
Yana membuka kulkas, ia berniat untuk membuat makan siang. Matanya menatap isi kulkas yang kosong. Ada kulkas tapi tak di gunakan. Dapurnya pun peralatannya hanya tersedia beberapa piring, gelas, mangkok dan juga sendok garpu. Panci atau apapun tak ada sama sekali.
Yana mendesah. Sebentar lagi makan siang. Ia bingung harus bagaimana. Apa yang harus ia katakan pada suaminya, setelah apa yang ia dapatkan dari gabriel.
Wajahnya masih memanas saat Gabriel yang tiba-tiba mencium matanya. Ia malu berhadapan pada suaminya.
"Kenapa?" Tanya Gabriel membuat Yana kaget dan mengelus dada.
"Astaghfirullah." Lirih Yana. Ia terkejut dengan kedatangan Gabriel yang tiba-tiba.
"Nggak ada makanan?" Tanya gabriel. Yana mengangguk.
"Kalau begitu saya ke supermarket dulu." Yana melewati Gabriel tanpa menatapnya. Jantungnya masih belum bisa di ajak kompromi.
"Biar gue aja. Lo tetap disini." Yana menghentikan jalannya mendengar ucapan Gabriel, iapun menoleh menatap Gabriel yang juga menatapnya.
"Emang tau mau beli apa?"
Gabriel mengedikkan bahunya. Ia berjalan memasuki kamar dan di ikuti oleh Yana di belakangnya.
"Biar saya ikut." Ucap Yana saat berada di kamar. "Akh." Teriak Yana saat melihat Gabriel yang membuka baju tanpa memberitahunya. Yana menutup mata dengan kedua tangannya. Jantungnya kembali berdegup sangat kencang.
"Lebay jadi orang, gue cuman buka baju." Ucap Gabriel dengan santai melihat tingkah wanitanya.
"Kenapa nggak bilang-bilang kalau mau buka baju."
Gabriel berjalan mendekat ke arah Yana tanpa memakai baju. Baju yang baru ia ambil di dalam lemari masih ada di tangannya tanpa berniat memakainya.
"Udah." Ucap Gabriel saat berada di depan Yana.
Yana menurunkan tangannya dan membuka mata. Matanya membulat melihat pemandangan yang merusak imannya ini.
"Akh." Teriak Yana kembali menutup matanya menggunakan kedua tangannya.
Gabriel yang mendengar teriakan Yana tersenyum senang. Senang karna sudah membuat istrinya malu karna melihat perutnya tanpa kain.
Gabriel memakai bajunya setelah melihat reaksi dari Yana. "Udah." Bisik Gabriel tepat di telinga Yana.
Yana membeku mendengar suara Gabriel yang begitu dekat.
"Bo,,hong." Yana menjawab gugup.
"Ya udah kalau nggak percaya."
Yana menurunkan tangannya perlahan, dan satu matanya ia buka untuk melihat apakah Gabriel sudah memakai baju atau belum. Yana bernapas lega saat melihat suaminya sudah memakai baju.
"Gitu aja lebay." Ucap Gabriel mengejek Yana, dan tangannya menyentil dahi istrinya. "Belum juga di apa-apain udah teriak kek neriakin maling." Lanjutnya meremehkan Yana.
Yana mengelus dahinya yang sedikit nyeri karna serangan Gabriel. Ia juga merasa kesal mendengar ucapan suaminya. Ia merasa tertantang dengan ucapan yang keluar dari mulut pria di hadapannya.
__ADS_1
Yana mengangkat cadarnya ke atas kepala. Ia tersenyum menatap Gabriel yang masih menatapnya remeh. Tangan kanannya memegang rahang Gabriel dan mengelusnya dengan lembut. Entah ia dapat keberanian dari mana sampai melakukan hal itu. Hal yang baru pertama kali ia lakukan.
Gabriel yang mendapat serangan tiba-tiba dari Yana membuatnya bergidik ngeri. Tubuhnya bereaksi dengan cepat. Ia merutuki kelakuan Yana pada dirinya. Yang sudah membangunkan sesuatu yang tertidur di bawah sana.
Gabriel memegang tangan Yana dengan erat. "Mau ngapain lo?" Tanya Gabriel dengan gugup. Jangan sampai ia luluh dengan perlakuan istri kecilnya.
"Melakukan yang seharusnya di lakukan." Yana berucap gamblang. Padahal dalam hati ia sangat malu dengan kelakuan gilanya. Menggoda pria lebih dulu. Bodoh, pikir Yana.
"Tak perlu. Gue tak menginginkannya." Ucapannya dusta, tapi tatapannya mengatakan ia menginginkan tubuh Yana. Menginginkan istri kecilnya ini dari pertama melihat tubuh Yana saat terbalut handuk.
Yana yang mendapat penolakan dari Gabriel reflek menggigit dada bidang suaminya. Entah, kenapa ia tiba-tiba melakukan hal itu.
"Iissh." Desis Gabriel menahan sakit di dadanya. Istrinya sungguh gila karna menggigitnya. "Lo gila ya." Bentak Gabriel di depan Yana saat wanita itu melepas gigitannya.
Yana yang mendapat bentakan dari Gabriel, berlari keluar kamar. Pipinya memerah karna malu dengan perbuatannya sendiri. Ia tak merasa sakit hati mendapat bentakan itu. Ia lebih merasa malu.
"Bodoh, bodoh, bodoh." Lirih Yana pada dirinya sendiri. Kelakuannya sungguh di luar batas. Ia yang menggoda Gabriel, saat di tolak kenapa ia malah kesal dan tiba-tiba menggigit dada suaminya.
Gabriel yang melihat tingkah Yana, malah tersenyum. Walaupun merasakan sakit di dadanya tapi entah kenapa ia merasa senang. Tapi, ia juga merasa bersalah karna sudah membentak Yana. Padahal ia tak ingin melakukan itu.
Gabriel mengelus dada bekas gigitan Yana dengan senyum yang makin mengembang. Setelahnya ia mengangkat bajunya yang sedikit basah ke bibirnya. ia cium bekas bibir istrinya dengan lama.
*******
Gabriel turun dari mobil di ikuti Yana. Ia berjalan santai, berbeda dengan Yana yang malu berhadapan dengan Gabriel.
Gabriel dan Yana berjalan beriringan memasuki super market.
Yana mengangkat wajahnya dan menatap Gabriel. Entah kenapa ia kembali gugup berhadapan dengan suaminya, setelah insiden memalukan itu.
Yana menggeleng pelan. "Nggak tau." Pikiran Yana seketika bleng saat menatap Gabriel.
Gabriel mendengus kesal. "Terus ngapain kita kesini kalau lo nggak tau mau beli apa."
Yana meremas tangannya dengan gugup. "Mau kemana?" Tanya Yana saat melihat Gabriel yang akan melangkah keluar.
"Pulang." Ketus Gabriel.
"Bukannya kita mau belanja?"
Gabriel berbalik menatap Yana. Mata istrinya terlihat sayu. Membuat ia tak tega.
"Emang lo tau mau beli apaan?" Gabriel mengganti intonasi bicaranya menjadi sedikit lembut.
Yana menggeleng. Entah kenapa pikirannya buntu mau membeli apa.
"Kita liat-liat aja dulu."
Gabriel mengalah ia berjalan mengambil troli dan melangkah lebih dulu meninggalkan Yana. Yana berjalan mengikuti Gabriel menyusuri lorong belanjaan. Yang awalnya ia tak tau mau membeli apa, setelah ia menyusuri lorong tangannya dengan cekatan mengambil barang-barang yang di butuhkannya. Malah troli yang di pegang Gabriel adalah troli kedua karna troli pertama sudah penuh.
__ADS_1
Gabriel yang melihat wanitanya begitu cepat mengambil barang-barang belanjaan merasa jengah.
"Semua itu di butuhkan atau nggak?" Tanya Gabriel yang melihat Yana memilih panci berukuran kecil dan besar.
Yana beralih menatap Gabriel dan mengangguk dan di balik cadarnya ia tersenyum. Ia melupakan masalah yang terjadi antara ia dan juga suaminya.
"Mama." Teriak anak laki-laki yang memeluk paha kiri Yana.
"Ish." Yana meringis karna paha kirinya masih sedikit nyeri.
"Mama kemana aja? Rio tadi mencari mama" Tanya rio dengan tatapan sayu.
Gabriel melihat Rio dengan tatapan kesal, tangannya tiba-tiba menarik pelan Yana mendekat ke arahnya. Pelukan Rio pun terlepas karna tarikannya. Ia merasa tak suka melihat anak kecil itu memeluk kaki Yana.
"Mama?" Tanya Gabriel.
"Iya dia mama Rio. om siapa? Kenapa pegang-pegang mama Rio?"
Gabriel menarik Yana berdiri di belakangnya. "Dia istri saya, kenapa kamu ngaku-ngaku kalau dia mama kamu." Gabriel berdiri dan berkacak pinggang di hadapan Rio.
Rio menatap nyalang ke arah Gabriel. Ia menirukan gaya Gabriel yang berkacak pinggang. "Dia mama Rio, bukan istrinya om." Teriak Rio.
Semua yang ada di sana melihat ke arah tiga orang yang sedang berselisih paham.
"Dia istri ku, bukan mama kamu."
Yana menarik tangan Gabriel. "Udah, anda nggak malu menantang anak kecil seperti itu? kita di liatin banyak orang." Bisik Yana menenangkan Gabriel. Ia melihat jelas ketidaksukaan Gabriel pada Rio. Padahal Rio masih anak kecil. Membuat ia bingung dengan tingkah Gabriel yang memalukan.
"Diam, dia sudah ngaku-ngaku kalau kamu mamanya. Apa kamu nggak marah? Dia juga sudah meluk kaki kamu tadi." Kesal Gabriel melihat Yana yang membela Rio.
"Dia masih kecil, jangan berlebihan."
Gabriel mendengus kesal.
"Mama Ayo pulang." Rio menggapai tangan Yana dan menariknya.
Gabriel yang melihat perlakuan Rio merasa marah. "Enak aja bawa-bawa istri orang." Gabriel menarik tangan kanan Yana mendekat ke arahnya.
"Dia mama Rio om." Rio menarik Yana tak mau kalah.
Yana merasa jengah dengan dua lelaki yang berbeda usia memperebutkan dirinya.
Yana melepaskan tangannya dari keduanya. Yana jongkok di depan Rio. Dan ia memegang muka Rio dengan lembut. Membuat Gabriel yang melihatnya meradang.
'kenapa ia begitu mudahnya memegang wajah laki-laki lain setelah memegang wajahku tadi.' batin Gabriel kesal.
"Tante bukan mama Rio. Tante ini istrinya om itu." Tunjuk Yana ke arah Gabriel.
Membuat Gabriel merasa senang. Ia mengejek Rio yang menatapnya. "Kan sudah aku bilang dia istriku."
__ADS_1
"Tapi mama aku juga memakai beginian. Berarti kamu mama aku." Senang Rio memeluk leher Yana.
Gabriel kembali meradang melihat Yana di peluk. Otaknya memanas ingin melempar anak itu sejauh mungkin karna sudah lancang memeluk wanitanya.