
Hae Ra menatap pantulan dirinya di cermin, sesekali dia mendesah berat, jika boleh jujur saat ini dan seterusnya dia tak ingin pergi bekerja, andai dia memiliki kerjaan baru maka ia akan langsung segera keluar dari hotel tempatnya bekerja sekarang.
"Hae Ra?" Suara bersahaja milik sang Nenek membuat Hae Ra membuyarkan pikiran-pikiran anehnya.
"Iya, Nek" Jawab Hae Ra segera bergegas mengambil tas hitam yang ada diatas tempat tidur kemudian beranjak keluar kamar.
Mata Hae Ra langsung mendapati sang Nenek telah menyiapkan sarapan diatas meja makan, Hae Ra mempercepat langkahnya menuju ruang makan yang berdekatan dengan dapur, dengan cepat tangan milik Hae Ra mengambil mangkuk sup yang di bawa sang Nenek kemudian meletakanya diatas meja makan.
"Kenapa Nenek harus repot-repon?, Aku sudah bilang biar aku saja yang menyiapkannya" Ucap Hae Ra.
Wanita tua itu tersenyum, dengan pelan ia menggeser kursi yang ada di depan meja makan lalu mendudukan tubuhnya disana "Ini sama sekali tidak merepotkan Nenek. Bagaimana mungkin ini dikatakan merepotkan jika Nenek melakukannya dengan senang hati" Balas wanita tua bersajaha itu.
Hae Ra ikut mendudukan tubuhnya di kursi, matanya kini menatap sudut meja makan mengarah kearah botol obat-obatan sang Nenek.
"Nenek sudah minum obat?" Wanita tua itu mengangguk.
"Sudah berhenti bertanya, sekarang ayo sarapan kau bisa terlambat nanti"
Hae Ra mengarahkan sendok nasi ke arah mulutnya, kini sendoknya mearah ke mangkuk sup "Hhmm!... Ini sedikit asin" Ucap Hae Ra.
"Iya Nenek rasa juga begitu"
"Wah!... Ku rasa kemampuan memasak Nenek ku ini sudah menghilang" Goda Hae Ra membuat sang Nenek hanya tersenyum.
Beberapa menit berlalu, setelah membereskan meja makan Hae Ra pun beranjak pergi bekerja tentu saja setelah pamit dengan sang Nenek terlebih dahulu.
*******
Hae Ra mendudukan dirinya di salah satu kursi dekat dengan jendela yang ada di bis, pikiranya yang enggan untuk pergi bekerja memenuhi seluruh isi kepalanya, dengan berat gadis itu menyenderkan kepalanya di jendela bis.
Mobil sport hitam milik Seon Ho berhenti tepat di samping bis yang di tumpangi Hae Ra.
"Mulai sekarang untuk urusan kantor dan Shon Grup aku menyerahkannya pada mu, jika ada masalah dan menghadiri rapat serta menemui mitra bisnis aku yang akan mengurusnya" Ucap Seon Ho kearah Halan yang fokus menyetir mobil.
"Baik Tuan" Balas Halan.
"Aku akan berdiam di Hotel mulai saat ini" Ucap Seon Ho dengan nada bersemangat, Seon Ho menatap kearah bis yang ada di samping mobilnya dan seperti sebuah takdir matanya langsung mendapati Hae Ra sedang menyenderkan kepalanya di jendela bis.
"Sudah ku katakan pada mu, Halan. Hae Ra telah di takdirkan untuk ku"
"Maksud anda?" Tanya Halan merasa bingung akan ucapan sang majikan.
"Hae Ra duduk tepat di samping ku"
__ADS_1
Halan menyerengitkan alisnya, setahunya di samping Seon Ho tidak ada siapa-siapa kecuali dirinya yang sedang menyetir.
"Dia ada di bis itu" Seon Ho menunjuk kearah bis berwarna hijau itu, Halan segera mengikuti arah jari dari Seon Ho dan terang saja dia langsung melihat sosok Hae Ra yang sedang terduduk.
Seon Ho menyipitkan matanya "Apa yang di lakukan lelaki tua itu?, berani sekali dia memandangi gadis ku" Pekik Seon Ho kearah seorang lelaki yang berdiri di samping tempat Hae Ra terduduk, lelaki bertubuh gembul itu memang saat ini sedang menatap kearah Hae Ra.
"Akan ku congkel matanya" Gumam Seon Ho seraya ingin turun dari mobil namun sayang niatnya harus ditunda karna bis yang di tumpangi oleh Hae Ra kini sudah berjalan kembali.
"Kejar bis itu, Halan" Titah Seon Ho.
Halan tak menggubris, ia hanya menyetir sesuai kehendaknya.
"Halan aku bilang kejar bis itu?, akan ku congkel mata lelaki tua bangka itu. Berani sekali dia menatap Hae Ra ku"
Halan mendesah berat lalu menghentikan mobilnya hal itu langsung membuat Seon Ho kebingungan "Aku mengatakan kejar bis itu. Kenapa kau berhenti?" Ucap Seon Ho dengan nada sedikit meninggi.
"Anda tau Tuan, jika anda mencongkel mata lelaki itu disana atau jika anda membuat keributan di dalam bis hanya karena lelaki itu menatap Nona Hae Ra. Aku yakin seratus persen Nona Hae Ra akan sangat membenci anda. Lalu jika dia membenci anda. bagaimana caranya anda dapat membuatnya jatuh cinta pada anda?" Perkataan Halan membuat Seon Ho sedikit melunak, dia berfikir apa yang di katakan Halan benar adanya.
"Baiklah, sekarang cepat jalan" Ucap Seon Ho "Aku tak ingin terlambat" Lanjutnya seraya menyandarkan tubuhnya kearah sandaran kursi mobil.
"Sikap pemarahnya masih belum saja hilang" Gumam Halan sepelan mungkin seraya mulai mengemudikan mobil kembali.
_______
Hae Ra berjalan menghampiri Rapi dan sang Ibu.
"Sudah ku bilang Nyonya Hae Ra tak bekerja disini lagi" Kira-kira seperti itulah sepenggal kalimat yang di ucapkan Rapi yang bisa di dengar oleh Hae Ra.
"Ada apa ini, Rapi?" Mendengar suara Hae Ra, Rapi dan Nyonya Rena langsung menatap kearah Hae Ra yang kini entah sejak kapan sudah berdiri diantara mereka.
Rapi menghela nafas frustasi begitu melihat sosok Hae Ra, lelaki itu tak ingin sahabat kecilnya itu bertemu dengan ibunya, karena Rapi tau Hae Ra akan menangis setiap kali bertemu dengan sang Ibu. Lain halnya dengan Rapi Nyonya Rena terlihat begitu bahagia melihat sosok Hae Ra. Sementara di depan pintu loby hotel Seon Ho yang baru saja tiba langsung menyaksikan adegan dimana Nyonya Rena bertemu dengan Hae Ra.
Seon Ho menyeringai "Lihat itu Halan" Ucapnya seraya menunjuk kearah Hae Ra dan Nyonya Rena "Nyonya Rena kini telah menunjukan betapa tidak tau malunya dirinya" Lanjut Seon Ho.
"Apa yang anda inginkan Nyonya?" Tanya Hae Ra.
"Mama ingin membicarakan sesuatu dengan mu Hae Ra"
"Silahkan" Sambar Hae Ra dingin.
Nyonya Rena menatap kearah Rapi "Tapi tidak disini" Pintanya karena ia tak mau perbincangannya dengan Hae Ra di dengar orang lain "Tidak bisakah kita berbicara di tempat sepi" Pinta Nyonya Rena memberi ide.
"Mari, ikut dengan ku" Ucap Hae Ra seraya berjalan menuju lift mengabaikan Rapi yang terlihat resa.
__ADS_1
"Mau kemana mereka?" Gumam Seon Ho setelah melihat Hae Ra menuju lift.
"Ayo kita ikuti mereka, Halan" Ajak Seon Ho seraya fokus menatap kearah pintu lift.
Lift yang di tumpangi Hae Ra berhenti di lantai paling atas hotel "Ku rasa mereka pergi ke atap gedung, Tuan" Ucap Halan memberi obsi.
Seon Ho dan Halan bergegas masuk ke dalam lift begitu pintu lift terbuka tangan Halan bergerak memencet angka dua puluh.
Ternyata tebakan Halan benar, Hae Ra dan Nyonya Rena memang pergi ke atap gedung.
"Sekarang kita hanya berdua, silahkan bicaralah" Ucap Hae Ra.
Nyonya Rena tertunduk air matanya mulai mengalir "Mama minta maaf atas semua yang telah Mama lakukan pada mu" Ucap Nyonya Rena memulai percakapan.
"Aku sudah memaafkan anda dari dulu, tapi untuk melupakan perbuatan anda aku tak bisa, Maaf atas hal itu" Balas Hae Ra seraya bergegas meninggalkan Nyonya Rena.
"MAMA MOHON, BANTU MAMA HAE RA!" Teriaka Nyonya Rena mebuat Hae Ra langsung menghentikan langkahnya.
Teriakan Nyonya Rena bahkan sempat membuat Seon Ho dan Halan yang baru saja tiba di atap geduang kaget, Seon Ho dan Halan langsung bergegas menyembunyikan diri mereka dibalik sebuah dinding, mereka memilih bersembunyi untuk mendengarkan semua percakapan antara Hae Ra dan Nyonya Rena.
Hae Ra menggumpalkan tanganya erat "Jadi Mama meminta maaf pada ku dengan maksud tertentu" Gumam Hae Ra mulai merasa kesal namun dengan baik ia menahan kekesalannya itu.
"Perusahaan Ayah mu sedang dalam masalah, Jadi Mama ingin_"
"Maaf Nyonya, tapi Ayah ku telah tiada. Bagaimana mungkin anda menyebut perusahaan Ayah mu pada ku" Ucap Hae Ra memotong kalimat Nyonya Rena.
"Maksud Mama, perusahaan suami Mama sedang berada dalam masalah, Jadi_"
"Apa sangkut pautnya perusahaan suami anda dengan ku Nyonya" Lagi-lagi Hae Ra memenggal kalimat sang Ibu "Maaf Nyonya. Aku harus pergi bekerja" ucap Hae Ra seraya melangkah kembali, melihat itu membuat Nyonya Rena panik.
Nyonya Rena berlari menghalau Hae Ra, lalu dengan cepat ia berlutut dihadapan Hae Ra, melihat itu mata Hae Ra langsung terbelalak.
"Setidaknya dengarkan penjelasan Mama terlebih dahulu, Mama mohon" Pinta Nyonya Rena membuat Hae Ra sedikit melunak dan memutuskan untuk mendengarkan semua perkataan sang Ibu.
"Perusahaan suami Mama sedang dalam masalah, dan Mama berencana menikahkan Aluna putri tiri Mama pada Tuan Seon Ho Kim" Mendengar Nama Seon Ho kim disebut langsung membuat Hae Ra terhenyak kaget.
"Tapi Tuan Seon Ho Kim tidak ingin menikah dengan Aluna, dia hanya ingin menikah dengan mu. Entah dari mana dia mengetahui bahwa kau adalah putri ku"
Hae Ra tersenyum getir mendengar perkataan sang Ibu "Dengan kata lain, anda menginginkan aku menikahi Tuan Seon Ho untuk menyelamatkan perusahaan suami anda" Ucap Hae Ra dengan nada begetar.
"Mama tidak memiliki pilihan lain, Hae Ra" Sambar Nyonya Rena dengan nada putus asa.
"Kalau begitu tinggalkan suami anda, seperti yang anda lakukan pada Ayah ku, anda meninggalkan Ayah ku disaat Ayah ku telah kehilangan segalanya, karena anda tidak ingin hidup susah" Ucap Hae Ra tanganya kini benar-benar terkepal erat rasanya ingin sekali dia mengumpat "Lalu apa susahnya sekarang jika itu terlulang lagi, anda hanya butuh menceraikan suami anda dan mencari suami baru yang kaya raya, itu tidak terlalu susah untuk anda lakukan karena itu adalah keahlian anda. Kalau anda sangat tega meninggalkan Ayah ku karena dia di PHK, Lalu apa susahnya meninggalkan suami anda yang sekarang perusahaanya nyaris bangkrut" Setelah menolak keinginan sang Ibu, Hae Ra pun kini berjalan membawa hatinya yang lagi-lagi harus terluka akibat perbuatan sang ibu.
__ADS_1
Bersambung!....