Terpaksa Menikah Dengan Tuan Seon Ho

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Seon Ho
Episode 2


__ADS_3

Seon Ho berdiri mematung menatap kumpulan foto seorang gadis yang menempel dengan susunan rapih di dinding kamar kosong itu, tatapannya begitu tajam mengamati setiap foto, ia bahkan tersenyum ketika menatap foto gadis cantik itu, pesona kecantikan gadis dalam foto itu telah membiusnya.


mata bulat besar berwarna coklat, rambut lurus dengan poni menjuntai menutupi dahi, hidung mancung serta bibir merah padat yang menghiasi wajah dalam foto telah menghipnotis Seon Ho.


"Tuan??" Suara barito berat dari balik pintu membuat Seon Ho langsung menoleh kearah sumber suara.


" Bagaiman?, apa kau sudah menemukan gadis ku?" Tanya Seon Ho mengacuh pada gadis dalam foto.


Lelaki berbadan tegak berusia awal empat puluhan tahun itu menggeleng.


"Belum Tuan" Jawabnya "Ku rasa dokter Sarah benar, gadis yang anda lihat itu hanya sebuah imajinasi yang anda ciptakan semata" Lanjutnya.


mendengar kalimat yang di ucapkan tangan kananya membuat Seon Ho langsung mengertukan alisnya "Jadi kau berpikir bahwa aku ini gila?"


Lelaki bertubuh tegap bernama Halan itu hanya dapat menghela nafas melihat kegilaan sang majikan "Aku tidak berfikir anda gila, Tuan. Hanya saja, mungkin yang dikatan dokter Sarah benar adanya bahwa gadis yang anda lihat itu hanya sebuah imajinasi, jika gadis itu memang ada, mana mungkin kita tak mendapat informasi sedikitpun tentang dirinya setelah mencarinya keseluruh dunia selama lima tahun ini"


"Cukup, Halan. Jangan bicara lagi tentang imajinasi karena aku yakin dia bukan gadis dari imajinasi ku, aku dapat merasakan sentuhanya, bahkan bisa mendengar suaranya. Aku yakin dia ada, dan dia akan menemui takdirnya untuk menjadi istri ku"


"Baiklah Tuan, jika betul gadis ini ada maka aku yakin dia pasti memiliki kehidupan sendiri, aku yakin dia memiliki pacar atau bahkan suami yang sangat dicintainya"


Bukkk!!... baru saja Halan menyelesaikan kalimatnya Seon Ho tiba-tiba meninju dinding yang ada sampingnya.


"Jika dia punya pacar maka akan aku rusak hubunganya, jika dia punya suami maka akan ku buat mereka bercerai. Gadis ini.." menunjuk foto yang ada di dinding ruangan "Hanya boleh menjadi milik ku, dan akan selamanya begitu" Lanjutnya kemudia melangkah pergi meninggalkan Halan sendiri dalam ruangan.


Halan menatap foto di dinding itu, sebelum kemudian mendesah berat dengan ekspresi wajah yang iba "Jika kau betul ada di dunia nyata, aku akan sangat kasian melihat nasib mu jika Tuan Seon Ho berhasil menemukan mu" Gumam Halan berat.


*******


"Nenek?" Panggil Hae Ra kearah sang nenek yang sedang sibuk memasak di dapur.


Hae Ra menghampiri sang Nenek kemudian memeluknya dari belakang membuat wanita tua itu langsung melepas aktifitas masak memasaknya.


"Aku berangkat kerja dulu" Ucap Hae Ra seraya melayangkan kecupan hangat di pipi sang Nenek.


Nenek tua bersahaja itu tersenyum "Hati-Hati" balasnya.


" Hhm!.." Sahut Hae Ra kemudia berlalu pergi meninggalkan rumah.


Hae Ra adalah karyawan salah satu hotel bintang lima, setiap harinya wajah ayunya akan selalu tersenyum untuk menyambut, dan melayani para tamu yang datang.


Baru sampai di lobi hotel, tiba-tiba teriakan Anna yang memanggil nama Hae Ra dengan begitu kerasnya membuat Hae Ra langsung menghentikan langkahnya.


Dari arah kejauhan Hae Ra dapat melihat Anna tengah berlari menghampirinya.


"Hae Ra!.. Hae Ra!..." Panggil Anna kembali.


"Kau kenapa, Anna?" Tanya Hae Ra dengan bingung.

__ADS_1


"Kau tahu Seon Ho Kim?" Tanya Anna yang langsung dibalas dengan gelengan kepala milik Hae Ra.


Mendapat jawaban tak terduga dari Hae Ra membuat Anna menghela nafas berat.


"Sungguh, kau tak mengenal Seon Ho Kim?" Lagi-lagi Anna bertanya berusaha menyakinkan diri bahwa jawaban yang diberikan Hae Ra sebelumnya adalah sebuah kesalahan.


"Tidak, Aku tidak mengenalnya" Jawab Hae Ra kembali.


"Wahhh!.. Kau betul-betul gadis luar biasa karena tak mengetahui siapa Seon Ho Kim itu" Ucap Anna dengan nada takjub.


"Memangnya kenapa dengan Seon Ho Kim?" kini giliran Hae Ra yang bertanya.


"Dia akan datang ke hotel kita" Jawab Anna dengan nada suara bersemangat.


"Lalu?" Timpal Hae Ra dengan nada santai.


"Tidak ada" Sahun Anna polos.


Melihat respon sang sahabat membuat Hae Ra mendesah pelan "Kau membuat kehebohan pagi-pagi karena kedatangan Tuan Seon Ho Kim, apa kau gila?"


"Kau yang gila karena tidak mengenal, Seon Ho Kim" Sambar Anna membela diri.


"Memangnya siapa Seon Ho Kim itu sampai kau membuat kehebohan seperti ini?" Lagi-lagi Hae Ra hanya melontarkan pertanyaan.


"Dia pengusaha muda sukses, berbagai jenis usaha yang di gelutinya dari mulai, makanan, fashion, lestoran, hotel bahkan interten selalu sukses besar" Jelas Anna.


"Tidak juga" Sahut Anna spontan.


"Tapi ku dengar kedatangannya kemari ingin mengakuisi hotel tempat kita bekerja ini"


"APA?!!" Pekik Hae Ra terkejut "Bagaimana bisa?" Lanjutnya.


"Entalah" Balas Anna "Tapi ku dengar baru-baru ini bahwa Seon Ho Kim telah membeli saham hotel tempat kita bekerja ini"


Hae Ra terdiam sejenak, ada kekahawatiran dalam hatinya "Apakah setela di akuisi para kariyawan dan staff hotel yang sekarang akan di diganti?, jika benar begitu.. kurasa kita harus menyiapkan surat lamaran pekerjaan baru" Gumam Hae Ra frustasi.


"Kau benar, Hae Ra" balas Anna "Aku memang mengagumi Tuan Seon Ho Kim atas kesuksesanya di usia muda, tapi aku tak ingin bekerja di tempat yang dia pimpin"


"Memangnya kenapa?" Tanya Hae Ra penasaran.


"Ku dengar keperibadian Tuan Seon Ho Kim sangat kasar, dia sangat dingin, dia tidak bisa mentoleransi kesalahan kecil sekalipun, dan yang ku dengar sebelum menjadi pengusaha muda sukses Tuan Seon Ho Kim adalah salah satu ketua gengster ternama di Seoul. Dia juga terbiasa mendapatkan semua yang di inginkannya menggunakan kekerasan, membayangkan aku bekerja di tempat yang di pimpinya saja sudah membuat ku merinding, apalagi jika hal itu menjadi kenyataan" Ucap Anna dengan bergedik ngeri.


Lain halnya dengan Anna yang memikirkan siapa yang akan memimpin tempatnya bekerja, Hae Ra justru tak memikirkan hal itu, ia akan menerima siapa saja yang akan memimpin tempatnya bekerja dengan lapang dada ansalkan dia tetap bekerja dan tidak di pecat, karena akan sulit baginya menemukan pekerjaan baru dengan hanya mengandalkan ijaza SMA saja.


*****


Hae Ra sesekali mendesah lemas, dia terus saja memikirkan masalah PHK, bagaimana jika ia di PHK setelah hotel tempatnya bekerja itu diakuisi oleh Tuan Seon Ho Kim, pikiran seperti itu terus saja mengganggu pikiran Hae Ra, sampai ia tak sadar bahwa kopi yang di tuangnya mulai mengalir karena kepenuhan dalam cangkir, Hae Ra bahkan tak mendengarkan panggilan tamu hotel yang memintanya untuk berhenti menuangkan kopi.

__ADS_1


Lalu tiba-tiba Hae Ra tersentak kaget begitu merasakan sebuah tangan hangat nan besar memegang pergelangan tanganya, dan begitu tersadar alangkah terkejutnya Hae Ra begitu melihat tumpahan kopi yang menggenangi atas meja.


"Maafkan saya, Tuan" Ucap seorang lelaki yang masih memegangi tangan Hae Ra.


Melihat itu Hae Ra pun langsung ikut membungkuk dengan wajah menyesal sembari berkata "Maafkan aku, Tuan"


"Apa yang kau pikirkan, Jang Hae Ra" Bisik lelaki itu.


"Maaf, pikiran ku sedang kacau" Balas Hae Ra lemas.


"Pergilah, biar aku yang urus masalah ini" Ucap lelaki itu membuat raut wajah menyesal milik Hae Ra terlihat jelas.


"Maaf atas insiden ini, Tuan. Sebagai permintaan maaf kami, kami akan menyediakan servis layanan makan malam mewah gratis untuk anda" Ucap lelaki itu dengan takzim.


"Hhm baiklah" Balas lelaki bertubuh gempal itu.


Setelah menyelesaikan masalahnya dengan sang tamu hotel, lelaki berparas rupawan yang membantu Hae Ra tadi kini tengah berkeliling mencari letak keberadaan Hae Ra sebelum kemudian sosok punggung milik Hae Ra terlihat tengah duduk di atas kursi taman hotel.


Dengan wajah tersenyum lelaki itupun berhajalan menghampiri Hae Ra, setibanya dia di samping Hae Ra lelaki itu langsung menyodorkan sekaleng minuman susu coklat kearah Hae Ra.


Hae Ra menoleh kearah lelaki itu sembari mengambil kaleng minuman yang disodorkan kearahnya.


"Maafkan Aku, Rapi" Ucap Hae Ra dengan kepala tertunduk.


Lelaki bernama Rapi itu mengambil kembali kaleng minuman yang di pegang Hae Ra, dia kemudian membuka tutup kaleng lalu menyerahkannya kembali kepada Hae Ra.


"Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan, Hhm?" Tanya Rapi seraya menegak minuman kopi susu yang ada di tanganya.


Hae Ra mendesah lemas "Ku dengar Hotel akan di akuisi oleh, Tuan Seon Ho Kim. Kalau itu terjadi bagaimana jika aku di PHK" Gumam Hae Ra dengan nada sedih.


Rapi tersenyum mendengar keluhan dan keresahan sahabat dari masa kecilnya itu, dengan pelan ia mengelus punggu milik Hae Ra berusaha menenangkan gadis itu.


"Itu tidak akan terjadi, Hae Ra" Ucapnya penuh percaya diri.


"Benarkah?" Sambar Hae Ra.


Dengan senyum manis Rapi mengangguk memberi arti 'iya' pada Hae Ra "Tapi jika kau terus melamun dan mengacaukan pekerjaan mu maka aku yakin kau akan di PHK" Ucap Rapi membuat Hae Ra tersipu malu.


Hae Ra tertawa kecut "Maaf telah membuat mu dalam masalah tadi, aku yang membuat masalah tapi kau yang harus mengatasinya" Balas Hae Ra dengan nada menyesal.


"Berhenti minta maaf, karena itu memang tugas ku. Memang tugas seorang Manager"


Hae Ra hanya tersenyum melihat Rapi yang merasa tak terbebani oleh masalah yang telah di buatnya.


Ada perasaan hangat di hati milik Hae Ra begitu Rapi menunjukan perhatian-perhatian kecil padanya, Hae Ra pun merasa nyaman dengan Rapi, namun Hae Ra harus membatasi perasaanya karena gadis cantik itu tak mau merasakan jatuh cinta dengan sahabatnya sendiri, akan sangat merepotkan jika itu terjadi.


Bersambung!....

__ADS_1


__ADS_2