gerbang, melihat hal itu Hae Ra langsung berlari memeluk sang ibu yang sangat dirindukanya itu, berbanding terbalik dengan Hae Ra yang begitu bahagia menatap keberadaan sang ibu, Nyonya Rena justru terlihat kaget dan gelisa melihat Hae Ra ada di hadapanya.
"Ada apa kau datang kemari, Hae Ra?" Tanya Nyonya Rena dingin. menyadari sikap dingin sang ibu spontan Hae Ra langsung melepas pelukanya, namun rona bahagia masih terpancar diwajah gadis cantik itu.
"Ayah sudah mendapatkan pekerjaan yang sangat bagus disebuah perusahaan, Ma. Jadi kembalilah" Ucap Hae Ra.
Belum sempat menjawab perkataan milik Hae Ra tiba-tiba suara berat milik seorang lelaki paruh baya mencuri perhatian Hae Ra dan juga Nyonya Rena "siapa dia, Sayang?" Tanya lelaki paruh baya yang tengah menggandeng tangan seorang anak dua tahun lebih muda dari Hae Ra.
Hae Ra yang masi bingung hanya diam menatap bergantian sang ibu dan lelaki paruh baya serta gadis kecil yang digandengnya.
"Bukan siapa-siapa kok Mas, Anak ini salah alamat" Balas Nyonya Rena membuat Hae Ra langsung terbelalak mengetahui kebenaran bahwa sang ibu tak mengakuinya.
"Maaf Nak, Alamat yang kamu cari bukan disini" Ucap Nyonya Rena sebelum kemudian melangkah meninggalak Hae Ra sembari menutup gerbang.
Melihat hal itu, Hae Ra hanya diam mematung menatap punggung sang ibu yang berlalu pergi bersama lelaki paruh baya itu masuk ke dalam rumah.
******
Di kediamanya, Hae Ra menangis meratapi nasibnya namun begitu mendengar suara pintu terbuka Hae Ra dengan cepat memghapus air matanya.
"Sayang!" Panggil Tuan Ramon begitu melihat Hae Ra duduk di atas kursi ruang tamu "Lihat, Apa yang Ayah bawakan untuk mu" Lanjutnya seraya memamerkan kantong kresek hitam yang ada ditanganya.
"Martabak telur" Teriak Hae Ra girang dengan begitu semangatnya berusaha menutupi kesedihanya.
Dengan senyum Tuan Ramon menyodorkan kantong kresek hitam itu kearah Hae Ra, sebelum kemudian dengan hangat Hae Ra memeluk sang Ayah.
"Terimakasih, Ayah" Gumam Hae Ra yang di sambut dengan senyuman bersahaja sang ayah.
* 10 Tahun Kemudian *
Hae Ra yang masih menangis memeluk foto sang ayah tiba-tiba dikagetkan oleh suara ketukan pintu kamar miliknya, selang beberapa detik kemudian sosok wanita tua muncul dari balik pintu.
"Nenek!" Gumam Hae Ra memanggil wanita tua itu.
Wanita tua itu melangkah dengan terburu begitu melihat wajah Hae Ra yang menangis.
"Ada apa, sayang?. hhmm!!.. Kenapa menangis?" Tanya sang Nenek seraya memeluk dan menepuk lembut punggung milik Hae Ra "Apa kau merindukan Ayah mu?" Lanjutnya.
Hae Ra mengangguk menjawab pertanyaan sang Nenek, wanita tua itu melepas pelukanya kemudian mengusap air mata milik Hae Ra "sekarag Ayah mu sudah tenang di alam sana, jika kau menangis Ayah mu pasti akan sedih" wanita tua itu menarik kedua ujung bibir Hae Ra hingga membentuk sebuah senyuman "Tersenyumlah, Sayang. Senyuman mu adalah kebahagian milik Nenek dan juga Ayah mu" Lanjutnya.
Hae Ra pun mengangguk sembari memberikan senyuman manisnya lalu memeluk neneknya kembali "Aku menyayangi mu, Nenek" Ucapnya.
"Nenek juga menyayangi mu, sangat" Balas wanita tua itu "Ayo, kita makan dulu, kau belum makan dari pulang tadi. Kebetulan Nenek masak makanan kesukaan mu" Lanjutnya.
Bersambung!.......
__ADS_1