Terpaksa Menikah Dengan Tuan Seon Ho

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Seon Ho
Episode 11


__ADS_3

Hae Ra pulang kerumah setelah menyerahkan surat pengunduran diri, melihat kepulangan Hae Ra yang sangat tiba-tiba membuat wanita tua yang ada di rumah begitu kebingungan.


"apa kau sakit?" Tanya wanita tua itu panik, pasalnya Hae Ra bukanlah seseorang yang akan pulang disaat masih dalam jam kerja.


Hae Ra menggeleng pelan, dengan lembut gadis berponi itu memeluk sang Nenek "Ayo kita pindah, Nek" Ucap Hae Ra spontan membuat wanita tua itu terkejut, dengan cepat wanita tua bersahaja itu melepas pelukan Hae Ra, wajah tuanya terlihat panik "Apa terjadi sesuatu pada mu?" Tanyanya.


Hae Ra menggeleng "Tidak terjadi apa-apa pada ku, Nek" Jawab Hae Ra, gadis itu sengaja berbohong karena ia tak ingin membuat Neneknya hawatir.


"Jika tak terjadi apa-apa pada mu, lalu kenapa kau tiba-tiba ingin mengajak Nenek pindah. Padahal selama ini Nenek mati-matian mengajak mu pindah tapi kau tak mau"


Hae Ra tersenyum kemudian memeluk sang Nenek kembali "Sungguh tidak ada apapun yang terjadi pada ku" Hae Ra memberi jeda pada kalimatnya "Semalam aku berpikir tentang keinginan Nenek untuk pindah ke kampung halaman Nenek, dan setelah aku pikir-pikir ku rasa itu ide yang bagus, Di sana Nenek memiliki rumah sendiri, Nenek memiliki kebun, aku bisa menanam sayuran organik disana, lagi pula aku ingin merubah suasana saja. Ku rasa suasana tenang di pedesaan akan menjadi obat mujarab untuk menenangkan diri" Jelas Hae Ra.


"Apa kau yakin ingin pindah?" Hae Ra segera menganggukan kepalanya menjawab pertanyaan sang Nenek.


"Tapi bagaimana dengan pekerjaan mu?"


"Aku sudah mengundurkan diri" Balas Hae Ra.


"Bukankah ini begitu mendadak, Hae Ra?"


"Tidak Nek, ini tidak mendadak. Memang aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari dan baru sekarang aku bisa mengatakanya pada Nenek" Ucap Hae Ra.


"Lalu bagaimana dengan rumah ini?" Lagi-lagi hanya pertanyaan yang dilontarkan wanita tuan itu.


"Rumah ini akan aku sewakan Nek, Uang sewaanya bisa kita gunakan untuk keperluan kita selama aku tidak bekerja" Jelas Hae Ra.


"Baiklah jika itu keinginan mu, Nenek senang mendengarnya"


Hae Ra menghela nafas lega karena berhasil membohongi sang Nenek.


"Besok aku akan mulai berkemas-kemas" Ucap Hae Ra yang langsung direspon dengan anggukan kepala milik sang Nenek.


________


Rapi duduk termenung di depan teras rumah milik Hae Ra, lelaki itu sedang menunggu Hae Ra membukakan pintu setelah mengetuknya, tak beberapa lama menunggu sosok Hae Ra pun muncul, Rapi spontan berdiri dan telah bersiap mengintrogasi Hae Ra namun niatnya tertahan karena Hae Ra telah lebih dulu menempelkan jari lentiknya di depan bibirnya memberi peringatan.


Hae Ra menutup pintu kembali lalu menarik lengan Rapi untuk menjauh dari pintu dan juga teras rumahnya.


"Aku tak ingin Nenek mendengarkan percakapan kita" Ucap Hae Ra setelah merasa sudah berada dalam jarak yang cukup aman dari jangkauan pendengaran sang Nenek.

__ADS_1


"Ku dengar kau mengundurkan diri?" Tanya Rapi yang langsung dijawab dengan anggukan kepala milik Hae Ra "Tapi kenapa?, pada hal sebelumnya kau mengatakan akan bertahan bekerja di hotel apapun yang terjadi sampai kau menemukan pekerjaan baru, tapi sekarang kau tiba-tiba mengundurkan diri dan ini semua terjadi setelah kau bertemu dengan Ibu mu. Kenapa mendadak seperti ini? apa yang sebenarnya dikatakan wanita itu pada mu?" Rapi terlihat sedikit marah namun bukan pada Hae Ra akan tetapi pada Nyonya Rena.


"Tidak ada sesuatu apapun yang terjadi Rapi, aku hanya berfikir ucapan mu benar, sebaiknya aku keluar dari hotel"


"Berhenti berbohong Hae Ra, Aku bukan hanya setahun atau dua tahun mengenal mu, aku sudah mengenal mu sejak kita masih kecil jadi aku tahu kapan kau berbohong dan kapan kau berkata jujur" Rapi memegang kedua bahu Hae Ra "Cepat katakan yang sebenarnya pada ku, apa kau tak menganggap aku sebagai sahabat mu lagi?"


Hae Ra akhirnya kalah setelah di desak oleh Rapi, gadis berponi itu akhirnya menceritakan semua yang terjadi pada Rapi.


"Mama mu betul-betul sudah keterlaluan" Ucap Rapi lelaki itu sangat marah namun ia harus menahan kemarahanya karena ia tak tahu harus melampiaskan kemarahanya pada siapa.


Hae Ra tertunduk, ia ingin mengatakan semuanya pada Rapi namun ia menahan itu, gadis berponi itu tak mau membuat sahabatnya itu menjadi terbebani.


"Apa kau menyembunyikan sesuatu dari ku lagi?" Tanya Rapi penuh selidik.


"Tidak" Sambar Hae Ra.


"Jangan bohong" Timpal Rapi.


Hae Ra lagi-lagi tertunduk diam "Melihat tingkah mu seperti ini, aku yakin kau pasti menyembunyikan sesuatu dari ku"


"Sebenarnya.. Sebenarnya" Hae Ra terdiam memberi jedi pada kalimatnya "sebenarnya selain mengundurkan diri dari pekerjaan, aku dan Nenek akan pinda" Ucap Hae Ra.


"Kampung halaman Nenek" Balas Hae Ra.


"Dengar Hae Ra, aku dapat mengerti alasan kau mengundurkan diri, tapi aku sama sekali tidak mengerti alasan kenapa kau mau pinda" Rapi menyerengit tak suka akan keputusan Hae Ra "Kenapa begitu mendadak ingin pindah?" Lanjutnya dengan wajah sedikit marah.


Hae Ra tersenyum lalu menjawab "Ku rasa kepindahan ku adalah keputusan yang baik. Baik untuk ku juga baik untuk Nenek"


"Lalu bagaimana dengan ku?" Mata Hae Ra terbelalak begitu mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Rapi "Kau akan meninggalkan ku begitu saja" Lanjut Rapi.


"Aku tidak meninggalkan mu. Lagi pula kita bisa saling berkunjung satu sama lain" Ucap Hae Ra, Rapi masih terdiam tak ada respon dari lelaki tampan itu, kabar kepindahan Hae Ra seakan menyedot semangatnya.


"Rapi?" Panggil Hae Ra, Rapi masih tak merespon.


"Aku pulang" Ucap Rapi hal itu membuat Hae Ra menyadari bahwa Rapi betul-betul kecewa padanya.


Hae Ra mencekal lengan Rapi membuat lelaki itu langsung menghentikan langkahnya "Kau marah?" Tanya Hae Ra.


"Entalah" Sambar Rapi kemudian melepaskan dengan lembut genggaman Hae Ra dari pergelangan tanganya "Sampaikan salam ku pada Nenek" Ucap Rapi lalu berlalu pergi meninggalkan Hae Ra tanpa berbalik sedikitpun.

__ADS_1


Hae Ra terdiam menatap punggu Rapi yang semakin lama semakin menghilang di kejauhan, dengan kepala tertunduk Hae Ra melangkah masuk ke dalam rumahnya.


Dalam kamar, Hae Ra menelpon Rapi berkali-kali, namun Rapi tak menjawab panggilan telpon darinya, mungki sudah hampir 20x Hae Ra menelponya namun Rapi tak meresponnya.


Hae Ra mendesah berat, dengan wajah sedihnya dia meletakan ponsel di sampingnya, lalu beberapa detik kemudian telpon milik Hae Ra bergetar membuat Hae Ra spontan meraih ponselnya dan menjawabnya tanpa menatap layar ponselnya terlebih dahulu.


"Halo Rapi, kenapa kau tak menjawab panggilan telpon ku" Serobot Hae Ra dengan suara sedikit meninggi.


Sementara di seberang, Seon Ho langsung memberi wajah masam saat mendengar Hae Ra menyebut nama lelaki lain saat dirinya yang menelpon.


"Kau mengkhawatirkan lelaki lain di hari pertama mu mengundurkan diri" Hae Ra terbelalak mendengar suara orang yang menelponya bukanlah suara Rapi. Hae Ra menatap ponselnya dan baru menyadari bahwa ia telah menerima telpon dari nomor yang tak dikenal, wajah Hae Ra langsung berubah dingin.


"Apa mau mu menelpon ku?" Tanya Hae Ra.


Seon Ho tersenyum kecut "Bahkan nada suara mu berubah begitu mengetahui bahwa aku yang menelpon mu" Hae Ra hanya mendesah lalu dengan kesal mengakhiri panggilan telponya sepihak.


Seon Ho lagi-lagi hanya tersenyum kecut "Dia betul-betul_" Gumam Seon Ho, jari jemari Seon Ho dengan lincah menari di layar ponsel pintarnya setelah mengetik pesan singkat ia pun segera mengirim pesan itu pada Hae Ra.


Hae Ra menatap ponselnya melihat ada pesan yang masuk dengan malas gadis berponi itupun membaca pesan singkat itu.


'Aku ada di depan rumah mu, jika kau tak ingin aku membuat kegaduhan di rumah mu, maka temui aku sekarang juga'


Mata Hae Ra terbelalak dengan cepat dia berlari keluar kamar menuju pintu rumahnya, dari balik jendela Hae Ra dapat melihat sosok Seon Ho tengah berdiri di depan teras rumahnya.


"Sebenarnya apa maunya lelaki setengah gila itu?" Gumam Hae Ra kesal sembari membuka pintu lalu menutupnya kembali, Hae Ra berjalan menghampiri Seon Ho.


"Ku rasa aku harus mengancam mu terlebih dahulu, baru kau akan menuruti keinginan ku" Ucap Seon Ho saat Hae Ra ada di hadapanya.


"Apa mau mu datang kemar_"


Ucapan Hae Ra terhenti begitu Seon Ho dengan cepat merengkuh tengkuknya, mendekatkan wajah mereka bahkan bibir mereka nyaris bersentuhan, mendapati itu spontan Hae Ra mendorong dada Seon Ho namun yang terjadi Seon Ho justru tak bergeming dari hadapanya lelaki itu malah semakin mendekatkan dirinya kearah Hae Ra menyisakan sedikit jarak diantara mereka.


"Dengar Hae Ra jangan menguji batas kesabaran ku" Ucap Seon Ho dengan mata yang hanya menatap kearah wajah gadis berponi itu "Jika ku katakan, temui aku maka kau harus menemui ku" Lanjutnya.


Hae Ra kembali mendorong Seon Ho dan kali ini dia berhasil membuat Seon Ho sedikit manjauh darinya, denga kesal Hae Ra menjulurkan telunjuknya untuk menunjuk kearah Seon Ho "Dengar" Ucap Hae Ra dengan nada kesal "Jangan seenaknya memerintah ku, karena aku bukan milik mu dan aku bukan hewan peliharaan mu, yang seenaknya dapat kau suru-suru. Kau juga harus tau, bahwa aku juga memiliki batas kesabaran" Setelah mengucapkan isi hati dari kekesalannya Hae Rapun berlalu pergi meninggalkan Seon Ho.


"Dengar Hae Ra!" Terika Seon Ho membuat Hae Ra langsung menghentikan langkahnya "Kau hanya akan menjadi milik ku, karena itu adalah takdir mu" Ucap Seon Ho


Bersambung!......

__ADS_1


__ADS_2