TERPAKSA MENIKAHI MU

TERPAKSA MENIKAHI MU
TM : Part - 22


__ADS_3

"Tunggu disini, jangan kemana-mana." Tegas Gabriel menatap Yana.


Yana mengangguk paham. "Jangan minum alkohol." Yana terus menerus mengingatkan Gabriel soal tak boleh minum alkohol. Walaupun Gabriel bosan mendengarnya, tapi ia suka dengan perhatian kecil yang di berikan istri kecilnya.


"Aku nggak akan minum alkohol." Janji Gabriel.


Yana menengadahkan tangannya untuk menyalin tangan Gabriel. Gabriel hanya membalas mengelus kepala istrinya.


Gabriel keluar dari mobil saat Andrew membukakan pintu untuknya. Sebelum ia masuk ke dalam club malam yang ia datangi, ia sempatkan berbalik untuk melihat istrinya.


Gabriel berjalan menyusuri banyaknya lawan jenis yang begitu seksi. Ia lewati tanpa menyentuh. Walau banyak yang mendekatinya, ada Andrew yang menghalangi mereka yang ingin menggoda.


Andrew menatap seorang wanita di pojok kanan sedang bermesraan dengan seorang pria. Matanya menajamkan melihat orang yang mungkin ia kenali.


"Bukannya wanita di sana nona Tasya, tuan." Bisik Andrew memberitahu Gabriel mengenai wanita yang di lihatnya.


Gabriel menoleh pada wanita yang di maksud oleh asistennya yang tak jauh darinya. Benar, wanita itu kekasihnya. Dengan santainya wanita yang ia jadikan kekasih memegang tangan pria di dekatnya. Bahkan satu tangan pria itu meremas bokongnya, ia tak memberontak sama sekali.


Tasya begitu menikmati sentuhan-sentuhan yang di berikan pria di sampingnya. Tak lama mereka berci*man dengan mesra. Gabriel menyeringai menatap wanita yang begitu gampangnya di sentuh pria lain saat ia memiliki dirinya.


"Vidio apa yang dia lakukan." Ujar Gabriel yang mengalihkan tatapannya ke depan. Ia muak melihat wanita yang baik di depannya ternyata seorang player.


Gabriel memasuki ruangan VIP tempat janji ia dan Mafa Anders Lindegaard pebisnis dari Malaysia. Saat masuk matanya melihat Mafa yang di kelilingi 3 wanita dan satu pria yang duduk di kursi lain. Kiri dan kanannya wanita yang seksi tersenyum menggoda ke arah Mafa dengan menempelkan badannya, satu wanita menuangkan ia minuman.


Mafa berdiri saat melihat Gabriel memasuki ruangan membuat 3 wanitanya ikut berdiri menyambut tamunya. Andrew menunduk saat di depan Mafa untuk menghormati klien tuannya. Sedangkan Gabriel menyalami tangan Mafa dan asisten Mafa.


"Selamat datang tuan Gabriel yang terhormat." Mafa terkekeh melihat pria di depannya, walaupun dari Malaysia tapi Mafa lebih bisa berbahasa Indonesia. "Lama tak berjumpa teman." Lanjutnya.


Gabriel mengangguk. "Selamat malam tuan Mafa, lama tak jumpa." Balas Gabriel.


Salah satu wanita yang duduk di kiri Mafa tertarik melihat ketampanan pria Gabriel. Ingin rasanya ia menyentuh pria itu dan bermain bersama.


Gabriel hanya menjawab dengan anggukan. Ia tak ingin terlalu berlama-lama berbasa-basi. Ada Yana yang menunggu dirinya di mobil. Ia ingin cepat-cepat bertemu dengan istrinya.


Gabriel dan Mafa mulai membahas pekerjaan.


"Tak enak jika bahas seperti ini, tak minum lebih dulu." Potong Mafa menawarkan wine ke arah Gabriel yang terlihat dingin. Kemungkinan moodnya yang tak baik. Pikirnya.


Andrew menahan tangan Mafa yang membawa gelas wine ke depan Gabriel. "Maaf tuan Mafa kalau saya tak sopan, saya hanya ingin mengingatkan kalau tuan Gabriel tak pernah minum ini." Andrew menjelaskan.

__ADS_1


Mafa tertawa mendengar penuturan asisten kliennya. "Sekali saja, ini tak membuat kau mabuk." Tawar Gabriel.


"Biar saya yang meminumnya tuan." Andrew meraih gelas yang di pegang Mafa untuk ia minum.


Mafa geleng-geleng kepala melihat kesetiaan Andrew. "Kau begitu setia pada tuanmu."


"Kalau begitu saya akan memesankan bos mu minuman soda saja. Tak enak jika dia tak minum sedangkan kita menikmati minum yang disediakan oleh wanita-wanita di sini." Mafa berbalik ke arah kirinya dan tersenyum ke arah wanita yang ia booking.


Mafa memerintahkan asistennya jelo seorang pria bule, untuk memesan soda untuk gabriel.


Setelah menunggu beberapa menit, seorang pelayan pria masuk mengantar dua gelas soda. Satunya ia letakkan di depan Gabriel. Saat selesai memberi minuman, pelayan pria itu keluar.


"Di minum dulu, nanti kita lanjut."


Gabriel dengan ragu mengicip pesanan Mafa untuknya. Setelah rasa manis menjalar di kerongkongannya, ia meneguk 5 kali air di gelasnya.


"Aku dengar kalau anda sudah menikah tuan Gabriel?" Tanya Mafa mengalihkan jalur pembahasan yang berbeda dari pembahasan awal soal pekerjaan.


Gabriel hanya mengangguk, entah kenapa rasa panas menjalar pada tubuhnya. Padahal yang ia minum bukan alkohol kenapa reaksinya begitu berlebihan pada tubuhnya.


"Anda kenapa tuan Gabriel?" Mafa melihat gerak-gerik yang aneh.


"Tidak mungkin, saya tak menyuruh seseorang untuk mencampurkan obat ke dalam minumannya." Mafa tak sekejam itu. Ia sudah menganggap Gabriel sebagai adiknya.


Tubuh Gabriel menegang, bagian bawahnya Mengeras. Keringat dingin sudah menghiasi keningnya.


Wanita di samping kanan Mafa dengan berani bangun menuju arah Gabriel yang sudah gelisah minta hasratnya di salurkan. Saat sudah berada di samping kiri Gabriel dekat dengan Andrew, tangannya terangkat ingin memegang pundak Gabriel.


Andrew dengan cepat memegang tangan wanita yang ingin memegang Gabriel. "Mau apa?" Tanya Andrew tajam, wajahnya berubah menjadi dingin. Ia sadar wanita itu sedari tadi menahan tuannya dengan tatapan menggoda. Hanya saja ia diam tak ingin merusak suasana membuat kliennya membatalkan keuntungan besar perusahaan tuannya.


"Saya hanya ingin membantu tuan Gabriel untuk lebih baik lagi." Wanita itu bersuara lembut dan mengedipkan satu matanya ke arah Andrew. Ia tak ada takutnya menatap aura dingin dari Andrew.


Andrew dengan cepat menghempas tangan wanita itu sampai tubuhnya terjatuh. Ia berdiri membantu Gabriel untuk keluar dari ruangan tempat ia berdiskusi tanpa mau memikirkan kondisi wanita itu.


"Kalau begitu saya permisi tuan Mafa. Maaf kalau tak sopan." Setelah mengatakan itu Andrew berjalan keluar.


"Ish." Gabriel mendesis, nafsunya ini sangat menyiksa dirinya. "Cepat, ndrew." Ucap Gabriel serak. Bagian bawah tubuhnya sudah sangat menegang. Ia tau apa yang terjadi pada tubuhnya. Dalam minuman yang ia minum terdapat obat perangsang yang membuat tubuhnya begitu tersiksa. Dan pastinya dosisnya lumayan, hasratnya itu harus di salurkan agar dirinya tak lumpuh.


"Baik tuan." Andrew mempercepat langkahnya. Ia tak ingin bosnya sampai tersiksa lebih lama.

__ADS_1


Di tengah lorong matanya melihat kekasih bosnya sedang menikmati ciuman panasnya dengan pria asing, bahkan tubuhnya sudah di jamah sana sini.


Ciuman Tasya terlepas saat mendengar ada suara sepatu mendekat. Ia tak ingin sampai ketahuan kalau ia seorang model dan dampaknya kehilangan impiannya karna scandal yang ia lakukan terang-terangan karna nafsu sialan menguasainya.


Tasya menoleh ke arah suara langkah kaki. Matanya membulat melihat siapa yang berada di hadapannya itu adalah kekasihnya, keuntungannya.


Tasya dengan cepat mendorong pria di pelukannya yang mencium lehernya. Kakinya melangkah ke arah Gabriel.


"By, kenapa kamu ada di sini?" Tanya Tasya dengan lembut. Dengan tidak tahu malunya tangannya memeluk lengan Gabriel.


Gabriel menghempas tangan Tasya. Ia muak melihat wanita di sampingnya yang terlalu banyak drama.


"Jangan menyentuh ku." Ucap Gabriel dengan suara serak.


"Aku bisa jelasin, by. Ini tidak seperti yang kamu liat. Pria tadi yang memaksa ku, aku di paksa melakukan itu, by." Tasya berpura-pura sedih. Kakinya terus melangkah cepat mengejar Gabriel yang berjalan cepat.


'mana ada di paksa kalau tubuhmu begitu menikmatinya, bahkan dia tersenyum saat berciuman. Tangannya dengan cepatnya memegang ******** pria itu.' batin Andrew kesal. Tasya terlalu banyak drama.


"Kamu kenapa, by?" Tanya Tasya lagi tapi tak ada yang meresponnya. "Apa kamu di jebak seseorang meminum minuman yang sudah di campur obat?" Lanjut Tasya panik. Dalam hatinya begitu bahagia karna ini salah satu kesempatan untuknya bisa masuk ke dalam keluarga kekasihnya.


Saat sudah keluar dari pintu club itu, Tasya menahan tangan Gabriel. "Andrew biar aku saja yang membawa Gabriel." Tangannya menarik Gabriel agar mendekat ke arahnya.


"Maaf nona Tasya saya tak bisa. Saya harus menepati janjiku pada nona muda untuk membawa pulang tuan Gabriel." Ucap Andrew dengan aura wajahnya yang masih dingin.


"Dia kekasih ku, aku berhak membawanya." Tasya berusaha menarik Gabriel ke arahnya.


"Maaf nona Tasya, saya menolak untuk menuruti kemauan anda. Walaupun anda memaksa juga, belum tentu tuan Gabriel mau ikut dengan anda." Andrew kesal melihat wanita jadi-jadian yang ada di hadapannya ini.


"Lepasin gue." Ketus Gabriel muak melihat Tasya yang begitu tak tau malunya.


"By, aku mau membantu kamu menyalurkan hasrat kamu." Tasya menyentuh wajah kekasihnya dengan sedih. Padahal, di hatinya sangat menggebu-gebu bisa membawa Gabriel ke atas ranjangnya.


Gabriel menghempaskan tangan Tasya. "Kalau gue bilang jangan sentuh, yah jangan sentuh. Dengar nggak?" Teriak Gabriel. Susah payah dirinya menahan gejolak dalam dirinya. Kekasihnya datang membuatnya makin tersiksa.


"By, kamu kenapa begini sama aku. Aku minta maaf, tadi itu cuman salah paham." Mata Tasya berkaca-kaca. Ia harus meluluhkan kekasihnya agar ikut dengannya.


"Cih." Gabriel dan Andrew bersamaan berdecih. Merasa jijik dengan drama yang di buat Tasya. Merasa tak bersalah, dan terlalu percaya diri.


"Aku minta maaf, by." Satu tetes air mata Tasya jatuh ke pipinya.

__ADS_1


Yana yang melihat itu memilih turun dari mobil. Egonya ternyata kalah dengan rasa aneh yang hadir di hatinya untuk menemui suaminya.


__ADS_2