Terpaksa Menikah Dengan Tuan Seon Ho

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Seon Ho
Episode 6


__ADS_3

Setelah Seon Ho memarkirkan mobilnya di garasi ia memandang Hae Ra yang merasa takjub akan apa yang kini tengah dilihatnya, sebuah bangunan mewah berlantai dua dengan luas dan lebar, bangunan itu bergaya Eropa Classic berwarna abu-abu tua, persis sebuah kastil dari negeri dongeng.


Ha Ra spontan menatap kearah Seo Ho "Apa bangunan ini yang kau sebut sebuah rumah?" kira-kira seperti itulah arti tatapan yang diarahkan Hae Ra kearah Seon Ho.


Seon Ho sedikit tersenyum lalu berkata dengan santainya "Ayo, kita masuk"


Hae Ra dan Seon Ho pun sama-sama mengambil ancang-ancang untuk keluar dari dalam mobil kemudian melangkah masuk ke dalam kediaman Kim itu.


Sembari mengikuti jejak Seon Ho sesekali Hae Ra akan mengedarkan pandanganya kesekeliling bangunan, dan tentu saja ia kembali takjub akan keindahan dan kemewahan bangunan rumah itu.


Baru saja menginjakan kaki di teras rumah, dua lelaki bertubuh tegap mengenakan stelan jas hitam menyambut ke datangan Seon Ho dan Hae Ra, begitu melewati mereka, dua lelaki itu langsung membungkukkan badanya bersamaan serasa ada yang mengomando mereka, melihat itu Hae Ra yang masih berjalan pun membungkukan badanya membalas pemberian hormat dari dua lelaki itu sementara Seon Ho hanya terus melangkah maju.


Setelah kepergian Seon Ho dan Hae Ra kedua lelaki bertubuh tegap itu kembali ke posisi mereka masing-masing.


"Apa kau melihatnya?" Tanya lelaki bertubuh tegap yang berada di posisi kanan.


"Hm!, Ternyata gadis dalam foto itu benar-benar ada" Balas lelaki bertubuh tegap satunya.


Sementata di dalam ruangan keluarga, Hae Ra kini sedang merasa bingung karena beberapa gadis dan wanita mengenakan seragam pelayan kini sedang memandang Hae Ra dengan takjub, melihat itu Hae Ra menggeser dirinya kesamping Seon Ho bahkan sampai lelaki berlesung pipit itu dapat merasakan lengan Hae Ra yang mengenai punggungnya, nampaknya Hae Ra ingin menyembunyikan tubuhnya di balik tubuh bidang Seon Ho.


Hae Ra memejamkan matanya sejenak "Ya Tuhan, aku tidak akan di jadikan tumbal, bukan?" Gumam Hae Ra membuat Sehon Ho langsung tersenyum.


Seon Ho dapat melihat Hae Ra semakin lama semakin menyusut kebalik punggungnya, Seon Ho kini menatap para pelayanya lalu berkata "Berhenti menatapnya seperti itu, kalian bisa membuatnya takut"


Ucapan Seon Ho langsung secara serempak membuat para pelayan itu berhenti menatap kearah Hae Ra.


Seon Ho menarik pergelangan tangan Hae Ra agar gadis yang kini sedang bersembunyi di balik punggungnya itu keluar dari persembunyianya.


Seon Ho menunjuk kearah seorang pelayan berusia 60 tahunan sembari berkata "Namanya Ai Na, dia kepala pelayan dalam rumah ini" Wanita tua bernama Ai Na itu tersenyum ramah keraha Hae Ra seraya membungkuk di ikuti oleh pelayan yang lainnya.


"Selamat datang, Nona" Ucap Ai Na.


"Selamat datang, Nona" Secara serempak pelayan yang lain mengikuti perkataan Ai Na.


Hae Ra yang merasa canggungpun langsung membungkukan dirinya "Terimakasih" Balas Hae Ra.


Ai Na kembali mengangkat punggungnya, di ikuti oleh pelayan yang lain, lalu Hae Ra pun menyusul untuk mengangkat punggungnya.

__ADS_1


Seon Ho yang masih memegangi tangan Hae Ra dengan lembut menatap gadis yang ada disampingnya itu lalu berkata "Ada yang ingin ku tunjukan pada mu"


Seon Ho kini mengalihkan tatapan matanya kearah Ai Na "Tolong siapkan jus dan cemilan untuk kami" Ucap Seon Ho yang langsung dibalas oleh anggukan takzim milik Ai Na.


Seon Ho menuntun Hae Ra menaiki anak tangga menuju lantai dua kediamanya Hae Ra yang pasrah hanya dapat mengikuti langkah Seon Ho meski ia sendiri tak tahu kemana kira-kira lelaki tampan setengah gila itu membawanya.


******


Hae Ra kini terduduk di atas sebuah sofa yang ada di tengah-tengah ruangan luas di lantai dua, di depan Hae Ra ada sebuah pintu yang menghadap langsung kearahnya, Hae Ra bahkan bertanya-tanya apa sebenarnya isi yang ada di ruangan itu.


Seon Ho yang berdiri di belakang Hae Ra kini memulai percakapan.


"Sudah lima tahun aku mencari mu kemana-mana"


Hae Ra menyerengit bingung "Untuk apa dia mencari ku, aku bahkan tidak mengenalnya" Gumam Hae Ra sepelan mungkin.


Seon Ho berjalan menghampiri sebuah pintu yang dari tadi telah mencuri fokus milik Hae Ra dan saat Seon Ho membuka pintu itu alangkah terkejutnya Hae Ra begitu melihat penampakan fotonya dalam bentuk tiga dimensi tertempel memenuhi dinding ruangan itu.


Hae Ra kini menatap Seon Ho penuh tanya.


"Aku menemui pelukis sketsa wajah untuk melukis mu dalam bentuk tiga dimensi menggunakan keterangan ku dalam menganalisis bentuk wajah mu" Jelas Seon Ho semakin membuat Hae Ra bingung.


"Karena aku merindukan mu" Balas Seon Ho mendengar itu membuat Hae Ra merasa ngeri.


"Dasar saikopat" Ucap Hae Ra sembari berlalu pergi, namun Seon Ho berhasil mengejarnya.


Seon Ho menggendong Hae Ra kemudian kembali mendudukan Hae Ra diatas sofa, Seon Ho mendudukan dirinya diatas meja tepat di depan Hae Ra dengan cepat paha milik Seon Ho mengapit kedua paha milik Hae Ra alhasil gadis itu sama sekali tak bisa berkutik.


"Lepaskan aku" Ucap Hae Ra melotot kearah Seon Ho dan kedua tanganya masi berusaha menyingkirkan apitan paha Seon Ho dari pahanya.


Seon Ho kini memegangi kedua tangan Hae Ra membuat gadis itu tak dapat memberontak kembali.


"Hae Ra~ah, aku sudah mengatakan pada mu jika kau berusaha kabur meninggalkan ku maka akan ku patahkan kaki mu" Ucap Seon Ho dengan nada dingin.


Seorang pelayan yang tadinya hendak menghampiri Seon Ho membawa jus dan cemilan yang di minta lelaki itu kini secara spontan berbalik kembali menuruni anak tangga begitu melihat adegan Seon Ho dan Hae Ra.


Melihat pelayan itu kembali turun tanpa menyerahkan jus dan cemilan yang dibawanya membuat Ai Na yang sedang berdiri di dapur langsung menghampiri pelayan itu.

__ADS_1


"Kenapa ini kau bawa turun kembali?" Tanya Ai Na menunjuk kearah dua gelas jus dan kue coklat kering.


Pelayan itu tak menjawab ia hanya memandang Ai Na dengan tatapan memelas.


"Aku bertanya pada mu" Ucap Ai Na begitu tak mendapat jawaban dari pelayan itu.


"Aku takut Bu Ai Na" Perkataan pelayan itu membuat Ai Na sedikit sebal.


"Apa yang kau takuti?"


"Nampaknya Tuan sedang marah, karena tadi aku mendengar Tuan mengatakan akan mematahkan kaki gadis itu" Ucap pelayan itu menceritakan apa yang baru saja dilihat dan di dengarnya "Ibu tau sendiri jika Tuan sedang marah maka semua orang yang ada disekitarnya akan terkena imbasnya" Lanjut pelayan itu.


Ai Na menghela nafas kemudian mengambil nampan berisi jus dan cemilan itu lalu berkata kearah si pelayan "Tuan Seon Ho tak sekejam itu, dia orang yang sangat baik" Ucap Ai Na kemudian berlalu meninggalkan pelayan itu dan membawa serta nampan di tanganya.


Ai Na menaiki tangga menuju lantai dua, di sana ia langsung melihat Seon Ho sedang duduk diatas meja mengunci pergerakan tubuh Hae Ra.


"Maaf mengganggu Tuan" Ucap Ai Na seraya meletakan dua gelas jus dan cemilan keatas meja tepatnya di samping Seon Ho.


Seon Ho kini menatap Ai Na lalu berkata "Kau tau Ai Na, gadis ini ingin meninggalkan ku. Setelah lima tahun lamanya aku mencarinya keliling dunia dan saat aku menemukanya dia ingin meninggalkan ku"


Ai Na hanya diam tak menjawab perkataan dari sang majikan.


"Untuk apa juga kau mencari ku?, Apa kau sudah gila?.. Sekarang lepaskan aku" Ucap Hae Ra sembari memberontak kembali menarik tangan dan kakinya yang telah di kunci kuat oleh Seon Ho.


"Kau lihat sendirikan Ai Na, gadis ini ingin kabur dari ku" Ucap Seon Ho.


Alih-alih menjawab perkataan Seon Ho wanita tua itu justru membungkuk sembari berkata "Selamat menikmati jus dan cemilanya Tuan, Nona" Ai Na kemudian berlalu pergi.


Melihat itu membuat Hae Ra semakin keras memberontak berusaha melepaskan dirinya.


"Takdir mu adalah menjadi istri ku, Hae Ra" Ucap Seon Ho.


"Aku lebih baik mati dari pada hidup sebagai istri orang saikopat seperti mu" Balas Hae Ra "LEPASKAN AKU!" Teriak Hae Ra yang hanya di respon dengan tawa riang milik Seon Ho.


"Kau mau bertaruh dengan ku... Lihat saja takdir akan memaksa mu menikah dengan ku" Setelah mengucapkan kalimat itu Seon Ho pun melepas tangan dan kaki gadis itu "Pergilah" Lanjutnya.


Hae Ra yang merasa bebas langsung berlari tanpa aba-aba meninggalkan Seon Ho, lebih tepatnya meninggalkan kediaman itu.

__ADS_1


Bersambung!......


__ADS_2