TERPAKSA MENIKAHI MU

TERPAKSA MENIKAHI MU
TM : Part - 26


__ADS_3

Tok.. tok.. tok


Suara ketukan diluar ruangan Gabriel. Membuat fokus Gabriel buyar. Senyumnya menghilang saat mendengar pintu ruangannya di ketuk.


"Masuk." Titah Gabriel.


Andrew masuk dan menunduk hormat di depan Gabriel. Gabriel hanya menatapnya dengan datar.


"Apa jadwal ku hari ini?" Tanya Gabriel tanpa berbasa-basi.


"Maaf tuan, jadwal anda hari ini hanya bertemu dengan tuan Mafa jam 3 sore. Tuan Mafa katanya akan mampir kesini untuk membahas sesuatu." Jawab Andrew menyampaikan jadwal tuannya.


Gabriel memutar mata malas saat mendengar nama Mafa yang di sebutkan asistennya. Tapi, ia juga harus berterima kasih padanya karna sudah membantunya menyalurkan hasratnya yang tertunda beberapa Minggu ini. Senyum kembali terbit di bibirnya sekilas karna mengingat saat pertama kali ia menyentuh istrinya.


"Ya sudah."


"Ada lagi yang harus saya sampaikan tuan." Andrew menatap mimik wajah tuannya yang terlihat seperti biasa, tetap datar dan dingin.


Gabriel hanya memberi kode lewat alisnya yang terangkat.


"Nona Tasya berada di bawah, ia terus memberontak ingin bertemu dengan anda. Dia tak mendengarkan kami yang melarangnya bertemu dengan anda."


Gabriel menghela napas. Moodnya kembali rusak mendengar ucapan asisten pribadinya. Kenapa harus seperti ini masalahnya.


'masalah, masalah, masalah. Hufh.' batin gabriel.


"Suruh dia tunggu saya di restoran samping kantor." Putusnya. Ia harus mengakhiri hubungannya. Tak ada juga yang harus di pertahankan pada wanita seperti Tasya.


"Baik tuan. Kalau begitu saya permisi." Pamit Andrew menundukkan kepalanya dan berjalan keluar.


Gabriel mendengus kesal. Moodnya yang tadinya senang, malah berubah menjadi jelek.


Setelah cukup lama berdiam diri. Gabriel bangkit dari duduknya untuk menemui Tasya. Ia berjalan keluar kantornya dengan gaya cool melewati beberapa karyawan wanita yang mengaguminya.


"By." Panggil Tasya dengan riang saat melihat Gabriel yang berjalan menghampirinya.

__ADS_1


Gabriel memutar mata malas melihat wanita bermuka dua didepannya ini.


'Ingat kata istri, sabar.'


"Saya tidak banyak waktu, katakan apa yang ingin kamu katakan." Gabriel mengganti cara bicaranya menjadi saya.


Tasya cemberut melihat begitu cueknya lelaki di hadapannya. "By, aku minta maaf. Aku nggak bermaksud melakukan hal itu, by. Aku dipaksa melakukan itu." Tasya berbicara dengan suara yang di buat sedih. Berbeda dengan hatinya yang begitu kesal.


Gabriel hanya diam, tak ingin menanggapi apapun yang keluar dari mulut wanita di hadapannya.


"By, aku minta maaf." Tasya merengek meminta untuk di maafkan.


"Sudah itu saja kan? Kalau begitu saya permisi, setelah ini tak akan ada lagi hubungan di antara kita." Gabriel beranjak dari duduknya siap untuk pergi.


Tasya dengan cepat menahan tangan kekasihnya. Kepalanya menggeleng dengan mata yang berkaca-kaca.


"By, aku nggak mau. Please jangan putusin aku, pasti karna wanita bercadar itu kan yang membuat kamu kek gini. Kamu sudah berjanji akan menceraikannya, aku juga sudah siap untuk menikah, by. Nggak usah nunggu 2 tahun lagi." Tasya memohon merendahkan harga dirinya. Untung restoran tempat janji temunya dengan sang kekasih masih sepi.


Gabriel tak memperdulikan Tasya. Ia menarik tangannya yang di pegang oleh Tasya. Terlalu jijik jika bersentuhan dengan mantan kekasihnya.


"By, please jangan tinggalin aku." Tasya tetap merengek meminta agar Gabriel tak meninggalkannya.


Gabriel menoleh saat mendengar namanya di sebut. Matanya melihat seorang wanita seksi sama halnya dengan Tasya. Wanita yang memanggilnya adalah mantan kekasihnya yang meninggalkan dirinya demi pria lain. Wanita itu cinta pertama Gabriel.


'akh, belum selesai masalah yang satu, datang lagi masalah baru.' Gabriel hanya bisa membatin mengekpresikan perasaannya.


Wanita itu tersenyum manis kearah Gabriel.


"Gabriel apa kabar?" Tanya wanita itu saat sudah berada dihadapan mantan kekasihnya.


Gabriel tak menanggapi. Ia malas menanggapi siapapun sekarang. Hatinya sudah biasa aja dengan 2 wanita di hadapannya. Saat dirinya bersama dengan Tasya, pikirannya selalu memikirkan cinta pertamanya. Rindu menyelimuti hatinya. Tetapi, saat bersama dengan Yana istrinya, hanya saat malam pertama saja ia memikirkan cinta pertamanya secara bersamaan. Sedangkan Tasya, ia tak memikirkannya setelah merasakan hal menggelikan di hatinya saat pertama kali Yana menggodanya.


Mungkin dulu ia merasa bersalah karna menduakan kekasihnya dan berniat untuk menceraikan istrinya demi menikahi Tasya . Tetapi, sekarang ia bersyukur dengan pernikahan terpaksanya ini. Karna menjauhkannya dari kekasihnya yang bermuka dua.


Matanya melihat ke arah lain, sungguh muak melihat dua wanita yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"By, dia siapa?" Tanya Tasya dengan suara serak.


"Oh, kamu pacarnya Gabriel yah." Wanita itu tersenyum, matanya menilai penampilan kekasih dari mantannya ini.


Tasya tak menanggapi, matanya juga sibuk menilai penampilan wanita yang ada di hadapannya.


"Perkenalkan namaku Esya putri Andini, panggil aja esya. Mantan kekasih Gabriel sekaligus cinta pertamanya." Ia memperkenalkan dirinya dengan senyum merekah seakan bangga pernah dicintai oleh Gabriel.


Tasya menatap jengkel wanita itu. Mantan kekasih pacarnya terlalu percaya diri memperkenalkan diri padanya.


Suara tepukan tangan terdengar sangat kencang. Tawanya juga cukup nyaring terdengar


Membuat Gabriel dan dua wanita di hadapannya berbalik melihat seseorang yang merusak suasana 2 wanita yang saling memandang merendahkan.


"Wow, amazing. Seorang justice Gabriel ternyata hebat yah, punya 3 wanita. Dua di hadapannya dan satunya ada di rumah sakit menemani istriku." Rey terkekeh melihat adiknya yang sungguh menghibur.


Rey datang ke restoran bersama asisten pribadinya untuk menjumpai kliennya. Rey menjalankan bisnis ayahnya di dunia entertainment yang sangat terkenal. Berbeda dengan Gabriel yang membuka usaha sendiri dari nol.


"Ahk, kak Rey." Sapa Esya dengan bahagia. Seakan ia bertemu teman lama.


"Hai Esya, apa kabar?" Rey kembali menyapa. Tetapi matanya mengarah pada sang adik yang terlihat jengah berada di antara dua wanitanya.


"Aku baik kak Rey. Gimana dengan kak Rey? Kak izan masih jadi asisten kak Rey ternyata."


Tasya mendengus, seakrab apa mantan pacar pada keluarga kekasihnya ini. Kenapa ia dengan pdnya menyapa mereka. Dirinya saja tak begitu akrab dengan kakak dari kekasihnya. Bahkan ia terang-terangan mengumpat Rey di depan Gabriel.


Rey terkekeh. Drama ini lebih menyenangkan di lihatnya. Ternyata masa lalu Gabriel kembali, dan pastinya wanita yang menang mendapatkan Gabriel sudah pasti cinta pertamanya, atau Esya. Rey tau seberapa cintanya adiknya itu pada mantannya itu. Bahkan di kamarnya penuh dengan foto mesra dengan mantan kekasihnya sebelum dia menikah. Setelah menikah barulah Gabriel melepasnya.


"Aku baik. Izan nggak mau pisah sama aku makanya tetap sama aku."


"Bos bisa aja." Ledek izan yang berada di samping Rey.


"By, kita pergi saja dari sini." Tasya menarik tangan Gabriel agar pindah tempat. Tapi, tangan Gabriel di tahan oleh Esya.


"Kok buru-buru sih. Kan aku masih ingin ngobrol sama Gabriel." Esya tersenyum manis pada Gabriel dan Tasya.

__ADS_1


Gabriel tak merespon Esya ataupun Tasya. Ia melepas pegangan tangan Tasya di lengannya. Belum juga Gabriel melangkah, tangannya sudah di pegang oleh Esya.


"Mau kemana? Kamu nggak kangen sama aku? Ini kita baru bertemu lho." Esya bergelayut manja pada lengan Gabriel.


__ADS_2