
"Sebentar lagi aku kuliah mas. Gimana kalau ketahuan sama mama yang sebenarnya kalau aku nggak hamil!!" Nata menatap Rey yang duduk di sofa dengan leptop di pangkuannya.
Dalam hatinya ia begitu takut dan cemas jika orang tua suaminya saat tau kalau ia tak hamil. Semarah apa nantinya mereka padanya jika kebohongannya terungkap.
Rey mengangkat wajahnya mengalihkan tatapannya dari leptop. Ia hampir melupakan satu hal itu, kejadian mengakui jika nata sedang hamil anaknya.
"Aku akan memikirkan caranya. Kamu tidur aja, nggak usah mikirin hal itu. Aku yang akan menyelesaikannya." Rey tersenyum pada nata. Senyum yang selalu mendebarkan jantung nata dan membuatnya jatuh cinta secepat itu pada suami kontraknya.
******
Nata membersihkan dirinya untuk bersiap ke bawah membuat sarapan. Suaminya berada di dalam kamar mandi.
Rey keluar dengan santai. Membuat nata menatapnya bingung.
"Mas nggak ke kantor?" Tanya nata yang melihat Rey keluar dari kamar mandi masih memakai pakaian santainya yang semalam.
Rey menggeleng. " Nggak, hari ini kita akan melakukan sesuatu."
Nata di buat penasaran oleh ucapan suaminya. "Melakukan apa, mas?"
Rey berjalan ke arah meja rias yang di duduki nata. Senyum di bibirnya makin mengembang.
"Hari ini mama papa pulang, aku ingin kamu pura-pura jatuh dari tangga saat mama sampai di rumah. Aku ingin kamu seakan keguguran jika jatuh dari tangga. Ngerti?" Rey menatap nata melalui cermin. Tangannya mengelus rambut istrinya yang halus.
Nata menatap Rey dengan sayu. Jika di awali dengan kebohongan, pasti seterusnya akan terus melakukan kebohongan yang lain. Itu yang membuat hatinya tak tenang.
"Mas, apa rencana mas nggak keterlaluan ? Kita sudah membohongi mama sejauh ini." Nata menjawab takut-takut.
Rey menundukkan kepalanya. "Terus kamu mau bagaimana? Di rahim mu tak ada anak, jika tak besar-besar itu akan menimbulkan kecurigaan pada mama papa." Bisik Rey di telinga nata.
Nata menegang saat Rey berbicara di telinganya.
"Saat pemeriksaan kandungan nanti, mama sudah bilang akan ikut melihatnya. Apa kamu siap kalau sampai ketahuan nggak hamil?"
Nata semakin di buat bimbang. Jalannya terlalu sulit sekarang. Demi uang ia sampai lupa jika konsekuensinya sangat besar. Ia mempermainkan kepercayaan mertuanya yang menerimanya dengan tangan terbuka. Bahkan orang tuanya di kampung di bantu oleh mertuanya. Dimana lagi ia akan mendapat mertua sebaik ini.
Nata dengan ragu mengangguk. "Aku akan melakukannya mas." Nata berucap lirih. Keputusannya sekarang membuatnya ragu. tetapi, jika tak di lakukan ia akan mengecewakan banyak kepercayaan yang di berikan untuknya.
"Bagus." Rey tersenyum puas.
Air mata nata menetes seketika. Jika drama hamilnya selesai sebentar lagi, pernikahannya juga selesai. Itu akan membuatnya patah hati, cinta pertamanya mengecewakan dirinya. Harapannya tinggi dan itu membuatnya jatuh.
"Jangan menangis. Aku tak menyakitimu sama sekali." Rey mengusap pipi nata yang basah oleh air mata.
Bukan kamu yang menyakitiku, tapi harapan ku yang menyakiti diriku sendiri.
__ADS_1
Nata mengangguk. Hatinya remuk, disaat ia jatuh cinta, ternyata cintanya menyakitkan. Ia tak bisa menggapai cintanya karna terlalu jauh. Walaupun orangnya dekat, tetapi untuk ia gapai begitu sulit.
"Bagaimana dengan janinnya, mas?" Nata bertanya dengan suaranya yang serak.
"Aku sudah menelpon teman aku yang seorang dokter untuk membantuku. Jadi kamu hanya perlu melakukan tugas mu saat mama pulang."
Nata mengangguk. Apa boleh buat nasi sudah jadi bubur, jadi ia hanya bisa melanjutkan kepura-puraannya pada mertuanya.
"Ambil ini. nanti taro di dalam pakaian dalam mu saat kamu terjatuh nanti, itu akan tumpah sendiri." Gabriel memberi sebuah kantong kecil yang bewarna merah.
Nata mengambilnya dengan tatapan bingung. Ternyata ide suaminya terlalu rapi di lakukan. Ia saja tak sempat memikirkan hal itu. Suaminya malah dengan apik merencanakan semuanya.
******
Nata berlari cepat dari atas lantai dua menuju bawa yang terdapat mama mertuanya yang memanggilnya. Ia harus menjalankan aksinya.
"Nata jangan lari-lari." Teriak mama iren melihat menantunya yang berlari dengan cepat menuruni tangga.
Bugh.
Nata jatuh dengan cukup keras dari tangga ke lima dari bawah. Rasa sakit di lutut dan juga pahanya begitu terasa. Bukan di sengaja lagi, tapi sudah benar-benar jatuh.
"Ahk." Teriak nata cukup nyaring di mension milik keluarga suaminya.
Mama iren berlari dengan panik melihat nata sudah tersungkur di lantai bawah. "Nata." Mama iren memangku kepala nata. Matanya melihat darah mengalir cukup banyak.
"Nata tahan yah sayang." Mama iren menangis melihat menantunya begitu kesakitan.
"Rey, pa. Tolong, cepat kesini." Teriak mama iren lagi kembali memanggil suami dan anaknya. Wajahnya sudah begitu panik karna melihat bibir nata yang pucat.
Para pembantu berlarian mendengar suara teriakan mama iren yang kedengaran panik. Matanya melihat menantu di keluarga ini sedang tersungkur lemah di bawah tangga. Darah mengalir keluar dari dalam rok yang di kenakan nata.
"Nyonya." Lirih salah satu pembantu mama iren. Matanya membulat. Kepanikan terpancar di wajahnya.
"Bi, panggil tuan, bi. Cepet." Ucap mama iren.
"Ish. Ma, maaf." Nata meringis. Merasa bersalah melihat mama iren yang begitu panik. Ia sakit karna paha dan lututnya yang terasa remuk.
Rey berlari cepat menuruni tangga. Hatinya begitu bahagia karna sebentar lagi rencananya berhasil. Tanpa tau jika istrinya jatuh sungguhan, tak ada kepura-puraan.
Papa arsan menghampiri istrinya. Papa arsan ikut panik saat melihat menantunya di lumuri darah.
"Nata kenapa, ma? Kenapa bisa begitu." Tanya papa Arsan yang membantu Rey mengangkat nata.
"Biar aku aja pa." Intrupsi Rey untuk mengangkat istrinya sendiri.
__ADS_1
"Nata jatuh dari tangga, pa." Mama iren terisak. Mama iren dan papa arsan berjalan dengan cepat mengikuti langkah Rey yang tergesa-gesa membawa nata menuju mobil.
"Mas, sakit." Lirih nata. Ia menangis merasakan sakit di lututnya berkali lipat karna Rey meremasnya kuat.
"Tahan sebentar." Rey melihat wajah nata yang dipenuhi keringat, bibirnya pucat. Membuatnya merasa bingung.
"Mama ikut Rey." Rey mengangguk masuk ke dalam kemudi mobil.
Rey dengan cepat membawa nata masuk ke dalam rumah sakit. Perasaannya merasa ada yang tidak beres. Istrinya terlihat sangat pucat.
Rey mengangguk memberi kode untuk menjalankan rencananya saat melihat teman yang sudah ia telpon. Dokter dengan nametag Rama.
"Ma, jangan panik. Tenangin diri mama." Papa arsan menenangkan istrinya yang berada di pelukannya. Kepanikan mama iren membuat papa arsan ikut panik walaupun tak tampak di wajahnya. Panik karna takut akan terjadi sesuatu pada cucunya. Cucu pertamanya.
"Rey, ini salah mama." Mama iren menyalahkan dirinya.
"Bukan salah mama. Jangan disesali."
Setelah menunggu 20 menit, dokter Rama keluar dari dalam ruangan.
Rey mendekat lebih dulu untuk mengetahui kondisi nata. Diikuti mama iren dan papa arsan mendekat.
"Bagaimana kondisi istri saya, dok." Rey bertanya.
"Menantu sama cucu saya baik-baik aja kan, dok?" Mama iren makin panik melihat ekspresi wajah dokter Rama yang sayu.
Papa arsan mengelus lengan mama iren untuk menenangkan kepanikannya.
"Nyonya nata mengalami keguguran tuan, nyonya, tuan muda. Karna mengalami pendarahan." Dokter Rama menjelaskan dengan rasa takut memenuhi hatinya. Berbohong pada pemilik rumah sakit tak baik buat pekerjaannya. Bisa saja ia di pecat jika kebohongannya ketahuan.
Mama iren menangis karna kehilangan cucu pertamanya. Ia salah karna tak menghentikan menantunya yang berlari dengan cepat.
Setelah di lakukan kuret, mama iren dan papa arsan masuk ke dalam kamar yang sudah ada Rey di dalam ruangan.
Nata menatap mama iren dengan sedih, hatinya sakit karna telah membohongi wanita di depannya. Wanita yang menerima keadaannya menjadi menantu walau ia tak sederajat dengan suaminya. Rasanya ia menyesal telah membohongi mertuanya. Harusnya hal ini tak terjadi agar hatinya tak di selimuti rasa bersalah yang mendalam.
"Sabar yah nak." Mama iren mengelus lengan nata untuk menguatkan menantunya.
Nata mengangguk lemah. Rasa nyeri di pahanya masih ia rasakan.
"Jangan sedih yah, nak. Nanti Allah ganti yang lebih baik lagi jika sudah rejekinya." Papa arsan tersenyum, ia tak ingin terlihat sedih walaupun ia ingin menangis karna kehilangan calon cucunya dan melihat menantunya yang terbujur lemah.
"Makasih pa, ma. Maaf kalau nata mengecewakan kalian." Nata berujar lembut.
Mama iren menggeleng, air matanya kembali mengalir. "Kamu tak salah sayang, mungkin belum rejekinya kita bersama dia." Mama iren mengusap air matanya dan tersenyum.
__ADS_1
Nata makin merasa bersalah. Hatinya tak akan pernah tenang sebelum ia mengungkapkan kebohongannya ini.