
Gabriel menatap istrinya dengan kesal. Yana ngapain aja selama beberapa jam ini kenapa ia belum siap juga. Dengan santainya istrinya menonton tv dengan cemilan di tangannya, sesekali tertawa disaat ada yang lucu.
Yana menoleh kearah suaminya yang berwajah masam. "Mau kemana?" Tanya Yana dengan entengnya. Setelah bertanya seperti itu matanya kembali menatap layar di depannya.
"Bukannya aku sudah ngasih tau kalau kita harus pergi melihat lokasi taman di jalan mawar." Kesal Gabriel melihat Yana yang begitu cuek.
Yana menepuk jidatnya. Ia kelupaan dengan janjinya dengan sang suami untuk melihat proyek yang di jalankan. Ia ingin melihat hasil desainnya pada taman yang akan Gabriel bangun.
"Maaf, saya lupa." Yana menatap Gabriel sambil nyengir. Hal yang paling penting ia sampai lupa.
"Aku pergi sendiri aja." Ketus Gabriel.
Yana bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Gabriel untuk menahan tangan suaminya. "Tunggu saya 5 menit, mau ganti baju dulu." Ucapnya ngacir menuju kamarnya.
Yana masuk ke dalam kamar mandi, ia ingin membersihkan tubuhnya terlebih dulu sebelum berganti pakaian.
Gabriel menunggu sudah lebih 20 menit tapi istrinya belum juga kelihatan. Karna kesal ia masuk ke dalam kamar, untuk mengecek Yana. Matanya membulat melihat Yana yang hanya memakai handuk yang sedang berdiri di depan lemari mencari pakaian. Kemungkinan istrinya itu habis mandi.
"Kenapa harus mandi?" Serak Gabriel, ia berusaha menahan gejolak dalam dirinya.
Yana berbalik dengan santai. Tanpa tau jika suaminya begitu tersiksa menatap dirinya.
"Saya nggak mandi, hanya cuci badan saja." Yana kembali mencari gamis yang cocok untuk ia pakai. Ia ingin menyamakan warna gamisnya dengan kemeja yang di kenakan suaminya, warna merah maroon.
"Apa bedanya mandi dan cuci badan?" Tanya Gabriel mengalihkan tatapan matanya ke arah kasur tempat ia tidur dan juga istrinya. Mereka tak lagi tidur terpisah. Seranjang tapi terhalang guling di tengah.
"Beda." Yana mengambil bajunya dan berlari ke arah kamar mandi. Melupakan Gabriel yang sekuat tenaga menahan hasratnya, tapi dengan santainya istri kecilnya itu berlari di depannya.
Gabriel menarik rambutnya frustasi saat ia mendengar suara pintu tertutup. "Akh." Geram Gabriel menahan sesuatu yang tak bisa ia salurkan.
Yana keluar, ia melihat suaminya duduk di kasur dengan iPad di tangannya. Yana menuju meja rias untuk merapikan rambutnya yang panjang sampai pinggang.
Setelah selesai menggunakan cadar, kakinya melangkah menghampiri suaminya yang sibuk.
"Sudah." Yana bersuara lembut.
Gabriel menatap Yana yang sudah memakai cadar. Tangannya mengangkat cadar Yana ke atas kepala.
"Kenapa tak sekalian memakai makeup biar kita perginya 4 jam kemudian." Ketus Gabriel melihat wajah Yana yang tak memakai polesan sedikitpun. Bahkan bibirnya tak memakai apapun.
Yana cemberut.
Cup.
Satu ciuman mendarat ke bibir pink Yana. Gabriel sudah menahan ini sedari tadi, malah istrinya yang memancingnya dengan memanyunkan bibir yang menggoda iman itu.
Yana menegang mendapat ciuman tiba-tiba dari suaminya. Walau bukan yang pertama, ciuman itu masih membuatnya kaku dan malu.
"Pake makeup sana. Biasanya wanita suka seperti itu."
"E-emang harus kek gitu?" Gugup Yana karna ciuman suaminya.
Gabriel mengangguk. "Kamu wanita, jadi harus pakai."
"Tapi saya tak pernah seperti itu."
Gabriel menatap Yana dengan kesal. Ia sudah menunggu lama tapi istrinya tak paham juga maksudnya.
Gabriel menarik tangan Yana dengan pelan. Jika terus memaksa Yana paham akan maksudnya, itu tak akan terjadi. Otak istrinya hanya sedikit.
__ADS_1
'gitu aja tak ngerti kalau aku menunggunya sangat lama.' batin Gabriel.
******
Gabriel membuka pintu untuk istrinya masuk. Setelahnya ia yang masuk di samping Yana. Mereka pergi bersama Andrew yang menjadi supir.
"Apa hari ini ada pertemuan dengan klien?" Tanya Gabriel pada asistennya itu.
"Malam ini tuan Mafa dari Malaysia ingin bertemu dengan anda. Tuan Mafa ingin membahas soal pembangunan hotel di sana. Tuan mafa juga ingin membahas untuk melanjutkan pembangunan apart di Surabaya." Ucap Andrew.
"Jam berapa?" Tanya Gabriel.
"Jam 7 malam di club malam sandrea." Andrew menatap Yana takut-takut.
"Kenapa harus disana?" Tanya Yana menatap Andrew.
"Tuan mafa yang meminta bertemu disana nona muda."
Gabriel menatap Yana dengan gemas.
"Kan masih banyak tempat lain."
Gabriel memegang tangan Yana dan mengelusnya. "Kita harus menuruti kemauan klien, harus profesional. Ini tender besar yang banyak perusahaan menginginkannya, jika aku menolak itu berarti aku menolak keuntungan besar untuk perusahaan yang aku bangun dari bawah." Gabriel menjelaskan untuk terus tetap profesional dalam bekerja.
"Disana banyak wanita-wanita yang memakai baju seksi." Kesal Yana menatap Gabriel.
"Itu maunya klienku."
"Saya ikut kesana."
"Nggak, aku akan mengantarmu pulang lebih dulu."
"Ada Andrew yang menemani ku, apa yang kamu takutkan."
Yana menatap tajam Gabriel. Ia kesal dengan penolakan suaminya.
"Oke, kamu ikut. Tapi, kamu menunggu di mobil."
Yana menggeleng, jari telunjuknya mengarah ke depan wajah Gabriel dan menggoyangkan ke kiri dan kanan berkali-kali.
"Saya akan ikut masuk."
"Apa kamu mau memakai pakaian seksi kalau masuk kedalam sana?"
Yana menggeleng. "Tak ada seperti itu, saya akan tetap memakai pakaian seperti ini."
Gabriel mendengus, jarinya menoyor kepala Yana ke belakang. "Nggak bisa, di larang memakai pakaian seperti ini masuk kedalam. Apa kamu mau di tuduh membawa pistol atau apapun yang berbahaya?"
Sebenarnya Gabriel bisa saja membawa Yana masuk dengan pakaian seperti sekarang yang ia pakai. Tapi, ia tak ingin banyak lelaki yang menyentuh tubuh istrinya.
"Ya sudah, saya menunggu di depan pintu saja." Tawarnya pada Gabriel.
"Kalau kamu berdiri di depan pintu dengan pakaian seperti ini orang-orang akan mengira kamu itu mata-mata."
"Kalau begitu, saya di dalam mobil tapi parkir di depan pintu."
Gabriel geleng-geleng kepala. Istri kecilnya ini terlalu bodoh. Mana bisa ia memarkirkan mobilnya di depan pintu.
"Nggak bisa parkir di depan pintu, itu kita menghalangi orang-orang yang ingin masuk."
__ADS_1
'kenapa rasanya seperti melihat pasangan uwu yang sedang bertengkar kecil.' batin Andrew menatap Gabriel dan Yana dari kaca di depannya.
'kenapa harus berada di tengah keromantisan mereka.' bantinnya lagi iri melihat 2 bosnya saling tatap-tatapan.
Yana mendengus kesal. Semua penawarannya tak ada yang di terima oleh suaminya.
Andrew menahan bibirnya untuk tak tersenyum. Ternyata istri bosnya yang bisa membuatnya ingin tersenyum dengan semua permintaan aneh-anehnya.
"Ya udah parkir mobil jangan jauh dari pintu masuk tempat itu." Yana menatap sayu suaminya. Banyak larangan untuk dirinya.
Gabriel mengangguk. "Kenapa tiba-tiba seperti ini?"
"Di sana banyak wanita-wanita seksi."
"Apa kamu takut aku tergoda?"
Yana menggeleng. Tak mungkin ia jujur jika ia cemburu dan takut Gabriel tergoda dengan wanita seksi disana.
"Disana banyak wanita-wanita seksi, tak baik jika anda melihatnya. Disana juga banyak minuman haram, aku akan memantau anda agar tak meminum itu."
"Nona muda nggak usah takut, saya akan menjaga tuan agar kembali dengan keadaan aman." Tawar Andrew untuk tak menghiraukan Gabriel. Ia tau bagaimana tuannya, ia tak akan tergoda dengan wanita yang menggodanya. Perasaan tuannya saja ia tau kalau selama ini tuannya tak pernah mencintai kekekasihnya. Gabriel hanya ingin melupakan seseorang di masa lalunya, makanya menjadikan Tasya sebagai pelampiasan.
"Aku tak akan melakukan apapun. Aku hanya ingin membahas pekerjaan saja."
Dua jari jempol Yana terangkat memberi mantap pada suaminya. Ia akan selalu percaya apa yang suaminya lakukan.
"Kenapa?"
Yana menggeleng.
45 menit sudah berlalu. Yana dan Gabriel turun dari mobil. Tangan Gabriel menarik jari Yana untuk di satukan. Yana menatap jarinya yang di genggam oleh Gabriel.
"Apa anda ingin berpura-pura romantis di depan orang lain?" Bisik Yana.
Gabriel tersenyum mendengar bisikan Yana. Ternyata perhatiannya sekarang di salah artikan. Tapi, itu tak mengapa. Yang penting Yana di dekatnya membuat moodnya baik.
"Apa kamu ingin lebih romantis dari ini?" Tanya Gabriel membuat Yana menatap dirinya.
Yana mengangguk. "Seperti apa?" Tanya Yana dengan polosnya.
"Apa kamu yakin?"
Yana mengangguk cepat. Ingin tau seperti apa hal romantis ala suaminya.
Gabriel dengan cepat menggendong Yana ala bridal style. Yana membulatkan matanya karna serangan Gabriel.
"Anda kenapa mengangkat saya?"
'hati jangan berdebar seperti ini. Ini cuman pura-pura kenapa harus berdebar.' batin Yana menatap Gabriel yang tersenyum manis padanya.
"Kamu beneran bodoh, inilah hal yang romantis. Tapi ada yang lebih romantis dari ini." Kekeh Gabriel menatap istrinya yang menatapnya tanpa berkedip.
"Turunin saya. Malu semua orang menatap kita." Bisik Yana.
"Apa kamu mau tau yang lebih-lebih romantis dari ini."
Yana menggeleng. Ia tak ingin semakin berdebar.
"Nggak, turunin saya." Yana tau akal bulus suaminya. Pasti Gabriel ingin melakukan hal lebih dari ini.
__ADS_1
Gabriel tertawa saat sudah menurunkan Yana dari gendongannya. Kepanikan Yana membuatnya sangat terhibur.