TERPAKSA MENIKAHI MU

TERPAKSA MENIKAHI MU
TM : Part - 23


__ADS_3

Yana berjalan kearah Gabriel saat turun dari mobil. Rasa penasaran memenuhi pikirannya. Telinga Yana mendengar suara Tasya yang berteriak.


"By, ikut aku yah. Aku nggak ada hubungannya sama pria tadi." Tasya memohon sambil menarik tangan Gabriel.


Yana meraih jas Gabriel yang sedang menunduk. "Saya yang akan membawa suami ku pulang!!" Tegas Yana menghentikan Tasya dan Andrew yang tarik menarik.


"Emang lo siapa mau bawa Gabriel begitu saja?" Tasya mendelik pada Yana yang terlihat belagu di matanya.


"Gabriel suami saya, jadi yang berhak membawanya itu saya."


Gabriel melepas tangan Tasya dan Andrew di tangannya. Ia meraih tubuh istrinya untuk ia peluk.


"By, kenapa kamu memeluk dia, wanita sok suci dan nggak tau diri ini nggak pantas untuk kamu , by." Teriak Tasya kembali meraih tangan Gabriel.


Gabriel menepisnya. Ia membawa Yana menuju mobil.


Yana memapah suaminya menuju mobil. Gabriel tak bisa diam, tangannya terus meremas bahunya dengan erat dan terus mendesis di telinganya.


"By, tunggu aku." Tasya ingin berlari menyusul Gabriel tapi tangannya dengan cepat di tahan oleh Andrew. Mau memberontak bagaimanapun tenaganya kalah kuat dengan pria yang memegang lengannya dengan keras. Apalagi ia habis minum tenaganya makin berkurang.


Andrew berlari menyusul tuannya yang sudah masuk ke dalam mobil. Ia diam karna harus menghalangi langkah Tasya yang ingin mengejar Gabriel.


Setelah beberapa menit akhirnya Yana dan Gabriel sampai di apartemen. Yana keluar dan membantu Gabriel yang begitu gelisah di dalam mobil. Tangannya tak tinggal diam walaupun Yana terus menghentikan gerakan di tubuhnya. Bahkan bibir suaminya terus mencium lehernya yang tertutup jilbab.


"Nona muda butuh bantuan memapah tuan Gabriel?" Tawar Andrew melihat nona mudanya kesusahan karna Gabriel yang terus bergoyang seperti cacing kepanasan di pelukan istrinya.


'belum waktunya tuan menyentuh tubuh nona muda. Tunggu sampai di dalam apart milik anda tuan, ini tempat umum." Batin Andrew geli melihat reaksi Gabriel yang begitu lucu.


Yana mengangguk. "Boleh."


Andrew mengambil alih tuannya untuk ia papah sampai ke apart millik tuannya.


Saat di dalam lift, Gabriel terus ingin mendekati Yana yang menjaga jarak darinya. Gejolak dalam dirinya sudah sangat menyiksanya. Ia ingin cepat menyalurkan hasratnya. Tapi, Andrew terus menahan tubuhnya.


"Kalau begitu saya permisi nona muda, saya harap kerja samanya nona muda untuk tuan Gabriel. Dia butuh nona." Andrew pamit tanpa mendengar jawaban dari nona mudanya.


Gabriel menarik Yana ke dalam pelukannya dan melepas cadar Yana dari atas. Ci*man bertubi-tubi Gabriel berikan pada Yana karna gejolak dalam dirinya butuh di salurkan.


Yana tak memberontak sama sekali saat mendapat serangan tiba-tiba dari suaminya. Ia kaget dan itu membuat jantungnya berdebar sangat kencang.


Akhirnya hal yang seharusnya terjadi di malam pertama pernikahan di laksanakan dengan Gabriel yang sedang dalam pengaruh obat.


******


Yana berjalan ke arah dapur dengan senyum malu terbit di bibirnya karna mengingat hal yang terjadi padanya dan juga suaminya. Rasa malu hinggap di hatinya sampai membuat pipinya merah. Saat melakukan itu, dirinya hanya diam tak memberontak karna itu sudah kewajibannya menjadi istri.

__ADS_1


"Uhm." Lenguh Gabriel membuka matanya. Tangannya bergerak ke samping Yana tidur. Tangannya meraba-raba tempat kosong itu.


Senyum terbit di bibirnya mengingat hal semalam ia lakukan pada istrinya. Ia cukup buas memakan Yana, padahal itu pertama kali untuk istrinya terdengar dari erangan Yana yang mengatakan sakit.


Tetapi, itu sungguh membuatnya bahagia. Hasrat untuk menyentuh istrinya akhirnya terjadi. Gabriel menyibak selimutnya sedikit, matanya mengarah pada tempat Yana yang terdapat noda merah. Senyumnya makin lebar melihat ia yang pertama untuk istrinya.


Tringg.. tringg.


Suara dering telpon.


Gabriel turun dari ranjang ingin menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Belum juga melangkah ponselnya sudah berbunyi pagi-pagi.


Gabriel meraih ponselnya di atas nakas, matanya melihat siapa yang menelpon.


Tasya ia calling.


Gabriel mendengus, wanita itu membuat moodnya rusak seketika. Gabriel mensilent ponselnya agar tak di ganggu sama siapapun hari ini. Ia ingin berduaan bersama istri kecilnya. Mengungkungnya di bawahnya sampai ia puas kembali.


Setelah selesai membersihkan tubuhnya Gabriel berjalan keluar kamar menuju dapur. Harum dari masakan istrinya sudah tercium.


Yana melihat Gabriel berjalan keluar kamar. Jantungnya kembali berdetak sangat cepat melihat suaminya. Jika bisa ia ingin menghilang untuk seharian ini karna rasa malu.


"Kenapa?" Tanya Gabriel saat melihat Yana yang menegang.


Yana menggeleng cepat. Ia berusaha mengontrol ekspresinya. Tak mau jika Gabriel tau kalau ia sangat gugup.


Yana berkacak pinggang. Gabriel menaikkan alisnya melihat Yana yang terlihat kesal. Masih pagi-pagi istrinya sudah badmood saat melihatnya.


"Kenapa?" Tanya Gabriel bingung. Tetapi, ia juga kembali ingin menyentuh wanita di hadapannya karna terlihat sangat menggemaskan saat marah.


Yana berjalan mendekat ke arah suaminya dan tangannya memukul pelan pantat Gabriel berkali-kali. Tak sakit, karna Yana tak ingin menyakiti Gabriel.


"Semalam anda berjanji tak ingin minum alkohol. Kenapa anda keluarnya mabuk." Kesal Yana menatap Gabriel.


Gabriel menyubit pipi gembul Yana yang menggemaskan. Tangannya mengusel-usel pipi Yana.


"Aku nggak minum alkohol, semalam ada orang yang iseng makanya aku terlihat mabuk." Gabriel menjelaskan pada istrinya yang mukanya merah seperti kepiting rebus.


Yana menunjuk Gabriel dengan mata yang memicing. Tak percaya dengan ucapan Gabriel.


"Beneran, aku nggak minum alkohol. Aku nggak minum apapun yang ada kandungan alkoholnya. Aku hanya minum soda tapi, ada orang iseng yang ngasih." Gabriel memberi tampang tak bersalah. Karna memang itu bukan kesalahannya.


Yana mengangguk mengerti. "Terus kenapa mas Gabriel bisa sama mba Tasya?" Tanya Yana penasaran.


Gabriel mengedikkan bahunya tak peduli.

__ADS_1


"Mas janjian ketemu sama mba Tasya?" Yana berucap sedih. Ia akan sakit hati jika sampai itu terjadi.


"Aku nggak tau kenapa dia ada disana."


"Beneran?"


Gabriel mengangguk. Ia melangkah menuju kulkas. Tenggorokannya terasa kering ia ingin minum, tapi sudah di tahan sama istri kecilnya.


Setelah makan. Gabriel melancarkan aksinya kembali memakan Yana. Ia melupakan kerjaannya di kantor membuat Andrew yang menjadi sibuk.


Yana hanya diam menerima perlakuan Gabriel padanya. Itu kewajibannya untuk memberi hak pada suaminya.


"Makasih. I love you." Bisik Gabriel di telinga Yana yang sedang tertidur.


Yana masih bisa mendengar ucapan Gabriel. Ia tak bisa menjawab yang di katakan Gabriel. Ia takut kalau itu cuman bercandaan saja di saat suaminya hanya membutuhkan tubuhnya.


******


Nata berjalan mencari suaminya. Ia ingin memberitahukan hal membahagiakan jika ia di terima di kampus ternama. Tak ingin melewatkan hal membahagiakan ini.


Nata berjalan ke ruang keluarga. Langkahnya tergesa-gesa agar bisa segera menemui suaminya.


Langkah yang tergesa-gesa itu berubah jadi lamban saat melihat suaminya menatap sebuah foto besar di hadapannya. Bukan foto keluarga ataupun foto pernikahannya. Melainkan foto pernikahan Yana dan juga Gabriel yang suaminya tatap.


Sebenarnya ia penasaran siapa yang suaminya liat. Tapi, perjanjian kontrak nikahnya tak boleh mencampuri urusan suaminya. Maka dari itu dia bungkam, menutup mulutnya rapat-rapat. Biarkan rasa penasaran menghantui pikirannya.


"Mas Rey." Panggil nata dengan lembut.


Rey berbalik melihat istrinya yang berjalan kearahnya dengan senyum manis. Rey membalas senyuman itu.


"Kenapa?" Tanya Rey berjalan ke arah nata.


Nata memberikan ponselnya dimana pemberitahuan jika ia di terima di kampus impiannya.


Rey terkekeh melihat binar bahagia di mata istrinya. "Selamat ya. Kamu hebat." Rey mengelus kepala Yana dengan lembut.


"Nanti kita tanya mama soal ini." Nata begitu bahagia melihat respon baik dari suaminya.


Rey mengangguk. "Boleh, besok mama pulang."


Nata dengan reflek memeluk tubuh suaminya.


"Makasih mas. kalau nggak ada mas Rey mungkin aku nggak akan pernah kuliah."


Tubuh Gabriel menegang. Ia merasa bersalah dengan istrinya. Harusnya istrinya ini menikmati masa-masa bergaulnya dengan umurnya yang masih 19 tahun. Tapi, ia sudah merusaknya. Apalagi hatinya terpaut pada mantan calon istriny, atau adik iparnya. Itu membuatnya makin merasa bersalah, karna hatinya.

__ADS_1


****


maaf kalau up-nya lama, akhir-akhir ini sibuk banget


__ADS_2