
Terjadi ketegangan di kediaman Tuan Whil.
"Jang Hae Ra, Apa maksud anda Tuan?" Tanya lelaki paruh baya itu kearah Seon Ho yang masih duduk santai di atas sofa.
"Maksud ku, putri dari pernikahan Nyonya Rena dengan suami terdahulunya"
"Apa?" Tuan Whil yang begitu kaget langsung menoleh kearah Nyonya Rena, sementara Aluna yang merasa dipermain dengan segera berlari menuju kamarnya karena telah sukses dipermalukan oleh Seon Ho.
"Bisa kau jelaskan padaku, Rena?" Tanya Tuan Whil "Bukankah kau mengatakan pada ku, bahwa kau tak memiliki anak dari pernikahan terdahulu mu" Lanjut lelaki paruh baya itu.
Nyonya Rena tak berkata apapun untuk menjawab suaminya itu.
"Rena aku bertanya pada mu sekarang" Suara Tuan Whil kini sedikit memekik
"Maafkan aku" Gumam Nyonya Rena dengan air mata yang mengalir deras.
Melihat adegan itu membuat Seon Ho tersenyum puas "Bukankah, seharusnya permintaan maaf itu kau tujukan untuk Hae Ra, bukan untuk suami mu, Nyonya" Ucap Sehon Ho seraya beranjak berdiri dari sofa "Inti kedatangan ku kemari hanya ingin memberitahukan kalian kalau aku hanya akan menikahi Hae Ra, jika kalian ingin menyelamatkan perusahaan dan kehidupan mewah kalian maka kalian harus membuat Hae Ra menikah dengan ku" Lanjut Seon Ho seraya beranjak pergi meninggalkan kediaman Tuan Whil.
"Jelaskan pada ku tentang semua ini, Rena" Titah Tuan Whil setelah kepergian Seon Ho.
Nyonya Rena mengangkat mulutnya secara berlahan untuk menceritakan semuanya "Memang betul aku memiliki seorang anak perempuan dari hasil pernikahan ku yang terdahulu"
"Lalu kenapa kau berbohong pada ku?"
"Karena aku takut kau tak akan menerima ku jika mengetahui kalau aku memiliki seorang anak" Sambar Nyonya Rena membuat Tuan Whil terdiam.
"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang untuk menyelamatkan perusahaan?, apa putri mu itu mau menikah dengan Tuan Seon Ho untuk menyelamatkan perusahaan kita"
"Aku akan membujuk Hae Ra" Balas Nyonya Rena dengan percaya diri.
"Kau memang harus melakukanya jika ingin terus hidup dalam kemewahan" Ucap Tuan Whil kemudian berlalu pergi.
_______
Di dalam mobil Halan terlihat gelisa, ada yang ingin ditanyakannya pada Seon Ho namun ia mengurungkannya, melihat gerak gerik Halan membuat Seon Ho bertanya "Ada apa Halan?"
__ADS_1
"Tidak ada Tuan" Balas Halan.
"Aku tahu kau, Halan. Jika kau terus-terusan menatap ku seperti itu aku yakin ada yang ingin kau tanyakan pada ku" Ucap Sehon Ho "Tanyakanlah apapun itu" Lanjutnya membuat Halan memiliki keberanian untuk bertanya.
"Apa alasan anda memberitahukan Tuan Whil jika anda ingin menikahi Nona Hae Ra alih-alih untuk menyelamatkan perusahaan mereka?" Pertanyaan dari Halan spontan membuat Seon Ho yang sedang duduk di kursi belakang langsung tertawa lepas.
"Aku hanya ingin melihat dan menguji seberapa tidak tahu malunya Nyonya Rena. Jika ia meminta Hae Ra menikah dengan ku untuk menyelamatkan kehidupan mewahnya maka Nyonya Hae Ra betul-betul wanita yang tak memiliki rasa malu sama sekali" Mendengar pernjelasan Seon Ho membuat Halan hanya mengangguk tanda mengerti "Selain itu aku juga ingin melihat reaksi dan tindakan apa yang akan dilakukan oleh gadis ku" Lanjut Seon Ho.
"Maksud anda Nona Hae Ra" Ucap Halan mengoreksi kata gadis ku yang di ucapkan Seon Ho.
"Hae Ra adalah gadis ku" Balas Seon Ho seakan tak mau jika Halan mengoreksi kata gadis ku yang ditunjukannya untuk Hae Ra.
*****
Hae Ra yang terduduk di ruang tamu kediamanya tiba-tiba di kagetkan oleh suara ketukan pintu "Siapa?" Tanya Hae Ra seraya melangkah menghampiri pintu.
"Ini aku Hae Ra, Rapi" Mendengar suara Rapi dengan segera Hae Ra pun membukakan pintu.
Sosok Rapi yang berdiri di ambang pintu langsung menyapa pandangan Hae Ra.
Hae Ra mengangguk dengan yakin "Hmm!.. Aku baik-baik saja"
"Apa Tuan Seon Ho melukai mu?" Tanya Rapi kembali karena masih merasa khawatir.
Hae Ra memukul lengan rapi, dengan cepat Hae Ra menutup pintu "Pelankan suara mu, aku tak ingin Nenek tau dan membuatnya khawatir" Ucap Hae Ra.
"Maaf" Sambar Rapi.
"Aku baik-baik saja, dia tak melakukan apapun pada ku" Ucap Hae Ra
"Apa kau yakin?" Sambar Rapi yang langsung dibalas dengan anggukan kepala milik Hae Ra.
Rapi dan Hae Ra kini telah terduduk di teras, sesekali desahan berat milik Rapi terdengar mengisi keheningan dianatara mereka.
"Apa ada masalah?" Tanya Hae Ra
__ADS_1
Rapi mengangguk memberi arti iya "Hotel telah diambil alih oleh lelaki setengah gila itu" Ucap Rapi "Sebaiknya kau mulai mencari pekerjaan baru, Hae Ra. Aku akan membantu mu mencari pekerjaan, aku tak ingin lelaki setengah gila itu menyakiti mu"
"Hmm.. Tapi sebelum menemukan pekerjaan yang baru, apapun yang terjadi aku harus tetap bertahan di hotel itu" Ucap Hae Ra menatap kearah Rapi "Kau tau sendiri kondisi Nenek sekarang sering sakit-sakitan aku membutuhkan uang untuk biaya hidup dan juga untuk membeli obat-obatan Nenek" Jelas Hae Ra membuat Rapi tertunduk.
Rapi meraih tangan milik Hae Ra membuat gadis berponi itu langsung merasakan degupan kencang di dadanya.
"Aku berjanji akan segera menemukan pekerjaan untuk mu" Ucap Rapi penuh tekat.
Hae Ra menarik perlahan tanganya yang ada di genggaman Rapi "Kau memang sahabat terbaik ku" Balas Hae Ra.
Suara pintu terbuka langsung mencuri perhatian mereka sosok Nenek dari Hae Ra pun langsung terlihat di balik pintu.
"Rapi?" Ucap wanita tua itu "Kenapa tidak masuk ke dalam?" Tanyanya.
"Sengaja Nek, Aku cuman datang sebentar dan ini sudah mau pulang" Jawab Rapi.
Rapi kini menatap Hae Ra "Kalau begitu besok apa mau ku jemput seperti biasa?" Tanya Rapi, Hae Ra pun langsung menggeleng.
"Kenapa?" Tanya Rapi kembali.
"Aku bisa pergi sendiri, lagi pula aku merasa tidak enak jika di lihat kariyawan hotel lainnya" Jawab Hae Ra.
"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu" Rapi kini menatap wanita tua yang masih berdiri di ambang pintu "Nek, aku pulang dulu" Ucap Rapi.
"Hmm!.. Hati-hati" Balas wanita Tua itu.
Hae Ra langsung menghampiri sang Nenek setelah kepergian Rapi "Ayo kita masuk Nek, diluar sangat dingin" Ucap Hae Ra seraya memeluk sang Nenek sembari menuntunnya masuk ke dalam rumah.
"Apa terjadi masalah di tempat kerja mu, wajah Rapi terlihat risau tadi" Tanya sang Nenek.
"Tidak ada masalah apapun Nek" Balas Hae Ra "Wajah Rapi memang selalu seperti itukan sejak kecil" Jawaban Hae Ra langsung membuat sang Nenek tertawa.
"Kau benar, wajah Rapi memang selalu seperti itu" Balas wanita tua bersahaja itu.
Bersambung!.....
__ADS_1