
Gabriel berjalan dengan malas memasuki rumah orang tuanya. Jika bukan karena dipaksa oleh istrinya ia tak akan mungkin ingin bergabung ke acara yang dibuat oleh mamanya untuk kakak iparnya itu. Dirinya paling anti bertemu dengan kakaknya sendiri saat dirinya tau jika pria itu mengakui mengagumi istrinya.
"Mas kenapa cemberut gitu sih. Nggak baik lho ketemu orang tua mukanya masam kek begitu." Yana memprotes mimik wajah suaminya yang tak bersahabat.
"Aku harus gimana?" Tanya Gabriel. "Apakah harus seperti ini?" Gabriel menunjukkan senyum tapi masih terlihat datar.
Yana memukul lengan suaminya. Di balik cadar ia tersenyum dengan mimik suaminya yang selalu datar.
Yana mengangkat tangannya, jari telunjuk dan ibu jarinya berada diantara bibir Gabriel dan membantunya untuk melengkungkan senyuman.
"Nah gitu baru bagus." Yana mencubit pipi Gabriel saat melihat senyum suaminya melengkung dengan baik.
"Wah, di depan istri baik dan romantis, di depan Tasya juga romantis, depan mantan pacar juga begitu. Apa kamu memang seperti itu pada semua wanita?" Rey berbicara tiba-tiba saat melihat adegan mesra di hadapannya. Hatinya sedikit tersentil, tetapi bukan karna ia cemburu melihat adegan di depannya ia mengatakan hal itu. Hanya saja ingin bermain-main sedikit dengan adiknya yang begitu cepat emosi.
Yana dan Gabriel menatap orang yang tiba-tiba datang menghancurkan suasana keromantisannya.
Yana beralih menatap suaminya yang rahangnya sudah mengeras. Hatinya sakit saat mengingat ada hati wanita lain di hati suaminya. Perhatian suaminya hampir membuatnya lupa jika ada Tasya yang menjadi kekasih suaminya sekarang.
Rey tersenyum remeh melihat ekspresi adiknya yang emosi. Baru di pancing sedikit sudah terbakar.
"Santai, jangan terlalu tegang, aku cuman mengatakan fakta yang terjadi." Rey terkekeh saat Gabriel dengan cepat berjalan ke arahnya.
Yana dengan cepat memegang tangan suaminya. Ia tak ingin ada perkelahian yang terjadi di rumah mertuanya.
"Jaga ucapan lo. Karna itu nggak pernah terjadi." Sentak Gabriel, tangan untuk menghajar Rey di tahan oleh istrinya.
"Oya? Terus kemarin aku melihat kamu kencan dengan dua wanita, kekasih dan mantan tercinta."
Gabriel makin di buat geram. Apa yang di katakan kakaknya tak ada yang benar, ia tau Rey melakukan itu untuk membuat ia berpisah dari istrinya.
Yana memegang pipi Gabriel, tangannya mengelus pelan wajah yang mengeras itu.
"Kenapa marah?" Tanya Yana saat suaminya menatap dirinya.
Emosi Gabriel sedikit mereda mendengar suara lembut istrinya. Bahkan Rey juga mendengar suara yang mengalun lembut di telinganya membuatnya bergetar.
"Siapa yah kira-kira wanita yang akan jadi pemenangnya sama kamu." Rey makin memancing emosi Gabriel. Ia ingin lihat sampai mana adiknya bisa bertahan dengan emosinya. "Apa kamu yakin masih ingin bersama pria yang begitu banyak wanita simpanannya?" Rey menatap Yana dengan lekat. Wanita yang ia tolak hanya karna bercadar.
__ADS_1
Tangan Yana terhenti saat mendengar ucapan kakak iparnya yang menurutnya mengingatkan dirinya.
"Makasih sudah mengingatkan saya dengan perilaku mas el. Saya rasa urusan itu biarkan kami berdua yang mengatasinya. Orang luar tak berhak mengatur hidup kami."
Gabriel tersenyum remeh pada Rey yang bungkam dengan kata-kata istrinya.
"Apa kamu yakin tetap bersama pria yang emosinya bisa kapan saja meluap. Yang emosinya tak bisa ia kontrol dan langsung main tangan?" Rey masih tak menyerah menjelekkan-jelekkan adiknya.
Yana menatap Rey sekilas. Selama ini hanya sekali saja ia di bentak oleh Gabriel, itupun hanya semenit suaminya kembali hangat kepadanya. Berkata lembut padanya dan tak ada suaminya main tangan saat ia di bentak.
Yana menatap Gabriel dengan malu karna suaminya juga menatap dirinya. Tak ada emosi saat Gabriel melihat matanya.
Cup
Dengan cepat Yana mencium pipi Gabriel. Ia melakukan hal itu untuk membuktikan jika suaminya dapat mengontrol emosinya pada dirinya.
"Mas Rey liatkan, mas El tak lagi marah. Wajahnya tak mengeras lagi. Tak akan ada asap kalau tak ada api. Jadi, kalau tak ingin orang lain marah, jangan membuatnya marah." Ucap Yana dengan malu-malu karna di tatap oleh Gabriel.
Rey sempat terkejut melihat Yana mencium Gabriel di hadapannya. Ia mengangguk paham.
"Masuklah lebih dulu, nanti aku nyusul." Ucap Gabriel pada Yana.
"Aku nggak bakal berantem, emosiku sudah hilang."
"Janji?" Yana mengangkat jari kelingkingnya di hadapan Gabriel.
Gabriel menautkan jarinya pada jari istrinya. "Janji." Balas Gabriel.
Yana berjalan melewati Rey tanpa mengatakan apapun.
"Lo liatkan apa yang di lakukan Yana?" Gabriel berucap dengan memandang Rey remeh.
"Hal seperti itu sudah sering di lakukan kebanyakan orang pada akhirnya mereka berpisah karna hadirnya orang ketiga."
Gabriel berdecih. "Sampai kapan lho ingin bersaing sama gue? Bukan kah dulu lo suka sama Esya sampai buat gue berpisah. Sekarang wanita yang pernah lo sia-siakan mau lo rebut kembali. Berhenti bersaing sama gue." Sentak Gabriel.
"Bukannya Esya sekarang sudah kembali, kenapa nggak balik lagi sama dia? Dan berikan Yana untukku."
__ADS_1
Gabriel memutar matanya malas. "Itu tak akan terjadi, sampai kapanpun Yana bakal tetap jadi milik gue."
"Nanti juga Yana akan menyerah dan meninggalkan kamu. Dan akan ku pastikan dia menjadi milikku." Rey terkekeh.
"Dalam mimpi pun gue pastikan tak akan terjadi." Gabriel berlalu meninggalkan Rey yang menatap kepergiannya.
Rey mendatarkan mimik wajahnya. Ia sama sekali tak pernah menyukai kekasih adiknya itu. Hanya saja ia tak ingin adiknya terluka makin dalam sampai akhirnya ia melakukan hal itu. Kesalahan pahaman terjadi sampai sekarang.
Nata melihat pertengkaran itu, ia berdiri tak jauh dari tempat suaminya dan adik iparnya bertengkar. Ia mendengar semua yang di katakan suaminya, hal yang dari awal ia bicarakan dengan Rey akhirnya terjadi. Suaminya jatuh hati pada Yana.
Hatinya sakit mendengar jika suaminya menginginkan Yana kembali padanya. Hancur sudah harapannya bisa bersama suaminya.
Nata berjalan masuk lewat pintu samping, air matanya sudah menetes karna mendengar fakta jika ia tak pernah diinginkan oleh suaminya. Kehidupan seperti apa yang akan ia jalani disaat hatinya sudah hancur.
"Mba nata kenapa nangis?" Tanya Yana dengan khawatir saat melihat Nata menangis.
Nata menghapus air matanya dengan cepat. Senyum terbit di bibirnya karna tak ingin membuat orang lain merasa kasihan dengan keadaannya.
Nata menggeleng. "Aku nggak apa-apa mba. Cuman kangen ibu aja karna habis teleponan." Jawab nata dengan bohong. Tak mungkin ia mengatakan apa yang ia dengar. Yana tak bersalah dalam hal ini karna menurutnya ia juga korban dari suaminya.
"Sabar yah mba, nanti kalau ada waktu mba nata boleh kok ngajak orang tua mba kesini." Yana menghibur Nata agar tak bersedih lagi.
Nata mengangguk, ia berjalan selangkah dan memeluk tubuh Yana untuk mengurangi kesedihannya. Yana mengelus punggung nata dengan lembut.
'jika harus merelakan mas Rey aku ikhlas.' batin nata kembali menangis karna sakitnya tak berkurang sama sekali.
Nata mengurai pelukannya dan kembali menghapus air matanya.
"Mba nata cantik berhijab seperti ini. Auranya makin beda." Puji Yana membuat nata tersipu malu.
"Ini kok malah berdiri disini." Mama iren datang menghampiri menantunya. Membuat Yana dan Nata menatapnya dengan senyum. "Lho nata habis nangis yah? Kenapa nangis?" Tanya mama iren saat melihat ada bekas air mata di ujung mata menantunya.
"Nggak apa-apa kok ma, nata cuman rindu sama ibu di kampung." Jawabnya makin tak enak karna banyak kebohongan yang ia buat.
Kalau rindu sama ibunya sudah pasti. Tapi, yang membuat ia sampai menangis adalah hatinya yang hancur.
"Telpon ibu mu suruh nginap disini beberapa hari." Mama iren dengan riang mengatakan hal itu. Ia suka jika rumahnya ramai.
__ADS_1
"Sebentar nata telpon ibu, ma."
Mama iren mengangguk. 3 wanita itu berjalan ke arah ruang keluarga sambil berbincang-bincang, sesekali tertawa dengan candaan yang mereka buat.