
Gabriel dan Yana berjalan menuju ruangan VIP tempat nata di rawat. Saat mendengar nata masuk rumah sakit, yana dengan cepat menelpon suaminya. Ia begitu khawatir mendengar kabar dari mama mertuanya dengan keadaan nata yang sedang berduka karna kehilangan calon anaknya.
Tok..tok.. suara ketukan yang di layangkan oleh Gabriel. Ia melakukannya karna di suruh oleh Yana.
"Masuk." Titah dari dalam. Yana dan Gabriel masuk.
"Assalamu'alaikum." Salam Yana dan Gabriel bersamaan. Yana sudah mengajari suaminya untuk memberi salam. Gabriel hanya mengangguk dan mulai mempraktikkan ajaran istrinya.
"Wa'alaikumussalam." Jawab nata dan Rey bersamaan pula.
"Mba nata." Panggil Yana saat melihat nata yang terbaring lemah di atas brankar. Disana nata hanya di temani Rey. Mama dan papa mertuanya lebih dulu pulang karna kecapean. Itupun karna dipaksa oleh nata untuk pulang.
Yana menaruh bingkisan di atas nakas samping tempat tidur nata.
Rey mengalihkan menatap tamu yang datang. Ada adik iparnya dan juga adiknya. Hati Rey kembali berdebar saat melihat adik iparnya berdiri di depannya. Entah, kenapa saat melihat muka adik iparnya membuat ia selalu berdebar. Mendengar suaranya saja membuat jantungnya berdegup kencang.
"Iya, mba Yana." Jawab nata saat melihat Yana yang berdiri di samping kanannya bersama Gabriel.
Yana menatap nata dengan sendu. Seakan ia tau kesakitan nata yang sedang kehilangan calon anak.
"Mba nata udah merasa baikan?" Tanya Yana dengan lembut.
Nata mengangguk lemah. "Udah baikan mba." Jawabnya dengan lirih.
Gabriel melingkarkan tangannya kepinggang Yana. Hatinya panas melihat tatapan Rey yang terus tertuju pada istrinya. Rey menatap Gabriel yang memeluk istrinya.
Yana menatap suaminya dengan keheranan. Disaat seperti ini, masih bisanya suaminya pura-pura menunjukkan kemesraannya. Tak menyapa yang lagi sakit, ataupun berbasa-basi menanyakan keadaannya.
Yana tak mempedulikan itu. Ia kembali fokus menatap nata yang berbaring lemah. "Mas Rey, kami turut berduka cita atas kepergian calon anak mas Rey." Yana hanya sekilas menatap kakak iparnya. Kemudian, matanya kembali menatap wajah nata yang begitu pucat.
Rey hanya mengangguk tak ingin merespon ucapan istri adiknya. Terlalu sulit jika ia berbicara, padahal biasanya ia begitu cerewet jika bertemu dengan wanita lain. Kenapa sekarang ini berbeda.
Gabriel menatap Yana, ia kesal mendengar panggilan untuk kakaknya. Saat memanggil dirinya malah menggunakan kata anda. Hatinya penuh dengan kekesalan. Bukannya ia datang kesini untuk menjenguk kakak iparnya sakit, malah kakaknya yang menatap istrinya begitu berlebihan, belum lagi istrinya yang begitu lembut memanggil kakaknya dengan sebutan mas Rey.
Hatinya dongkol bukan main. Semesra apapun ia pada istrinya, itu tak meruntuhkan mata Rey yang menatap Yana begitu intens. Seakan istrinya adalah mangsa yang begitu lezat.
"Kalau begitu kami pamit dulu." Celetuk Gabriel menarik begitu erat Yana ke dalam dekapannya.
"Mas El." Protes Yana melihat suaminya.
"Kenapa cepat banget?" Tanya Rey menatap Gabriel.
Gabriel menatap tajam sang kakak yang sudah berani menatap istrinya. "Cih." Gabriel berdecih.
Rey dan Gabriel saling menatap, bedanya Rey menatap adiknya dengan tatapan santai seperti tak ada yang terjadi.
"Bukannya kami sudah menjenguk istri lo. Soal cepat atau lamanya kami disini bukan urusan lo." Ketus Gabriel pada Rey.
"Mas El, kok ngomongnya gitu." Tegur Yana, tangannya mencubit pinggang suaminya yang berkata kasar.
Gabriel tak memperdulikan apa yang di lakukan istrinya untuknya. Yang terpenting istrinya aman dari mata jelalatan seperti mata kakaknya.
__ADS_1
"Kalian baru sampai. Bahkan istrimu masih ingin mengobrol bersama istriku, kenapa melarangnya untuk berbicara sebentar."
Gabriel memutar mata malas. Hal ini yang membuatnya ingin marah. Tetapi, mana mungkin ia meluapkan emosinya di saat seperti ini.
"Gue masih banyak kerjaan."
"Ya sudah kalau gitu kamu yang pulang, biarin istri kamu disini."
Gabriel mendengus, merasa jengkel mendengar ucapan tak berbobot dari kakaknya.
Yana mengalah. Ia tak ingin ada perdebatan antara kakak ipar dan suaminya. Tangannya mengelus lengan gabriel yang melingkar di pinggangnya.
"Mba nata, kami mau pamit dulu." Pamit Yana karna nggak enak dengan keadaan sekarang.
Nata hanya mengangguk tak menanggapi. Kakinya masih terasa ngilu. Maka dari itu ia tak terlalu fokus dengan apa yang terjadi, bahkan ia tak melihat suaminya yang sedang menatap wanita lain.
"Mas Rey kami pamit dulu."
"Hati-hati." Jawab Rey dengan suara berat.
Yana menarik lembut tangan suaminya untuk keluar. Gabriel hanya mengikut, mimik wajahnya masih muram. Kekesalannya belum hilang walaupun istrinya bersikap lembut padanya.
"Kenapa mukanya seperti itu? Anda marah sama saya?" Tanya Yana saat sudah berada di dalam mobil.
Gabriel mendengus. Istrinya kembali ke mode dimana ucapannya memakai anda dan saya.
"Kenapa masih memanggil sebutan anda? Kalau banyak orang manggilnya mas El." Gabriel berucap dengan ketus.
Yana mengernyitkan dahinya. "Bukannya kita harus pura-pura?"
Yana terdiam. Ia tak tau maksud dari suaminya. Bukannya malam pertama suaminya ingin melakukan kontrak pernikahan. Kenapa sekarang suaminya menganggap semuanya real tanpa kepura-puraan.
"Maksudnya?" Lirih Yana. Takut emosi suaminya makin meluap.
Gabriel mendengus. Ia tak merespon ucapan Yana. Terlalu malas ia memperpanjang masalah pada istrinya yang otaknya hanya seujung kuku.
*****
Yana berjalan mondar mandir di dalam kamar. Ia baru saja menunaikan sholat isya. Pikirannya bingung dengan jalan pikiran suaminya. Seperti ada yang tidak beres dengan suaminya.
Ia ingin bertanya pada sahabatnya. Tetapi, bukannya masalah rumah tangga tak boleh ia umbar. Berpikir juga otaknya serasa buntu. Harus bagaimana lagi caranya meluluhkan hati suaminya yang sedang emosi.
Yana memutar otak.
"Ah, ya Allah bantu hambamu agar suami hamba bisa jadi baik lagi." Monolog yana. Pikirannya benar-benar buntu. Ia tak mengerti dengan maksud ucapan suaminya saat berada di mobil tadi.
"Bagaimana caranya aku bisa membuat emosinya mereda."
"Akh, kenapa begitu sulit membujuk seorang pria yang sedang marah."
"Berpikir Yana. Kamu harus bisa."
__ADS_1
Yana menyerah. Kakinya melangkah menuju lemari untuk mengganti pakaiannya menjadi pakaian tidur. Saat pintu lemari terbuka, matanya menangkap baju dinas yang begitu seksi terpampang di depan matanya.
Yana meraih baju dinas yang ia lihat.
"Apa aku menggodanya saja?" Yana menempelkan baju dinasnya ke tubuhnya. Ia berjalan kearah kaca untuk melihat tubuhnya jika memakai pakaian dinasnya.
Yana geleng-geleng kepala. "Ah, tidak-tidak. Nanti mas El berpikir kalau aku wanita penggoda."
Walaupun pikirannya seperti itu, Yana tetap mencoba memakai pakaian dinasnya. Semua pakaian yang melekat di tubuhnya ia buka dan menggantinya dengan pakaian terbuka yang terlihat seksi di tubuhnya.
Gabriel baru saja selesai mengerjakan kerjaannya yang sempat tertunda. Sekarang ia berjalan menuju kamarnya. Mimik wajahnya masih terlihat tajam dan dingin.
Setelah Gabriel membuka pintu, hal pertama yang ia lihat adalah istrinya yang sedang berlenggak lenggok di depan cermin menggunakan baju dinas malam yang begitu memperlihatkan tubuh polosnya.
Mata Gabriel membulat, baru saja sedetik ia menatap tubuh istrinya, ia sudah menegang. Dengan susah payah ia menelan air liurnya melihat pemandangan yang sungguh menggoda imannya.
Yana berbalik saat merasa ada yang memperhatikannya. Ia menatap suaminya yang sempat terkejut, tapi hanya sedetik wajah suaminya kembali dingin.
Gabriel menutup pintu dengan kencang. Kakinya melangkah ke arah ranjang tidur. Ia baringkan tubuhnya dan membelakangi istrinya. Ia terlalu gengsi untuk memulai duluan. Ingin tau sejauh mana istrinya menggodanya pasti itu sungguh menarik. Bibirnya terangkat mengulas senyum saat melihat istrinya memakai baju dinas yang begitu seksi dan menggoda. Istrinya ternyata sangat pintar.
"Mas El." Bisik Yana ragu-ragu dengan sebutan nama untuk suaminya. Tangannya terangkat memegang lengan Gabriel.
"Yana ada salah sama mas El? Jangan marah kalau memang Yana ada salah."
Gabriel berbalik, ia tak sanggup dengan godaan yang di berikan untuk istrinya. Tangannya terangkat menyentil dahi istrinya.
"Aku nggak suka kamu memanggil orang lain dengan sebutan mas. Sedangkan aku, kamu memakai kata anda. Aku suami kamu bukan orang lain."
Yana mengangguk mengerti. Ia sudah mengerti dimana letak salahnya. "Apa sekarang kita masih pura-pura." Tanya Yana takut menyinggung suaminya.
"Apa kamu masih berpikir aku pura-pura melakukan semua itu?"
Yana mengangguk. "Bukannya dari awal anda yang memulainya."
Gabriel mendengus mendengar panggilan istrinya yang masih memakai kata anda.
"Aku nggak suka kamu memanggil aku dengan kata anda. Aku suami kamu."
Yana mengangguk. "Aku akan mengubahnya."
"Setelah malam yang kita lewati apa kamu masih berpikir aku melakukannya karna terpaksa?"
Yana menggeleng malu mengingat yang ia lakukan bersama suaminya.
"Berhenti berpikir kalau aku melakukannya hanya pura-pura."
Yana mengangguk saja.
"Ganti panggilan kamu."
Yana kembali mengangguk.
__ADS_1
"Akh, mas El." Desis Yana kaget mendapat serangan dari suaminya.
Gabriel mengungkung Yana di bawahnya. "Bukannya kamu yang memulainya, jadi kamu harus bertanggung jawab."