
Yana begitu kesal dengan Gabriel. Seharian dirinya di suruh-suruh sama suaminya. Bukan hanya di suruh-suruh saja. Suaminya juga melemparkan kekesalannya pada dirinya. Ia tak tak tau letak kesalahannya dimana. Padahal, ia hanya diam saja mendengarkan pertengkaran kakak iparnya dan juga kekasih suaminya.
Yana memotong-motong ayam dengan sangat ganas. Kekesalannya masih belum reda.
"Kalau emang aku salah harusnya di kasih tau, bukan malah marah-marah nggak jelas." Monolog yana dengan mengencangkan tangannya memotong ayam yang baru di ambilnya.
"Apa kau ingin membunuh ayam itu." Tanya Gabriel membuka kulkas dan mengambil air dingin.
"Ia, saya ingin membunuh ayam ini, apa anda tak lihat kalau ayam ini sudah mati karna saya cincang-cincang." Yana menjawab kesal. Tangannya begitu lincah mencincang ayam. Ia memperlihatkan kekesalannya pada Gabriel dengan cara seperti itu.
Gabriel yang melihat itu menatap ngeri. Ternyata istrinya begitu menakutkan jika begitu.
Gabriel minum berdiri di dekat kulkas sambil melihat Yana yang ingin memasak.
Yana menatap Gabriel dengan tajam dan mengacungkan pisau di hadapan suaminya. Gabriel yang melihat itu memuncratkan air pada lengan Yana. Ia kaget melihat istrinya begitu berani.
"Apa anda tak belajar adab minum?" Kesal Yana yang mendapat perlakuan tak terduga dari Gabriel.
Gabriel berjalan menjauh dari Yana. Bukan karna takut, tapi karna ingin tertawa melihat istrinya begitu lucu. Yana tak memakai cadarnya karna Gabriel melarangnya. Maka dari itu ia begitu gemas melihat muka kesal istrinya.
"Berhenti." Ketus Yana.
Gabriel yang mendapat perintah dari yana menghentikan jalannya. Ia menatap Yana. Ingin rasanya ia mengusel-usel pipi istrinya itu.
"Duduk." Gabriel pun patuh. Ia mendudukkan pantatnya di kursi dengan pelan. "Bismillah terus minum." Lanjut Yana melihat Gabriel yang patuh dengan ucapannya.
Gabriel minum dengan pelan. Entah kenapa ia bisa patuh seperti anak anjing yang mengikuti semua perintah majikannya.
'untung istri.' batin gabriel.
"Sudah." Gabriel mengangguk patuh. "Sini botolnya." Yana menengadahkan tangan kirinya yang tak memegang pisau.
"Gue bisa sendiri." Ketus Gabriel. Ia tak tau harus mengapakan istri kecilnya ini. Sudah berani memerintah dirinya.
Yana mengangkat tangan kanannya yang masih memegang pisau. Ia menengadahkan di depan Gabriel. Bukan untuk menakuti Gabriel. Tapi, ia ingin menyuruh suaminya membantunya.
Gabriel yang melihat itu menyalah artikan tindakan Yana. Ia menaruh botol minumnya di atas meja dan ia kabur dari hadapan Yana.
Istrinya ternyata psikopat. Beraninya bermain pisau untuk melawannya.
Gabriel menghela napas pelan. Mengelus dadanya dan tersenyum senang melihat wajah istrinya. Wajah kesal yang sangat menggemaskan.
"Buat apa aku senang melihat wajahnya, kalau wanita itu membunuh ku, kedepannya aku tak lagi bisa melihatnya." Monolog Gabriel geleng-geleng kepala.
"Apa dia balas dendam padaku? Kenapa sampai marah begitu." Monolognya lagi berjalan memasuki ruang kerjanya.
Yana menatap kesal suaminya yang lari. Apa salahnya. Kenapa sampai takut begitu. Padahal ia tak melakukan hal yang berbahaya.
Yana melanjutkan memasaknya. Ia memasak dengan hati yang tenang. saat melihat suaminya, rasa kesalnya seketika menghilang. Ia tak bisa lama-lama kesal ke suaminya.
******
Yana dan Gabriel makan dengan lahap. Hanya dentingan sendok yang terdengar oleh telinga mereka. Yana ingin bertanya langsung pada suaminya tentang wanita itu. Walaupun sudah tau, ia ingin bibir suaminya yang mengatakannya. Tapi, ia tak tau harus memulai dari mana.
Yana melirik Gabriel yang begitu fokus menatap makanan di hadapannya. Membuat ia ragu mengeluarkan suaranya.
__ADS_1
Akhirnya Yana mengalah. Pikirannya di penuhi dengan kekasih Gabriel. Ia tak bisa kalau tak menanyakan itu pada suaminya.
"Apa wanita tadi pacar anda?" Tanya Yana menghentikan makannya. Ia menatap Gabriel yang masih fokus pada makanan di hadapannya.
"Hmm." Jawab Gabriel singkat. Ia tak ingin melihat wajah istrinya yang membuat ia bisa khilaf kapan saja. Wajah yang sungguh membuatnya gemas.
"Apa anda sudah lama pacaran sama dia?"
"Hmm."
"Apa anda mencintainya?"
"Hmm."
"Kapan kita akan bercerai?" Yana bertanya sambil memegang sendoknya dengan erat. Pertanyaan itu sungguh berat ia keluarkan. Tapi ia ingin tau jawaban dari mulut suaminya.
Gabriel menghentikan makannya. Matanya menatap mata sayu istrinya yang membuat hatinya merasa campur aduk. Apalagi pertanyaan itu yang keluar dari mulut Yana, membuat ia ingin marah.
Padahal, awalnya ia ingin membuat perjanjian pernikahan agar bisa berpisah dari Yana. Sekarang malah kata perpisahan itu tak ada di dalam pikirannya.
Gabriel memajukan wajahnya perlahan. Emosinya meluap dengan ucapan Yana.
Cup.
Satu ciuman lama Gabriel layangkan di bibir Yana. Ia tak ingin memarahi wanitanya yang bisa membuat wanita itu bersedih. Mata sayu itu sudah membuatnya merasa sakit.
Gabriel memundurkan wajahnya, ia menatap wajah istri kecilnya yang memerah. Matanya membulat. Itu sungguh menggemaskan di matanya.
"Ehm." Gabriel berdehem untuk menetralkan detang jantungnya. Emosinya seketika menghilang saat mendapat nutrisi dari mulut Yana.
Yana masih membeku mendapat ciuman dari Gabriel. Itu pertama kali ia di cium lelaki. Sungguh membuat jantungnya meronta-ronta. Sampai ia tak sadar kalau suaminya tak lagi di sana.
*******
Yana memasuki kamar dengan muka yang memerah, Untung suaminya tak berada dalam kamar jadi tak melihat wajah Yana yang makin memerah. Ciuman yang di berikan suaminya masih terasa di bibirnya. Membuat ia tersenyum merona. Ciuman pertama yang sangat berkesan di pikiran Yana.
Yana bukan wanita polos, ia punya sahabat bar-bar yang tak pernah bisa mengontrol ucapannya. Yana banyak mendengar cerita esktrim dari Novi membuatnya banyak tau hal soal dewasa-dewasa.
Tringgg....tringggg....
Suara deringan telpon terdengar membuat lamunan yana buyar. Yana menatap ponselnya yang berdering.
Novi is calling
Yana menggeser tombol hijau ke atas. Senyumnya makin mengembang.
"Halo, assalamu'alaikum." Sapa Yana dengan suara lembut. Kebiasaan ia saat berbicara sama siapapun sekalipun itu sahabatnya sendiri.
"Wa'alaikumussalam pengantin baru." Balas Novi dengan ceria.
"Kenapa?"
"Kenapa apanya Yana ku sayang?"
"Hehehehe,, kirain ada gosip lagi." Yana terkekeh.
__ADS_1
"Nggak ada, nggak baik untuk bergosip."
"Aku nggak pernah bergosip, aku cuman mendengar gosip kamu. Dosanya makin banyak dengerin kamu bergosip."
Novi tertawa mendengar ucapan Yana. "Itu jangan di ingat, aku nelpon bukan mau bergosip. Aku cuman mau bilang besok aku dah balik."
"Benarkah?" Yana bertanya antusias.
"Iya Yana sayang."
"Alhamdulillah aku sudah kangen sama ponakan aku."
"Mamanya nggak di kangenin yah?"
"Kangen."
"Oiya besok aku mau ngasih kamu kejutan." Ucap Novi menggebu-gebu.
"Kejutan apa." Yana menjawab penasaran. Tangannya meremas selimut.
"Besok aku kasih kejutannya." Novi terkekeh merasa lucu. Pikirannya membayangkan wajah Yana yang menggemaskan saat ia penasaran.
"Ya sudah, besok aku tagih kejutannya."
"Iya Yana,, oiya bagaimana kado ku sudah di pakai belum? Baguskan bajunya."
Yana mengerutkan keningnya. "Baju apa?" Tanya Yana dengan bingung.
"Baju dinas kado pernikahan kamu."
Yana menepuk keningnya. Ia tak melihat baju dinas itu lagi. Membuat ia panik karna melupakan baju dinas itu.
" Novi udah dulu yah, assalamu'alaikum." Tanpa menunggu jawaban, Yana memutus panggilan sepihak. Biarkanlah Novi memarahinya besok saat bertemu.
"Ya Allah dimana baju itu. Aku tak melihatnya lagi saat melemparnya." Monolognya berjalan ke arah lemari baju miliknya. Menggeser semua baju yang di gantung. Setiap lemari sudah ia bongkar, tapi baju dinas miliknya tak ia dapati.
Helaan napas gusar keluar dari mulutnya.
Gabriel masuk ke dalam kamar. Matanya melihat istri kecilnya di depan lemari yang terbuka. Ia melihat semua baju yang terbongkar di dalam lemari.
Gabriel berjalan ke arah Yana. Istri kecilnya itu tak menyadari jika ia sudah berada di dalam kamar.
"Kenapa?" Tanya Gabriel mengagetkan Yana.
"Astaghfirullah." Yana mengelus dada karna kaget melihat suaminya sudah berada di dekatnya. Yana menatap Gabriel. "Kenapa apanya?" Bukannya menjawab, Yana kembali bertanya dengan gugup.
Gabriel menunjuk lemari Yana yang berantakan. "Itu kenapa? Cari apa?" Gabriel berjalan menuju lemari dan memegang baju Yana dan mengangkatnya untuk ia liat.
Yana mengambil baju di tangan Gabriel. "Mau apa?" Tanya Yana panik.
"Nggak, ini kenapa jadi gini?" Gabriel mengangkat satu alisnya.
"Nggak apa-apa, saya cuman nyari barang aja."
"Cari apa?"
__ADS_1
Yana malu menanyakan baju dinasnya pada gabriel. Tapi, kalau ia tak bertanya tentang baju itu tak akan ia dapat.